Rabu, 09 Februari 2011

MUTIARA DALAM LUMPUR / 1972


MUTIARA DALAM LUMPUR

Film kedua Wahyu Sihombing ini tentulah lebih baik dari yang pertama, yaitu Matinya seorang Bidadari. Skenarionya ditulis Asrul Sani jauh lebih mudah diikuti dan menyenangkan untuk di tonton. Pendapat ini sekaligus untuk menyatakan bahwa skenario Bidadari yang gagal. Menyadari hal itulah rupanya maka Sihombing memutuskan untuk tidak menulisnya, hanya menyutradarai saja.

Persolah tidak selesai karena skenarionya ditulis oleh Asrul Sani. Kisah cinta dua anak manusia ini sebenarnya berkehendak menjadi sebuah dongeng yang indah pada mulanya, sedemikian rupa sehingga orang tidak merasa perlu mepersoalkan asal-usul Khalid yang tiba-tiba muncul dari sebuah perahu yang menghilir di sungai. Fantasi sangat mendukung sebuah cerita tentang kurangnya menyertai Asrul ketika menulis skenarionya. Selain agak skematis, nuansa-nuansa hilang oleh kurangnya fantasi itu pun membawa akibat yang berbau hitam putih antara tokoh jahat dan tokoh baik. Kontras hitam putih ini bisa saja penafsiran sutradara, tetapi jika sepanjang kisah tokoh Asikin selalu diperlihatkan marah dan kasar, tentu tidak ada pilihan lain dari sutradara. Satu-satunya yang terlihat jelas penafsiran sutradara adalah pada adegan makan dengan gaya slapstick. Bagian ini secara tersendiri mengasyikan lucu dan kocak. Digambarkan disitu keluarga terkemuka di kampung harus makan dengan orang Belanda dengan cara Belanda pula. Menyusun sendok saja tidak bisa, apalagi makan pakai sendok. Maka paha ayampun terloncat dari mulut dan gambar stop motion tepat pada saat itu. Penonton tertawa.












Tetapi secara keseluruhan tidak ada pendekatan sutradara dengan cerita ini. Maka jadilah film ini melodrama yang ditempeli komedi.


Tetapi bagi penonton biasa yang tidak kritis, atau penonton sahabat dekat Asrul dan Sihombing, atau mereka yang tahu 2 tokoh ini, maka film ini mendapat pujian. Lepas dari soal-soal kritikan yang kritis bagi penonton yang jeli. Seperti banyaknya yang membicarakan adegan tiba-tiba datang Khalid pada saat jatuh melaratnya Asikin; mati mendadak kedua orang tua Asikin tanpa sebab jyang jelas, dan sebagainya.

Cerita ini ditulis Asrul ingin membuktikan betapa cinta diantara dua mahluk Tuhan itu bisa mengatasi rintangan waktu dan hambatan-hambatan firmalitas. Fatimah (Totty Nasution) yang mencintai Khalid terus berada dengan setia di sisinya. Perempuan yang malang itu akhirnya mati terbenam karena mengejar bayangan kekasih yang mati juga diujung pelurui pembantu suaminya. Dan kisah cinta itu tidak sampai di layar lebar.

Tetapi penonton cukup bersedih sambil menonton, ini yang banyak dapat pujian. Sutradara yang matang di panggung ini juga membuktikan kesanggupannya menciptakan pemain dan memperbaiki permainan pemain yang sudah ada. Totty Nasution memulai debutnya dalam film ini, Shopan Sophian dalam film ini bermain jauh lebih baik dari film-filmnya yang lain..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar