Selasa, 01 Februari 2011

BALAS DENDAM / 1975

BALAS DENDAM

Lung Chien (Shen I Lung) meninggalkan seragam kepolisiannya, karena ingin membalas dendam kematian ayahnya oleh rekan-rekannya sendiri saat mereka masih aktif jadi penyelundup di Hongkong. Mula-mula ia berusaha mengobrak-abrik markas musuh di Hongkong. Karena tidak berhasil, ia memancing musuhnya datang ke Bali dengan pancingan tawaran bisnis minyak yang menggiurkan. Di pulau dewata inilah segalanya diakhiri.

Kerja sama Indonesia - Hongkong. Nama-nama karyawan Indonesia praktis hanya nama. Cerita diterjemahkan dari buatan orang Hongkong. Bahkan bentuk akhir skenario pun datang dari Hongkong, hingga waktu shooting di Bali sempat terhambat. Peran pemain Indonesia banyak berubah, karena harus disesuaikan dengan gambar yang sudah diambil terlebih dulu di Hongkong.

News


BALAS DENDAM Cerita: Usman Effendi Skenario: Narto Irawan Dalimarta Sutradara: Chung Chang Hwa & Bobby Sandy Produser: PT Elang Perkasa & Golden Harvest *** BEGITU film ini mulai, seorang tiba-tiba saja terbunuh. Supaya cerita bisa berjalan lancar sembari melaksankan penghematan macam-macam, si korban -- sebelum tewas oleh golok sudah harus siap dengan rekaman pesan pada puteranya lewat sebuah kaset. Tidak susah bagi sang anak (Sun I Lung) untuk mengikuti pesan ayahnya, yang selain tersusun rapi dengan bahasa yang baik, juga disampaikan dengan gaya penyiar berita televisi. Pokoknya, lewat rekaman itu sang ayah sudah tahu ia bakal jadi korban bekas temannya (Mr Wang), dan karena itu puteranya seorang polisi Singapura, harus melakukan pembalasan. Maka meskipun polisi mengaku telah siap untuk menggrebek pembunuh ayah Lung, sang anak tidak urung berhenti juga dari kepolisian demi kebebasan melancarkan balas dendam. Keributan bermula di Hongkong.Markas para pembunuh sang ayah. Sudah tentu seru perkelahian itu, sebab Mr Wang yang menguasai perjudian dan jaringan penyelundupan di Hongkong ada pula memelihara sejumlah jagoan. Dipakai juga pistol dan pisau serta sedikit pentung, namun alat utama yang laris dalam adegan perkelahian dalam film ini adalah tangan kosong juga. KungFu? Lebih kurang begitulah. Hanya kali ini para bintang dari sana itu fasih- pula berbahasa Indonesia--begitulah tekniknya. Hatta, maka ini film tentu memang bagaikan membenarkan Hongkong Phoey -- itu film kartun lucu di televisi, tentang bagaimana menggelikannya, orang meniru gaya Hongkong. Selain karena sebagian modalnya--dari pihak Indonesia - memang datang dari Konsorsium Film Mandarin, tontonan ini juga dibikin secara berkongsi dengan Golden Harvest yang bermukim di Hongkong. Jadi bagai tumbu ketemu tutup sajalah. Untuk peminat film Indonesia-- di koran-koran Jakarta film ini diiklankan sebagai film Indonesia tulen. Tapi sudah jelas repot mengunyah tontonan blasteran macam begini. Film Indonesia bukan tidak sering kehilangan akal sehat. Dan bedanya dengan Hongkong memang juga dalam urusan akal sehat itu: di sini ketiadaan itu karena keteledoran, sedang di Hongkong sana lantaran memang dihalalkan demi terbukanya kesempatan untuk asal main Kung Fu terus-terusan. Jadi perlu diumumkan kepada calon pembeli karcis film ini, agar memasuki gedung pertunjukan tanpa kesiapan bertanya macam-macam, meski yang dilihatnya aneh. Jangan, misalnya, bertanya mengapa semua pemain film itu akhir-akhirnya harus kumpul di Bali. Atau apakah begitu bodoh jagoan Hongkong itu sehingga bisa tertipu membeli tambang minyak di Bali hanya bagaikan membeli mobil bekas dan pejabat perminyakan serta kepolisian Bali begitu konyol, sehingga seorang bajingan sempat melakukan penipuan dengan berpura-pura menemukan minyak, mendirikan menara pemboran, sedang minyak yang keluar ternyata berasal dari pipa minyak jadi yang berasal dari kapal tanker. Dan sejumlah pertanyaan berbagai ukuran lainnya,harap disimpan saja. Tidak diketahui berapa besar modal kedua belah pihak dalam kerja sama pembuatan film ini. Tapi melihat bahwa Balas Dendam sebenarnya film Hongkong yang menggunakan bahasa Indonesia, beberapa pemain Indonesia (untuk peran kecil) serta pulau Bali, rasanya modal orang-orang Hongkong itu memang lebih meyakinkan. Dan kalau ini ternyata benar, maka untuk kesekian kalinya kita memang sudah jadi tuan rumah, dalam arti cuma penerima tamu. Ketika pemerintah dengan berbagai peraturan melindungi film nasional dari invasi filrn-film asing, para produser Hongkong dengan mudah menyelinap masuk ke mari. Dan yang mereka bawa serta bukan pula barang bermutu yang lantas bisa jadi contoh. Amat sayang bukan? Salim Said

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar