Jumat, 04 Februari 2011

DERU CAMPUR DEBU / 1972

DERU CAMPUR DEBU

Adi (Arman Effendy), pelarian dari penjara, berhasil menarik simpati penduduk sebuah desa, bahkan diangkat anak oleh Salam (Chaidar Djafar), yang tak punya anak. Adi berniat menempuh jalan baik dan giat membantu penduduk desa. Suatu hari ia menolong Indahsari (Dewi Rosaria Indah), anak kepala sekolah desa itu, Puspa (Rosaline Oscar). Persahabatan Adi dengan Indah dianggap oleh Maman (Sandy Suwardi Hassan), anak lurah yang sudah lama naksir Puspa tapi sering berzinah dengan ibu tirinya, sebagai cara mendekati Puspa. Maka niat Adi untuk menjadi orang baik, urung. Dia terpaksa berhadapan dengan Maman dan membunuhnya dalam sebuah perkelahian. Polisi yang memang mencari-cari datang menangkapnya dan membawanya pergi. Penduduk desa merasa sayang dan terharu.

NEWS
08 September 1973

Belum tiga tragedi
MELONCATI tembok penjara di malam buta, Adi (Arman Effendi) memang berhasil bebas. Tapi penonton kemudian terkungkung belitan dua tentang, awal mula sang Adi berkenalan bui. Tingkah lakunya yang terpuji ketika bersembunyi di desa, budi baiknya pada gadis kecil Tndahsari (Rosaria Indah), sikap jantannya membela ibu guru Puspasari dari cengkeraman Maman (Sandy Suwardi Hassan) si anak kepala desa, semuanya membujuk pembeli karcis untuk sepakat menduga Adi bukan penjahat. Maka amatah mengejutkan bahwa di bagian terakhir film Deru Campur Debu ini, polisi yang menangkap pelarian itu berbicara tentang "orang yang dicari-cari karena melakukan kejahatan di berbagai tempat dengan nama samaran yang bermacam-macam". Perwatakan Adi yang kabur menjadi lebih menyulitkan oleh sutradara Mardali Syarif menangani tokoh pelarian ini. Penuh misteri dan banyak diam, orang boleh berharap sebuah surprise pada akhir kisah. Mula-mula terduga bakal ada lap setory antara Adi dan Puspasari (Rosalin Oskar), atau paling sedikit pertemuan kembali 2 saudara Adi dengan bekas pemain ronggeng (Elva Muslim). Tapi hingga lampu kembali terang dalam ruang pertunjukan harapan-harapan itu boleh terus berkembang dalam kepala masing-masing penonton saja. Kisah pemain ronggeng yang kemudian jadi bini muda kepala desa (Sam Suharto) memang masih harus diberi kesempatan lebih banyak. Menjadi kepal desa dengan isteri seorang perempuan bekas ronggeng keliling, bukanlah soal mudah. Nilai seorang ronggeng di mata penduduk tidaklah bagaikan ke dudukan bintang film di masyarakat kota, apa lagi kalau ronggeng itu terkabar pula berbuat zina dengan anak tirinya. Mudah dibayangkan bahwa bukan tanpa keistimewaan tatkala seorang kepala desa siap mengambil resiko kawin dengan ronggeng, tapi ketika sang ronggeng berkeputusan untuk pergi di malam hujan, tidak banyak perubahan pada wajah suaminya, jangan pula usaha mencegahnya. Puspasari juga ada cerita. Puteri tunggalnya, Indahsari, adalah hasil hubungan luar perkawinan ketika ia masih sekolah di kota. Maman yang tahu soal tersebut, toh tidak berputus asa bagi menjadi suami untuk perempuan yang mendukung aib itu. Begitu hebatkah Puspasari menyembunyikan rahasianya hingga di desa hanya Maman yang tahu kecelakaan yang pernah menimpanya? Tidakkah Indahsari suatu kali bertanya tentang ayahnya? Dan bagaimana orang desa berbicara tentang kejandaan ibu guru? Semua ini nampaknya dipersederhana saja oleh si penulis cerita dan skenario. Walhasil, film yang judulnya dipinjam dari nama kumpulan sajak penyair Chairil Anwar itu sesungguhnya mengandungi 3 tragedi. Sayangnya ketigatiga tragedi itu tak satupun yang diurus dengan rapi. Tentu saja cerita jadi mengambang oleh salah urus tersebut dan ini terlalu pantas untuk dirisaukan, melihat bahwa film ini mempunyai harapan untuk menjadi tontonan yang baik. Warna cerita dan lokasi pemotretannya pada sebuah desa yang sejuk di Jawa Barat. tenancar sear ke mata penonton yang konon nyaris bosan oleh film-film kehidupan kota yang berlimpah kemewahan. Permainan para bintangpun tidak mengecewakan, apalagi karena watak-watak yang mereka harus bawakan adalah watak-watak orang desa yang tidak memerlukan imajinasi berlebihan seperti kalau Sandi Suwardy harus memainkan tokoh orang intelektuil, misalnya. Jadi soalnya, itulah: cerita yang berhasrat mengandung terlalu banyak bayi, dengan persiapan skenario yang kurang apik, hasilnya hanya bak kata pepatah "yang dikandung kececeran, yang dikejarpun tak dapat". Salim Said

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar