Minggu, 27 Februari 2011

GATOT PRAKOSA /GOTO PRAKOSA

Nama :Gotot Prakosa

Lahir :Padang, Sumatera Barat,

10 Desember 1955

Pendidikan :Taman Siswa Ibu Pawiyatan, Yogyakarta,Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI),Jurusan Film FFTV IKJ, Jakarta (1981),Animation Workshop, University of Phillipines (1982),

Pendidikan Pengajar Sinematografi (1984),

Pendidikan Animasi di Laussane, Swiss (1984),

IKJ Jurusan Filmologi,

S-2 Program Studi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, UGM Jogyakarta (1992-2002)

Profesi :

Pembuat Film,

Pengajar bidang Film dan Multimedia,

Pelukis,

Penulis

Karya Film :

Lukisan Warna,

Telur & Singkong,

Jakarta-Bandung

Penghargaan :

Festival Film Mini DKJ

(1976-1981),

Experimental Work Film (1987),

Art Houses Association (Kanada),

International Film Forum Jerman,

Film Dokumenter Kantata Takwa yang dibuat bersama Erros Djarot dan Slamet Rahardjo meraih penghargaan Golden Hanoman dan Geber Award pada Jogja Netpac Asian Film Festival 2008

Filmografi :

Sepasang Tanduk

(Animasi, 1975),

Impuls (Animasi, 1976),

Meta-Meta (Animasi,1977),

Dialog (Animasi, 1978),

Koen Faya Koen

(Animasi, 1980),

Genesis-Genesis

(Animasi, 1981),

Self Potret (Animasi, 1982),

Ular Besi (Animasi, 1983),

Kosmopolis (1982-1984),

Gamelan Series

(U-Matic, 1986),

Infermental (Betamac, 1987),

Bedoyo Sokamaya

(U-Matic, 1988),

Wahyu and His Works

(Video-8, 1989),

Kantata Takwa (1990),

Kosmopolis II (Animasi, 1992),

Sinyo Salam (1994),

Sakura di Bumi Nusantara (Betacam, 1995)

Sejak kecil hingga remaja, salah satu putera pasangan Drs. Hengky Soemarso dan Penny Soedarpendah ini, memang dibesarkan dalam tradisi lingkungan Perguruan Taman Siswa, Yogyakarta. Sempat serius menekuni seni lukis di Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia (SSRI). Selepas dari Yogyakarta, Jakarta menjadi tujuan hidupnya, sembari terus ikut berbagi dan menimba ilmu. Setelah lebih kurang enam tahun, ia lantas melanjutkan studi ke Sekolah Film LPKJ-TIM, untuk bidang Penyutradaraan dan Animasi Eksperimental.

Perkenalannya dengan dunia animasi ini sebenarnya lahir tanpa sengaja. Pasalnya, karir pasangan hidup dari Susy Natalia ini, bermula dari kebiasaannya melukis. Kesenangannya itu kemudian ia salurkan saat mengumpulkan beberapa seluloid film milik Sjumandjaja. Selanjutnya dari seluloid bekas ini, ia mulai menggambar beberapa cerita yang membentuk sebuah story-board dan kemudian dijadikan film kreasinya. Semua itu ia lakukan selama studi di LPKJ-TIM, selain juga ikut menjadi salah satu tenaga pengajarnya sejak tahun 1978. Mendapat kesempatan khusus untuk belajar animasi di Filipina dan Singapura. Kemudian dilanjutkan ke Swiss pada tahun 1984, selama satu tahun. Di sini ia bertemu dengan dua pekerja animator handal, Robi Engler asal Swiss, dan Carl Fugun asal Austria-Jerman, dari Studio Imagination, di Kota Laussane, Swiss.

Sekitar 30 karya film pendek eksperimentalnya dibuat tahun 1970-an, sejak tahun 1991 sudah direservasi ulang oleh National Film Archive, Canberra, Australia sebagai bahan studi khusus di Monash University, dan beberapa universitas lainnya di Australia. Kemunculannya karya-karyanya di akhir tahun 1970-an cukup memberi catatan tersendiri dalam perjalanan karirnya. Mengingat di era sebelumnya, Indonesia lebih banyak dikenal dengan garapan-garapan film dokumenter yang banyak menjual eksotisme seni dan budaya. Tak heran, jika karya-karya film eksperimentalnya banyak dianggap aneh oleh beberapa pengamat film saat itu. Beberapa karya garapnya yang sempat mengemuka adalah Lukisan Warna, Telur & Singkong, dan Jakarta-Bandung. Sebagai pekerja seni, selain akrab dengan dunia produksi, Ketua Program Studi Animasi FFTV-IKJ ini, sering menjadi langganan juri untuk berbagai festival bergengsi dari kelas independen sampai komersil setingkat Festival Film Indonesia.

Kiprahnya di dunia film secara keseluruhan juga sudah diakui baik di tingkat nasional maupun mancanegara. Beberapa penghargaan itu, di antaranya datang dari ajang Festival Film Mini-DKJ (1976-1981), dan Experimental Work Film (1987), dari Art Houses Association (Kanada), serta International Film Forum Jerman.

Energi ayah dari putera semata wayang, Nur Langit Lembayung itu, seolah tak pernah habis untuk mensosialisasikan animasi. Selain masih terus keliling berbagi ilmu, ia juga masih terbilang aktif di sejumlah tim produksi sebagai sutradara. Selain itu, ia juga pernah ikut menggarap beberapa film layar lebar besutan sutradara Teguh Karya (alm), Eros Djarot, dan Slamet Rahardjo. Dari sinilah mereka kemudian sepakat mendirikan PT. Ekapraya Tata Cipta, yang digawangi oleh Eros Djarot, Slamet Rahardjo, Rahim Latif, dan Christine Hakim.

Gotot Prakosa, kerap menjadi salah satu sumber informasi yang paling sering dicari atau dijadikan narasumber seputar keberadaan perjalananan panjang animasi tanah air. Ia adalah Ketua ANIMA (Asosiasi Film Animasi Indonesia). Selain itu, sejak Mei 2006 lalu, ia juga menjadi Board Member ASIFA (Asosiasi Film Animasi Internasional) untuk wilayah Asia Tenggara.

Seiring maraknya kembali dunia perfilman tanah air beberapa tahun terakhir, jadwal mantan Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta itu, selalu disesaki dengan beragam seminar dan penjurian seputar dunia film. Dalam sebulan, ia bahkan bisa berada di beberapa tempat untuk maksud dan tujuan yang sama. Bukan tanpa alasan, jika alumni Program Sastra-Humaniora, Pasca Sarjana UGM Yogyakarta ini terlihat begitu getol menyuarakan nasib animasi tanah air di berbagai kesempatan.

Pekerja Film alumni Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (FFTV-IKJ) ini, sudah amat mahfum dengan seluk-beluk perjalanan dunia animasi tanah air, yang baginya harus segera dicarikan solusinya. Hampir semua memanfaatkan pendekatan budaya dalam filmnya, yang berangkat dari cerita rakyat seperti legenda atau mitologi. Harus disadari, film animasi yang beredar di televisi nasional masih dikuasai oleh pasar impor. Suatu saat nanti kondisi ini harus berubah, mengingat jumlah SDM kita yang besar dan pasar yang belum tergarap. Mungkin kita harus belajar dari Jepang dan juga harus berbuat hal yang sama,katanya. Film-film impor ini bisa bertahan karena memiliki modal dan tenaga besar yang sabar menaklukkan waktu dalam sebuah sistem industri hiburan. Seperti halnya Jepang yang kini sudah melampaui Amerika,tambahnya.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar