Sabtu, 15 Desember 2012

Mengenang kejayaan Bioskop Kelud MALANG

Bioskop Kelud atau biasanya disebut Dulek (dibaca terbalik sesuai dengan bahasa walikan khas Malang), berlokasi di Jalan Kelud 9, dekat Jalan Kawi. Meskipun berada di area perkampungan, letaknya masih tergolong strategis karena dekat dengan kawasan Ijen yang merupakan jantung kota Malang.

Kala itu, bioskop menjadi satu-satunya hiburan rakyat yang paling dicari. Selain Bioskop Kelud, ada beberapa bioskop legendaris lain yang ramai didatangi, misalnya Bioskop Garuda dan Merdeka. Namun, Dulek tetap jadi primadona warga Malang, khususnya yang datang dari kalangan menengah ke bawah.

Cikal-bakal Bioskop Kelud diawali oleh dua anggota BRIMOB, Noersalam dan Marsam, yang membuka usaha pemutaran bioskop keliling di sekitar Malang. Hasil dari manggung keliling digunakan untuk membeli lahan yang dulunya bekas gedung bulu tangkis. Gedung tersebut dihancurkan dan kembali dibangun menjadi Bioskop Kelud.

Peristiwa tersebut terjadi bersamaan dengan terbentuknya yayasan PANJURA (Delapan Penjuru Angin) pada tanggal 4 Juli 1970. Yayasan yang dibina oleh anggota BRIMOB ini mengelola beberapa bioskop, termasuk Bioskop Kelud.

Dibandingkan bioskop lain, suasana Dulek lebih mirip pasar malam. Sembari duduk manis nonton film, warga disuguhi berbagai jajanan yang dijajakan keliling oleh pedagang. Dua makanan yang paling laris kala itu adalah gorengan dan sate bekicot. Penonton yang datang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari tukang becak sampai wakil rakyat. Semua berbondong-bondong memadati tribun dan pelataran bioskop murah meriah tersebut.

Ketenaran Bioskop Kelud telah tersebar ke pelosok Malang. Saat malam minggu atau tanggal merah, bioskop ini selalu dijejali ribuan penonton setianya. Film apa pun yang disuguhkan pasti dilahap. Beberapa genre film yang kerap diputar, seperti film India, Barat, dan tentu saja Indonesia.

Kabarnya, bioskop yang buka mulai pukul 21.00 ini pernah diserbu 7.000 penonton saat pemutaran film Inem Pelayan Sexy, yang dibintangi oleh Titiek Puspa dan Doris Callebaute. Saat seperti itu, semua pedagang asongan semangat menyodorkan dagangan. Penonton, ada yang berdiri, duduk, jongkok, dan mojok. Persis seperti nonton layar tancep. Penonton pun dibebaskan untuk berbicara keras dan tertawa sejadi-jadinya.

Bioskop legendaris itu kini tinggal kenangan. Eksistensi Bioskop Kelud telah tergeser modernisasi budaya di masyarakat. Budaya nonton film tak lagi sama seperti dulu. Guyub dan merakyat. Sekarang, orang bisa membeli atau menyewa kaset film di pasaran. Bila bosan menonton sendirian, mereka bisa pergi ke 21 Cineplex, yang menyuguhkan kursi empuk dan ruangan ber-AC. Bedanya, penonton tidak bebas berbicara keras atau bahkan jalan mondar-mandir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar