Jumat, 04 Februari 2011

HOSTESS ANITA (Sendja Selalu Mendatang) / 1971

HOSTESS ANITA

Sunarti alias -kemudian-Anita (Mila Karmila) akhirnya jadi hostess karena pekerjaan lain tak ada. Tekadnya adalah untuk membalas budi ibunya (Marlia Hardi), janda yang sakit-sakitan. Di tempat kerjanya ia kemudian dapat langganan, Winarto (S.Bono) yang ternyata adalah ayah kandungnya. Ketika Carla (Susi Pangat), istri Winarto, mencium gelagat suaminya, ia sempat menyewa pemuda brandalan. Untung ada Darmawan (Ishaq Iskandar), yang membawanya ke klab malam dan selalu membelanya. Upaya Anita tak disukai ibunya, hingga yang terakhir ini meninggal.


NEWS
SEMAKIN lama semakin djelas bahwa jang tidak beres dalam film-film buatan Indonesia terutama adalah tjerita dan skenarionja, tapi paling menondjol jang disebut terachir. Meskipun djenis tontonan massal itu dibuat dengan alat terbaru --lajar lebar berkelir pula-- tapi tidak bisa disangkal bahwa produser-produser Indonesia kebanjakan masih bekerdja dengan konsep djaman Gagak itam sebelum perang. Selain banjak tjerita jang tidak lebih dari peniruan terhadap film-film Hongkong, sebagian besar sisanja merupakan hasil imadjinasi para produser sendiri, jang tentu sadja tidak perlu mengetjewakan kalau hasilnja lebih dari pada hanja mengetjewakan. Soal mengetjewakan ataupun menjedihkan barangkali tidak lebih pening dan menondjolkan gedjala pengaruh berat melodrama-melodrama Hongkong bahkan djuga India - pada film-film Indonesia. Menarik untuk diperhabkan bahwa djustru pengaruh melodrama jang kebanjakan tjengeng itulah rupanja jang bakal mendjadi pola tjerita film dinegeri ini. Disana kesedihan digambarkan sedemikian seru sehingga tidak susah menemukan iklan film jang membudjuk penontonnja agar tidak lupa mengantongi lebih dari sehelai saputangan sebelum membeli kartjis. Kekedjaman djuga digambarkan dengan fantastis, dan hasilnja tidak lebih dari sebuah lukisan hitam putih tentang manusia. Dan dibalik benak pembuat film-film melodrama ala Hongkong dan India itu manusia memang hanja mempunjai kemungkinan buruk sekali atau baiknja menjaingi nabi. Geli dan risih. Tentu bdak seluruh penjakit matjam itu ditemukan dalam film pertama sutradara muda Matnoor Tindaon--ia sekaligus merangkap penulis qerita dan skenario--jang bernama Hostess Anita api orang jang menont disebut dengan tekun lebih banjak kemungkinan untuk tiba pada kesimpulan: geli dan risih, kendatipun Tindaon berhasrat keras mentjiptakan kesan tragik pada diri penonton-penonton. Keberaniannja memilih dunia perhostesan sebagai wilajah bertjeritanja memang harus dipudji, walaupun diper kirakan bahwa sebagian besar orang tjendrung untuk menilai keberanian hanja sebagai salah satu unsur pada pembuatan film. Apalagi tentu kalau keberanian itupun tjuma sebuah keberanian buta. Melihat pengulangan dialog pledo bahwa hostes bukan pelatjur pada saa jang tidak berdjarak lama dengan peristiwa dipeliharanja hostes Anita (Mila Karmila) oleh tuan Wiranto (S.Bono) jang meskipun kemudian ternjata adalah ajahnja, sampai achir berita tidak sempat disadari oleh oknum jang berkepentingan tjuma berhasil mentjiptakan pertanjaan dikepala penonton: Matnoor Tindaon berniat bikin drama atau parodi? Jang pasti keduanja bukan. Menjebutnja sebagai melodrama murah djuga tidak seluruhnja tepat, sebab adegan-adegan berkebendrungan surrealis djuga di bikin -- adegan matinja sang ibu--di sampjng sedjumlah adegan jang hanja memboroskan celuloid -- adegan Fifi Young jang membingungkan, adegan anak muda diatas mobil setelah adegan penabrakan Mila. Nampaknja jang amat pasti pada film ini adalah bekas tangan Asrul Sani ketika jang terachir ini membuat film Apa Jang Kau Tjari Palupi? dengan Matnoor Tindaon sebagai asisten sutradaranja. Amat sajang untuk menjebut bahwa pengaruh itupun buma bisa terlihat namun tidak terasa. Selain sudut-sudut pemotretan, Matnoor buma meniru bara gurunja membuat suasana drama melalui kontras antara suara azan dan keharuan djadi hostes. Dan karena pertentangan mabam itu diulangi hingga dua kali, sudah barang tentu akibatnja pada penonton lebih dari hanja melelahkan. Ajah dilemari. Memang mungkin bahkan keseluruhan film itu melelahkan, tapi penjebab utamanja adalah djalan tjerita jang mudah menimbulkan kebingungan. Sebelum djadi hostes, Anita - jang nama aslinja Sunarti pernah melihat foto ajahnja dilemari pakaian ketika ia mendatangi rumah mewah ajahnja disalah sebuah djalan besar, dengan jakin ia menantang istri tirinja - jang mencurigainja sebagai piaraan, jang kemudian memang terdjadi--dengan mengaku sebagai datang mencari ajah jang tidak pernah diberitakan kapan dan kenapa bisa berpisah Djuga tidak pernah djelas peranan Ishaq Iskandar serta hubungannja dengan Anita maupun dengan beberapa nite-club. Kebingungan itu mudah-mudahan hanja berarti bahwa Matnoor Tindaon cuma punja hari depan sebagai sutradara, bukan pengarang berita maupun penulis skenario. Alasan untuk mengharap bukannja tidak ada, terutama bersumberkan pada teknik pemenggalan beritanja serta selera baik jang terpantjarkan melalui framing adegan. Jang terachir ini barangkali tidak bisa dipisahkan dengan kerdja pengarah artistik, Djufri Tanissan dan Sriwidodo--keduanja pelukis --meskipun terlihat hasil kreatif tas jang berlebihan kebuka dinding rumah seorang hostes miskin-- Aminah Tjendrakasih -- ditjet sebagaimana adanja dengan warna tjerah sebuah nite-club jang diharapkan bisa merangsang tamu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar