Kamis, 13 Desember 2012

BISKOP INDONESIA SUDAH MENJADI KENANGAN?

BIOSKOP-BIOSKOP di INDONESIA

Saat film Indonesia maju, bioskop hingga ke pelosok kota di Indonesia. Monopoli dagang terjadi saat pertukaran tekstil indonesia di jual ke Amerika, maka Amerika melebarkan bisnis filmnya ke Indonesia. Ini peluang bisnis, maka muncul importir film Amerika, dan mereka juga yang membuat biskop 21 juga. Lalu pertanyaannya film non 21 tidak memiliki film baru, karena mereka bukan dari 21 group. Untuk menjadi 21 group biskop harus memiliki standartisasi yang cukup mahal untuk merubah gedung jadi mewah. Tiket akan menjadi mahal dan penonton tidak mampu membeli karcis. Maka, biskop non 21 coba bertahan dengan film indonesia, tapi kok semakin menurun produksinya. Film sex indonesia pun muncul dengan bumbu sex, sedikit bisa nafas bagi bisokop non 21. Sedangkan bioskop 21 berhasil merauk untung dari penonton kelas atas. Sekarang ada bedanya 21 kelas atas non 21 kelas menengah ke bawah. Maka, kalau produksi film indonesia masih banyak waktu itu, non dan 21 bisa bersaing penonton, tapi jumplah produksi film nasional menurun drastis, dan hampir bisa dibilang tidak ada film. Hal ini berdampak pada persaingan produksi lokal dan asing. Sama halnya dengan sektor lainnya. Tetapi yang aneh adalah, jika kala itu pembuat film indonesia paham akan lawan mereka adalah 21, dan mereka sepakat akan membuat filmuntuk bioskop non 21 dan menghidupkan bisoskop non 21, mungkin bisokop non 21 bisa berhatan sampai saat ini. Tapi ternyata, beberapa PH besar yang memproduksi film nasional adalah bagian dari 21 group. Maka sudah pasti mereka hendak membuat film nasional untuk konsumsi 21.

Dari jaman dulu, bioskop kelas atas, kaum intelektual dan belanda suka menonton film amerika dan eropha, sedangkan menengah ke bawah, suka film nasional dan inda. Kalau film nasional tidak ada, biskop non 21 pun tidak bisa putar film india lagi, karena keran importir film luar hanya untuk film made in hollywood. Maka tidak ada lagi importir film eropha, india dan china, yang ada film hollywood sekarang.

Lagi-lagi negara ini dirusak oleh pebisnis, yang join dengan pemerintah untuk membuat undang-undanganya/legalisasi. Pemerintah butuh uang balik meja, pebisnis bisa menjadikan hal itu, maka pemerintah sudah pasti mementingkan pebisnis dari pada apa dampaknya nanti kepada masyarakat dan negaranya.

Hal ini sama saja di segala sektor di indonesia, pertanian, perikanan, industri, dan sebagainya, hingga ke budayaan dan seni.

Biskop adalah seperti rumah ibadahnya pembuat film. Bagaimana bisa pem,buat film bertambah tapi biskopnya dan penontonnya tidak? Bagaimana bisa pembuaty film sibuk mengurus distribusi film hingga ke biskopnya? Ini aneh fenomenanya. Apakah mereka tidak membuat film? Atau film masih ada di produksi kah? belum lagi pertanyaan, apa benar ada penonmtonnya?

Sudah bosen mendengar pernyataan pembuat film sendiri, produser dan distributor film dan pemerintah, tentang biskop-bioskop ini. Saatnya mendengar langsung dari penonton, bioskop milik penonton dan distributor film, bukan wilayah pembuat film.

















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar