Selasa, 01 November 2011

ALI SHAHAB 1971-1997


Ali Shahab
SEBAGAI sutradara yang memulai karirnya sebagai pelukis, juru rias dan penata seni, sebenarnya tidak terlalu mengherankan jika film-film Ali Shahab selalu menyenangkan di mata. Ini sedikit keistimewaan, sebab kini sulit menemukan sutradara Indonesia yang memiliki tangan seterampil Ali Shahab. Gambar yang tersorot bukan cuma indah karena lokasi yang terpilih, paduan warna yang serasi, komposisi gambar yang terjaga. Pilihan sudut pemotretan yang kreatif serta dinamis dalam film Ali senantiasa mengasyikkan dan mengikat mata penonton.



MANUSIA ENAM JUTA DOLLAR1981ALI SHAHAB
Director
MISTRI SUMUR TUA1987ALI SHAHAB
Director
PULAU CINTA1978ALI SHAHAB
Director
RANJANG SIANG RANJANG MALAM1976ALI SHAHAB
Director
NAPSU GILA1973ALI SHAHAB
Director
BERANAK DALAM KUBUR1971AWALUDIN
Director
KISAH ANAK-ANAK ADAM1988ALI SHAHAB
Director
RAHASIA PERAWAN1975ALI SHAHAB
Director
GADIS BIONIK1982ALI SHAHAB
Director
BUMI MAKIN PANAS1973ALI SHAHAB
Director
DETIK-DETIK CINTA MENYENTUH1981ALI SHAHAB
Director
CEMBURU NIH YEE...1986ALI SHAHAB
Director
GAUN HITAM1977ALI SHAHAB
Director
NAPAS PEREMPUAN1978ALI SHAHAB
Director.

Sinetron * Rumah Masa Depan (1980) * Nyai Dasimah * Putri Malam




 








ALI SHAHAB
adalah seorang wartawan dan sutradara senior Indonesia. Karyanya yang terkenal adalah sinetron Rumah Masa Depan yang ditayangkan di TVRI pada era 1980-an. Selain itu, ia juga menulis beberapa novel remaja bernuansa Islami.
Nama :Ali Shahab
Lahir :Jakarta 22 September 1941
Pendidikan :ASRI Yogyakarta (1958-1963)
Penghargaan :
Sutradara Komedi terbaik FSI (1996)
Profesi :Sutradara,Penulis Skenario,Pemilik PT. Sentra Focus Audio Visual (sejak 1988)
Kegiatan Lain :
Anggota Dewan Film Nasional (1989-1994),
Ketua Umum Asosiasi Rumah Produksi (1991),
Ketua I/Bidang Penjurian Panitia Tetap FSI (1994-1998),
Anggota Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (1995-1998)

Sinetron :
Rumah Masa Depan (1984-1985),
Desa Bumiku,
Tanah Air Tanah Rebutan,
Balada Para Pekerja,
Pintu yang Terbuka,
Anak Titipan (1993),
Kepak Sayap Merpati Muda(1994),
Burung Laut,
Nyai Dasima (1995),
Angkot Haji Imron (1996 dan 1997),
Neo Pepesan Kosong (1990-an)
Lahir di Jakarta 22 September 1941. Pendidikan Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta (1958-1963). Setelah lulus ASRI, ia langsung berkecimpung ke dalam dunia jurnalistik di Jakarta. Tahun 1967, ia menjadi pemimpin redaksi Indonesia Jaya. Ia juga menulis sekitar 20 judul novel populer. Tante Girang”merupakan ceritanya yang paling populer pada akhir tahun 1960-an dan mampu menembus layar lebar.
Langkah ke dunia layar lebar dimulai sebagai penata artistik dalam film Di Balik Tjahaja Gemerlapan (1969). Bidang penyutradaraan di awalinya dari film Beranak Dalam Kubur (1971). Setelah aktif di layar televisi dengan serial Rumah Masa Depan (1984-1985), kegiatan menggarap film untuk layar lebar menurun. Terakhir, ia menyutradarai film Kisah Anak-Anak Adam (1988) dan menulis skenario untuk film Si Gondrong (episode Lawan Bek Marjuk) pada 1990. Setelah lepas dari PT. Sepro Karya Pratama (1981-1987) milik artis Rahayu Effendi, ia mendirikan rumah produksi sendiri, PT Sentra Focus Audio Visual yang dibangun tahun 1988.
Kiprah awal rumah produksinya adalah melanjutkan serial Rumah Masa Depan (1990) yang di bintangi aktor Dede Yusuf dan Desy Ratnasari. Tahun 1991 terpilih menjadi Ketua Umum Asosiasi Rumah Produksi Indonesia (ARPI). Menjadi anggota Dewan Film Nasional (periode 1989-1994) dan Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) periode 1995-1998.
Pada kegiatan Festival Sinetron Indonesia yang dimulai sejak 1994, ia menjabat sebagai Ketua I/Bidang Penjurian Panitia Tetap FSI masa bhakti 1994-1998. Pada FSI 1996, ia terpilih sebagai sutradara komedi terbaik dalam Angkot Haji Imron. Sebelum itu karyanya Nyai Dasima menghasilkan piala bagi aktris utama Cut Keke dan aktor pembantu Charlie Sahetapy pada FSI 1995.
Pernah mendirikan Teater September, sebuah nama yang diambil dari bulan kelahirannya. Dari teater itu, sejumlah nama besar muncul, seperti Hamid Arief (alm) dan Wolly Sutinah alias Mak Uwok (alm).

ALI SHAHAB : WARTAWAN YANG TERJUN MENJADI SUTRADARA

PRIA berkulit putih dan brewok ini sepintas terlihat agak seram, apalagi ditambah sorotan matanya yang tajam, makin lengkaplah kesan itu. Namun jika diajak berbicara, dapat dipastikan, lawan bicaranya akan betah berlama-lama berdialog dengannya. Wawasan dan pengetahuannya sangat luas, baik menyangkut hiburan maupun tentang keagamaan. Dialah Ali Shahab, sutradara terkenal yang lahir di Jakarta, 22 September 1941. Dia pernah mendirikan Teater September, sebuah nama yang diambil dari bulan kelahirannya. Dari teater itu, sejumlah nama besar muncul, seperti almarhum Hamid Arief dan almarhumah Wolly Sutinah alias Mak Uwok, ibu kandung artis Aminah Cendrakasih alias Mak Nyak.
Pria yang mengaku telat kawin lantaran terlalu enjoi dengan dunia film ini menamatkan pendidikan di ASRI (1958-1963). Meski sejak pertengahan 80-an lebih dikenal dalam dunia sinetron, seperti kebanyakan orang sinetron, Ali Shahab juga tadinya dari film. Sebelum ke layar putih, dia wartawan/karikaturis dan tidur bangun dalam dunia teater sejak 1964, baik sebagai pemain, penata rias, dan terkadang merangkap sutradara. Langkah ke film dimulai sebagai penata artistik dalam film Di Balik Tjahaja Gemerlapan (1969). Namun masyarakat lebih mengenal dia sebagai penulis novel pop. Salah satu karya hebatnya Tante Girang (tahun 60-an) yang mampu menembus layar lebar itu. Bidang penyutradaraan diawalinya dari Beranak Dalam Kubur (1971). Setiap pembuatan film, cerita dan skenarionya dia tulis sendiri. Setelah aktif di layar kaca dengan serial Rumah Masa Depan (1984-1985), kegiatan menggarap film untuk bioskop menurun. Terakhir menyutradarai Kisah Anak Anak Adam (1988) dan menulis skenario Si Gondrong (episode Lawan Bek Marjuk) pada 1990. Setelah lepas dari PT. Sepro Karya Pratama (1981-1987) milik artis Rahayu Effendi, Ali mendirikan rumah produksi sendiri, PT Sentra Focus Audio Visual yang dibangun tahun 1988. Kiprah awal rumah produksinya adalah melanjutkan serial Rumah Masa Depan (15 episode, 1990) yang mampu mengangkat nama aktor beken, Dede Yusuf dan Desy Ratnasari. Tahun 1991 terpilih menjadi Ketua Umum Asosiasi Rumah Produksi Indonesia (ARPI).

Menjadi anggota Dewan Film Nasional (periode 1989-1994) dan Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) periode 1995-1998.
Pada Festival Sinetron Indonesia (mulai 1994) ia menjabat sebagai Ketua I/Bidang Penjurian Panitia Tetap (Pantap) FSI masa bakti 1994-1998. Produktivitas dan kreativitasnya tidak terhambat dengan berbagai jabatan. Itu dibuktikan pada FSI 1996, ia terpilih sebagai sutradara (jenis) komedi terbaik dalam Angkot Haji Imron. Sebelum itu karyanya Nyai Dasima menghasilkan piala bagi aktris utama Cut Keke dan aktor pembantu Charlie Sahetapy pada FSI 1995. Tahun 1997 ia menyambung serial Angkot Haji Imron.


NEWS ALI SHAHAB

Sebuah studio di tengah alam



Sutradara Ali Shahab membangun studio alam di desa Palasari, Ccimacan, Ja-Bbar. Bernaung di bawah PT Sentra Fokus. 15 serial sinetron rumah masa depan akan dibuat di tempat itu dengan kamera high band.



PENONTON yang kecanduan film cowboy Amerika lama-lama akan tahu juga, bahwa salon, bank, kantor syerif, dan kandang kuda yang mereka lihat itu semuanya cuma sekadar sulapan di studio. Tapi kalau crew TVRI harus menghadirkan suasana pasar, misalnya, apakah untuk itu mereka punya studio juga? Ternyata, penonton tidak usah kecewa, karena pasar yang mereka lihat di sinetron TVRI adalah pasar sebenarnya. Namun, dengan cara begitu, shooting di tempat umum jelas banyak risikonya. Pemotretan bisa tak lancar dan banyak suara mengganggu. Deru mobil atau jerit penjual ikan, misalnya. Ali Shabab, 48 tahun, mengambil jalan pintas. Ia membangun studio alam, di atas tanah 2 ha di Desa Palasari, Cimacan, Jawa Barat.



Namanya "Studio Alam Fokus" yang bernaung di bawah bendera swasta, PT Sentra Fokus. Modalnya? "Di atas Rp 500 juta," kata Ali tanpa menyebut jumlah persisnya. Di sana, sutradara 20 film itu bisa lebih leluasa menata lokasi film. Mau di pinggir danau, oke, di kamar makan boleh. Semuanya bebas dari gangguan umum. "Saya tidak mau capek mencari-cari lokasi dan mengemis macam-macam," kata Ali, yang sejak 1979 sudah merintis pembuatan video dokumenter. Ide untuk memiliki studio alam pribadi ini muncul sekitar delapan tahun lalu," kata Ali Shahab. Tepatnya, ketika ia -- masih bersama Rahayu Effendi memimpin PT September Promotions (Sepro) -- mulai menggarap sinetron TVRI Rumah Masa Depan (RMD). Ketika itu ia mengusulkan ke pihak TVRI agar menggarap RMD di luar studio TVRI, yakni dibekas tempat pembuangan sampah, di Desa Sukmajaya, Cimanggis. Usul ini terlaksana, akhirnya. Di sanalah dilakukan pemotretan sebagian besar dari 29 episode RMD paket pertama. Sementara itu, diam-diam Ali Shahab berupaya terus. Ia mulai mencicil tanah. "Bisa 2.000 meter. Lain waktu 3.000 meter. Pokoknya tergantung kondisi keuangan. Kami semua kan sektor ekonomi lemah," katanya tersenyum lebar. Belakangan usahanya ini terpacu oleh tawaran BKKBN, yang bersama TVRI ingin melanjutkan serial RMD. Tawaran itu diterima Ali Shahab, seluruhnya 15 episode, dengan biaya Rp 25 juta sampai 40 juta untuk satu episode. Studio alam milik Fokus kini baru "bermain" dengan satu rumah yang menjadi kediaman keluarga Sukri -- tokoh sentral RMD. Rumah itu berupa rumah jadi dari beton. Jika kamera memotret suasana belakang rumah, tampaklah jajaran Gunung Gede dan Gunung Salak.



Jika mengambil sudut muka, terlihat hamparan air danau dan sebuah air terjun buatan. "Saya lebih bebas mengambil sudut pemotretan," kata Ali. Katanya, pembangunan studio alam ini memang sangat terencana. Pasalnya, sebelum dibangun, ia sudah menentukan sudut-sudut mata kamera. Sedangkan kalau menyewa rumah orang lain, seperti yang selama ini lazim dilakukan, ia serasa dihadapkan pada banyak hambatan. "Mau meletakkan kamera di tempat yang bagus, ketabrak dinding rumah itu. Belum lagi keributan di sekeliling rumah." Dengan setting baru itu, sudah lima episode RMD diselesaikan hanya dalam tempo 21 hari shooting. "Artinya, satu episode hanya memakan waktu empat seperlima hari," ujar Ali. Setelah itu, film akan diolah di studio itu juga. Dalam mekanisme kerja yang ditunjang oleh studio dan peralatan baru itu, kini Ali Shahab sudah bisa memperkirakan "hasil akhirnya". Ini dimungkinkan karena adanya ruang kontrol dengan consult box. Di situ diletakkan perangkat video, tempat sang sutradara mengontrol shooting di bawah, sambil memberikan aba-aba jika ada yang kurang. Singkatnya, dengan video itu, Ali sudah bisa menilai apakah pengambilan gambar di bawah sesuai dengan yang diinginkannya atau tidak. Kecanggihan itu juga yang diperhitungkan oleh TVRI dan BKKBN ketika menawarkan 15 serial baru RMD kepada Ali Shahab. Dalam kontrak antara lain disebutkan, serial harus dishoot dengan kamera high band. "Supaya bisa dijual ke luar," kata Husein Aziz, Kepala Stasiun TVRI Jakarta. Potensi artistik ini dipujikan oleh Husein, sementara TVRI tetap akan membuat sinetronnya di studio Cimanggis.



Studio yang diresmikan pada 1987 itu, menurut Husein, akan disempurnakan secara bertahap. Hambatannya, ya, karena dana terbatas. Di pihak lain, Ali Shahab, yang pernah disanjung oleh para kritikus karena keberhasilan sinetronnya yang berjudul Juragan Sulaeman itu, kini memusatkan kegiatannya pada pembangunan fisik studio alam di Cimacan itu. Di situ akan dibangun lima rumah lagi -- masing-masing mewakili arsitektur daerah. Tapi buat apa? "Kalau memerlukan lokasi di luar kota, di Gunungkidul, misalnya, eksteriornya kita ambil di sana, tapi shoot interiornya bisa di studio ini," Ali menjelaskan. Seiring dengan itu, Fokus juga siap dengan peralatan yang lebih canggih. Kamera, misalnya, menggunakan perangkat multiple system. Menurut Ali Shahab, dengan kamera high band seperti itu, akan dihasilkan shot yang warnanya jauh lebih bagus dan berdaya tahan lebih tinggi. Rupanya, ia jera dengan penggunaan low band. "Karena tidak memenuhi persyaratan penyiaran di negara-negara lain," katanya. Kini dengan high band, Sentra Fokus siap menjual RMD ke Singapura, Malaysia, dan Brunei. Ali Shahab mengakui bahwa perjalanan idealisme seorang seniman, pada akhirnya akan bermuara ke bisnis. "Idealisme melahirkan kreativitas. Tapi kreativitas ditambah manajemen menjadi bisnis," ujarnya. Ali memulai kariernya sebagai wartawan, novelis, dan sutradara teater, meskipun ketika lulus dari ASRI ia bercita-cita menjadi pelukis. Namun, lukisan memang tak selalu harus di atas kanvas. Di atas pita video pun, orang bisa melihat gambar yang indah. Bunga S. dan Leila S. Chudori

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar