Minggu, 30 Januari 2011

KISAH ANAK-ANAK ADAM / 1988

KISAH ANAK-ANAK ADAM


Adam dan Hawa yang diusir dari surga, dikaruniai anak-anak kembar: Qabil (Alfian) dan Iqlima (Dewanty Bauty), Habil (Hengky Tornando) dan Labudza (Dewinta Bauty). Dengan petunjuk Allah, Adam menjodohkan anak-anaknya secara silang. Qabil menolak karena ia menginginkan Iqlima yang lebih cantik. Maka Qabil dan Habil diminta untuk memberikan korban. Siapa yang kurbannya diterima, ia berhak menentukan pilihannya. Kurban Habil diterima karena ia mempersembahkan yang terbaik. Qabil tetap ingkar janji, dan atas bujukan setan ia membunuh Habil, lalu melarikan Iqlima dan beranak-cucu, sampai turunannya itu tenggelam oleh banjir pada zaman Nabi Nuh AS.

NEWS

Tempo Doeloe : GILIRAN JIBRIL DALAM FILM (2 Juli 1988)


SUTRADARA Ali Shahab memilih kisah anak-anak Nabi Adam untuk difilmkan. Naskah karya bersama Drs. H. Masbuchin dan Kelana Alam ini awalnya berjudul Adam dan Hawa. Pada 1985 cerita ini pernah ditayangkan bentuk operet di TVRI untuk merayakan Maulid Nabi.
Setelah dibikin skenarionya, Ali Shahab yang sudah haji itu memberi judul sementara dengan Kisah Anak-Anak Adam. Dan PT Tobali Indah Film pada 14 Juni lalu mengantungi izinnya untuk produksinya yang ke-17 itu setelah diteken oleh Ir. Dewabrata, Direktur Pembinaan Film dan Rekaman Video.
Dengan biaya Rp 500 juta, 25 Juni lalu mulailah shooting-nya di kawasan hutan lindung Pangandaran, Jawa Barat. Pemain utama ada enam orang, dan figurannya sekitar dua ratus. Film ini, menurut Ali Shahab, akan diedarkan ke Timur Tengah.
Syahdan, izin itu sempat tertunda. Masyarakat mempertanyakan hukum memerankan nabi atau rasul dan orang suci di dalam film. Lantas pada 9 Mei lalu, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang terdiri atas 14 orang dan dipimpin Prof. KH. Ibrahim Hosen, bersidang. Setelah debat selama 20 hari, maka keluarlah fatwa: Para nabi dan rasul, dan keluarga (hanya istri, sedang anak-anaknya tak termasuk) haram divisualisasikan dalam film.
Jadi, larangan visualisasi itu untuk semua nabi, bukan hanya untuk Nabi Muhammad – karena Quran tak membeda-bedakan mereka. Dan istri nabi ikut diharamkan, karena ia juga menyatu dengan suami. “Kecuali istri Nabi Nuh dan Luth yang inkar, ” kata Ibrahim Hosen.
Mengapa visualisasi anak-anak nabi boleh? Menurut fatwa: mereka adalah pribadi yang terpisah dari orangtuanya. Itulah sebabnya Nabi Adam dan istrinya, Hawa, lenyap dari skenario. Ali Shahab kemudian menonjolkan keempat anak Adam, yaitu Habil, Qabil, Iqlima dan Labudza. Mereka diperankan oleh Henky Tarnando, Alfian, Dewanti, Dewinta. Dan peran Jibril adalah Alwi A.S., dan Syamsuri Kaempuan memerankan iblis.
Kisah anak-anak Adam itu bisa dibaca di Kitab Suci. Ternyata, agama membendung percintaan, rasialisme, perang saudara, dan nafsu manusia. Sehingga, ketika terjerumus, pecinta berat Qabil berlumur dosa. Ia membunuh saudaranya, Habil, untuk merebut Iqlima yang cantik itu. Ya, sekitar itulah alur ceritanya.
Adanya fatwa itu, kata Ali pada Ida Farida dari TEMPO, semula mempersulit kerjanya. “Saya harus menerima dan harus menuruti fatwa MUI itu,” katanya. Walau tak mengubah skenario, kecuali yang teknis saja, tokohnya ditampilkan tanpa visualisasi. Misalnya, nanti, hanya akan ada suara Adam saja.
Lain dengan Malaikat Jibril yang bersayap 600 dan sangat besar itu. Penampilan Jibril, kata Ali Shahab, diproses di studio. Ia digambarkan berwibawa, agak tua, berjanggut perak, dan berihram. Sedangkan iblis dengan muka seram dan muka hitam. Tapi Nabi Adam berikut Hawa ditampilkan hanya dengan bayangan.
MUI masih melihat lain. Menurut Ibrahim Hosen, ada hadits dari Nabi Muhammad yang menyebutkan: orang yang sengaja berbuat bohong pada (tentang) nabi akan disiksa di neraka. Yang dimaksud dengan ‘berbohong’ itu bukan hanya tentang perkataan, tapi juga tentang peri laku dan penyifatan diri nabi. “Di film, ketiga-tiganya itu tercakup. Dan jika tidak persis benar, maka dosanya berkali lipat,” tambah Ibrahim Hosen.
Adam hidup entah berapa abad sebelum kita. Tak ada deskripsi utuh tentang kakek manusia ini. Dan mustahil menghadirkan diri Adam secara utuh di film. “Jika pemainnya tidak ganteng, akan timbul kesan jelek terhadap wajah Nabi Adam. Sebaliknya, kalau pemerannya ganteng, akan berkesan begitulah Adam. Film hanya kira-kira. Dan jika pemerannya penjudi, maka banyak dampak buruknya,” ujar Ibrahim Hosen.
Tapi hadits yang disebut tadi dipersoalkan oleh Dedy Rahman. “Saya heran, membuat fatwa begitu penting haditsnya cuma satu. Itu pun tidak ada hubungannya dengan fatwa yang dibuat,” katanya kepada Hasan Syukur dari TEMPO. Menurut Ketua Bagian Kader Persatuan Islam (Persis) Bandung itu, yang dikutip MUI adalah peringatan yang berkaitan dengan adanya hadits-hadits palsu ketika zaman Nabi Muhammad saw.
Okelah. Namun, bila nabi divisualkan dengan bayang-bayang? “Itu belum ada kata sepakat di antara anggota Komisi,” kata Ibrahim Hosen. Sedangkan ihwal dialog Adam dengan anak-anaknya, dan tak persis sama dengan yang sebenarnya, itu juga bohong. Namun, Rektor Institut Ilmu-Ilmu Quran (IIQ) Jakarta itu memberi alternatif. Misalnya, ada orang ketiga (pengisi suara) meniru dialog Adam dan anak-anaknya persis seperti tercantum di Quran. Atau, menuliskan teks terjemahan Quran di layar.
Di skenario Kisah Anak-Anak Adam, agaknya Malaikat Jibril akan digunakan sebagai orang ketiga, yang menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi Adam. Tapi ini juga kembali dipermasalahkan oleh MUI. “Jibril itu orang suci, jadi haram divisualkan juga lewat film,” kata Ibrahim Hosen. Fatwa MUI memang tentang para nabi dan orang suci, termasuk malaikat.
Dalam hal Jibril, ternyata, ada yang memandang sama dengan MUI. “Kalau wajah nabi saja dilarang divisualisasikan, apalagi Malaikat Jibril yang tak pernah siapapun (selain nabi) melihatnya,” kata Drs. Abdurrahman dari Komisi Hukum dan Fatwa Majelis Ulama Bandung. “Malaikat itu makhluk gaib, dan hanya Allah yang mengetahuinya.”
Pada 1976 MUI belum mempersoalkan apa boleh Jibril ditampilkan dalam film, kecuali mempersoalkan The Message karya Moustopha Akkad. Di film itu wajah Nabi Muhammad tak ditampakkan, kecuali pedang Sayidina Ali. Rasulullah pernah melarang para sahabat memvisualkan wajahnya dalam bentuk relief, seperti tercantum di Tafsir Tasyri’, Menentukan Hukum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar