Jumat, 11 Februari 2011

MALAM PENGANTIN / 1995

MALAM PENGANTIN

Ibu guru Lestari (Lenny Marlina) berhenti mengajar setelah kawin dengan Rama (Fadly) yang baru pulang dari luar negeri. Lestari anak tunggal dan yatim piatu ternyata mandul. Suatu hari ia berjumpa lagi dengan Shinta (Tanty Josepha) murid kesayangan yang tidak betah betah hidup dengan ibu tirinya apalagi ayahnya sopir truk pemabuk, meninggal karena kecelakaan. Shinta pun diajak tinggal dirumah Lestari, ketika ditemuinya lagi saat kecelakaan di tengah jalan.

Keinginan orang tua Rama akan keturunan membuat mereka mengajak Lestari berobat ke Tokyo sambil meninggalkan Rama-Shinta sendirian di rumah. Akibatnya tentu saja sudah diduga Lestari, sekembali dari Tokyo tentu mengamuk dulu sebelum merestui perkawinan Rama-Shinta, karena ia sadar tidak dapat memberikan keturunan. Karena kesalahpahaman Shinta lari. Rama atas desakan bekas ibu guru yang baik sekali itu mencari Shinta yang diketemukan jadi penyayi kelab malam. Maka dengan tanpa sepengetahuan Lestari mereka bermalam pengantin. Lalu muncul masalah lagi Rama menuduh Shinta serong dan tak mau mengakui bayi yang ditinggal pergi ibunya. Datanglah Lestari. Di atas sakit ia berdiri megah dan ditangannya tergeletak bayi merah. Kepada kalayak yang memenuhi rumah sakit ia berseru akan membunuh bayi yang tak ada pemiliknya itu. Suasana sangat dramatik yang tak tercapai karena lupa hal-hal yang kecil seperti kepanikan pegawai rumah sakit maupun khalayak yang berkerumun di bawah.

NEWS 22 November 1975

Kok masih berbau hong kong

Malam Penganten Cerita: Yudi Astono Skenario: Indra Wijaya Sutradara: Lukman Hakim Nain *** INI film berakhir dengan dramatis: seorang bayi nyaris saja diterjunkan dari atap rumah sakit bersalin. Dan orang pun tiba-tiba teringat pada Nabi Sulaiman, yang konon pernah juga mengancam membunuh seorang bayi (dengan jalan membelahnya dengan pedang) jika saja kedua perempuan yang saling mengakuinya tak kunjung mengakhiri pertentangan mereka. Bayi dalam film judul Malam Pengantin ini memang tidak diperebutkan oleh siapa-siapa, bahkan sebaliknya. Ia ditinggal pergi ibunya, sedang ayahnya enggan pula mengakuinya. Maka tampillah ibu tirinya (perhatian, ibu tiri yang satu ini tidak seperti yang sering digambarkan oleh sejumlah besar film Indonesia) - seorang perempuan mandul, terlalu baik hati dan tahu kebutuhan mertua akan cucu. Sebelum tiba pada keributan di rumah sakit bersalin, para penonton diharap bersabar, sebab segala soal tetek bengek harus terlebih dahulu digambarkan. Perempuan mandul ini adalah seorang guru SMA, anak tunggal yang telah yatirn piatu, namanya Lestari (Lenny Marlina). Salah seorang muridnya, Santi (Tanty Yosepha) adalah pula seorang anak tunggal dari ibunya yang telah pula almarhumah. Ibu guru yang bernama Lestari ini dicintai oleh anak orang kaya baru pulang dari luar negeri (tidak jelas untuk keperluan apa), anak tunggal pula. Hatta, maka ini adalah kisah segi tiga dari tiga anak tunggal. Nah, anak tunggal jadi terlalu sering hinggap dalam film Indonesia ini. Juga gambaran sebuah rumah besar muncul tanpa babu atau pun jongos. Kebiasaan macam ini memang sengaja untuk memudahkan si pembuat film sembari meringankan beban si produser.

Pada saat orang Indonesia terkenal hidup dalam kepungan keluarga besar dan para nDoro ayu dengan bayaran murah bisa menyewa sejumlah babu dan jongos gambaran yang muncul lewat film-film lndonesia itu jelas merupakan pembohongan terhadap kenyataan keras di sekitar kita. Itulah akibatnya kalau para produser yang mengarang cerita sendiri terlalu seia dalam meniru film-film asing yang dijiplaknya. Keluarga kecil langka jongos dan babu memang lazim di Hongkong maupun Hollywood, tapi tidak di Jakarta. Eh, Kebetulan Soal anak tunggal itu barangkali memang hal kebetulan. Sayangnya faktor kebetulan ini terus menerus diternak. Perhatikan adegan Santi pingsan di tengah jalan. Pada saat yang sama, dengan berkendaraan mobil, Lestari yang cemas menanti bekas muridnya, berkeliling kota mencari Santi. Soalnya tentu lebih mudah kalau Lestari tahu alamat Santi. Dan karetla tidak tahu, ia berkeliling kota Jakarta. Eh, tahu-tahu ketemu tepat pada saat Santi digotong orang banyak yang menolongnya di tepi jalan Pada adegan persiapan keberangkatan Lestari dan kedua mertuanya ke Tokyo, tidak muncul argumentasi Rama yang ditinggal berdua dengan Santi. Juga adegan Santi dibawa ke pegunungan oleh Rama selama 4 hari. Semua ini mungkin terjadi dengan wajar di negeri sana, tapi tidak di sini. Di Indonesia, negeri yang masih dengan segala macam ukuran moral, meninggalkan serumah laki-perempuan bukan muhrim untuk masa lama, belumlah terjadi semudah yang digambarkan pembuat film ini. Maka seraya terpincang-pincang menyongsong klimaks, cerita pun mulai dengan "ketegangan-ketegangan". Melakukan kebiasaan kebanyakan orang Indonesia yang memberitahu hari ketibaan dari luar negeri, Lestari sudah di rumah ketika Santi dan Suaminya masih berada di pegunungan. Sembari terus menghangatkan suhu cerita -- setelah Santi berhasil mempertahankan kehormatan terhadap bujukan Rama--Lestari langsung saja mengantuk. Di layar tiba-tiba saja Rama dan Santi sudah berada di depan penghulu.

Dan bagaikan penyair W.S. Rendra, Rama pun menyimpan dua isteri di bawah satu atap. Jongos Mencang-mencongnya cerita dalam film Indonesia, rasanya sudah bukan harang baru. Semua orang tahu bahwa sebagian besar cerita film Indonesia dijiplak dari film asing oleh produsernya sendiri. Kalau sang produser mempunyai kemampuan mengadaptasi yang lumayan, filmnya juga bisa selamat-selamat saja. Akan halnya Yudi Astono dan Indra Wijaya - keduanya produser film Malam Pengantin--jelas mereka tidak cuma bisa mengadaptasi, bahkan menata cerita pun kacau. Film Malam Pengantin ini menjadi bertele-tele lantaran penulis skenario tidak mengerti seleksi. Banyak soal yang seharusnya bisa diselesaikan dalam satu adegan, tapi tercecer dalam berbagai adegan. Dalam keadaan film telah selesai, editing kembali jelas sulit, dan film ini pun tetap berlarut-larut. Sutradara Lukman Hakim Nain, sebenarnya tidak harus terlalu setia kepada skenario. Konon ia telah berbuat banyak mengatasi kekacauan cerita. Tapi toh bekas tangannya yang jelas hanya pada adegan babu dan jongos. Adegan ini tidak konyol macam sejumlah film Indonesia yang mencoba melucu gaya khadam zaman sandiwara Dardanella. Sebenarnya masih banyak yang bisa-dilakukan Lukman. Sayang bahwa film Lukman Hakim yang satu ini lewat dengan mengesalkan, padahal ia berhasil dengan film pertamanya yang berjudul Dikejar Dosa. Tapi lalu bagaimana? Salim Said

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar