Selasa, 01 Februari 2011

ASRUL SANI 1959-1984

ASRUL SANI


Perfilman dahulu,
banyak sekali tim kreatif merangkap ganda. Ada yang sekaligus main dan menyutradarai, ada yang sekaligus juga menjadi penata photography, editor, artistik, hingga ke skenario juga. Tetapi dari semua jabatan itu mereka memiliki posisi yang paling pas. Termasuk Asrul Sani.
Bagi saya Asrul Sani sangat bagus sekali menulis skenario dari pada menjadi sutradara, terlepas dari film yang dia sutradari juga bagus, tetapi ada nilai plus bila ia menulis skenario saja. Bagi saya, Asrul Sani adalah penulis skenario yang paling dasyat sekali. Dalam benak saya juga, Asrul Sani adalah penulis skenario, bukan sebagai sutradara. Karena dia menguasai sekali sastra dan penuh imajinasi dalam bermain kata dari pada gambar. Tampa mengurangi hormat saya sama beliau sebagai sutradara juga.


Djaja Kusuma - Asrul Sani & Siti Nuraini saat belajar di Hollywood




Sewaktu sekolah saya banyak membaca buku translatetan beliau. Belum pernah ketemu dengannya, tapi terasa dekat.

Nama: Asrul SaniLahir: Rao, Pasaman, 10 Juni 1927
Meninggal: Jakarta, 11 Januari 2004, Pukul 22.15 WIB
Istri:(1) Siti Nurani dan (2) Mutiara Sarumpaet
Anak:Tiga putra, tiga putri, enam cucu
Ayah:Sultan Marah Sani Syair Alamsyah, gelar Yang Dipertuan Rao Mapattunggal Mapatcancang

Pendidikan:
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Indonesia (IPB)
Dramaturgi dan sinematografi di University of Southern California, Amerika Serikat tahun 1955-1957
Sekolah Seni Drama di Negeri Belanda tahun 1951-1952
SLTP hingga SLTA di Jakarta
SD di Rao, Sumatera Barat

Karir Politik:
Anggota DPR GR 1966-1971 mewakili Partai Nahdhatul Ulama
Anggota DPR RI 1972-1982 mewakili PPP

Pendiri :
“Gelanggang Seniman Merdeka”
Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI)

Kegiatan Pergerakan:
Lasjkaer Rakjat Djakarta, Tentara Pelajar di Bogor

Kegiatan Penerbitan:
Menerbitkan “Suara Bogor”, redaktur majalah kebudayaan “Gema Suasana”, anggota redaksi “Gelanggang”, ruang kebudayaan Majalah” Siasat”, dan wartawan Majalah “Zenith”
Konsep Kebudayaan:
“Surat Kepercayaan Gelanggang”

Penghargaan:
Tokoh Angkatan 45
Bintang Mahaputra Utama, tahun 2000
Enam buah Piala Citra pada Festifal Film Indonesia (FFI)
Film Terbaik pada Festival Film Asia tahun 1970

Karya Puisi:
“Tiga Menguak Takdir” bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, “Surat dari Ibu”, “Anak Laut”, 19 buah puisi dan lima buah cerpen sebelum penerbitan antologi “Tiga Menguak Takdir” tahun 1950, lalu sesudahnya tujuh buah puisi, enam buah cerpen, enam terjemahan puisi, tiga terjemahan drama, dan puisi-puisi lain yang dimuat antara lain di yang dimuat di majalah “Siasat”, “Mimbar Indonesia”, dan “Zenith”.

Karya Film:
“Titian Serambut Dibelah Tudjuh”, “Apa yang Kau Cari Palupi” “Monumen”, “Kejarlah Daku Kau Kutangkap”, “Naga Bonar”,. “Pagar Kawat Berduri”, “Salah Asuhan”, “Para Perintis Kemerdekaan”, “Kemelut Hidup”

Alamat Rumah:
Kompleks Warga Indah, Jalan Attahiriyah No. 4E, Pejaten, Kalibata, Jakarta Selatan



SALAH ASUHAN 1972 ASRUL SANI
Director
JEMBATAN MERAH 1973 ASRUL SANI
Director
HEROES OF FREEDOM 1980 ASRUL SANI
Director
PARA PERINTIS KEMERDEKAAN 1977 ASRUL SANI
Director
ATENG MATA KERANJANG 1975 ASRUL SANI
Director
PILIHAN HATI 1964 ASRUL SANI
Director
FADJAR MENJINGSING DIPERMUKAAN LAUT 1966 ASRUL SANI
Director
TITIAN SERAMBUT DIBELAH TUDJUH 1959 ASRUL SANI
Director
DON MUANG INCIDENT 1984 ASRUL SANI
Director
APA JANG KAU TJARI, PALUPI? 1969 ASRUL SANI
Director
BULAN DI ATAS KUBURAN 1973 ASRUL SANI
Director
TAUHID 1964 ASRUL SANI
Director
KEMELUT HIDUP 1977 ASRUL SANI
Director
DESA DI KAKI BUKIT 1972 ASRUL SANI
Director
PAGAR KAWAT BERDURI 1961 ASRUL SANI
Director.


Daftar Karya Film director & Writter Asrul Sani:
Terimalah Laguku (1952)
Lewat Jam Malam ( 1954)
Pegawai Tinggi (1954)
Lagak Internasional (1955)
Buruh Bengkel (1956)
Titian Serambut Dibelah Tujuh (1959)
Pagar Kawat Berduri (1961)
Ballada Kota Besar (1963)
Tauhid (1964)
Fajar Masih Menyinsing di Permukaan Laut (1966)
Apa Yang Kaucari, Palupi? (1969)
Malin Kundang (1971)
Desa di Kaki Bukit (1972)
Mutiara Dalam Lumpur (1972)
Salah Asuhan (1972)
Bulan di Atas Kuburan ( 1973)
Jembatan Merah (1973)
Segenggam Harapan (1973)
Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974)
Ateng Mata Keranjang (1975)
Chica (1976)
Al-Kautsar (1977)
Pembunuh di Tengah Kita / Gara-Gara Istri Muda (1977)
Istriku Sayang, Istriku Malang (1977)
Kemelut Hidup (1977)
Para perintis Kemerdekaan (1977)
Dr. Siti Pertiwi Turun ke Desa (1979)
Bawalah Aku Pergi (1981)
Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)
Ke Ujung Dunia (1983)
Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985)
Sebening Kaca (1985)
Bintang Kejora (1986)
Keluarga Markum (1989)
Naga Bonar (1986)
Gema Kampus 66 (1988)
Istana Kecantikan (1988)
Nusa Penida (1988)
Nanti, Kapan-kapan, Sayang (1990)
Nada dan Dakwah (1991)
Kuberikan Segalanya (1992)
Pelangi di Nusa Laut (1992)
Sorta (1982)

Cerita & skenario Televisi
Gersang
Ratna
Monumen
Mahkamah
Arus Bawa
Jaring Laba-Laba
Siti Nurbaya (mini seri – 6 episode)
Sengsara Membawa Nikmat (mini seri – 6 episode)
Gerhana Terpanjang
Apa Yang Kaucari, Adinda?
Kejatuhan
Derai-Derai Cemara
Nagabonar (serial – 30 episode)
Pohon Kecil Mencari Matahari (mini seri – 3 episode)
Rembulan Dalam Selubung
Sripanggung
Daerah Tak Bertuan (serial – 13 episode)
Si Bakhil
Daerah Persinggahan
Antara Kemarin dan Hari Ini
Karinah
Balada Seorang Guru
ASRUL SANI
Asrul Sani (lahir di Rao, Sumatra Barat, 10 Juni 1926 – wafat di Jakarta, 11 Januari 2004sastrawan dan sutradara film asal Indonesia. Menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (1955). Pernah mengikuti seminar internasional mengenai kebudayaan di Universitas Harvard (1954), memperdalam pengetahuan tentang dramaturgi dan sinematografi di Universitas California Selatan, Los Angeles, Amerika Serikat (1956), kemudian membantu Sticusa di Amsterdam pada umur 77 tahun) adalah seorang (1957-1958). 
Bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, ia mendirikan "Gelanggang Seniman" (1946) dan secara bersama-sama pula menjadi redaktur "Gelanggang" dalam warta sepekan Siasat. Selain itu, Asrul pun pernah menjadi redaktur majalah Pujangga Baru, Gema SuasanaGema), Gelanggang (1966-1967), dan terakhir sebagai pemimpin umum Citra Film (1981-1982). (kemudian 

Asrul pernah menjadi Direktur Akademi Teater Nasional Indonesia, Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), anggota Badan Sensor Film, Ketua Dewan Kesenian Jakarta, anggota Dewan Film Indonesia, dan anggota Akademi Jakarta (seumur hidup).

Karyanya: Tiga Menguak Takdir (kumpulan sajak bersama Chairil Anwar dan Rivai Avin, 1950), Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat (kumpulan cerpen, 1972), Mantera (kumpulan sajak, 1975), Mahkamah (drama, 1988), Jenderal Nagabonar (skenario film, 1988), dan Surat-Surat Kepercayaan (kumpulan esai, 1997).

Buku mengenai Asrul: M.S. Hutagalung, Tanggapan Dunia Asrul Sani (1967) dan Ajip Rosidi dkk. (ed.), Asrul Sani 70 Tahun, Penghargaan dan Penghormatan (1997).

Di samping menulis sajak, cerpen, dan esai, Asrul juga dikenal sebagai penerjemah dan sutradara film. Terjemahannya: Laut Membisu (karya Vercors, 1949), Pangeran MudaEnam Pelajaran bagi Calon Aktor (karya Ricard Boleslavsky, 1960), Rumah Perawan (novel Yasunari Kawabata, 1977), Villa des Roses (novel Willem Elschot, 1977), Puteri Pulau (novel Maria Dermount, 1977), Kuil Kencana (novel Yukio Mishima, 1978), Pintu Tertutup (drama Jean Paul Sartre, 1979), Julius Caesar (drama William Shakespeare, 1979), Sang Anak (karya Rabindranath Tagore, 1979), Catatan dari Bawah Tanah (novel Fyodor Dostoyeski, 1979), Keindahan dan Kepiluan (novel Yasunari Kawabata, 1980), dan Inspektur Jenderal (drama Nicolai Gogol, 1986). (terjemahan bersama Siti Nuraini; karya Antoine de St-Exupery, 1952), 

Film yang disutradarainya: "Pagar Kawat Berduri" (1963), "Apa Jang Kau Tjari, Palupi?" (1970), "Salah Asuhan" (1974), "Bulan di Atas Kuburan" (1976), "Kemelut Hidup" (1978), "Di Bawah Lindungan Kaabah" (1978), dan lain-lain.
Tahun 2000 Asrul menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Pemerintah RI.




Asrul SaniSeniman Pelopor Angkatan '45
Asrul Sani seniman kawakan yang antara lain dikenal lewat Sajak Tiga Menguak Takdir bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin meninggal dunia hari Minggu 11 Januari 2004 malam sekitar pukul 22.15 di kediamannya di Jln. Attahiriah, Kompleks Warga Indah No. 4E, Pejaten Jakarta. Seniman kelahiran Rao, Sumbar, 10 Juni 1927 ini wafat setelah kesehatannya terus menurun sejak menjalani operasi tulang pinggul sekitar satu setengah tahun sebelumnya.
Dia adalah pelaku terpenting sejarah kebudayaan modern Indonesia. Jika Indonesia lebih mengenal Chairil Anwar sebagai penyair paling legendaris milik bangsa, maka adalah Asrul Sani, Chairil Anwar, dan Rivai Apin yang mengumpulkan karya puisi bersama-sama berjudul “Tiga Menguak Takdir” yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku di tahun 1950. Mereka bertiga bukan hanya menjadi pendiri “Gelanggang Seniman Merdeka”, malahan didaulat menjadi tokoh pelopor sastrawan Angkatan 45.

Dalam antologi “Tiga Menguak Takdir” Asrul Sani tak kurang menyumbangkan delapan puisi, kecuali puisi berjudul “Surat dari Ibu”. Sejak puisi “Anak Laut” yang dimuat di Majalah “Siasat” No. 54, II, 1948 hingga terbitnya antologi “Tiga Menguak Takdir” tadi, Asrul Sani tak kurang menghasilkan 19 puisi dan lima buah cerpen. Kemudian, semenjak antologi terbit hingga ke tahun 1959 ia antara lain kembali menghasilkan tujuh buah karya puisi, dua diantaranya dimuat dalam “Tiga Menguak Takdir”, lalu enam buah cerpen, enam terjemahan puisi, dan tiga terjemahan drama. Puisi-puisi karya Asrul Sani antara lain dimuat di majalah “Siasat”, “Mimbar Indonesia”, dan “Zenith”.

Sastrawan Angkatan 45 bukan hanya dituntut bertanggungjawab untuk menghasilkan karya-karya sastra pada zamannya, namun lebih dari itu, mereka adalah juga nurani bangsa yang menggelorakan semangat kemerdekaan. Adalah tidak realistis sebuah bangsa bisa merdeka hanya bermodalkan bambu runcing. Namun ketika para “nurani bangsa” itu mensintesakan keinginan kuat bebas merdeka menjadi jargon-jargon “merdeka atau mati” dan semacamnya, maka, siapapun pasti akan tunduk kepada suara nurani.

Sesungguhnya bukan hanya bersastra, pada tahun 1945-an itu Asrul Sani yang pernah duduk sebangku dengan sastrawan Pramoedya Ananta Toer sewaktu sekolah di SLTP Taman Siswa Jakarta, bersama kawan-kawan telah menyatukan visi perjuangan revolusi kemerdekaan ke dalam bentuk Lasjkar Rakjat Djakarta. Masih di masa revolusi itu, di Bogor dia memimpin Tentara Pelajar, menerbitkan suratkabar “Suara Bogor”, redaktur majalah kebudayaan “Gema Suasana”, anggota redaksi “Gelanggang”, ruang kebudayaan majalah “Siasat”, dan menjadi wartawan pada majalah “Zenith”.

Hingga tiba pada bulan Oktober 1950 saat usianya masih 23 tahun, Asrul Sani sudah mengkonsep sekaligus mengumumkan pemikiran kebudayaannya yang sangat monumental berupa “Surat Kepercayaan Gelanggang”, yang isinya adalah sebentuk sikap kritisnya terhadap kebudayaan Indonesia. Isinya, antara lain berbunyi, ‘kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat kecil bagi kami adalah kumpulan campur baur dari mana-mana dunia-dunia baru yang sehat dan dapat dilahirkan’.

Asrul Sani yang kelahiran Rao, Pasaman, Sumatera Barat 10 Juni 1927 sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, selain penyair adalah juga penulis cerita pendek, esei, penterjemah berbagai naskah drama kenamaan dunia, penulis skenario drama dan film, serta sekaligus sutradara panggung dan film. Bahkan, sebagai politisi ia juga pernah lama mengecap aroma kursi parlemen sejak tahun 1966 hingga 1971 mewakili Partai Nahdhatul Ulama, dan berlanjut hingga tahun 1982 mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Hal itu semua terjadi, terutama aktivitas keseniannya, adalah karena keterpanggilan jiwa sebab meski telah menamatkan pendidikan sarjana kedokteran hewan pada Fakultas Kehewanan IPB Bogor (ketika itu masih fakultas bagian dari Universitas Indonesia) dan menjadi dokter hewan, pada sekitar tahun 1955 hingga 1957 Asrul Sani pergi ke Amerika Serikat justru untuk menempuh pendidikan dramaturgi dan sinematografi di University of Southern California.

Seni dan keteknikan adalah dua dunia yang berbenturan dalam diri Asrul. Setamat Sekolah Rakyat di Rao, Asrul Sani menuju Jakarta belajar di Sekolah Teknik, lalu masuk ke Fakultas Kehewanan Universitas Indonesia (di kemudian hari dikenal sebagai Institut Pertanian Bogor). Sempat pindah ke Fakultas Sastra UI namun kemudian balik lagi hingga tamat memperoleh titel dokter hewan. Agaknya kekuatan jiwa seni telah memenangkan pertaruhan isi batin Asrul Sani. Maklum, bukan hanya karena pengalaman masa kecil di desa kelahiran yang sangat membekas dalam sanubarinya, sebelum ke Negeri Paman Sam Amerika Serikat pun pada tahun 1951-1952 ia sudah terlebih dahulu ke Negeri Kincir Angin Belanda dan belajar di Sekolah Seni Drama.

Selain karena pendekatan akademis dan romatisme kehidupan pertanian di desa, totalitas jiwa berkesenian terutama film makin menguat pada dirinya setelah Asrul Sani bertemu Usmar Ismail, tokoh lain perfilman. Bahkan, keduanya sepakat mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang melahirkan banyak sineas maupun seniman teater kesohor, seperti Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Tatiek W. Maliyati, Ismed M Noor, Slamet Rahardjo Djarot, Nano dan Ratna Riantiarno, Deddy Mizwar, dan lain-lain.
Film pertama yang disutradarai Asrul Sani adalah “Titian Serambut Dibelah Tudjuh” pada tahun 1959. Dan, ia mulai mencapai kematangan ketika sebuah film karyanya “Apa yang Kau Cari Palupi” terpilih sebagai film terbaik pada Festival Film Asia pada tahun 1970. Karya besar film lainnya adalah “Monumen”, “Kejarlah Daku Kau Kutangkap”, “Naga Bonar”,. “Pagar Kawat Berduri”, “Salah Asuhan”, “Para Perintis Kemerdekaan”, “Kemelut Hidup”, dan lain-lain. Tak kurang enam piala citra berhasil dia sabet, disamping beberapa kali masuk nomibasasi. Alam pikir yang ada adalah, sebuah film jika dinominasikan saja sudah pertanda baik maka apabila hingga enam kali memenangkan piala citra maka sineasnya bukan lagi sebatas baik melainkan dia pantas dinobatkan sebagai tokoh perfilman.

Itulah Asrul Sani, yang pada hari Minggu, 11 Januari 2004 tepat pukul 22.15 WIB dengan tenang tepat di pelukan Mutiara Sani (56 tahun) istrinya meninggal dunia pada usia 76 tahun karena usia tua. Dia meninggal setelah digantikan popoknya oleh Mutiara, diberikan obat, dan dibaringkan. Sebagaimana kematian orang percaya, Asrul Sani menjelang menit dan detik kematiannya, usai dibaringkan tiba-tiba dia seperti cegukan, lalu kepalanya terangkat, dan sebelum mengkatupkan mata untuk selamanya terpejam dia masih sempat mencium pipi Mutiara Sani, yang juga aktris film layar lebar dan sinetron.

Asrul Sani meninggalkan tiga putra dan tiga putri serta enam cucu, serta istri pertama Siti Nuraini yang diceraikannya dan istri kedua Mutiara Sani Sarumpaet. Semenjak menjalani operasi tulang pinggul enam bulan lalu, hingga pernah dirawat di RS Tebet, Jakarta Selatan, kesehatan Asrul Sani mulai menurun. Dia adalah putra bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya, Sultan Marah Sani Syair Alamsyah, Yang Dipertuan Rao Mapattunggal Mapatcancang adalah raja adat di daerahnya.

Selama hidupnya Asrul Sani hanya mendedikasikan dirinya pada seni dan sastra. Sebagai penerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama dari Pemerintah RI pada tahun 2000 lalu, dia berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namun dia berpesan ke istrinya untuk hanya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta Selatan dengan alasan, sambil bercanda tentunya ke Mutiara Sani setahun sebelumnya, ‘masak sampai detik terakhir, kita masih mau diatur negara’.

Meski sudah mulai mengalami kemunduran kesehatan dalam jangka waktu lama, Asrul Sani masih saja menyempatkan menulis sebuah pidato kebudayaan, yang, konon akan dia sampaikan saat menerima gelar doktor kehormatan honoris causa dari Universitas Indonesia, Jakarta. Nurani bangsa itu telah pergi. Tapi biarlah nurani-nurani aru lain mekar tumbuh berkembang seturut zamannya. *hp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)


Siapa Asrul Sani?
Hari itu, awal Juni 1927, tersiar kabar bahwa Permaisuri Raja Besar Nan Empat Belas (nama sebuah kota kecil di daerah Rao Mapatunggul, bagian utara Sumatera Barat) sedang hamil tua dan tak lama lagi akan segera melahirkan. Karena kabar itu, selama sepekan rumah sang Raja disesaki oleh utusan atau wakil para petinggi adat Besar Nan Empat Belas yang datang silih berganti. Mereka tak ingin melewatkan momen bersejarah bagi keluarga sang Raja. Begitulah, menurut kebiasaan yang belaku, jika permaisuri Raja akan melahirkan, maka seluruh perwakilan dari nagari mengutus wakil-wakilnya untuk menyambut kelahiran sang bayi.

Pukul dua malam, tepatnya tanggal 10 Juni 1927. Kesunyian malam itu dipecahkan letupan senjata secara beruntun yang ditembakkan ke udara oleh penembak-penambak berbedil langsar. Beduk pun ditabuh meciptakan keriuhan yang tak biasa di malam hari bagi kota kecil itu. Keriuhan itu sekaligus sebagai pertanda atau semacam kabar bagi rakyat nagari bahwa keluarga sang Raja telah dianugerahi seorang anak. Dan oleh sang raja, bayi laki-laki yang baru lahir itu kemudian diberi nama: Asrul Sani.

Asrul tumbuh menjadi anak yang aktif dan gemar membaca. Beruntung ia memiliki ibu yang juga senang membaca. Bahkan ibunya memiliki perpustakaan pribadi yang kala itu masih berisi buku-buku terbitan Balai Pustaka. Dan menjelang tidur, Asrul selalu terlelap oleh buaian cerita-cerita rakyat yang didongengkan oleh ibunya. Mungkin saja hal itu yang menggugah bakatnya sebagai pencerita handal di kemudian hari.

Di sekolah, Asrul tergolong anak yang pintar. Ia dikenal lihai dalam hitung-menghitung dan selalu memperoleh nilai tertinggi dalam pelajaran itu. Karena bakatnya itu, setamat HIS, keluarganya mengusulkan agar ia melanjutkan pendidikan ke sekolah Koningin Wilhelmina School (KWS), semacam sekolah teknik di Batavia (Jakarta). Sebelum berangkat ke Jakarta ayah Asrul meninggal dunia. Benar dugaan ayahnya, Asrul lulus di KWS dengan nilai yang cemerlang. Namun itu tidak berlangsung lama sebab Asrul merasa tidak memiliki bakat dibidang teknik. Asrul memutuskan berhenti dan bersama ibunya ia kembali ke Rao.

Selama di Sumatera, Asrul mengisi hari-harinya dengan membaca buku-buku sastra dan sejarah kesusasteraan Yunani dalam bahasa Belanda. Ia mulai jatuh cinta pada sastra sejak membaca sebuah puisi karya penyair wanita Sappho (penyair abad ke-7 SM). Ibu Asrul kemudian tak ingin melihat anaknya itu menganggur lama. Maka, ibunya menyarankan agar dirinya kembali lagi ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Akhirnya, Asrul yang baru berusia enam belas tahun ketika itu menyusul abangnya, Chairul Basri, ke Jakarta. Ibunya hanya berpesan agar di perantauan ia rajin shalat dan tak lupa berpuasa.


Seniman Yang Disegani
Setibanya di Jakarta, Asrul memilih besekolah di Taman Siswa. Di kelas ia duduk sebangku dengan Pramoedya Ananta Toer. Dan di luar sekolah ia bergaul dengan beberapa seniman ternama seperti; Chairil Anwar, Rivai Apin, Cornel Simandjuntak, dan beberapa lagi lainnya. Masa itu revolusi sedang bergejolak. Asrul bahkan sempat ikut Lasykar Rakyat Jakarta, dan masuk tentara. Ia bergabung dengan Pasukan 001 sampai pada puncak revolusi ketika dicetuskannya proklamasi PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia).

Usai Revolusi, tentara Jepang masuk ke tanan air dan menutup semua sekolah kecuali beberapa perguruan tinggi. Asrul Sani memilih melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Dokter Hewan di Bogor (sekarang Institut Pertanian Bogor). Satu-satunya sekolah yang luput dari kebijakan tentara Jepang menutup sarana pendidikan saat itu. Asrul rupanya tak betah berkutat dengan kuda dan jenis hewan lainnya. Ia justru tekun mempelajari berbagai jenis alat musik. Dalam tempo yang singkat, ia berhasil menguasai berbagai instrumen musik seperti biola dan klarinet. Selain itu, ia juga pandai bernyanyi. Asrul memang dikenal sebagai anak yang serba bisa.

Pada akhir pendudukan Jepang, Asrul Sani mulai dikenal sebagai sastrawan. Diawali dengan menulis puisi yang kemudian dipublikasikan pada harian-harian di Jakarta yang terbit di masa itu. Karir Asrur Sani di dunia kesenian semakin menanjak. Bukan hanya puisi yang ditulisnya, cerpen dan esainya kemudian bertebaran di media-media cetak. Ia berhasil membawa namanya menjadi salah satu sastrawan yang disegani. Berikut penggalan salah satu puisi, “Surat Dari Ibu”

karya Asrul Sani:

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
Pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.
Jika bayang telah pudar
Dan elang laut pulang ke sarang
Angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
Dan nahkoda sudah tahu pedoman,
Boleh engkau datang padaku!

Di kalangan para seniman yang sering berkumpul di kawasan Senen, Asrul dikenal berwawasan luas, cerdas, juga selalu berbicara tegas dengan bahasa yang elegan dan bersahaja. Pada setiap debat dalam komunitasnya atau di forum-forum, Asrul selalu tampil memukau dan membuat orang yang mendengarnya terkagum-kagum akan kecerdasannya. Bahkan tak jarang orang-orang sekitarnya terpingkal-pingkal mendengar kritiknya yang pedas dan kadang jenaka hingga membuat lawan debatnya tak mampu bersuara.

Pada suatu waktu, Ajip Rosidi menderita gout yang membuat tulang ruas jempol kaki kanannya terasa ngilu. Ajip datang dengan berjalan tertatih-tatih ke ruangan Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Ajip disapa oleh Asrul Sani, “Mengapa kaki kau, Jip?” Ajip Rosidi menjelaskan sesuai diagnosa dokter bahwa produksi asam urat dalam tubuhnya berlebihan hingga menyebabkan rasa sakit di tulang jempol kaki kananya. Asrul memberi saran dengan mimik wajah yang serius, “Coba kau periksakan gigimu, barangkali ada yang tak beres di situ.” Ajip mengikuti saran Asrul dengan mendatangi dokter gigi. Benar rupanya, setelah diteliti, dokter itu mengatakan bahwa gigi susuh bawah tumbuh miring, sehingga menumbuk gigi di sebelahnya. Harus di cabut. Pada kesempatan lain, Ajip beretemu lagi dengan Asrul di ruangan Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Kali ini Ajip yang menyapa Asrul denga pertanyaan, “Bagaimana kau tahu ada yang tidak beres dengan gigiku?” Asrul menjawabnya dengan tenang, “ Karena hal seperti itu terjadi juga pada kuda.” Ajip baru sadar, Asrul memang dokter hewan!

Beberapa kali nama Asrul Sani tercatat sebagai redaktur atau jajaran redaksi di berbagai majalah ternama, seperti; Gema Suasana, Gelanggang, Siasat, Pudjangga Baru, Majalah Indonesia, dan Zenith yang dipimpin oleh H.B Jassin. Bersama dua sahabatnya Chairil Anwar dan Rivai Apin, Asrul menerbitkan buku kumpulan sajak yang berjudul: Tiga Menguak Takdir (1950). Dan disusul kemudian buku kumpulan cerpennya yang berjudul Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat. Masa itu pula Asrul sangat menaruh minat pada dunia teater.
Bukan Sineas Karbitan

Tahun 1952 Asrul Sani diundang oleh Sticusa (Yayasan Kerjasama Kebudayaan Belanda) untuk tinggal di Eropa. Kesempatan itu digunakan Asrul untuk mendalami dunia teater di Akademi Senidrama Amsterdam. Di sana ia pun belajar tentang bloking pentas dan teori akting Stanilavsky. Berawal dari situ ketertarikannya pada dunia film mulai tumbuh. Ia pun mendalami dunia film secara serius. Karena sebelumnya ia pernah membantu Usmar Ismail menulis skenario film bejudul Long March. Sekembalinya dari Belanda ia kembali aktif dalam kegiatan sandiwara.

Asrul Sani berangkat lagi ke Amerika pada tahun 1956. Selama setahun di sana ia mendapat kesempatan mempelajari dramaturgi dan sinematografi di University of southern California. Sepulang dari Amerika ia bergabung dengan PERSARI (Persatuan Artis Republik Indonesia) yang dipimpin oleh Djamaluddin Malik. Perusahaan film yang tergolong besar ini dikenal sebagai perusahaan yang mengutamakan film-film komersial. Berbeda dengan PERFINI (Perusahaan Film Nasional Indonesia) di bawah pimpinan Usmar Ismail dikenal beranggotakan seniman yang idealis. Asrul kemudian mempersatukan kedua lembaga ini lewat film berjudul Lewat Jam Malam. Asrul Sani menulis skenario, Usamar Ismail sutradara, dan Djamaluddin Malik sebagai produser.

Titian Serambut Dibelah Tujuh adalah film pertama yang disutradarai oleh Asrul Sani pada tahun 1961. Sebelumnya Asrul hanya menulis cerita dan skenario, antara lain; Terimalah Laguku (1952), Lewat Jam Malam (1954), Pegawai Tinggi (1954), Lagak Internasional (1955). Lantas ia kemudian menulis skenario dan menyutradarai film Di Belakang Pagar Kawat Berduri yang diadaptasi dari cerita pendek Trisnoyuwono. Film ini mengalami pengcekalan pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965), yang dilakukan oleh orang-orang yang beraliran kiri yang tergabung dalam LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Organisasi PKI itu juga menyerang organisasi KFT (Karyawan Film dan Televisi) karena menganggap organisasi tersebut pro kapitalis-imperialis yang ditunggangi Amerika Serikat.

Asrul Sani bersama Usmar Ismail melakukan perlawanan dengan membentuk LESBUMI (Lembaga Seniman dan Buyawan Muslim Indonesia). Organisasi ini memberikan perlindungan kepada para seniman kreatif dan menjelaskan kepada masyarakat pentingnya fungsi berkesenian dalam kehidupan bangsa dan negara. Lewat Djamaluddin Malik, LESBUMI berhasil mendapat dukungan dari para kiai NU. Kehidupan kembali normal setelah PKI berhasil ditumpas pada akhir 1965, dan LESBUMI yang sempat aktif dengan menerbitkan majalah kebudayaan Gelanggang (1966) yang dipimpin Asrul Sani tak lagi terdengar gaungnya. Sejak saat itu, Asrul Sani total melibatkan diri dalam dunia perfilman. Ia bahkan ikut menggodok pembentukan peraturan yang mengharuskan importir film agar menyumbang untuk produksi film nasional. Peraturan itu berhasil meningkatkan gairah para produser serta mendongkrak produksi film dalam negeri.

Tahun 1970 Asrul kembali menyutradarai sekaligus merangkap sebagai penulis skenario film, Apa Yang kaucari, Palupi? Dan film ini berhasil meraih pengharagaan pada Festival Film Asia. Sekaligus memecahkan rekor sebagai film Indonesia pertama yang mendapat penghargaan Festival Film di tingkat Asia. Tidak hanya itu, beberapa film yang skenarionya ditulis oleh Asrul juga mendapat piala Citra, antara lain; Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Al-Kautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh. Tahun 1972 Asrul secara berturut-turut membuat film lagi dengan memotret situasi masyarakat pada zaman itu yang masih dalam tahap pencarian jati diri. Film-film itu diantaranya; Salah Asuhan (1972), Bulan di Atas Kuburan (1973), Jembatan Merah (1973), Kemelut Hidup (1977). Untuk filmnya yang berjudul Para Perintis Kemerdekaan (1977), Asrul diganjar penghargaan khusus (special award) untuk cerita terbaik dalam FFI 1981.

Asrul Sani menjabat sebagai Ketua Dewan Film Nasional setelah ditunjuk oleh Menteri Penerangan Ali Murtopo di tahun 1979. Salah satu hasil penting dari Dewan Film ini adalah diterbitkannya buku Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Perfilman Nasional (P4-N). Asrul menjabat Ketua Harian Dewan Film sampai beberapa periode. Sejak saat itu ia mundur dari kegiatannya sebagai sutradara. Kreativitasnya ia fokuskan pada penulisan cerita dan skenario. Sepanjang itu Asrul berhasil meraih tujuh piala Citra untuk penulisan.

Lewat film Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985), nama Asrul kembali berkibar sebagai penulis cerita dan skenario yang mumpuni. Dan yang paling fenomenal adalah Nagabonar (1986) yang berhasil menarik perhatian berbagai kalangan untuk kembali menaruh perhatian pada film Indonesia. Kedua film itu menggegerkan jagad perfilman dalam negeri hingga menjadi perbincangan di mana-mana. Bahkan konon Menteri Depdikbud saat itu, Fuad Hasan, penggemar berat Nagabonar. Tidak sampai di situ, kiprahnya sebagai penulis dilanjutkan dengan menulis skenario film televisi yang tak kalah bobotnya. Pertama kali ia menulis cerita film televisi berjudul Mahkamah.

Karya Asrul kembali menjadi buah bibir setelah melakukan lompatan besar melalui skenarionya Siti Nurbaya sebagai film serial televisi. Cerita ini diadaptasi dari novel klasik karya Marah Roesli ini berhasil mencuri perhatian penonton. Itulah pertama kalinya film televisi yang kemunculannya amat ditunggu-tunggu penonton sekaligus sebagai karya sinematografi yang bermutu.

Asrul telah membuka lembaran baru bagi industri televisi sebagai tempat yang dapat menampung karya kreatif yang serius dan membuka pintu bagi mereka yang ingin berkarya secara sungguh-sungguh. Setelah itu Asrul Sani menghibur penonton dengan menulis skenario Sengsara Membawa Nikmat. Tentu film mini seri ini masih melekat diingatan kita bagaimana ceritanya berhasil menggugah perasaan tanpa harus dibumbui dengan mimpi-mimpi semu belaka seperti yang kita temui pada banya Sinetron di kekinian. Tak bisa disangkali, bakat yang dimiliki Asrul Sani sulit ditemukan tandingannya. Selama berkecimpung di dunia film, ia dikenal sebagai sineas yang idealis tanpa pernah ikut terbawa arus.


11 Agustus 1973
Asrul tentang filmnya


PADA mulanya Asrul hanya memberikan jasa baik untuk pembelian hak cipta film Salab Asuhan dari Balai Pustaka bagi PT ISA Film yang ingin melayar putihkan karya Abdoel Moeis itu. Menanti lama tanpa kabar, PT Tati & Sons yang kemudian juga berminat atas kisah lanafi dan Corry itu, akhirnya juga minta bantuan Asrul untuk membeli hak cipta film dari Isa Film yang tidak kunjung mulai. Ternyata hubungan Asrul Sani dan Tati & Sons tidak berakhir pada jasa baik itu saja, sebab kemudian Asrul malah diminta menulis skenario dan sekaligus menyutradarai film tersebut. Riwayat pembuatan film atas karya Moeis itu dikisahkan oleh Asrul Sani keada desk film TEMPO, Salim Said, beberapa waktu yang lalu di Taman Ismail Marzuki, di sela-sela kesibukannya menyelesaikan film barunya, Jembatan Merah. Berikut ini adalah bagian penting percakapan tersebut yang memuat beberapa komentar Asrul terhadap film Salah Asuhan: Tentang Hanafi. Bagi Abdoel Moeis, Hanafi adalah gerobak untuk ide-ide pengarang. Tapi Hanafi dalam film Salah Asuhan, adalah tokoh pribadi yang tidak mewakili siapa-siapa kecuali dirinya yang snob. Ia pulang dari Eropa tidak membawa pengetahuan, sekolahnya tidak selesai. Keadaan itu menumbuhkan kompleks dalam dirinya. Hanafi tidak disukai oleh temantemannya bukan lantaran perkawinannya dengan perempuan kulit putih, Corry, tapi lantaran sikapnya yang angkuh dan penuh kompleks itulah. Perkawinannya dengan Corry tidak terutama karena didesak oleh status, seperti yang digambarkan oleh Abdoel Moeis, melainkan karena snobisme dan keangkuhan yang ada dalam dirinya. Tentang Novel Moeis. Tidak mudah memang mengadaptir ke dalam film sebuah novel terkenal seperti Salah Asuhan ini. Selain tekanan publik -- yang terlalu banyak tahu tentang bacaan terbitan laai Pustaka itu -- keadaan yang digambarkan oleh Moeis itu secara teknik -- kecuali dengan biaya tinggi -- hampir tidak bisa difilmkan sekarang ini. Oleh karena itu saya pilih jalan aman dengan menjadikan persoalannya tidak lagi sosiologis tapi psikhologis. Konflik timbul tidak karena Hanafi menginginkan status,kulit putih --Belanda hitam menurut istilah zaman itu -- melalui perkawinan, melainkan kompleks yang ada dalam dirinya yang bersumber pada kegagalan studinya di Eropa. Pada dasarnya Hanafi itu orang cetek, sehingga ketika belajar di Eropa, yang sanggup ditirunya cuma kulit dan bukan inti peradaban Eropa. Novel Salah Asuhan yang sampai pada kita itu sebenarnya bukan lagi yang asli, sebab dari tangan Moeis, sebelum terbit, sudah melalui proses editing para editor di Balai Pusaka. Melalui media tulisan itu, Moeis bisa berpanjang-panjang, hal yang tidak bisa kita lakukan pada sebuah film yang harus selesai diputar dalam masa tidak lebih dari 2 jam. Tentang Corry & Sikap Asrul. Tentang Ruth Pelupessy sebagai Corry, memang kurallg bisa menggambarkan kehidupan Indo. Soalnya karena Ruth tidak mempunyai perbendaharaan yang cukup untuk membayangkan tokoh tersebut. Untunglah bahwa umurnya yang sekarang ini bisa membantunya untuk sedikit-sedikit melakukan sesuatu bagi memerankan tokoh wanita yang diinginkan skenario. Berlainan dengan Apa Yang Kau Cari Palupi, dalam film ini saya hanya bercerita saja, tidak mempuyai sesuatu yang ingin saya katakan. Saya bagaikan Terence Young, sutradara terbaik dalam menangani seri-seri James Bond, yang juga tidak ingin mengatakan apa-apa melalui karya-karya Ian Fleming, kecuali hanya bercerita. Konflik dalam Salah Asuhan itu sama sekali tidak melibatkan diri saya.



Wawancara Asrul Sani:
"Angkatan 45 Membebaskan Bahasa Indonesia"
TIDAK mudah menampilkan sosok Asrul Sani, penyair, sutradara, dan penulis skenario yang oleh orang film kini dianggap legenda. Asrul juga dokter hewan lulusan Institut Pertanian Bogor dan pernah menjadi anggota DPR selama tiga masa jabatan. Pengetahuannya sebagai dokter hewan hampir tidak dipraktekkan. Namun, selaku sastrawan dan seniman film, Asrul Sani tak pernah berhenti berkarya. Selain dikenal sebagai penyair Angkatan 45, dia juga menulis cerita pendek, esai, serta skenario film dan televisi. Anehnya, Asrul menyebut dirinya amatir dalam bidang-bidang ini. Sebab, "Seorang amatir melakukan sesuatu karena kesenangan."

Asrul Sani memenangi piala Golden Harvest dalam Festival Film Asia 1970 untuk filmnya Apa yang Kaucari, Palupi. Sejak filmnya yang pertama, Titian Serambut Dibelah Tujuh (1959), disusul Pagar Kawat Berduri (1961), hampir ke-20 film yang disutradarainya mengangkat tema dengan muatan sosial politik yang pekat. Demikian juga cerita dan skenario film yang digubahnya—dua yang terakhir berupa komedi populer, yakni Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985) dan Naga Bonar (1986). Dari tangannya juga bermunculan film televisi yang memikat—yang acap ditayangulangkan adalah Mahkamah. Beberapa di antaranya bahkan diputar di Malaysia dan Singapura.

Istrinya, Mutiara Sani, ikut membintangi film layar lebar dan film televisi arahannya. Respons dari penonton cukup mendukung masa itu, terutama ketika serial televisi Siti Nurbaya—dengan skenario dari Asrul Sani yang dibuat berdasarkan novel klasik karya Marah Roesli—ditayangkan, jauh sebelum televisi Indonesia dilanda banjir sinetron. Ironisnya, Asrul, yang banyak dilibatkan dalam upaya menumbuhkan perfilman nasional, justru menyaksikan kehancuran film Indonesia itu sendiri. Menurut Asrul, penghancuran itu dengan sukses dilakukan Harmoko selama 15 tahun "berkuasa" sebagai menteri penerangan.

Asrul Sani, yang tak tertandingi di arena debat, menjadi anggota DPR selama 16 tahun. Ia sempat dicap sebagai "pemberontak" karena acap melancarkan kritik terhadap pemerintah. Katanya, aura demokrasi sudah menguap dari parlemen kita sejak 1971.

Bersama-sama Chairil Anwar dan Rivai Apin, Asrul Sani dikenal sebagai pelopor Angkatan 45 (ketiganya terwakili dalam kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir). Tonggak mereka adalah Surat Kepercayaan Gelanggang, 18 Februari 1950, sebuah manifesto yang ditulis Asrul dan mencuatkan "konsepsi budaya" Angkatan 45. Dokumen ini diterbitkan pada 23 Oktober 1950, setahun setelah Chairil meninggal.

Asrul, ayah enam anak, kelahiran Rao, Sumatra Barat, 10 Juni 1927, adalah bungsu dari tiga bersaudara, anak pemuka adat Sultan Marah Sani Syair Alamsyah. Ditemui di kediamannya awal Oktober lalu, Asrul, yang rambut dan berewoknya telah bersepuh perak, tampak sehat dan bugar. Ingatannya jernih dan mendetail, bahkan tentang banyak hal sepanjang usianya yang sudah 72 tahun itu. Wartawan TEMPO Dwi Arjanto dan Hermien Y. Kleden tiga kali menemuinya di rumahnya, di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan.
Petikannya:

Apa yang ada di benak Anda sewaktu menyusun Surat Kepercayaan Gelanggang?
Terus terang, ada satu kesombongan. Kami merasa tidak perlu dibatasi dengan kebanggaan tentang Borobudur atau Shakespeare, misalnya. Apa yang ada di dunia adalah milik kita semua. Dan itu yang menjadi kenyataan.

Mengapa harus sombong?
Setiap pemuda itu sombong, tidak bisa tidak. Dia tidak akan maju kalau tidak arogan. Dia harus bisa separuh sinting memandang keyakinannya. Kalau tidak, dia juga tidak akan bisa berdemonstrasi. Sebagaimana umumnya gerakan avant garde, Angkatan 45 hanya berjalan di depan—sampai suatu saat ada orang lain yang lebih jeli yang memanfaatkan keuntungan. Angkatan 45 tidak punya waktu. Dia berlari terlalu cepat untuk mengejar apa yang diinginkan.

Apa saja yang dilakukan Angkatan 45 dengan semangat avant garde-nya?
Mereka membuka horizon-horizon baru, yang semestinya dilanjutkan. Sayang, generasi berikutnya tidak mendapat kesempatan menumbuhkan hal itu dengan caranya sendiri.

Apakah pertumbuhan itu berhenti?
Tidak berhenti. Sebab, bagaimanapun, ada yang muncul. Di Taman Ismail Marzuki, semasa Orde Baru, tetap saja ada ceramah. Tapi, yang bertanya, pengetahuannya sangat kurang. Kebebasan untuk mendapatkan buku bermutu amat terbatas. Yang paling fatal adalah sikap meniadakan polemik, meniadakan pertukaran pikiran. Sekarang, pertukaran pikiran itu berkembang kembali kendati orang masih ragu-ragu menggunakan bahasa setajam mungkin.

Bagaimana pergulatan antarkomponen inti Angkatan 45?
Yang menyatukan adalah kesamaan tanggapan terhadap penggunaan bahasa Pujangga Baru: kita menganggap bahasa Pujangga Baru tidak mengutarakan apa yang ingin diutarakan, tapi lebih mementingkan penyesuaian diri dengan kaidah-kaidah tata bahasa.

Menarik bahwa pengarang Angkatan 45, yang rata-rata anak priayi pegawai negeri, "memberontak" terhadap bahasa Pujangga Baru, yang mencerminkan kehalusan berbahasa kaum priayi.

Benar bahwa pengarang Angkatan 45 itu semuanya anak pegawai negeri. Tapi, anehnya, sudah lepas penghormatan kita terhadap priayi. Kita berpendapat, kelompok paling lemah waktu itu adalah pegawai negeri. Nilai intrinsik dalam Surat Kepercayaan Gelanggang adalah bahwa kita mencari manusia yang sudah dilepaskan dari bajunya. Kita menentang pendapat bahwa budaya kita hanya dibuat oleh bangsa kita.

Memangnya ada yang salah dari anggapan yang berkembang sebelum itu, yakni bahwa kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan Timur dan merupakan kumpulan dari puncak kebudayaan daerah?
Kebudayaan lahir seperti air yang mengalir. Kita boleh saja mengatakan menjunjung nasionalisme dengan menetapkan suatu pakaian yang "asli" Indonesia. Bukan itu yang ada dalam kenyataan. Kita tidak lagi berjalan dengan langkah-langkah kecil karena memakai kain kebaya, tapi bisa leluasa dengan celana blue jeans. Itu yang tampak dalam novel Saman. Masalahnya, pakaian baru ini akan diapakan? Kita jangan munafik mengatakan cinta pakaian nasional tapi tidak pernah memakainya. Apalagi baju nasional ternyata lebih mahal dari pakaian biasa.

Angkatan 45 sering disebut sebagai pembaharu pertama dalam khazanah sastra kita. Apa sebenarnya yang akan mereka capai?
Suatu angkatan mencari kebenarannya sendiri dalam situasi tersendiri dari zaman yang berlangsung.

Dan zaman kepada siapa Angkatan 45 terikat adalah revolusi.

Benar. Dalam film, misalnya, Usmar Ismail (pelopor perfilman Indonesia) mengatakan tujuannya adalah membawa revolusi ke layar putih. Dalam bidang kesenian, yang dikaji adalah keunikan manusia, yang amat perlu membuat kita lebih manusiawi.

Dalam pengertian yang bagaimana?
Menghargai pendapat orang lain. Suatu bangsa yang tradisi kesusastraannya tinggi dapat menghargai perbedaan pendapat. Kesusastraan membuat kita lebih manusiawi. Dengan membaca sastra, kita mengadakan dialog dengan diri sendiri. Demokrasi, hak asasi manusia, martabat manusia itu tidak bisa kalau tidak ada contohnya. Dan kesusastraan membawa pencerahan (enlightenment).

Kata-kata Anda mengingatkan pada apa yang ditulis Sjahrir di Penjara Glodok dalam bukunya, Renungan Indonesia: "Bagaimana kita bicara tentang manusia sedangkan kita tidak membaca novel?"
Lo, waktu itu, pelajar Indonesia memang malu membaca novel. Jangankan itu, bahkan Bung Hatta pun malu. Ketika di antara tumpukan bukunya ditemukan novel, Bung Hatta tidak mengaku kalau dia yang membelinya. Membaca novel pada masa itu dianggap membuang-buang waktu.

Bagaimana frame besar Angkatan 45 sebagai sebuah generasi kesusastraan?
Media yang dipergunakan tidak lagi berhasil mengutarakan apa yang ingin diutarakan. Kalau sekiranya zaman itu menjadi zaman yang sangat cepat, cara pengutaraan yang lambat tidak bakal dipakai lagi. Ada konflik dengan Takdir Alisjahbana di masa itu—sebuah konflik yang lebih banyak hubungannya dengan realitas sebagai sumber bahasa dan sumber penafsiran. Makanya, Angkatan 45 disebut angkatan pembaharu, yang sebelumnya telah dirintis Armijn Pane lewat novel Belenggu.

Armijn Pane merintis pembaruan sebuah angkatan lewat Belenggu, tapi tampaknya ia gagal melukiskan realitas masyarakat. Roman ini, yang bermain di Sawahbesar dan Tanjungpriok, tidak memberikan gambaran Jakarta pada waktu itu.

Ini memang masalah pengarang Indonesia. Realitas adalah sesuatu yang dia rekayasa saja, tidak ada hubungannya dengan sejarah. Begitu pula karya-karya memoar pengarang Indonesia. Memoar Jenderal Nasution, misalnya, hanya sedikit memberikan gambaran utuh, kendati ada beberapa bagian di buku itu yang menceritakan lingkungannya. Itu berbeda, misalnya, dengan memoar Laksamana Maeda yang dia tulis setelah Kaisar Jepang mengumumkan penyerahan Jepang kepada Sekutu.

Apa yang ditulis Maeda?
Ia tidak bercerita tentang kegundahan hatinya atas keputusan Tenno Heika. Dia kembali ke kantornya, duduk dekat jendela, menghadap ke jalan. Di situ ada pohon flamboyan. Lalu, ia menulis, "Pohon flamboyan sudah mulai berbunga, tanda musim hujan sudah mulai datang." Maeda menuliskan realitas hati manusia yang berada pada titik nadir—tanpa perlu menyebut soal penyerahan Jepang kepada Sekutu yang begitu menggundahkan hatinya.

Dan soal realitas pula yang membuat Rivai Apin (Angkatan 45) mengejek-ejek Sutan Takdir Alisjahbana atau STA (Pujangga Baru) bahwa STA terlalu banyak retorika dan bahasa berbunganya.
Pujangga Baru memang tidak efektif dalam penggunaan bahasa. Angkatan 45 lalu memelopori pembebasan bahasa Indonesia dari kungkungan, baik oleh Pujangga Baru maupun sebelumnya. Dua orang yang sangat penting dalam membebaskan bahasa Indonesia menjadi alat pengutaraan pribadi adalah Chairil Anwar dan Bung Karno. Sukarno itu sangat tidak puas dengan bahasa Indonesia. Kita bisa membaca bahasanya yang hidup dalam bukunya Sarinah.

Masa? Bukankah buku itu ditulis dengan bahasa Indonesia yang baku?
Itu edisi yang telah direvisi. Anda harus membaca Sarinah edisi asli, yang diterbitkan pertama kali. Setelah Bung Karno menjadi presiden, buku itu kembali diterbitkan, tapi bahasanya diperbaiki sesuai dengan bahasa Indonesia yang baku, sehingga keasliannya hilang. Padahal, versi asli bahasanya sangat hidup, misalnya istilah "ahli fikir" dia tulis "macam-macam fikir". Konkret sekali.

Bagaimana kedekatan Anda dengan Bung Karno?
Suatu ketika, saya menemui Bung Karno tatkala saya mau membuat film Tauhid di Mekah. Dia bertanya, "Pernahkah kamu membaca buku Tolstoy—sastrawan besar Rusia—tentang dua orang suami-istri? Pada suatu malam, keduanya hanya punya sepotong roti. Lalu, datang seseorang yang kelaparan. Suami-istri itu berunding, lalu memutuskan untuk memberikan roti itu kepada si orang lapar. Itu agama. Apa kamu menggambarkan hal seperti ini?" Lain dengan Sjahrir. Dia memberikan buku Roti dan Anggur, lalu saya disuruh menyusun arti sosialisme sendiri.

Benarkah generasi pertama kita yang memimpin Indonesia memang punya rasa kebudayaan (sense of culture) yang tinggi?
Benar. Suatu ketika, pada 1963, Bung Karno berkata kepada Roeslan Abdoelgani, "Roes, selama kamu tidak mengerti kebudayaan, kamu tidak akan mengerti politik." Dan mereka banyak sekali membaca. Sekali waktu, Bung Karno memberi saya satu buku yang dia kagumi, memoar Alexander Herzen, seorang revolusioner Rusia yang romantik. Katanya, "Kau saja yang baca karena toh enggak ada yang bakal baca buku ini."

Kembali ke soal Angkatan 45. Bagaimana awal perkenalan dengan Chairil Anwar, salah seorang karib Anda itu?
Saya ketemu Chairil pertama kali di Senen, sewaktu dia sedang berada di toko buku bekas. Sesudah Belanda jatuh, kan, mereka bisa melego buku-buku dengan harga murah. Chairil itu suka bermacam-macam buku. Dia seorang otodidak. Pendidikannya hanya SMP zaman Belanda, tapi dia bisa berbahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. Pergaulan para sastrawan pada masa itu tergolong terbatas. Saya juga berkenalan dengan Usmar Ismail di Pusat Kebudayaan. Saya ke sana karena senang mendengarkan musik dan akhirnya berkenalan dengan Cornel Simanjuntak. Dia (Chairil) juga sangat blakblakan, termasuk blakblakan mengkritik, sehingga pernah dia berkelahi dengan H.B. Jassin karena hal itu.

Bukankah pertengkaran itu terjadi pada suatu acara pembacaan sajak di Gedung Kesenian Jakarta pada 1943?
Ya. Waktu itu kami datang sebelum pertunjukan. Chairil marah kepada Jassin karena ia menulis puisi yang tidak disukai Chairil. Padahal, H.B. Jassin suka senewen, apalagi kalau di depan orang banyak. Dia sedang asyik menghafal teks ketika tiba-tiba Chairil menyerangnya dengan kata-kata bahwa Jassin tidak mengerti puisi dan segala macam. Langsung saja Jassin menempeleng Chairil. Saya bisa memahami kejadian itu. Jassin bukannya tidak mengerti sifat Chairil yang blakblakan, tapi dia sendiri sedang menghadapi suasana grogi. Saya cuma bilang kepada Chairil, "Buat apa kau lawan si Jassin itu? Badannya saja lebih besar dari kau."

Bagaimana persahabatan Anda, Rivai, dan Chairil?
Kami bertiga punya perjanjian tidak akan pernah saling tipu. Suatu saat, dia (Chairil) meminjam mesin tik dari saya. Beberapa lama kemudian, dia datang subuh-subuh ke rumah saya. Katanya, "Kita sudah berjanji tidak akan saling tipu, kan?" Saya mengiyakan. Lalu, dia bilang, "Mesin tiknya telah saya jual." Dia tidak bekerja apa-apa. Tiap hari ya ke Senen itu, baca buku. Dan buku apa saja yang dia pinjam dari kawannya ya dijual. Barang apa saja yang dia pinjam dari temannya dijual. Dan itu tanpa rasa bersalah. Chairil adalah orang yang hidup 100 persen dari puisi. Akibatnya? Keluarganya harus ikut menanggung gaya hidupnya yang seperti ini.

Misalnya?
Anaknya, yang semata wayang, tidak mengenalnya. Padahal, Chairil sangat mencintai anak itu. Anak itu pernah dia "culik" dari istrinya, tapi dikembalikannya setelah dibujuk-bujuk. Kalau dia sudah tidak pulang tiga hari, saya sering diajak ke rumahnya untuk jadi tameng. "Istriku punya ikan. Kau bisa digorengkan ikan." Dia betul-betul takut kepada istrinya, lebih-lebih kalau wanita ini sudah berkacak pinggang. Badannya yang besar itu benar-benar menakutkan buat Chairil, yang berbadan kecil dan kurus.

Sebagai teman yang begitu dekat, mengapa Anda tidak ikut mengantarkan dia ke pusara saat ia meninggal pada 1949?
Dia meninggal saat saya sedang di Bogor. Saya baru tahu peristiwa itu dua hari setelah ia dimakamkan. Dia meninggal tepat pada waktunya. Kalau dia hidup, barangkali dia sekarang berada di penjara karena berkali-kali menipu. Dia juga meninggal pada saat puncaknya sebagai penyair. Puisinya sudah selesai dan puncak keindahan itu bisa tersimpan selamanya.

Sajak Chairil yang terakhir adalah Derai-Derai Cemara. Di antaranya, dia menulis, "Hidup hanya menunda kekalahan...." Apakah ini juga gambaran dia "selesai" sebagai penyair?
Dia tidak kehilangan kreativitas menjelang meninggal pada 1949 itu. Tapi, sebagai penyair, dia sudah selesai. Dari omongan dan tulisannya menjelang akhir hayatnya, dia seorang esais yang baik—kendati dia belum jadi esais. Kami bertiga sempat berbicara lama. Waklu itu, Rivai sempat bilang kepadanya, "Lebih baik kau mengalah karena tak ada lagi yang dipertahankan dengan cara apa pun. Mulailah kembali dengan bentuk lain."

Setelah Chairil meninggal, pertentangan apa yang membuat Anda juga berpisah dengan Rivai Apin?
Rivai itu tidak pernah berubah. Pada 1960-an, ada kutub politik komunis dan antikomunis. Yang "di tengah" itu tidak ada. Saya bilang ke Rivai agar pergi ke Eropa. Prof. Berlin, Ketua Bagian Kebudayaan di Kedutaan Besar Belanda, mengusahakan agar Rivai bisa pergi ke Belanda. Tapi, informasi yang beredar di sana, dia bergaul dengan orang-orang kiri. Akibatnya, ia tidak mendapat izin masuk Belanda.

Toh, dia ke Eropa juga setelah mendapat undangan pergi ke Berlin Timur?
Ya, dia pergi ke sana dan, sesudah itu, tertutuplah dia dengan dunia Barat. Bersamaan dengan itu, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) mulai aktif menawarkan bermacam-macam kedudukan, termasuk mengusulkan Rivai Apin menjadi anggota DPRD Jakarta Fraksi PKI. Tapi, bagaimanapun, Rivai tidak pernah berubah.

Maksud Anda?
Dia hampir tidak pernah menulis sewaktu memimpin Zaman Baru (majalah kebudayaan Lekra). Dan dia tidak mau melarikan diri setelah peristiwa G30S karena menganggap itulah konsekuensi dari pilihan berpolitik. Dia mengalami suatu situasi di mana dia sudah akan disingkirkan. Saya mencari dia setelah itu. Dia menunjukkan sajak-sajaknya. Saya mengerti kenapa kalangan komunis tidak bisa menerima sajak-sajaknya.

Pindah ke awal 1960-an. Saat itu, iklim politik kebudayaan diwarnai beberapa polarisasi, antara lain Lesbumi (Lembaga Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia, yang didirikan Asrul Sani dan Djamaludin Malik, yang berafiliasi ke Nahdlatul Ulama). Bagaimana Lesbumi memosisikan diri waktu itu dalam polemik kebudayaan, misalnya?
Politik mulai masuk kebudayaan setelah kehidupan politik macet total, yaitu setelah presiden menjadi presiden seumur hidup dan pemimpin besar revolusi. Di situlah Lekra mulai agresif. Waktu itu, kita mengharap Sitor Situmorang, yang memimpin Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), bisa menghadapi Lekra. Nyatanya tidak. Sitor adalah penyair yang hebat tapi seorang politikus picisan. Karena terlalu kenes, dia mudah sekali dimainkan Lekra. Sesudah LKN makin jauh, mulai kita rasakan perlunya lembaga lain.

Tapi bukankah waktu itu Nahdlatul Ulama (NU) sama sekali tidak mau campur soal kebudayaan?
Memang. Tapi kalangan NU kaget setelah Lekra membuat suatu pertunjukan di Pekalongan berjudul Haji Tuan Tanah—sekitar 1964-1965. Mereka mulai menerima bahwa suatu kesenian tidak bisa diabaikan begitu saja. Sesudah itu, keterlibatan golongan pesantren dalam kesenian makin besar. Lesbumi tadinya dibentuk untuk kepentingan politik. Tapi belakangan, setelah keadaan berubah, yang menonjol adalah aspek kebudayaan.

Apa yang Anda rasakan dalam ingar-bingar polarisasi tersebut?
Teror. Itu betul-betul teror. Saat bangun tidur pagi, yang pertama kita baca di koran adalah teror dari pihak mereka, pelarangan, pemecatan. Saya bukan pegawai negeri sehingga tidak bisa dipecat. Tapi Taufiq Ismail, yang pegawai negeri, sangat terpukul dengan pemecatannya sebagai pegawai negeri.

Anda memang bukan pegawai negeri di zaman Sukarno. Tapi Anda menjadi anggota parlemen selama 16 tahun dalam masa Orde Baru. Mengapa bertahan di Senayan hingga 1982, padahal Anda menyebut demokrasi sudah berakhir pada 1971?
Ada semacam solidaritas—jadi bukan karena alasan pragmatis. Terus terang, saya tidak banyak dipengaruhi suasana. Pada 1971, saya masuk Fraksi NU—sebuah sayap yang bisa disebut idealis, yang masih bisa menegakkan semacam kontrol. Pada 1982, saya keluar dari Senayan. Saat itu, semua sarana untuk mengembangkan pemikiran dibunuh—karena dianggap sebagai polemik. Lalu, semuanya bergulir seperti yang sudah kita saksikan: selama 32 tahun, tidak ada pemikiran baru. Tidak ada pemimpin masyarakat yang bisa tumbuh tanpa legalisasi kekuatan militer.

Omong-omong, apa pernah berpraktek sebagai dokter hewan?
Sewaktu berpraktek di kampus dulu. Setelah itu, tidak lagi. Di kampus, saya belajar berpikir sistematis. Itulah keuntungannya. Saya menganggap pendidikan adalah pendidikan pribadi. Saya tidak bisa menjual apa yang ada di diktat. Tapi saya bisa menjual apa yang bisa saya olah sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar