Senin, 10 Desember 2012

SI JAKA SEMBUNG, BARRY PRIMA

BARRY PRIMA dan Jaka Sembung,


tidak dapat dipisahkan. Serial film Jaka Sembung mendapat sambutan yang baik sekali di dalam maupun di luar negeri. Mungkin orang luar negeri sangat menikmati film ini karena inilah warna sinema Indonesia yang memiliki khas tersendiri. Dari settingan filmnya, cerita, mistiknya dan lainnya. Juga tehnik laga-nya yang mencampurkan unsur mistik dalam jawa yang juga ditakutkan oleh para penjajah Belanda saat itu


Saya suka sekali film ini, sangat khas indonesia dan saya yakin seperti inilah warna sinema Indonesia, yang sama juga dilakukan oleh China dengan film Kungfunya sebagai warna cinema china yang dipopulerkan oleh Zang Zimau. Terlepas dari tehnik pembuatan film laganya yang masih kurang bila dibandingkan dengan China. Tapi Jaka Sembung cukup dibilang sempurna juga dalam tehnik pembuatan adegan laganya. Oleh karena itu film ini banyak ditemukan DVDnya di negara-negara yang menyukai film silat, Amerika dan sebahagian di Eropha. Entah mengapa mereka menyukai film ini, terlepas kita sendiri saja kurang suka....yang pasti film ini sangat bermutu juga, baik cerita dan tehniknya saat itu. Saya suka dan saya rasa mereka berhasil menemukan warna film Indonesia laga di Jaka sembung.

Mencampurkan unsur kolonial Belanda, silat, dan juga mistik Jawa yang memungkinkan adegan terbang dan juga diluar logika sehingga terkesan laganya cukup seru. Kalau China tehnik laga terbang didapat dari banyaknya latihan, sedangkan di Jawa hanya cukup bertapa dan mendapatkan ilmu hitam yang bisa memungkinkan orang untuk terbang dan melakukan hal yang diluar logika dalam seni bela dirinya.

Hubertus Knoch atau lebih tersohor dengan nama panggung Barry Prima dikenal sebagai aktor laga yang populer sekitar tahun 80-an. Di masa jayanya, Barry merupakan salah satu aktor laga kenamaan Indonesia, di samping nama-nama lain seperti Advent Bangun dan George Rudy. Ia selalu memerankan tokoh jagoan di setiap film yang dibintanginya.

Aktor blasteran ini lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1955. Ayahnya adalah seorang dokter Belanda, sementara ibunya asli orang Indonesia. Sejak masih belia, sulung dari empat bersaudara ini sudah menunjukkan ketertarikannya pada olahraga beladiri, terutama Taekwondo. Barry mendalami seni beladiri asal Korea itu di sebuah studio kecil yang terletak di belakang rumahnya di Jalan Dago, Bandung. Gurunya saat itu bernama Master Kang asal Malaysia.


Wajah tampan, tubuh atletis, ditambah keahlian beladirinya langsung mencuri perhatian produser Gope T. Samtani, yang pada tahun 1978 menawarinya sebuah peran kecil dalam film horor dewasa berjudul Primitif. Film produksi Rapi Films besutan sutradara Sisworo Gautama Putra itu bercerita tentang sekelompok mahasiswa antropologi dan pemandu mereka yang diburu kawanan kanibal di hutan rimba. Primitif merupakan film Indonesia pertama yang mengangkat kisah kanibalisme. Meski sempat dianggap kontroversial, film yang menjadi debut Barry Prima sebagai aktor itu cukup sukses di pasaran. Sejak keberhasilannya membintangi film tersebut, Gope T Samtani, produser film itu, mengganti nama Hubertus Knoch menjadi Barry Prima agar terdengar lebih komersil.

Setahun kemudian, Barry tampil dalam film bergenre aksi laga horor dewasa berjudul Serbuan Halilintar yang kemudian berhasil mengangkat namanya di jagad perfilman nasional. Film produksi Parkit Films itu merupakan salah satu film Indonesia pertama yang menggabungkan unsur aksi dan supernatural dengan menggunakan banyak efek khusus. Selain itu, film yang juga dibintangi aktor pemeran Pitung, Dicky Zulkarnaen, itu dirilis perdana bukan di Indonesia, melainkan di pasar internasional dengan mengusung judul Special Silencers. Serbuan Halilintar bahkan sempat dirilis dalam bentuk DVD dengan dialog bahasa Inggris dan teks terjemahan bahasa Belanda oleh perusahaan distributor film Delta Video.

Setelah mendapat sambutan cukup memuaskan di pasar internasional, baru kemudian film ini dirilis di Indonesia pada tahun 1982. Sebelum dapat dinikmati penonton di Tanah Air, film Special Silencers versi Indonesia ini harus terlebih dahulu mengalami banyak guntingan dari Badan Sensor Film karena maraknya unsur eksploitasi seks dan kekerasan, walaupun sebenarnya film ini memang ditujukan untuk penonton dewasa.

Selain berhasil mengangkat nama Barry Prima sebagai aktor laga, film garapan sutradara Arizal itu juga mempertemukan sang aktor utama dengan aktris cantik Eva Arnaz, lawan main yang kemudian menjadi pendamping hidupnya meski kemudian keduanya memutuskan untuk bercerai. Dua sejoli itu kembali dipasangkan dalam sejumlah judul film yakni Membakar Matahari, Bergola Ijo, dan Perempuan Bergairah. Sama seperti Serbuan Halilintar, judul film terakhir juga dikenal di luar negeri sebagai Ferocious Female Freedom Fighters.

Nama Barry Prima baru benar-benar meroket di tahun 1981 setelah tampil dalam film laga Jaka Sembung Sang Penakluk garapan sutradara Sisworo Gautama Putra. Film yang diadaptasi dari komik populer karya Djair itu dibanjiri penonton bahkan berhasil diedarkan keluar negeri dengan judul The Warrior. Hingga saat ini, Jaka Sembung merupakan salah satu film cult terfavorit dari Indonesia. Kesuksesan film tersebut membuat pihak Rapi Films memproduksi beberapa sekuelnya, yaitu Bajing Ireng dan Jaka Sembung, serta Si Buta lawan Jaka Sembung, keduanya dirilis pada tahun 1983. Bajing Ireng dan Jaka Sembung bahkan sempat masuk sebagai nominasi di ajang FFI (Festival Film Indonesia) untuk kategori Peran Pembantu Terbaik (El Manik) dan Editing. Tujuh tahun berselang, rumah produksi Andalas Kencana merilis sekuel lain Jaka Sembung dengan mengusung judul Jaka Sembung dan Dewi Samudra. Sayangnya film tersebut secara kualitas masih kalah bersaing dengan Jaka Sembung versi Rapi Films.

Memasuki tahun 1982, Barry kembali digandeng Sisworo Gautama Putra untuk berperan dalam film-film horor terkenal yang dibintangi si Ratu Film Horor, Suzanna, yaitu Nyi Blorong, Sundel Bolong, dan Ratu Sakti Calon Arang. Selain film-film bergenre laga dan horor, Barry juga pernah memamerkan kebolehan aktingnya dalam film perjuangan karya Imam Tantowi yang berjudul Pasukan Berani Mati.

Pada1984, Barry Prima tampil bersama Advent Bangun dalam film Golok Setan (The Devil's Sword) garapan sutradara sekaligus aktor senior Ratno Timoer, yang terkenal sebagai pemeran Si Buta dari Goa Hantu. Film tersebut disadur dari komik karya Man dan skenarionya ditulis oleh Imam Tantowi. Meski memasang dua nama aktor laga yang terkenal saat itu, film Golok Setan dianggap aneh, lantaran dalam salah satu adegannya terdapat pertarungan antara Barry dengan Manusia Buaya yang didukung oleh special effect yang masih bertaraf rendah. Namun film ini berhasil dijual ke luar negeri bahkan menjadi salah satu film cult yang populer. Golok Setan juga telah di-dubbing ke dalam bahasa Inggris, kemudian diremaster dan diedarkan dalam bentuk DVD di Amerika Serikat.

Keberhasilan Rapi Films menjual film-film ke mancanegara, akhirnya mendorong mereka untuk mendatangkan crew dan pemain dari luar negeri. Tujuannya tentu saja agar lebih laku dijual di sana. Salah satu bintang film yang pernah mereka datangkan adalah Chris Mitchum, putra aktor terkenal Amerika Serikat, Robert Mitchum yang sempat populer di tahun 70an. Chris kemudian disandingkan bersama Barry dalam film Menentang Maut yang dirilis tahun 1984. Film tersebut diedarkan di luar negeri dengan judul No Time To Die. Kehadiran aktor asing itu membuat Barry tersingkir dari posisinya sebagai aktor utama.

Setelah itu, Barry kembali didapuk sebagai pemeran utama antara lain dalam film Mandala Dari Sungai Ular, Carok, Menumpas Teroris, Residivis, Siluman Srigala Putih, Kelabang Seribu, Si Rawing, Tarzan Raja Rimba, Jampang, Walet Merah, dan masih banyak lagi.

Pada awal tahun 90-an, film-film yang dibintangi Barry semakin merosot mutunya sejalan dengan terpuruknya film Indonesia. Sejak saat itu, namanya hampir tak terdengar lagi, hingga di pertengahan tahun 2000-an, ia kembali tampil dalam serial TV berjudul Jaka Tanding. Sayang kemunculannya tidak terlalu menyedot perhatian lantaran serial tersebut tidak begitu terdengar gaungnya.

Titik balik karirnya sebagai aktor baru terjadi di tahun 2005, saat ia membintangi film Janji Joni. Film tersebut merupakan karya perdana sutradara muda Joko Anwar, seorang kritikus film yang sebelumnya dikenal sebagai penulis skenario film Arisan!. Jika di masa jayanya dulu, Barry kerap didaulat menjadi pemeran utama yang bertindak sebagai jagoan, di film drama komedi ini, Barry dipercaya untuk berperan sebagai supir taksi. Meski hanya kebagian peran pendukung, Barry dinilai cukup sukses bahkan namanya masuk dalam daftar nominasi Pemeran Pembantu Pria Favorit di ajang MTV Indonesia Movie Awards.

Selanjutnya di tahun 2006, Barry membintangi sinetron berjudul Emak Gue Jagoan. Sinetron yang juga diperankan lady rocker asal Bandung, Nicky Astria, itu bahkan dinobatkan sebagai Sinetron Laga dan Misteri Terpuji dalam ajang Festival Film Bandung.

Meski puluhan tahun namanya tersohor sebagai aktor laga, Barry tidak menutup diri dengan peran lain bahkan yang dianggap nyeleneh sekali pun. Hal itu dibuktikannya saat tampil dalam film berjudul Realita, Cinta dan Rock 'n Roll. Di film karya Upi Avianto ini, Barry berperan sebagai ayah transeksual. Barry yang sebelumnya dikenal publik lewat peran-perannya sebagai pria macho, gagah, dan perkasa harus tampil berakting dengan bahasa tubuh yang gemulai lengkap dengan makeup tebal yang menghiasi wajahnya.

Upi, sang sutradara, sebelumnya mengaku takut menyodorkan peran itu pada Barry. Ia khawatir tawaran itu justru bakal menyinggungnya. Namun di luar dugaan, Barry menyambut hangat tawaran tersebut, “Dia suka dengan skenarionya dan akhirnya mau,” kenang Upi seperti dikutip dari situs kompas.com. Ibu satu anak itu kagum, karena Barry mampu bekerja sama dengan baik, meski awalnya masih kelihatan egonya sebagai aktor senior.

Upi semakin salut dengan sikap profesional Barry demi menyelami karakter yang diperankannya. Barry bahkan langsung berlatih bagaimana caranya mengenakan sepatu hak tinggi dan berlatih dansa. Peran nyeleneh itu setidaknya sedikit mengubah pandangan orang, bahwa ia juga cukup mampu bermain film yang tak hanya mengandalkan aksi bela dirinya.

Aktor yang enggan mengumbar kehidupan pribadinya dan cenderung tertutup pada media ini juga ikut membintangi film Koper garapan sutradara Richard Oh, kemudian film horor berjudul Enam karya sutradara Stephen Odang dan Rico Bradley. Penampilan terakhirnya di layar lebar adalah dalam film Tarik Jabrix 3 tahun 
 
POSTERS










































































































































































































































































































































 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar