Senin, 24 Januari 2011

PERAWAN DESA / 1978

PERAWAN DESA
VIRGIN OF THE VILLAGE

Best Film FFI 1980










Film ini awalnya diberi judul Balada Sum Kuning. Karena protes dari beberapa pihak di Yogya, tempat kasus itu terjadi, kemudian judulnya diubah menjadi Balada Sumirah, dan terakhir menjadi Perawan Desa. Kasus perkosaan itu sendiri pernah sangat menghebohkan, karena laporan investigasi wartawan Pelopor, Slamet Djabarudi, yang menggugat penjelasan-penjelasan resmi kepolisian. Sum Kuning kemudian dibebaskan dari tahanan, dan para pemerkosa diadili. Film ini juga dilarang beredar di Yogya. Dalam surat izin produksi berjudul "Balada Sumirah."


Film ini mengisahkan tentang Sum Kuning (Yatty Surachman) seorang gadis belia penjual telur yang cantik dari Godean, Yogyakarta. Pada tahun 1970 ia diperkosa oleh anak seorang tokoh masyarakat (dan diduga juga oleh beberapa teman anak itu) di kota Yogyakarta.

Kasus ini merebak menjadi berita besar ketika pihak penegak hukum terkesan mengalami kesulitan untuk membongkar kasusnya hingga tuntas. Pertama-tama Sum Kuning disuap agar tidak melaporkan kasus ini kepada polisi. Belakangan tuduhan Sum Kuning dinyatakan sebagai dusta. Seorang pedagang bakso keliling dijadikan kambing hitam dan dipaksa mengaku sebagai pelakunya.



















Dari kisah sum

PERAWAN DESA Sutradara : Frank Rorimpandey Skenario : Putu Wijaya Pemain : Yatty Surachman, Maruli Sitompul, Rae Sita dan Dady Jaya. SUM, penjual telur, mendadak rubuh di halaman rumah seorang langganannya. Tubuhnya kusut dan kainnya berlumur darah. Kepada keluarga langganannya itu, ia mengadu bahwa ia telah diperkosa. Tapi setelah Sum (Yatty Surachman) mendapat perawatan dan diamankan polisi, ia membuat pengakuan yang mengejutkan dalam suatu pertemuan pers. Laporannya semula kepada polisi bahwa ia telah diperkosa dikatakannya tidak benar. "Saya tidak diperkosa, saya tidak diculik," lanjut Sum dengan bibir gemetar. Benarkah Sum tidak diperkosa? Menurut pemaparan film Perawan Desa, memang ia diperkosa 4 pemuda berandal, pedagang ganja, di atas jip. Karena seorang di antara pemerkosanya anak seorang pejabat, muncul usaha untuk menggelapkan laporan Sum. Komisaris Murtono (Dady Jaya), kenalan baik ayah (pejabat) salah seorang pemerkosa, bertindak sebagai pelakunya. Tapi usaha Murtono menggelapkan 3 barang bukti (kain berlumur darah), dan menyelewengkan laporan Sum, terbongkar di pengadilan. Sum bahkan kemudian berbalik mengaku benar ia telah di perkosa.

Sedang saksi yang diajukan akhirnya mengaku ia ditekan polisi untuk membuat kesaksian palsu. Murtono lalu dimutasikan. Dan keempat pemerkosanya dengan mudah ditampilkan, dan 'dihukum' film tersebut. Keempatnya, seperti dalam kebanyakan film melodrama, terlalu berat ketika mobil mereka menabrak truk dalam usaha melarikan diri. Sum sendiri bebas, dan jadi jururawat. Kurang Sreg Perawan Desa diangkat dari peristiwa pemerkosaan atas diri Sum Kuning yang benar terjadi tahun 1970 di Yogya. Perbedaannya terletak pada cara menyelusur, dan menyelesaikan pemerkosanya. Pada peristiwa sesungguhnya sangat sulit dicari pemerkosanya. Pun peristiwanya kemudian berakhir dengan samar, sekalipun akhirnya terdengar pemerkosanya tertangkap, dan dihukum. Hanya di film itulah tokoh hitam dan putih diletakkan berseberangan dengan jelas. Kritik tajam? Rasanya bukan. Putu Wijaya mengaku ia mengerjakan skenarionya dengan hati-hati. Di beberapa adegan ia tampak harus melakukan kompromi dengan situasi. Maklum sampai kini pun beberapa penguasa di Yogya masih tetap risi dengan peristiwa tersebut. Kendati demikian kebenaran toh harus dikemukakan sekalipun tidak dalam takaran maksimal. Mungkin karena tekanan iklim itu, pemaparan kembali tragedi Sum tampak pucat, dan tak memiliki alur kuat. Derita Sum, kekesalan orang tuanya, dan kegusaran orang-orang yang mencintainya, tampak kurang utuh merangkai setiap peristiwa.Selain memiliki cacat teknis, film tersebut juga cacat ilustrasi musiknya. Rasanya kurang sreg dalam sebuah film muncul sekaligus musik tradisi (gamelan), dan musik pop (balada). Tapi film ini, yang terpilih sebagai film terbaik Festival Film Indonesia di Semarang (22-27 April), memang kuat pada menit-menit pertama. Diraihnya 4 Citra (untuk film terbaik, skenario, penyutradaraan dan editing). Ia dimulai dengan gambar extreme close up mata Sum. Pada adegan itu terdengar suara percakapan. Tanya jawab beberapa orang memperdebatkan kesangsian benarkah Sum diprkosa. Gambar mata Sum ini kemudian dirangkai dengan potret dirinya ketika masih kecil sampai menginjak dewasa. Di situ juga terdengar tanya jawab yang memperkenalkan latar belakang kehidupan Sum. Ketika kecil namanya adalah Sumirah. Adalah karena berkulit kuning ia kemudian dipanggil sebagai Sum Kuning. Sayang sesudah itu Sun ditampilkan sutradara dengan ruwet. Ceritanya berkembang demikian kompleks hingga agak repot untuk menyelesaikannya. Eddy Herwanto

1 komentar: