Jumat, 04 Februari 2011

SAYANGILAH DAKU / 1974

SAYANGILAH DAKU

Telly(Deasy Arisandi) kaya, manis tapi pincang. Cacat inilah yang membuat calon suami pertamanya yang gemuk dan tua, menolak. Kemudian datang Hadi (Dicky Zulkarnaen), yang tampak baik, hingga Telly mau kawin. Ternyata Telly masuk perangkap. Hadi dan ibunya (Mieke Wijaya) adalah manusia serakah dan busuk, sampai Telly masuk rumah sakit. Maka datanglah suami baik yang sungguhan, dokter yang merawatnya, membawanya ke Jerman, dan pulang dalam keadaan sempurna. Suatu film yang dimaksud untuk memeras air mata.

News

12 Juli 1975
Ratapan lain ?


SAYANGILAH DAKU Cerita: Mawarliany Skenario/sutradara: Motinggo Boesye. *** MEMPERKENALKAN keluarga Anwar, tekanan terutama diberikan pada Telly (Deasy Arisandi) yang pincang. Kaya, manis tapi pincang, memang bukan kombinasi yang baik, dan mas Win yang gemuk serta tua itu menolak menjadi menantu pak Anwar (Rendra Karno). Rasa-rasanya bukan penolakan itu benar yang meneteskan air mata Telly. Tapi adakah seorang lelaki baik-baik - teman usaha Anwar - seberutal itu menolak permintaan seorang calon mertua dengan anak yang cacat? Jika anda telah menyaksikan karya Motinggo Boesye ini, sedikit kemungkinan anda bakal menjawab: "ada". Hati-hati, sebab bukan karena Motinggo tidak tahu menggambarkan adegan pertemuan mas Win dengan si-pincang Telly. Jika anda mengikuti jalan cerita hingga akhir, nah, anda akan temukan ujung pangkalnya. Maka ini nampaknya sejenis tontonan yang dibangun dengan sebuah resep yang konon pernah cukup mujarab. Tidak usah jauh-jauh mencari, ini film dibuat dengan konsep Ratapan Anak Tiri. Resepnya sederhana: yang jelek, amat jelek (akhirnya hancur) dan yang baik, terlau amat baik (mula-mula menderita, tapi akhirnya menang).

Jadi kalau - adegan mas Win yang menghancurkan hati Telly pada pembuka film tidak berkenan di hati dan otak penonton, harap mengerti sajalan bahwa itu hanya persiapan untuk lebih menyiksa Telly sebelum pada akhirnya ia - sebagai tokoh baik - bakal dimenangkan (penyakit sembuh, dapat suami dokter dan ke Jerman segala). Dengan mengerti resep pembuatannya, dalam menonton film ini orang tidak usah banyak bertanya mengenai kekejaman tokoh Hadi (Dicky Dzulkarnaen) serta ibunya (Mike Widjaya). Dengan menganiaya Telly hingga masuk rumah sakit, kedua anak beranak ini sebenarnya tidak lebih dari memerankan tokoh jelek yang harus jahat sejahat-jahatnya untuk akhirnya dihancurkan tepat pada saat Telly mendapat kebahagiaan. Kebiasaan menghasilkan film dengan penggambaran kontras hitam putih semacam ini sebenarnya bukan barang baru, meskipun untuk jenis film berwarna diperkenalkan kembali oleh Sandi Suwardi Hassan lewat film Ratapan Anak Tin dan seri-seri berikutnya. Dongeng-dongeng kuno Indonesia pada umumnya beredar dalam bentuk ini. Tujuannya jelas, agar mudah dimengerti oleh para pendengarnya. Tapi dalam film, berkat sifat audio visuilnya yang mengundang partisipasi banyak indra, lukisan hitam putih macam itu dengan segera menimbulkan rasa kejanggalan. Karena itulah maka baik kisah Ratapan Anak Tiri maupun Sayangilah Daku, barangkali saja tidak memancing kejanggalan jika dibaca sebagai sinopsis maupun cerita pendek dan bukan film. Efek Tertentu Sebagian orang menganggap bahwa kegagalan kisah macam karya Mawarliany ini di layar putih bersumber pada kurang terampilnya sutradara. Mungkin benar. Tapi melihat bahwa baik tokoh ibu yang tua maupun tokoh Hadi yang lebih muda tidak mengalami perkembangan watak hingga akhir cerita, jelas bahwa soal harus dipulangkan pada adanya suatu konsep tertentu dengan niat mendapatkan efek tertentu pula. Sayangnya konsep semacam itu tidak mudah diakurkan dengan sifat dasar film.

Sebuah film tentang manusia haruslah berkisah tentang manusia dengan segala lekuk likunya, yang kadang memang tidak selalu mudah dijabarkan. Menyederhanakan kisah tersebut, apalagi mencoba membengkak-bengkokkan untuk efek-efek tertentu kebanyakan hanya menghasilkan karikatur belaka. Karena ia cuma karikatur, maka pada Sayangilah Daku, di mana turut bermain Dr. HB Jassin ini, kita tidak bertemu dengan Boesye yang dalam novel-novelnya terkenal amat berbau Anton P. Cekov yang penuh nuansa itu. Harus disayangkan, terutama karena pada film ini ketrampilan Boesye lebih sempurna dari pada ketika mengerjakan Si Rano (TEMPO, 19 Oktober 1974). SS.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar