Minggu, 19 Juni 2011

FRED YOUNG UTOMO 1940-1975


FRED YOUNG UTOMO
FILM DIRECTOR








SAPUTANGAN 1949 FRED YOUNG
Director
SAPUTANGAN SUTRA 1953 FRED YOUNG
Director
DITEPI BENGAWAN SOLO 1951 FRED YOUNG
Director
SETULUS HATIKU 1955 FRED YOUNG
Director
SEHIDUP SEMATI 1949 FRED YOUNG
Director
BINTANG SURABAJA 1951 1950 FRED YOUNG
Director
ANTARA TERTAWA DAN AIRMATA 1951 FRED YOUNG
Director
SORGA TERAKHIR 1952 FRED YOUNG
Director
CHANDRA DEWI 1952 FRED YOUNG
Director
SEBATANG KARA 1954 FRED YOUNG
Director
SANGKAR EMAS 1952 FRED YOUNG
Director
RADJA KARET DARI SINGAPURA 1956 FRED YOUNG
Director
AIR MATA IBU 1957 FRED YOUNG
Director
RATAPAN IBU 1950 FRED YOUNG
Director
DIBALIK AWAN 1963 FRED YOUNG
Director
HARUMANIS 1950 FRED YOUNG
Director
BUNGA ROOS 1975 FRED YOUNG
Director
RUMAH GILA 1955 FRED YOUNG
Director
DAMARWULAN 1950 FRED YOUNG
Director
PUTRI SOLO KEMBALI 1956 FRED YOUNG
Director
PUTRI SOLO 1974 FRED YOUNG
Director
PUTRI SOLO 1953 FRED YOUNG
Director
DJEMBATAN MERAH 1940 FRED YOUNG
Director
HALILINTAR 1954 FRED YOUNG
Director.


FRED YOUNG UTOMO

Fred Young (lahir di Semarang, 31 Oktober 1900) adalah seorang sutradara, produser dan penulis skenario Indonesia yang namanya cukup dikenal oleh masyarakat di antara tahun 1950 hingga 1970an. Film-filmnya banyak dibintangi oleh para aktris terkenal pada zaman itu seperti Bambang Irawan, Chatir Harro, Netty Herawati, Fifi Young, dan Astaman.

Fred Young wafat di Malang, 2 Juni 1977.

Fred Young alias Nyoo Tiong Gie pengusaha Bioskop di Jawa Timur. Penggagas mendirikan perusahan film Majestic Pictures yang semula di Malang tetapi batal dan dibuat di Batavia. Modalnya datang dari Pabrik Gula Candi dan Porong, serta pabrik es di Surabaya. Bersama temannya The Teng Chung yang sama-sama mencintai pembuatan film sejak mereka kuliah di San Fransisco awal 1920 bersama kakak tertua Wong, Nelson wong. Mereka sering kabur ke Los Angels untuk mengintip orang membuat film di Hollywood.

Ia berkecenderungan ingin membuat film yang besar dan kolosal. Film Air Mata Iboe 1941 adalah film yang menyuguhkan drama yang menguras air mata yang tragis serta parade hiburan musik yang tidak kepalang tanggung. Bintangnya serba gemerlap yang terdiri dari nona-nona dan tuan-tuan berpendidikan tinggi. Diharapkan penonton yang berpendidikan tinggi tidak antipati terhadap film ini. Fifi Young pemain sangat memukau penonton, ia memerankan ibu muda sampai tua. Film ini tentang seorang ibu yang disia-siakan. Dalam film ini tidak kurang dari 11 lagu keroncong ciptaan R.Koesbini dan yang menyanyikan adalah 5 penyanyi besar.: Soerip, Soelami, Titing, Nong dan S.Poniman. Karena shoting mulai tahun 1941, film ini sempat tertunda karena jepang masuk, dan dilanjutkan oleh Tan Tjoei Hock saat Jepang masuk.

Saat Perang duni ke 2, namanya melonjak sebagai pimpinan panggung sandiwara Bintang Surabaya pada zaman Jepang. Grup sandiwara ini paling besar dan paling cemerlang dengan dekor yang serba mewah. Ia memang seorang tentertainer yang hebat. Sandiwara tonel adalah kelanjutan sebelum perang hanya saja menambahi bumbu untuk kepentingan perang Asia timur raya. Pendekatan mereka tidak berubah dengan melodramatik campuran Cina dan Amerika murahan, yang diterjemahkan dalam film Terang Boelan, yakni ada aksi percintaan, lagu/musik, pemandangan indah dan happy ending.

1949 Fred langsung terjun menjadi produser dan sutradara, ia gandengn The Teng Chun produser dan pemilik JIF (Java Industrial Film) yang muncul dengan nama baru Bintang Surabaya, yang memanfaatkan kepopularitasan panggung sandiwaranya pada jaman Jepang. Film Sapu Tangan, ia terpaksa mengecat sapu tangan dengan dua warna, karena warna sapu tangan itu bercerita, inilah film berwarna pertama. Walaupun cara memproses warnanya dilakukan frame by frame dan hasilnya cukup menggelikan karena warnanya bergerak-gerak. Tetapi film ini di puji oleh kalangan Cina sebagi film yang beda. Karena selain ada 7 lagu hit yang populer, dan inilah film Indonesia pertama yang ada Sonder perkelahiannya. Pada Panggung Bintang Surabaya, nyanyian adalah salah satu kekuatan group ini. Beda dengan opera stamboel yang dialog dinyanyikan bersautsautan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar