Sabtu, 12 Maret 2011

DUYUNG AJAIB / 1978

DUYUNG AJAIB

Ini adalah Film Pertama Benyamin Selaku Sutradara

Si Otong (Benyamin S), anak satu-satunya seorang janda (Wolly Sutinah), memaksakan diri untuk bekerja sebagai pelaut, sebagai kelasi. Dalam sebuah kesempatan berlayar, Otong memancing ikan di laut dengan umpan buah apel. Umpan itu disantap oleh ikan duyung, Otong tak kuat menariknya dan jatuh ke laut. Otong dinyatakan meninggal dunia, dan berita itu sampai ke telinga ibunya. Ternyata Otong bukannya hilang melainkan terdampar di suatu pantai bersama ikan duyung. Karena hukum adat di pantai itu, Otong diharuskan mengawini ikan duyung tersebut. Sampai di rumah, ikan duyung itu dipelihara di empangnya dan sempat dikomersialkan. Sebuah keajaiban terjadi, ikan duyung itu berubah menjadi wanita cantik (Nenny Triana). Maka Otong pun mantap menjadi suami ikan duyung cantik itu. Tetapi suatu ketika si duyung cantik itu melihat air laut, membuatnya kembali berkeinginan bersama rekan-rekan sesama ikan duyung. Akhirnya duyung cantik itu terjun ke laut dan berubah seperti semula, ikan duyung yang jelek dan gemuk (Idjah Bomber). Tinggallah si Otong meraung-raung di pinggir pantai.

22 April 1978
Menjadi sutradara
DALAM film Raja opet, penyanyi Benyamin S main sebagai si raja Copet tersebut. "Gua kagak senang sama ceritanya, kata Benyamin, "tapi aneh, filmnya meledak kalahin Pinangan yang gua juga turut main." Tertarik akan raja Copet yang ceritanya berantakan itu, Benyamin kemudian mendapat akal untuk bikin film sendiri. Karena Benyamin yang satu ini sudah kaya, maksudnya ini kesampaian. Dia kemudian mengarang cerita (kemungkinan besar dia menyewa tukang ketik naskah) dan dia menyutradarai sendiri filmnya itu . Judul film Duyung Ajaib. Ada seseorang yang jadi penasehat Benyamin dalam hal ini, Syuman Jaya. "Tapi Syuman mah cuma bantu moril aja,' kata Benyamin. Lanjutnya lagi: "Dia cuma bilang: jalan deh. Soal tengok ke mari, satu kalipun belum. Apalagi dia sekarang ada di Australia." Selamatan Duyung Ajaib sudah dimulai, hasilnya --baik atau tidak film bikinan 13enyamin yang pertama ini-bisa dilihat beberapa bulan lagi. "Saya tahu kalau ada yang nuduh saya serakah," tambah Benyamin lagi. Dia toh harus mencari akal untuk cari bidang lain kalau bidang rekaman sedang lesu begini. Katanya lagi tentang dia jadi sutradara "Ini karir yang top bagi gua."

BULAN ini Benyamin S. sedang main film di Malaysia. Judulnya Pangeran Badul. Seperti biasa lakon buat Ben kocak tentunya film ini - arahan sutradara Husin Abu Hasan. Apa memang pasaran film dalam negeri sudah demikian lesu sampai Ben 'nyeberang' ke sono? "Ah, kagak begitu. Orang namanya rejeki masa ditampik?" sahutnya. Tapi penyanyi yang kini produser film itu -- Ji'ung Film nama perusahaannya -- toh merasa ada tekanan yang dirasanya tak enak buat pasaran filmnya dalam negeri -- terutama untuk peredaran ke daerah. "Enak aja ditawar murah-murah. Ini kelakuan broker, " gerutunya. "Sampai Tua bilang, mendingan gua simpan aja itu film, biar jadi kayak tahu goreng . . . " Katanya, di Jakarta filmnya yang baru, Duyung Ajaib, terbilang salah satu dalam big five -- yakni sanggup bertahan sebulan, meski dia deg-degan juga bersaing dengan film impor yang juga laris: Jesus of Nazareth. Lalu seorang kenalannya bilang: "Sudah bagus jadi penyanyi, mau-maunya bikin film segala .... " Tapi kata Benyamin: "Sebagai penyanyi, bikin rekaman baru pun tidak gampang. Musti selalu muncul dengan sesuatu yang baru." Dia tak merasa kuatir pasarannya sebagai penyanyi bakal beralih ke tangan 'duplikatnya' -- yang juga sering muncul di TVRI: Urip Arpan. Secara berseloroh pernah dia sebut Urip itu 'asemblingan'. Ini bikin si Urip gregetan: "Ya, kalo ngeledek jangan telak begitu dong," katanya kepada TEMPO. "Tapi dia orang gede sih. Kita berbuat gimana juga, paling orang bilang, eh lu cuman niru-niru." Itulah tak enaknya jadi orang tiruan.


"SAYA sih kagak pernah ngelamar jadi bintang pelem," ujar Nasir dengan santai. "Unitnya sendiri yang datang ke rumah, minta saya main." Laris dan kesohor di panggung Lenong dan Topeng Betawi, Nasir (49 tahun) mulai main film sejak 1977. Filmnya yang pertama, Pinangan, disutradarai Syuman Jaya. Kini paling tidak sudah 5 film dibintanginya. 4 yang lain ialah Si Ronda Macan Betawi, Duyung Ajaib, Betty Bencong Slebor dan yang kini sedang digarap Wim Umboh: Pengemis dan Tukang Becak. Teman Nasir yang juga tidak kalah bekennye ialah: Si Bokir, 3 tahun lebih tua. Di tahun ketika Nasir ketiban rejeki main film, Bokir demikian pula. Film Bokir yang pertama, Duyung Ajaib, garapan penyanyi kaya Benyamin Suaib. Tiga film Bokir yang lain: Rosita Wanita Siluman, Si Ronda Macan Betawi dan Betty Bencong Slebor. Grup Nasir dan Bokir mencuat pertama kali ketika Dewan Kesenian Jakarta di tahun 1969 "mengangkat" mereka ke Taman Ismail Marzuki. Bayaran untuk Nasir dan Bokir hampir sama: Rp 250.000 setiap nyeplos di film. "Gede sih gede bayarannya. Tapi main pelem capek," ujar Nasir. "Udah selesai syuting, eh, harus ngisi suara lagi." Bokir juga menyatakan enakan main lenong: begitu selesai main, kontan mengantongi duit. Sedang honor film baru diberikan seusai peranan. Ada kesusahan lain? "Ada," jawab Nasir. "Main pelem, akting dan dialognya musti diatur. Kagak kayak lenong dan topeng."



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar