Sabtu, 05 Februari 2011

GADIS / 1980

GADIS
Film ini adalah film Drama, Nyaa mencoba untuk membuat film drama, dan ternyata dari semua film dia hanya 4 film yang non komedian. Bu Titik (Titiek Puspa) anak beranak pergi dari rumah suaminya, seorang pejabat yang tergila-gila perempuan lain. Mereka jadi buruh cuci pada keluarga-keluarga bangsawan. Kesengsaraan ini bertambah ketika cucian mereka dicuri orang hingga anaknya, Gadis (Dewi Yull), harus jadi budak di rumah bangsawan Renggo (Deddy Sutomo) yang pakaiannya mereka hilangkan. Di sini Gadis bertemu dengan Jaka (Ray Sahetapy), yang baru lulus Mosvia dan ditugaskan di daerah itu. Kisah cinta ini tak berjalan lancar, apalagi dengan latar belakang penggusuran sebuah desa yang dilakukan Renggo demi memenuhi tuntutan direktur perkebunan yang ingin meluaskan tanahnya. Pacar Jaka, Rini (Cici Gamiarsi), anak Renggo, hamil dengan sahabat Jaka, Andi (Andi C. Yunus). Pada saat Jaka dan Andi ingin membawa lari Rini, rakyat desa yang digusur menyerbu rumah Renggo. Andi terbunuh di jalan. Rini mendatangi Gadis dan menyatakan bahwa Jaka berjanji pada Andi untuk menikahinya. Gadis mengalah. Ternyata itu akal-akalan Rini untuk menyelamatkan diri. Jaka meminang resmi Gadis. Saat itu juga Renggo membalas menyerbu rakyat yang mengobrak-abrik rumahnya dan sedang mengelu-elukan Gadis dan Jaka, meski sebelumnya rakyat itu sudah mendapat janji dari direktur perkebunan bahwa mereka boleh kembali ke desanya
News

GADIS Saya selalu memihak kaum bawah (underdog). Di film Inem Pelayan Sexi, dan Rojali dan Juleha sikap itu bisa dilihat. Mengapa? Saya melihat mereka sering diperlakukan sewenang-wenang dan teraniaya. Tapi saya tidak mengingkari di antara mereka pun ada pencuri dan perampok. Dan dalam film Gadis, hal itu saya ceritakan dengan mengambil bentuk tontonan ketoprak. Saya sadar bahwa upaya baru (ketoprak) tersebut beranjak dari selera publik. -- Nya Abas Akup. GAGASAN sutradara kawakan itu ternyata belum tertuang dengan kental -- sekalipun para pemeran Gadis sudah didandani busana zaman Hindia Belanda. Mereka memang bermain dalam pengadeganan gaya ketroprak, tapi tanpa jiwa matang. Dalam film itu Jaka (Ray Sahetapi) dikisahkan diam-diam jatuh cinta pada Rini (Cici Suryokusumo), anak Raden Mas Renggo (Dedy Sutomo). Pada perkembanan berikut, Jaka -- anak ningrat itu -- ternyata lebih menyukai kepolosan Gadis (Dewi Yull). Ketika itu Gadis berstatus sebagai babu di rumah denmas Renggo. Terpaksa ia jadi babu karena ibunya, ibu Titik (Titiek Puspa), menghilangkan seperangkat pakaian milik keluarga Renggo yang dicucinya. Ibu Titiek, bekas istri seorang ningrat, hidup bersama ketiga anaknya sebagai buruh pencuci. Dan Rini, yang tak diindahkan itu, diam-diam bermain cinta dengan Andi, teman Jaka, sampai hamil. Sementara cinta kedua pasangan remaja itu berkembang, masyarakat di sekitar mereka resah. Pemerintah Belanda, lewat Renggo, berniat mengambil alih tanah rakyat untuk dijadikan perkebunan. Kaum bawah yang tertindas tadi, sambil menyimpan dendam, ramai-ramai mengungsi ke rumah ibu Titik. Dan suatu malam, dengan parang dan tombak, massa rakyat itu berusaha menghabisi Renggo. Dalam perjalanan ke rumah Renggo itulah, seorang rakyat tanpa sengaja membunuh Andi. Ketika itu, Jaka tengah berupaya mengantar Rini dan Andi melarikan diri ke kota. Dan pada adegan berikutnya Nya Abas tak lupa menyisipkan kritiknya. Diperlihatkannya bahwa kaum bawah pun memiliki jiwa culas, tak segan merampok dan menghabisi nyawa orang. Tapi berkat nasihat ibu Titik, rakyat tidak jadi merampok dan membunuh Renggo Mereka secara beramai-ramai malah berusaha membunuh seorang pejabat Belanda, atasan Renggo. Gadis ditutup dengan suatu kejutan, ditambahi teks (atas desakan Badan Sensor Film), yang menyebabkan film itu brakhir di luar harapan sutradara (lihat box). Adalah keliru jika mendekati Gadis sebagai bentuk tontonan realisme.
Hampir seluruh percakapan dan pengadeganan di dalamnya, menurut Nya Abas Akup, merupakan bentuk pengubahan gaya (stylize). Dengan cara itu, ia berusaha menafsirkan kembali media film dalam konsep ciri kebudayaan Indonesia -- seperti tontonan ketoprak Setting dalam cerita film itu bukan merupakan soal pokok. "Soal feodalisme (seperti dikemukakan Gadis) bisa terjadi di mana saja dan kapan saja," katanya. Tapi sebagai konsekuensi pengetoprakan film itu, para tokohnya digambarkan secara hitam putih. Renggo merupakan cermin kaum feodal, wakil kepentingan (penguasa) Belanda. Sedang ibu Titik dan rakyat berada di seberangnya. Dalam gaya komedi (ciri Nya Abas) dan stylize kesewenang-wenangan kaum feodal dan penguasa ditonjolkan. "Dengan film itu, saya berusaha membicarakan sebagian besar rakyat desa," kata Nya Abas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar