Sabtu, 15 Desember 2012

Bioskop Majestic, 'kaleng biskuit' riwayatmu kini

Bandung tak hanya terkenal dengan julukan kota kembang atau Paris Van Java, saat ini kota yang dikenal banyak wanita cantiknya itu sering diburu para pecinta kuliner. Maklum di sepanjang Jl Terusan Pasteur banyak berderet kafe yang mengeluarkan aroma sedap.

Bandung juga dikenal sebagai pusat mode di tanah air. pertumbuhan industri kreatif juga semarak di Ibu kota Jawa barat itu.

Namun, sebagian muda-mudi dan para pelancong lokal sedikit yang mengetahui bioskop pertama yang berdiri di kota yang pernah menjadi lautan api itu. Sekedar mengulas cerita kembali sebuah bioskop yang sampai saat ini masih berdiri dan telah berubah keadaannya menjadi sebuah kafe di bawah Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Bandung.

Bioskop Majestic begitulah sebutannya, karya arsitektur Prof Ir, Wolff Schoemaker dengan gaya art deco yang konon ngetrend di era tahun 1920 itu dahulu lebih dikenal sebagai kaleng biskuit.

Lokasi bioskop Majestic sendiri berada di Jl Braga, Bandung. Dulunya juga dikenal dengan kawasan bergengsi bagi para meneer Belanda pemilik perkebunan. Konon, bioskop ini didirikan untuk memuaskan hasrat para meneer itu akan sarana hiburan usai berbelanja ria.

Uniknya cara promosi untuk mengiklankan film yang akan diputarpun dengan menggunakan kereta kuda sewaan. Kereta itu berkeliling kota Bandung dengan membawa poster film dan membagikan selebaran kepada warga.

Pada tanggal 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927, film 'Loetoeng Kasaroeng' merupakan film pertama yang diproduksi Indonesia dan sukses di putar di bioskop Majestic. Ketika itu masih eranya film bisu dan hitam putih.

Film yang ditayangkan di bioskop hanya berupa gambar bergerak tanpa ada suara sama sekali. Biasanya pemutaran film di bioskop ini dimulai pukul 19.30 WIB dan 21.00 WIB. Sebelum film diputar, para penonton dijamu dengan sebuah orkes musik mini di pelataran bioskop Majestic dengan lantunan lagu-lagu gembira untuk menarik perhatian.

Menjelang film akan diputar, orkes mini ini pindah ke dalam bioskop untuk berfungsi sebagai musik latar dari film yang dimainkan. Maklum saja pada pertengahan tahun 1920-an itu film masih merupakan film bisu. Film lutung kasarung ini dirilis pada tahun 1926 oleh NV Java Film Company besutan dua sutradara asal Belanda, G Kruger dan L Heuveldorp. Meski begitu, para pemain film ini adalah aktor dan aktris pribumi. Salah satu aktris yang ikut membintangi film ini adalah anak-anak Bupati Bandung Wiranatakusumah.

Sayangnya kegemilangan Bioskop Majestic hanya bertahan hingga setelah masa kemerdekaan RI. Memasuki periode tahun 1980-an, kejayaan bioskop yang merupakan bagian dari sejarah perfilman itu lambat laut mulai pudar hingga saat ini. Gedung bioskop itu pernah terbengkalai dan sempat terabaikan, namun pada tahun 2002 Majestic direvitalisasi menjadi sebuah gedung pertemuan dan berganti nama menjadi Asia Afrika Cultural Centre (AACC). Ini pun tidak berlangsung lama setelah ada kasus meninggalnya 10 penonton pada sebuah launching perdana grup band metal asal Bandung 'Beside'

Setelah mati suri semenjak kejadian tersebut, akhirnya gedung ini kembali direvitalisasi menjadi New Majsetic pada tahun 2010. Untuk sekarang, Bioskop Majestic telah berubah fungsinya menjadi sebuah kafe dengan nama yang sama 'Cafe Majestic' di bawah Dinas Budaya dan Pariwisata kota Bandung. Sempat bioskop itu pernah dijadikan sebagai kantor, namun karena tidak sesuai penggunaanya akhirnya dicabut kembali menjadi sebuah kafe.

Apa pun itu, membawa perubahan ke arah yang lebih baik dan menjadi motor pelestarian bangunan-bangunan bersejarah di Bandung. Karena beberapa bangunan bekas bioskop itu mempunyai nilai historis berkaitan dengan perkembangan kota yang dikenal dengan bolu Amandanya itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar