Kamis, 15 Maret 2012

MOTINGGO BOESJE 1960-1978



MOTINGGO BOESJE
( Bustami Djalid)


TAKKAN KULEPASKAN 1972 MOTINGGO BOESJE
Director
SEMOGA KAU KEMBALI 1976 MOTINGGO BOESJE
Director
BING SLAMET DUKUN PALSU 1973 MOTINGGO BOESJE
Director
SEBELUM USIA 17 1975 MOTINGGO BOESJE
Director
TJINTAKU DJAUH DIPULAU 1972 MOTINGGO BOESJE
Director
BIARKAN MUSIM BERGANTI 1971 MOTINGGO BOESJE
Director
SAYANGILAH DAKU 1974 MOTINGGO BOESJE
Director
SEJUTA DUKA IBU 1977 MOTINGGO BOESJE
Director
JALAL KOJAK PALSU 1977 MOTINGGO BOESJE
Director
JALAL KAWIN LAGI 1977 MOTINGGO BOESJE
Director
SI PENDEK DAN SRI PANGGUNG 1960 ALAM SURAWIDJAJA
Actor
BAHAYA PENYAKIT KELAMIN 1978 MOTINGGO BOESJE
Director
SI RANO 1973 MOTINGGO BOESJE
Director.


Ia sering menulis buku-buku saku yang biasanya di jajakan di restoran-restoran. Ia pengarah akhli bercerita, ia berkecendrungan yang cukup besar untuk terlalu memperhatikan kecil-kecil pada saat ia mengabaikan peranan hal yang lebih besar dan penting dalam keseluruhan jalan cerita. Inilah ciri khas Boesje bercerita.





Nama :Bustami Djalid
Lahir :Lampung, 23 Nopember 1937
Wafat :Jakarta ……..
Pendidikan :SLA Bagian C Bukit Tinggi
Karya Novel :Bibi Marsiti (1964)
Novel-Novel yang di filmkan :
Di Balik Pintu Dosa (1970)
Tiada Maaf Bagimu (1971)
Insan Kesepian (1971)
Film-filmnya:
Tjintaku Djauh Dipulau (1971),
Takkan Kulepaskan (1972),
Si Rano (1973),
Sebelum Usia 17 (1974),
One Way Ticket (1976), Sejuta Duka Ibu (1977),







Sewaktu
masih siswa SLA bagian C di Bukit Tinggi, Boesje telah giat menulis dan berdrama. Tahun 1952 mengisi acara sandiwara radio RRI studio Bukittinggi, sambil belajar melukis bersama Delsy Syamsumar pada Wakidi. Kemudian dia ikut mendirikan Himpunan Seniman Muda Indonesia-Sumatra Tengah dan menjadi Pemimpin majalah Kebudayaan organisasi itu. Karya-karya sastranya kala itu banyak dimuat dalam harian dan majalah di Bukittinggi, Padang dan Jakarta. Kegiatan seninya makin berkembang dan intensif setelah dia melanjutkan pendidikannya ke Yogyakarta.


Karya-karya
tulis dan dramanya makin dikenal di berbagai kota. Tahun 1958, Boesje memenangkan hadiah pertama sayembara penulisan naskah drama P&K untuk naskahnya Malam Djahanam, naskah drama ini kemudian di filmkan Pitradjaja Burnama di tahun 1970.


Karya-karya
Boesje sampai terbitnya novel Bibi Marsiti”di anggap para kritisi sastra sebagai karya-karya sastra. Novel Bibi Marsiti”tahun 1964 yang dapat serangan dari kelompok Lekra ini, merupakan titik awal peralihannya kepenulisan yang lebih popular sifatnya.


Perubahan
ini mendapat kritikan tajam dari kalangan sastra, sehingga Boesjediadilipara sastrawan waktu dia berceramah tentang karya-karyanya di TIM tahun 1969. Sementara banyak pula peninjau sastra dari luar negeri yang menghargainya. Corak penulisannya ini kemudian banyak diikuti orang. Novel-novelnya dari masa inilah yang banyak difilmkan orang, antara lain Di Balik Dosa”tahun 1970, Tiada Maaf Bagimu tahun 1971 dan Insan Kesepian tahun 1971.


Boesje
memasuki dunia film sebetulnya sejak tahun 1960 ketika ceritanya Si Pendek dan Sri Panggungdi filmkan Sutradara Alam Surawidjaja dan dia menjadi Pembantunya. Kemudian pada 1960 juga dia menjadi Pembantu Sutradara Rd. Arifin untuk film Di Balik Dinding Sekolah”tahun 1961. Tetapi setelah kedua film itu, Boesje kembali menulis dan berdrama.


Dia
kembali ke film untuk menyutradai Biarkan Musim Berganti”tahun 1971 lebih banyak didorong ketidakpuasannya melihat film-film yang diolah dari ceritanya. Selain menulis naskah drama, cerita bersambung dan sebagai sutradara film, Boesje juga melukis. Ia sempat berpameran bersama para pelukis Jakarta di Balai Budaya dan juga di TIM. Terutama dengan HIPTA (Himpunan Pelukis Jakarta), sastrawan yang pelukis ini banyak mengisi waktu dan hari-harinya berdiskusi di Balai Budaya dan di salah satu kios makan di TIM. Beliau wafat karena serangan penyakit gula yang akut.


SEORANG NOVELIS 
Ia terkenal lewat novel-novelnya yang bercerita tentang seks dan kehidupan malam seperti Cross Mama (1966) dan Tante Maryati (1967). Karyanya yang berjudul Malam Jahanam dipilih sebagai naskah drama terbaik oleh Departemen P & K dan menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah seni dan teater.  Selain dikenal luas sebagai novelis, mantan Redaktur Kepala Penerbitan Nusantara ini juga menyandang predikat dramawan, sutradara film, penyair, dan pelukis. 

  
Novel 1949 Penerbit B.P BUDAJATA / 1968  
merupakan gambaran sejarah tentang kenangan buram masa revolusi fisik yang menyebabkan dirinya bersama keluarga harus mengungsi di hutan belantara 
Darah kecintaan pada sastra telah mengalir dari Sang Ayah kepada dirinya. Ketika masa pendudukan Jepang di tanah air sekitar bulan Maret 1942, di mana kedatangan pasukan Jepang membuat sebuah "mobil buku" milik Balai Pustaka ditinggalkan lari begitu saja oleh supirnya, sang Ayah sibuk menjarah buku-buku yang ditinggalkan sementara orang-orang lain mempreteli onderdil kendaraan tersebut. 

Akan Kembali Kepadanja/ Penerbit : Sari Tjipta Djakarta/1968

Saat peristiwa itu terjadi, dirinya telah berumur 5 tahun. Beberapa tahun kemudian, setelah beliau mahir membaca, buku-buku Balai Pustaka seperti karya-karya Karl May dan buku Mowgli Anak Didikan Rimba terjemahan Haji Agus Salim mendampinginya beranjak dewasa.

Bibi Marsiti / Penerbit : Lokajaya 1968

Motinggo Busye yang bernama asli Motinggo Bustami Dating, lahir di Kupangkota, Teluk Betung, Lampung, 21 November 1937. Ayahnya bernama Jalid Sutan Raja Alam, berasal dari Sicincin, Pariaman, Sumatera Barat. Sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara, Motinggo Busye harus ikhlas di usianya yang keduabelas tahun ditinggal mati kedua orang tuanya.


Motinggo Busye menggunakan nama penanya untuk pertama kali di tahun 1953 dalam majalah Nasional. Sementara novelnya yang berjudul 1949 merupakan gambaran sejarah atas kenangan buram masa revolusi fisik yang menyebabkan dirinya bersama keluarga harus mengungsi di hutan belantara.
Pernah bersekolah di Fakultas Hukum UGM Jurusan Tata Negara. Namun tidak sampai tamat, karena kecintaan pada dunia seni yang lebih besar telah menyedot seluruh perhatiannya. Bakat Montinggo Busye sudah kelihatan ketika beliau beranjak remaja. Berbagai kegiatan seni ditekuninya, seperti mengisi siaran sandiwara radio di RRI Bukittinggi, bermain drama, menjadi sustradara, melukis, menulis puisi, cerpen, novel, dan bahkan essai.

Pilihannya untuk kuliah di Kota Gudeg, Yogyakarta semakin menyuburkan bakat seninya tersebut. di Kota Pelajar inilah beliau bertemu dengan seniman-senimana kawakan seperti Rendra, Kirdjomuljo, Nasjah Djamin, dan membuatnya bergabung di Sanggar Bambu.

Nama Motinggo Busye makin berkibar di dunia kesusastraan tanah air. Karya-karyanya bertebaran di media massa, seperti Minggu Pagi, Budaya, Mimbar Indonesia, Kisah, Sastra, dan Aneka. Naskah Dramanya berjudul Malam Jahanam memperoleh Juara I Sayembara Penulisan Drama yang diadakan oleh Kementerian P.P. dan K di tahun 1958. Cerpennya berjudul Nasehat Untuk Anakku mendapat Penghargaan dari Majalah Sastra di tahun 1962. 

Perjalanan kehidupannya padat dengan kegiatan seputar seni dan kepenulisan. Beliau pernah menjadi wartawan majalah Aneka hingga menjadi redaktur. Kemudian, bakatnya sebagai sustradara semenjak remaja mengantarkannya menjadi sustradara film.  

Karya-karya Motinggo Busye menunjukkan perjalanan seni sekaligus perjalanan kehidupannya. Beliau pernah memasuki fase menulis novel-novel pop porno demi memenuhi kebutuhan ekonomi yang lebih baik. Namun, hidayah kemudian datang dari sosok anaknya yang belajar di Pesantren Gontor. Selanjutnya karya-karya sastra Motinggo Busye menjadi lebih religius dan serius. Cerpen Bangku Batu menyabet Juara IV dalam Sayembara Mengarang Cerpen di Ulang Tahun ke-31 Majalah Horison tahun 1997. 

Motinggo Busye merupakaan salah satu dari sedikit Penulis Indonesia yang terbilang produktif, lebih dari 200 buku, berupa novel, drama, cerpen, maupun puisi telah dihasilkannya. Karya tersebut juga telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa asing seperti Inggris, Belanda, Perancis, Jepang, Korea, dan Cina. 

Cerpen terakhirnya berjudul Dua Tengkorak Kepala di muat di Kompas, 13 Juni 1999, ketika beliau jatuh sakit. Pada tanggal 18 Juni 1999, dini hari, Motinggo Busye menghadap yang Kuasa, di Jakarta.



























 

NEWS MOTINGGO
12 Juli 1975
"saya ini suka gembira"


MOTINGGO Bosye, 38 tahun, jauh sebelum terjun ke dunia film, telah menempatkan dirinya sebagai pelopor dalam penulisan cerita hiburan yang hangat, tpi tetap mempertahankan mutu bahasanya. Anak muda sekarang sering menyebut kata indehoy, namun tidak banyak di antara mereka yang tahu bahwa kata itu adalah ciptaan Boesye yang populer lewat novel-novel popnya. Tapi Boesye bukan cuma sibuk menghibur. Ketika masih di Yogyakarta sebagai mahasiswa Fakultas Hukum, ia dikenal sebagai pelukis, penulis novel, cerita pendek, puisi serta drama yang cukup bernilai sastra. Sambil menulis drama, ia juga aktif di pentas, sebagai sutradara maupun pemain. "Melalui teater inilah saya terfarik kepada film", kata sutradara Boesye yang telah menyelesaikan 7 buah film. Berikut ini adalah wawancara singkat sutradara itu dengan Kepala Desk Film TEMPO, Salim Said Tanya: Film nampaknya lebih menarik anda dari menulis, mengapa? Jawab: Saya merasa film adalah dunia saya. Dalam film saya bertanggungjawab kepada banyak fihak: pada artis, pemilik uang, karyawan, penonton dan keinginan saya sendiri. Menulis? Saya masih, tapi hanya sebagai latihan.


T: Bagaimana anda melihat perbedaan menulis dan membuat film?
J: Sebagai penulis saya lebih merdeka. Saya mempunyai otoritas untuk menulis tentang apa saja yang saya sukai dan mengetik sebanyak kertas yang saya sanggup habiskan. Film jelas lain. Di sini medianya melibatkan banyak orang. Maka di sini faktor menyeleksi lebih memegang peranan penting.

T: Dalam dunia penulisan anda memulai dengan sikap serius, kemudian berakhir dalam karya-karya hiburan. Adakah dalam film juga akan berlaku hal yang sama?
J: Mungkin yang berubah itu bentuknya, tapi pengucapannya saya kira tidak. Dalam hal ini saya seolah-olah mengulangi Usmar Ismail. Ia pernah membuat Krisis, tapi kemudian juga membuat Tiga Dara. Kedila film itu toh bermutu--yang pertama film seni, yang kedua film hiburan--dan laku. Saya kira ini menyangkut soal modal. Jadi menyangkut pula usaha menarik penonton sebanyak mungkin.

T: Dalam keadaan tingkat penonton kita masih seperti ini, adakah anda melihat kemungkinan lahirnya film-film yang bermutu di Indonesia?
J: Bermutu itu bisa saja dengan cerita picisan tapi dengan pengerjaan yang baik. Contoh terbaik adalah Tiga Dara karya Usmar. Kisahnya sederhana, pengerjaannya baik. Film Indonesia sekarang ini umumnya tampil dengan kisah besar tapi kedodoran. Maunya hebat, tapi kemampuan teknis maupun intelektuil belum sampai. Dan ini terjadi ketika Wim Umboh membuat Mama.

T: Bagaimana komentar anda mengenai film Indonesia sekarang ini?
J: FIlm Indonesia sekarang ini--dari dialog, tema maupun akting para pemainnya -- hanya merupakan anak campuran bahkan anak haram. Ia cuma merupakan jiplakan dari film-film asing, terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Aktr-aktris kita juga berperan bukan sebagai tokoh Indonesia melainkan salinan dari bintang luar. Ini yang menyebabkan film kita kehilangan watak. Orang tidak bisa lagi melihatnya sebagai film Indonesia.

T: Bagaimana anda melihat hari depan anda sebagai sutradara dalam masyarakat film Indonesia?
J: Dalam dunia karang mengarang, saya menghabiskan 8 tahun sebelum mantap. Di film saya mulai tahun 1971. Baru 4 tahun. Saya harus bersabar sebelum menemukan kepribadian sendiri. Soal seperti kompromi tidak jadi soal setelah kita menemukan kepribadian kita. Tapi saya tidak tinggal menanti datangnya itu semua. Saya harus berjuang, merintis dan terus menerus mencoba meninggalkan jejak saya dalam karya-karya saya.

T: Film-film apakah yang anda ingin bikin pada hari-hari mendatang?
J: Saya ini suka gembira, tapi juga suka kalau orang lain gembira. Dan nampaknya komedi itu memang dunia saya. Tapi kalau saya bikin komedi lagi, saya ingin mengerjakannya lebih sempurna dan tanpa menggunakan pelawak.

1 komentar:

  1. terima kasih gan atas informasi nya

    jangan lupa kunjungi juga situs kami di

    http://stisitelkom.ac.id

    BalasHapus