Sabtu, 05 Februari 2011

NJOO CHEONG SENG 1940-1955

NJOO CHEONG SENG


MASUK KAMPUNG KELUAR KAMPUNG 1955 NJOO CHEONG SENG
Director
HABIS HUDJAN 1955 NJOO CHEONG SENG
Director
DJANTOENG HATI 1941 NJOO CHEONG SENG
Director
AIR MATA IBOE 1941 NJOO CHEONG SENG
Director
PANTJAWARNA 1941 NJOO CHEONG SENG
Director
KEBON BINATANG 1955 NJOO CHEONG SENG
Director
KRIS MATARAM 1940 NJOO CHEONG SENG
Director
ZOEBAIDA 1940 NJOO CHEONG SENG
Director.


Njoo Cheong Seng
Fred Young lah yang menarik Njoo masuk dalam film JIF, setelah ia meninggalkan Oriental film , sebagai tulang punggung Fred Young dalam penciptaannya. Njoo yang suaminya Fifi Young artis yang lagi terkenal saat itu dan banyak main film, mempunyai kecendrungan ingin membuat film yang dasyat, kolosal dan spektakluler. Dan Fred Young sendiri merasa cocok dengannya yang sama-sama memiliki tujan dan impian.

Dengan Majesti Pictures 2 film yang dihasilkan Djantoeng Hati dan Airmata Iboe, kedua film ini adalah drama penuh dengan airmata yang tragis dan parade hiburan nyanyian yang tidak kepalang tanggungnya. Bintangnya serba gemerlap yang terdiri dari kaum berpendidikan tinggi. Dan diharapkan juga sukses di penonton golongan atas dan berpendidikan. Karena pada tahun 1940 ciri paling dominan dari pembuat filmnya adalah usaha menggunakan resep Terang Boelan yang sukses dan tumbuhnya keinginan agar film bisa diterima oleh kalangan baik-baik, dan terpelajar. Hal ini karena sebagai upaya yang dilakukan untuk menyambut imbauan kemajuan yang dituntut oleh perkembangan pergerakan nasional saat itu.

Memasuki tahun 1941, orang film sudah merasa berat menghadapi tuntutan publik terpelajaran dan pers perjuangan. Apa yang mereka inginkan dianggap tidak proporsional. Sebaliknya, kalangan publik terpelajar terus saja meningkatkan harapannya, sesuai dengan meningkatnya dengan cepat tuntutan menyiapkan diri untuk menjadi bangsa yang merdeka.

Dalam tulisannya dengan nama samaran M.d'Amour ia mengeluhkan sikap pers dan publik yang mengharapkan terlalu berlebihan dan film nasional. Menurutnya, orang film sulit sekali untuk memenuhi keinginan kalangan bawah dan atas secara bersamaan, yang seleranya sangat jauh beda.

Sebagai reaksi terhadap pendapat Nyoo, RM Winarno (pimpinan harian Berita Oemoem) menulis,"tidak setuju kalau mempertimbangkan film Indonesia masih dalam taraf permulaan lalu boleh seenaknya saja, boleh seperti film Amerika pada tahap permulaan. Karena, selera, perasaan, dan pikiran orang sekarang sudah berkembang. Meski pun film Indonesia masih baru, namun harus disesuaikan dengan keadaan zaman. Dalam sejarah negara manasaja, sahamnya, untuk mempengaruhi, mendorong, mengalirkan semangat serta perasaan pada rakyat hingga cocok dengan panggilan waktu. Dizaman dulu hanya ada satrawan, pujangga, dan pelukis-pelukis, hingga kewajiban untuk membimbing dan menggolongkan perasaan umum itu cuma terletak pada pundak mereka, tetapi diwaktu sekarang ada orang-orang film, sutradara-sutradara, dan penulis-penulis film harus dapat turut memberikan bagiannya untuk melahirkan perasaan-perasaan baru guna turut membangun masyarakat baru."

Pada pertengahan 1941,konflik pemerintah anatar Hindia Belanda dengan Jepang, yang sebetulnya hanya dicari-cari saja oleh Jepang sudah hampir mencapai puncak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar