Kamis, 13 Desember 2012

UNTUK SEBUAH NOSTALGIA Gedung tua bioskop Indonesia

Saya memang tergolong telat mencintai film, walau jika ditilik dari segi usia tergolong masih muda (dan imut tentunya). Awal kecintaan pada film sebenarnya berawal dari saya jatuh cinta setengah hidup kepada bioskop. Lebih tepatnya adalah tur bioskop. Yang berjasa mengenalkan bioskop kepada saya adalah ayah saya (sekarang beliau menyesalnya habis - habisan setelah anaknya yang imut ini menjadi movie freak hohoho *benerin alis*). Dimulai dari iklan bioskop di surat kabar, entah bagaimana ceritanya saya kemudian tergila - gila untuk menyambangi setiap bioskop yang namanya tercantum di iklan tersebut. Di usia sekitar 7 tahun, kalau tidak salah, saya sudah mengunjungi setiap bioskop di Surabaya, Malang, Semarang, Solo dan Kudus. Oh yeah! *bangga bener dah* Hobi ini berlanjut hingga sekarang. Namun yang paling saya sukai adalah saat mendatangi bioskop non-21 dan lokasinya tidak berada dalam mall. Ada rasa yang berbeda. Meski terkadang fasilitasnya kurang bagus dan kondisinya sudah amit - amit, tapi ada perasaan tersendiri berada di gedung bioskop independen. Yang paling terasa bagi saya adalah sensasi menonton di bioskop. Saat saya menonton sebuah film di bioskop dalam mall, terasa ada yang kurang. Namun saat berada dalam bioskop independen (maksudnya disini tidak mengikuti mall), terasa memuaskan, mengesampingkan bioskopnya mewah atau terlihat hampir runtuh.

Di era dimana bioskop dikuasai oleh satu grup saja, ada rasa kangen terhadap bioskop - bioskop jadul yang bukan berasal dari perusahaan raksasa. Saat saya pertama kali mengenal bioskop, itu adalah masa - masa kritis perbioskopan Indonesia. Perfilman dikuasai oleh film - film syur, bioskop banyak yang mulai hancur. Walaupun belum sepenuhnya mengerti film, di era ini saya mengenal nama - nama seperti Sally Marcelina, Indah Febrizha, Liza Chaniago hingga yang impor macam Pheng Tan dan Francoise Yip, hihihi *pasang muka polos* Mengenang masa itu, saya jadi teringat dengan bioskop Empire di Kudus. Bisa dibilang, saya pelanggan setia disana. Dari kelahiran hingga ajal menjemput, saya setia menemani. Waktu masih berjaya, film - film yang diputar disini lumayan update, bahkan memiliki AC. Pengunjung pun ramai. Namun memasuki tahun 2000-an, Empire mulai terseok - seok. Dari 4 studio, sisa 2 studio diserahkan kepada film lokal atau film China yang 'sumuk' (baca : panas). Pengalaman menonton yang buruk pun mulai saya rasakan. Kala itu, saya emosi setiap selesai menonton. Namun jika pengalaman ini diceritakan kepada teman - teman, saya malah ngakak sejadi - jadinya dan kangen dengan Empire. Dimulai dari Fantasi, sekitar tahun 2005. Saat itu saya menontonnya untuk kedua kalinya. Apa yang terjadi saudara - saudara ? Setiap para pemainnya mulai melantunkan lagu, sound-nya ngelokor (duh, apa ya bahasa Indonesia-nya ? Pokoknya suara kaset yang rusak). Parah amat. Waktu nonton Kala, gambarnya buram. Chika, banyak adegan yang dipotong biar durasi pas. Namun yang paling parah ketika nonton Get Married. Alamak, suara hujan yang derasnya ampun - ampun terdengar di dalam studio hingga tak bisa mendengar dialognya ! Hebatnya lagi, para penonton kedatangan 'tamu tak diundang' yang seliweran di depan layar. Seekor kucing dengan muka tak berdosanya mengeong dan melenggak - lenggok dengan santainya. Sudah serasa mau pingsan saja. Apalagi ruangannya pengap, tak ada AC. Help me !

Kini, bioskop 'unik' itu sudah wafat. Empire memang mengikuti sebuah mall, namun itu adalah satu - satunya bioskop yang tersisa di Kudus. Ah, jika mengenang masa kecil, betapa lucu dan serunya. Masih ingatkah kalian dengan mobil yang berkeliling kota dengan speaker yang berfungsi sebagai media promosi film - film yang tengah ditayangkan di suatu bioskop ? Setiap saya mendengar suara dari speaker tersebut, biasanya saya langsung lari ke jalan raya untuk mengambil pamflet - pamflet yang disebar. Pernah suatu kali iseng, bisa dapat 20 lembar pamflet dalam sehari, hihi. Pamflet tersebut juga ditempel di beberapa sudut strategis. Jika ditanya benda apa yang pertama kali aku curi, maka saya akan menjawab pamflet bioskop *malu. Di Solo malah lebih unik lagi. Jika Kudus hanya berupa pamflet, maka Solo memiliki poster mini. Medianya pun bukan cuma papan, tapi ditempel di atas toko atau warung yang lokasinya strategis. Disana memuat judul film, nama pemain, bioskop yang memutar dan jam tayang. Tidak semua lokasi hanya berisi info dari satu bioskop, ada beberapa lokasi yang keroyokan dimana meliputi semua bioskop di Solo. Sayangnya sekarang sudah tak bisa ditemui lagi. Sepengetahuan saya, hanya tersisa bioskop Rajawali di Purwokerto dan Dieng di Wonosobo yang masih memakai cara klasik untuk promosi. Entah dengan kota lain. Sekarang bioskop - bioskop besar pun lebih suka memakai iklan di koran atau internet untuk promo. Poster di depan bioskop berbentuk lukisan pun sekarang makin jarang ditemui.

Coba hitung, ada berapa banyak bioskop di Jakarta dan Bandung yang masih mempertahankan poster di luar gedung bioskop ? Saya yakin, jumlahnya tak banyak. Bahkan di Surabaya, ini sudah tak bisa ditemui lagi. Di kota dimana saya tumbuh ini, bioskop independen tak memiliki tempat. Surabaya dan Mitra yang dulu menjadi favorit sekarang sudah tutup dan beralih fungsi. Perhatian penonton beralih ke Sutos. Sungguh disayangkan. Walaupun di Mitra saya sering menjumpai 'sahabat kecil' yang berseliweran kesana kemari, tapi bagi saya ini adalah salah satu bioskop ternyaman di Surabaya. Harga tiketnya pun ramah dengan kantong. Golden yang kembali dengan bentuk baru, Fortuna, juga akhirnya menyerah setelah 9 tahun berjuang. Pada awalnya Fortuna khusus memutar film - film kelas B yang tak kita jumpai di 21. Tapi strategi itu tak berhasil. Sempat terjebak dalam film sumuk, Fortuna bangkit setelah 'bekerja sama' dengan 21. Jika ada bioskop 21 yang berdiri sendiri, maka itu adalah Metropole XXI (Jakarta) dan Empire XXI (Jogja). Siapapun tahu bahwa Metropole adalah bioskop yang bersejarah. Sempat hampir bangkrut hingga akhirnya diselamatkan 21 dan dinyatakan sebagai bangunan cagar budaya oleh gubernur Jakarta. Empire XXI memiliki kisah yang lain lagi. Bioskop mewah ini dibangun diatas bekas lahan Empire 21 dan Regent yang hangus terbakar secara misterius di tahun 1990-an. Sempat mangkrak bertahun - tahun, lokasi yang menurut warga setempat ini angker, akhirnya dijadikan sebagai XXI pertama di DIY - Jateng. Meski tak mengikuti mall, kedua bioskop ini tak memasang poster lukis di depan gedung. Tulisan XXI / Cinema XXI yang menjadi penanda bahwa ini adalah bioskop.

Hadirnya Empire XXI membawa tumbal. Setidaknya ada 3 bioskop yang gugur semenjak Empire dan Studio (berlokasi di Plaza Ambarukmo) datang. Ketiga bioskop itu adalah Mataram, Indra dan Permata. Mataram sempat berjaya di tahun 1990-an hingga pertengahan 2000-an karena saat itu menjadi bioskop termewah di Jogja paska hancurnya Regent dan Empire. Kondisinya sekarang memprihatinkan, tak terurus dan terlihat seperti rumah hantu. Permata malah lebih mengenaskan. Bioskop yang berdiri sejak 1940-an ini pernah menjadi sebuah fenomena di tahun 60 - 70-an. Saat itu, hampir semua orang mengetahui Permata. Bahkan nama jalan dimana bioskop itu berada, Sultan Agung, kalah populer dan masyarakat lebih suka menyebutnya dengan Permata. Setelah bioskop modern menyerbu Jogja, Permata tenggelam. Bioskop antik ini mungkin tak akan dilirik jika temboknya tidak diselimuti mural. Menjelang akhir hayatnya, Permata memutar film - film sumuk. Sekali waktu saya mencoba menjajal nonton disini. Saya terkejut, interiornya klasik sekali. Penonton pun bebas melakukan apapun di dalam gedung, silahkan mau angkat kaki, membawa jajanan hingga merokok, tak ada yang melarang. Saat itu saya teringat dengan kisah dari orang tua dimana dahulu ada jeda di pertengahan film dan para penjaja makanan memasuki gedung bioskop. Saya geli membayangkannya. Oh iya, penonton pun bisa memasuki ruang operator jika minta izin. Wow, mesin pemutar rol film-nya jadul sekali. Sungguh sayang pemerintah tidak memperhatikan bioskop ini. Kalau pun akhirnya tutup, dialihkan menjadi semacam museum film atau gedung pertunjukkan rasanya lebih pantas ketimbang dibiarkan mangkrak atau malah dirobohkan.

Menonton film di bioskop jadul memang mengasyikkan. Sayangnya, sekarang ini hampir mustahil untuk ditemukan. Belum sempat menjajal asyiknya nonton di bioskop misbar (gerimis bubar) di Malang, eh sudah keburu wafat. Di tempat saya tinggal saat ini, Semarang, tak ada lagi bioskop murah meriah. Papan bioskop memang masih ada, tapi bioskopnya sudah tergolong mewah. E-Plaza (Entertainment Plaza) adalah satu - satunya bioskop lawas di Semarang yang masih bertahan hingga kini, itupun setelah berganti konsep menjadi one stop entertainment. Bioskop sinepleks pertama di Semarang ini agak mengingatkan pada Blitz Megaplex, namun dengan ukuran studio yang hanya sedikit lebih besar dari Movie Box. Malahan Citra 21 yang berlokasi di dalam mall yang memiliki kesan 'klasik'. Disini, saya mengalami 2 kesialan. Rol film kebalik saat nonton Harry Potter and the Goblet of Fire sehingga saya menikmati ending dulu baru klimaks dan listrik mati beberapa kali saat menyaksikan Chika. Apanya yang klasik ? Kursinya, saudara - saudara. Jika kalian kurang beruntung, maka akan menemukan kursi tanpa wadah minuman dan tentu saja, goyangannya. Jangan coba - coba menghantamkan punggung ke kursi dengan keras jika tidak ingin dipelototi penonton lain. Semua penonton yang berada dalam satu deretan akan merasakan hantaman itu dan belum lagi bunyinya yang mengganggu, kiyek kiyek kiyek. Oh, saya sangat merindukan bioskop - bioskop jadul :(

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar