Minggu, 30 Januari 2011

SI KABAYAN SABA KOTA / 1989

SI KABAYAN SABA KOTA

Kabayan (Didi Petet) yang karena terpengaruh seorang teman, pergi ke kota. Di kota, Saribanon (Nurul Arifin) yang ayahnya pernah dibantu Kabayan ketika dirampok, diam-diam menaruh hati. Hubungannya dengan Iteung (Paramitha Rusady), pacarnya di desa, sempat renggang tetapi akhirnya keduanya pun menikah.

Banyak protes sana sini karena tokoh yang satu ini, memang tokoh ini dari Sunda yang mewakili daerah setempat, terang saja apa yang jelek dari tokoh ini di protes oleh orang asal daerah tersebut, dan menyatakan kabayan tidak bodoh, kabayan tidak malas dan sebagainya. Tapi menurut saya bukan itu permasalahan yang nyata dalam film ini. Kabayan adalah sosok yang Polos (Bukan bodoh), polos yang belum mengenal dosa, lugu dan jujur sekali. BIasanya orang yang seperti ini adalah alat permainan bagi orang yang memiliki kepintaran (sekolahan), sehingga ia sering di manfaatkan atas keluguan dan kepolosannya tersebut, karena dia jujur. Dan sudah pasti dia baik sekali. Dan tidak bodoh, karena di luar hal yang tampak bodoh itu ada kecerdikan yang unik dan menarik yang tidak dimiliki orang umum, hampir mirip dengan Abu Nawas. Dan juga dia tidak pemalas, apakah karena dia sering tidur-tiduran itu hal yang pemalas? Bukan juga,...yang pasti adalah dia tau apa yang dia akan kerjakan, berguna apa tidak, kalau tidak lebih baik tidur saja...ini menarik sekali. Tentang kebodohannya itu tampak sekali ketika ia ke kota, iya...memang banyak film yang menggambarkan itu bila ada orang desa ke kota, itu wajar sekali..., tapi kejujurannya dan kepolosan ia dan ketulusan ia yang khas yang tidak dimiliki orang kota, sehingga ia menjadi special di kota. Sehingga gadis kotra itu jatuh cinta sama dia.


SEUSAI menonton film Si Kabayan Saba Kota, Yogie S. Memet langsung mengacungkan jempol. "Bagus," ujarnya. "Tata warna dan pengambilan gambar cukup baik. Film produksi awal kita cukup mengembirakan," sambungnya. Bekerja sama dengan PT Kharisma Jabar Film, Pemda Jawa Barat menyediakan anggaran Rp 150 juta untuk memproduksi Si Kabayan, sementara Kharisma menyediakan dana Rp 200 juta. Biaya itu ternyata akhirnya bisa ditekan. Ongkos produksi keseluruhan hanya Rp 250 juta. Soal penghematan ini juga menunjang kegembiraan Gubernur. Bukan cuma andil saham. Pemda Ja-Bar juga turut rembuk membicarakan skenario dan penentuan lokasi shooting. "Di luar itu kami tidak ikut campur," kata H.S.A. Yusacc, Humas Pemda Ja-Bar. Maksudnya tak ada campur tangan untuk urusan artistik. "Sebagaimana kata Gubernur, kami tidak bermaksud memasung kreativitas seniman," ujar Yusacc. Kisah yang lengket dengan budaya Sunda ini dibuat dalam dua versi. Satu versi untuk masyarakat berbahasa Sunda, menggunakan dialog lokal dan musik yang sangat berbau tradisional. Sedang versi lainnya dijiwai semangat nasional. "Saya juga capek bikin ilustrasi musik dalam dua versi," kata Harry Rusli. Dalam versi Sunda, Harry memakai lagu Cingcangkeling. Sedang untuk "versi nasional", musiknya dibuat lain yang bisa dipahami warga non-Sunda. Film ini cuma memakai 13 artis, yang semuanya berasal dari Jawa Barat. Pengambilan gambar yang dilakukan di Bandung, Lembang, dan Singaparna betul-betul membutuhkan waktu yang singkat. Dari shooting sampai film siap edar, konon, hanya perlu waktu kurang dari satu bulan. "Sebenarnya ini film komersial, hanya mempunyai tanggung jawab ekstra karena kerja sama dengan pihak Pemda. Karena biayanya dari rakyat, maka tanggung jawabnya lebih besar," kata Edison Nainggolan, produser pelaksana film ini. Si Kabayan, yang diputar serentak di seluruh Jawa Barat, sejak awal Mei ini tampaknya memang digemari. Di Bandung saja, misalnya, sampai hari kedua Lebaran, penonton sulit mendapatkan karcis masuk. Tokoh Kabayan itu sudah menjadi bagian dari masyarakat Parahyangan. Selain suasana lebaran membuat masyarakat berbondong-bondong mencari hiburan. Tapi pencinta seni budaya Sunda, Tjetje Hidayat Padmadinata, memberi komentar miring. "Pembuatan film ini ada cacat dalam kandungan. Mengapa kok Jawa Barat memilih film badut?" tanyanya. Walaupun Kabayan merupakan tokoh fiktif, menurut Tjetje, sosok karakter tokoh itu sudah baku sebagai tokoh jenaka. Juga Kabayan adalah tokoh negatif, sama dengan tokoh larangan. Misalnya, kalau orangtua memarahi anaknya yang mempunyai kelakuan jelek, biasanya dikatakan 'kamu jangan seperti Si Kabayan. "Kabayan itu digambarkan pemalas suka menipu dan tidak sopan. Saya kurang setuju film dagelan yang dimunculkan," ujarnya. Tjetje, lalu menunjuk film bertemakan kepahlawanan yang digarap pemerintah daerah lain. Seperti film 10 Nopember yang dibuat Pemda Jawa Timur dan film Nuansa Rinjani yang dibuat Pemda Nusa Tenggara Barat. Juga disebutkan film Tjoet Nya' Dhien yang menularkan tema kepahlawanan -- walau film ini bukan dibuat berdasarkan imbauan Menteri Rudini. Menurut Tjetje, Pemda Ja-Bar lebih tepat kalau mengangkat kisah kepahlawanan, misalnya tokoh pejuang K.H. Zainal Mustafa dari Singaparna atau H. Hasan dari Cimateme, Garut, yang melawan Jepang. Bisa pula Sultan Agung Tirtayasa, Hasanuddin atau Bagusrangin dari Majalengka. "Kalau Si Kabayan ini murni biaya swasta, saya tidak perlu berkomentar. Tapi ini kan biaya dari Pemda Rp 150 juta, itu bukan sedikit," kata Tjetje. Suyatna Anirun, seniman teater cukup kondang di Bandung, juga kecewa. Menurut dia, film ini kurang perencanaan, sejak pembuatan skenario sampai penggarapannya. "Tidak berkembang. Dialogpun kebanyakan verbal, suasananya kurang menggelitik," kata Suyatna. Namun, Yusacc membela. Justru film ini untuk mengubah citra masyarakat pada tokoh Kabayan. Diakuinya ada beberapa versi tentang tokoh Kabayan. Ada yang menyamakannya dengan tokoh Abunawas yang tengil itu. "Kategori itulah yang ingin kami perbaiki," ujar Yusacc. Dalam film ini, profil Kabayan muncul sebagai orang lugu, jujur, dan simpatik. "Pada pembuatan film perdana ini, kami sengaja menampilkan cerita yang sederhana, tetapi tetap masih bisa dinikmati dan merupakan penggalian dari potensi masyarakat. Kalau bertemakan kepahlawanan dan sejarah, sepertinya harus semikolosal atau kolosal. Berat dalam soal biaya," katanya. Yang meniru Jawa Barat -- dalam arti tidak membuat film kepahlawanan -- ada juga. Misalnya Pemda Sumatera Selatan. Kini di Palembang sedang dikerjakan film Si Pahit Lidah, sebuah legenda setempat. Film ini disutradarai Pitrajaya Burnama, dengan artis-artis lokal. Bintang tamunya Anna Tairas dan Dewi Irawan. "Jika daerah lain bisa membuat film, kenapa kita tidak," kata Gubernur Sum-Sel Ramli Hasan Basri. Sementara itu, di provinsi lainnya belum terdengar ada sambutan. Di Bali, misalnya, memang banyak dikerjakan film, tapi bukan dibuat atau bekerja sama dengan pemerintah daerah. Di Sumatera Utara lain lagi. Seniman-seniman Medan sudah berusaha menghubungi Pemda Sum-Ut. Tapi belum ada hasilnya. "Konon, tidak ada uang dan masalahnya tidak ditanggapi secara serius," kata M. Arief Husin Siregar, Ketua Parfi Sum-Ut. Padahal, di masa Gubernur Marah Halim, seniman Medan menghasilkan lima buah film. Bahkan Medan punya studio film yang dibangun atas bantuan pemerintah daerah. Putu Wijaya dan Ida Farida


News


SI KABAYAN SABA KOTA Cerita/Skenario: Min Resmana, Deddy D. Iskandar Pemain: Didi Petet, Paramitha Rusady, Nurul Arifin, Rahkmat Hidayat Musik: Harry Rusli Suradara: Maman Firmansyah Produksi: Pemda Tingkat I Bandung, PT Kharisma Jabar Film SEPERTI cerita The God Must Be Crazy, film ini menontonkan kebodohan orang kampung di kota. Kabayan dalam film ini bukan Kabayan yang kita kenal dalam cerita rakyat: pemalas yang pinter ngibul. Di sini ia dilukiskan sebagai orang lugu yang jujur dalam merebut cinta. Sampai-sampai nekat ke kota, gara-gara calon mertuanya mendambakan menantu orang kota. Dimainkan oleh Didi Petet, Kabayan muncul sebaai pemilik kebun pisang yang memiliki dua ekor kerbau di gubuknya di tengah sawah. Tak dijelaskan siapa dia. Kabayan berkenalan dengan lteung (Paramitha Rusady) di pertunjukan wayang golek. Perkenalan langsung membawa cinta. Dan cinta tak bertepuk sebelah tangan. Hanya orangtua Iteung (dimainkan Rahkmat Hidayat) jadi halangan. Dalam penPembaraannya di Bandun Kabayan akhirnya tinggal di rumah seorang kaya yang pernah ditolongnya. Sari (Nurul Arifin), anak tuan rumah, kemudian memperkenalkan Kabayan dengan kebudayaan kota: telepon, supermarket, sampai disko. Di sinilah lelucon-lelucon itu muncul. Misalnya, ketika disodori pesawat telepon, Kabayan serta-merta nyerocos saja ngomong seakan-akan itu lawan bicaranya. Di pusat perbelanjaan ia menyalami semua orang. Di dalam bar ia minta bajigur. Akhirnya, ketika menyaksikan seorang yang kekar naik lift, ia tersirap, karena ketika lift turun lagi, yang keluar ternyata sudah kerempeng. Kabayan pun ketakutan naik lift. Cerita ini amat sederhana dan dibuat juga dengan sangat sederhana. Gampang dimengerti. Tak membawa pertanyaan dan tak meninggalkan persoalan. Tanpa pretensi apa-apa. Khas hiburan untuk masyarakat kelas bawah. Otak penonton sama sekali tidak direpotkan oleh demonstrasi artistik: bloking dan komposisi gambar atau karakterisasi. Semuanya seadanya. Didi Petet memainkan Kabayan dengan hati-hati. Ia tak mau kejeblos menjadikan Kabayan dagelan konyol. Ia tak mau membuat perannya jadi karikatur. Akibat keketatannya itu, tokoh Kabayan jadi tak "panas", sebagaimana tokoh Emon dalam Catatan Si Boy. Meskipun jadi kurang ekspresif, pendekatan Didi ini menarik. karena dengan sadar ia menolak untuk melawak, tapi memainkan karakter. Sebagai akibatnya film jadi datar. Alam Priangan dan wajah Sunda pun tak sempat tertampung dalam film ini, walaupun peluang sebenarnya tidak sedikit. Sedangkan Harry Rusli, yang menggarap musik, agaknya tak sempat tergiur karena tak ada gambar atau suasana yang dapat merangsangnya. Musik baru terasa bicara dalam adagen disko. Diakhiri dengan topi Kabayan melayang sementara pemiliknya keluar frame memagut istrinya -- idiom terbagus dalam film ini -- paket ini bukan sebuah "karya" untuk dinilai, seperti kebanyakan film nasional belakangan ini. Putu Wijaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar