Minggu, 08 Januari 2012

INDUSTRI FILM DI INDONESIA DARI AWAL

INDUSTRI FILM DI INDONESIA

Loetoeng Kasaroeng, produksi Java Film Co (L. Heuveldirp) tahun 1926, dapat disebut sebagai film cerita pertama yang diproduksi Indonesia dengan menampilkan kisah legendaris Sunda yang dikenal oleh semua orang di Jawa Barat.



Film yang dibuat oleh orang asing itu, mengungkapkan secara detail isi cerita dalam bentuk gambar, dan sekalipun BISU, semua orang yang melihatnya bisa menangkap secara runtun dan mengerti dialog yang terucap walau tanpa kata. Hal ini terjadi karena para penontonnya sudah menghafal seluruh adegan cerita, sehingga semua dialog tanpa suara dalam Loetoeng Kasaroengdidengar oleh hati para penonton.

Loetoeng Kasaroeng terbilang sukses sekalipun hanya dengan 7 hari pemutaran, dari tanggal 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927. Kesuksesan itu bukan karena anak-anak Bupati Bandung Wiranata Kusumah ikut membintangi film tersebut, melainkan karena kesuksesan L. Heuveldirp – yang sekalipun  orang asing, memiliki kemampuan luar biasa dalam menyuguhkan rekaman Budaya Sunda secara utuh melalui kisah Loetoeng Kasaroeng – sehingga para penontonnya terikat secara emosional, secara tumbal balik, dan larut dalam jalannya penceritaan.



Demikian juga dengan kepiawaian G. Krungers yang bertindak sebagai penata kamera. Sekalipun hanya menampilkan gambar-gambar yang monoton hitam putih, visualisasi hitam-putih itu diciptakan ke berbagai nuansa hingga ia selalu berwarna dalam imajinasi penonton.



Kesuksesan Loetoeng Kasaroeng tahun 1926 selalu dikenang sebagai sebuah awal yang cemerlang dari industri film di negeri ini. Karena itu, pada tahun 1952 dan 1983, film tersebut diproduksi ulang dengan judul yang sama. Tentu saja dengan tambahan kecanggihan peralatan yang berkembang.



Setidaknya ada dua film yang sukses dan cukup laris pada tahun ‘20-an. Selain Loetoeng Kasaroeng, sebuah lagi produksi Java Film berjudul Eulis Atjih juga tentang kisah dari Tanah Priangan. Eulis Atjih diputar di seluruh Jawa dengan mendulang uang yang lumayan banyak dan kesuksesannya berlipat ketika diekspor ke Singapura pada tahun 1927.



Diakui pula, belum banyaknya masalah yang timbul di seputar awal kebangkitan perfilman di Indonesia sepanjang tahun ‘20-an, bukan karena industri film baru dikenal, melainkan juga karena judul-judul yang diangkat masih sangat dekat dengan irama kehidupan masyarakat, misalnya Lily van Java yang diproduksi pada tahun 1928 dan merupakan film pertama yang melibatkan Kongsi Tionghoa dalam industri film di negeri ini (South Sea Film Co.).



Ketika Lily van Java akan diproduksi Liem Goan Lian dan Tjam Tjoen Lian, sang pemilik industri menyadari, bahwa jalan cerita film yang dibuatnya menyimpang dari tradisi penceritaan dalam konteks lokal. Karena itu Lien Goan Lian merasa perlu mengajukan skenario film Lily van Java ke Film Commissie (Badan Sensor) untuk dicermati. Barulah setelah memperoleh persetujuan dari Film Commissie, Lily van Java diproduksi dan memperoleh sukses sepanjang tahun 1928.



Pada tahun 1930, mulai muncul protes terhadap film Karnadi Anemer Bangkong. Pribumi (masyarakat Indonesia) marah terhadap film itu karena memperlihatkan pribumi makan kodok. Setelah itu Film Commissie meminta lagi sebuah film untuk ganti judul karena protes orang banyak. Film Lari ke Mekkah (Meka) oleh Film Commissie diganti Menjadi Lari Ke Arab. Dari pergantian ini tampak bahwa sejak awal Badan Sensor sudah berperan dan sudah berfungsi seiring tumbuhnya industri film di Indonesia.



Sepanjang tahun ‘30-an, industri film tampaknya baru mencari bentuknya melalui judul-judul lama dari tradisi penceritaan lokal yang masih mendominasi gambar-gambar Bisu di negeri ini. Nyai DasimaSi Ronda, Nyai Siti, Melati van Agam mendominasi judul-judul tahun 1930. Barulah setelah tahun 1931, dengan munculnya adegan suara dalam film, industri perfilman menjadi kian semarak dan judul-judul film pun mulai beraneka ragam serta penceritaan kian menjadi kaya.



Pada tahun 1934, Cino Motion Picture (The Teng Chun) memperkenalkan DOEA SILOEMAN OELAR, diangkat dari cerita klasik Cina. Sejak itulah cerita-cerita siluman sambung-menyambung pada tahun ‘30-an, yaitu Siloeman Babi (1935), Anak Siloeman Oelar Poeti(1936), Siloeman Tikoes (1936), Moesnahnya Gowa Siloeman Poetih, dan sebagainya. Film-film siloeman pada tahun 1930-an ternyata diproduksi hanya untuk memenuhi selera pasar “murahan” dan tidak memberi arti yang besar bagi perkembangan perfilman secara kualitatif.



Memang pada tahun ‘30-an tema-tema film dalam negeri (Indonesia) mulai bervariasi dibanding awal kebangkitannya pada tahun ‘20-an. Tema-tema patriot/pendekar yang bercampur mistik bermunculan. Hal itu bisa dimengerti, karena industri perfilman didominasi oleh pengusaha-pengusaha film dari kelompok masyarakat Tionghoa (Cina) yang diwakili oleh produksi film Batavia Motion Picture dari Jo Eng Sek dan Nelson wong.



Dominasi itu masih berlangsung hingga akhirnya pada tahun ‘30-an diproduksi si Ronda dari Tan’s Film (Tan Koen Youw). Karena itu, tidak mengherankan jika cerita-cerita film yang beredar di Indonesia ketika itu, banyak mengambil tema dari cerita Tiongkok (Cina) yang diadopsi langsung dari buku-buku komik. Seperti film Poi Si Giok Pa Loi Tay (1935) diambil dari Kiam Liang Koen Yoe Kang atau Anaknya Siloeman Oelar Poetri (1936) dari Java Industrial Film (The Teng Chun).



Selain mengambil tema-tema cerita dari kisah-kisah klasik Tionghoa (Cina), industri film juga mengambil dari repertoar panggung dan gambang kromong dengan mengadopsi lakon lokal seperti Sam Pek Eng Tay produksi Cino Motion Picture (The Teng Chun) tahun 1931.



Dengan munculnya kegiatan perfilman sebagai sebuah industri yang dapat menghasilkan “Oeang” pada tahun ‘30-an, industri ini dengan cepat di “keroyok” oleh para pengusaha Tionghoa (Cina) yang ada di Indonesia, Singapura, dan Malaya. Bagi mereka, film adalah sebuah mata tambang baru yang dapat menghasilkan uang. Karena itu, industri film pun mulai bermunculan, dan pengusaha-pengusaha Tionghoa yang semula bergerak di berbagai bidang usaha segera banting stir ke usaha perfilman yang lebih menjanjikan, maka muncullah:


  1. South Sea Film & CO (Liem Goan Lian, Tjan Tjoe Lian)

  2. Nancing Film Co.

  3. Tan’s Film (Tan Koen Youw)

  4. Halimoen Film (Nelson Wong)

  5. Batavia Motion Picture (Jo Eng Sek)

  6. Batavia Film Industri (Jo Kim Tjem)

  7. Java Industrial Film (The Teng Chun)

  8. Cino Motion Picturs (The Teng Chun)

  9. Union Film Coy (Ang Hoek Liem)

  10. New Java Industrial Film (The Teng Chun)

  11. Action Film (The Teng Chun)

  12. Star Film (Jo Eng Sek)

  13. Oriental Film (Tjan Hoek Siong)

  14. Majestic Film Coy (Fred Young)

  15. Jacarta Picture (The Teng Chun)

  16. Populer Film (Jo Kim Tjan), dan

  17. Standard Film (Touw Ting Lem).


Barulah setelah film Het Eilan der Droomen, film Terang Boelan produksi ANIF yang disutradarai oleh Albert Balink, menyuguhkan romantika penceritaan dengan nuansa pribumi yang sangat kental, dengan bintang-bintangnya Rd. Moechtar, Roekiah, ET. Effendi, Tjitjih, Muhin dan Kartolo. Industri film tersentak untuk kembali menggunakan kekuatan/keunikan dari tema-tema lokal dengan menggarapnya dengan sepenuh hati. Terang Boelan adalah film terlaris sepanjang tahun ‘30-an dan ditayangkan selama dua bulan di Singapura pada tahun 1938 dengan penghasilan S$ 200.000.



Setelah itu, muncullah judul-judul bernuansa lokal seperti Fatimah (1938), Oh Iboe (1938), Tjiandjoer (1938), Impian di Bali (1939), dan Siti Akbari (1939). Sepanjang tahun 1940 sampai dengan 1941 mulailah muncul “action” dalam film Indonesia seperti Kedok Ketauan (1940), Kris Mataram (1940), Matjan Berbisik (1940), Pak Wongso Pendekar Boediman (1940), Rentjong Atjeh (1940),Boejoekan Iblis (1941), Elang Darat (1941), Garoeda Mas (1941), Lintah Darat (1941), Matula (1941), Pak Wongso Tersangka (1941),Poesaka Terpendam (1941), Singa Laoet (1941), Srigala Item (1941), Tengkorak Hidoep (1941), ditutup dengan munculnya filmTjioeng Wanara (1941).



Film Tjioeng Wanara merupakan film kolosal pertama yang diproduksi secara cermat, dengan menunjuk secara khusus Prof. Dr. R. Poerbotjoroko, sebagai penasihat sejarah yang mengisahkan tentang Raja Galuh.  Setelah itu, pada era pendudukan Jepang, film yang diproduksi tidak lepas dari kontrol penguasa Jepang, seperti film Berjoeang (1943), Di Desa (1943), Di Muara (1943), Djatoeh Berkait (1944), Gelombang (1944), Hoejan (1944), serta Koeli dan Romoesa (1944). Semua film itu diproduksi dalam rangka propaganda Dai Nippon di Asia.



Pada era kemerdekaan hingga tahun 1950-an, judul-judul film telah menjadi sangat romantis. Berbagai judul yang sangat indah, antara lain Air Mata Mengalir di Tjitarum  (1948), Anggrek Bulan (1948), Bengawan Solo (1949), Gadis Desa (1949), Harta Karun(1949), Menanti Kasih (1949), Saputangan (1949), Sehidup Semati (1949), dan Tjitra (1949).



Mencapai puncak romantik pada film Antara Bumi dan Langit (1950). Film itu menuai kritik masyarakat luas, karena merupakan film Indonesia yang pertama menampilkan adegan ciuman. Gelombang protes melanda hingga kemudian direvisi dengan menghilangkan adegan ciumannya dan mengganti judulnya menjadi Frieda.  Film Antara Bumi dan Langit membuka lembaran baru dalam industri film Indonesia tahun 1950-an dan era itu dapat dianggap sebagai masa keemasan film Indonesia.



Salah satu yang sangat penting pada era 1950-an, ialah ketika Usmar Ismail mengangkat tulisan Sitor Situmorang menjadi film berjudul The Long March, yang kemudian diberi judul Darah & Do’a. Film itu menjadi sangat penting, bukan semata-mata karena mengisahkan romantika perjuangan prajurit RI yang diperintahkan kembali dari Yogyakarta ke Jawa Barat, melainkan lebih dari itu, dianggap sebagai film nasional pertama karena kandungannya memuat pesan-pesan patriotisme dan nasionalisme yang mendalam.



Karena itulah, Dewan Film Indonesia, pada tanggal 11 Oktober 1962 menetapkan hari shooting pertama The Long March (30 Maret 1950) menjadi Hari Film Indonesia. Banyak bintang film yang mulai muncul pada era ‘30-an, ‘40-an, seperti Rd. Mochtar, Roekiah, Kartolo, Annie Landouw, Mas Sardi, ET. Effendi, Tan Tjeng Bok, R. Hidayat, Sofia WD, Djouhari Effendi, A. Hamid Arif, Netty Herawaty, Darussalam, S. Bono, Grace Panji Anom, dll. Para aktor dan aktris itu kemudian menemukan bentuk dan kualitas pribadinya sebagai pemain yang berkarakter, sebagai bintang film tenar yang memiliki kepribadian dan warna sendiri pada era ‘50-an, pada saat industri film nasional mencapai puncak keemasannya.



Di antara lebih dari 250 judul film yang diproduksi pada 1950-an, hanya satu adegan yang mengundang kontroversi, yaitu ketika S. Bono mencium Grace dalam film Antara Bumi dan Langit. Semua film tahun ‘50-an sangat jelas, penceritaannya mudah dimengerti, indah penceritaannya, dan senantiasa mengajak orang harus menonton agar dapat mengungkit teka-teki lakon di balik judul-judul itu, seperti Antara Bumi dan Langit (1950), Dendam Asmara (1950), Harumanis (1950), Meratap Hati (1950), Musim Melati (1950),Nusakambangan (1950), Pantai Bahagia (1950), Ratapan Ibu (1951), Antara Tertawa dan Air Mata (1951), Bunga Rumah Makan(1951), Di Tepi Bengawan Solo (1951), Hampir Malam di Yogya (1951), Air Mata Pengantin (1952), Dr. Sanusi (1952), Redrigo de Villa (1952) bekerja sama dengan LVN Studio (Filipina), Solo di Waktu Malam (1952), Aladin (1953), Belenggu Masyarakat (1953),Harimau Tjampa (1953), Lenggang Jakarta (1953), Musafir Kelana (1953), Sapu Tangan Sutra (1953), Antara Dua Sorga (1954),Jakarta Bukan Hollywood (1954), Jakarta Waktu Malam (1954), Halilintar (1954), Kopral Djono (1954), Lewat Jam Malam (1954),Dibalik Dinding (1954), Kabut Desember (1955), Tiga Dara (1956), Air Mata Ibu (1957), Seroja (1958), Tjambuk Api (1958) dan banyak lagi.



Semaraknya industri film tahun ‘50-an ditutup oleh Titian Serambut Dibelah Tudjuh (1959) produksi Murni Film dengan sutradara Asrul Sani. Dibanding tahun ‘50-an, grafik industri perfilman nasional pada tahun ’60-an, agak menurun dari segi jumlah. Film yang diproduksi hanya sekitar 178 judul. Akan tetapi, dari segi kualitas, adegan film tahun ‘60-an tampak lebih kaya nuansa. Pemain-pemain lama mencapai puncak ketenarannya, di samping aktor dan aktris baru yang mulai menanjak menapak kesuksesan.



Pada tahun 1960-an, Bambang Hermanto sebagai Aktor Terbaik di Festival Film Internasional Moskow 1961 melalui  filmperdjuangan, dianggap sebagai ikon film tahun 1960-an. Film perdjuangan didukung oleh aktris/aktor terbaik ketika itu  seperti Bambang Hermanto, Chitra Dewi, Rendra Karno, Bambang Irawan, Farida Aryani, Ismed M. Noor, Lies Noor, Soendjoto Adibroto, Pietrajaya Burnama, Mansur Syah dll. Selain itu, muncul nama-nama seperti Dicky Zoelkarnain, Ratno Timoer, Farouk Affero, Rahayu Effendi, WD. Mochtar, Rahmat Hidayat, Rima Melati, Mieke Wijaya, Rahmat Kartolo, Ami Priyono, Widyawati, Connie Suteja, Rita Zahara, Marlia Hardi, Maruli Sitompul, Hadisyam Tahax, Wahab Abdi dan banyak lagi.



Banyak dari nama-nama aktor/aktris terbaik tahun ‘60-an itu masih menguasai layar-layar perak tahun ‘70-an. Seiring dengan besarnya jumlah produksi  tahun 1970 hingga mencapai 630-an judul film dalam 10 tahun, ini berarti tidak kurang dari 52 judul film yang diproduksi setiap tahun.



Pada tahun 1961, Rita & Rina Film memproduksi sebuah film berjudul KUNTILANAK. Film itu sebenarnya bukan menampakkan wujud kuntilanak, melainkan hanya suara tertawa yang menyerupai tawa kuntilanak. Barulah setelah tahun 1971, permainan hantu, berawal ketika PT Tidar Film memproduksi Beranak Dalam Kubur dengan Suzanna sebagai bintang utamanya. Kemudian, pada tahun-tahun selanjutnya, mulailah judul-judul seperti Lantai Berdarah (1971), Dendam Si Anak Haram (1972), Pemburu Mayat(1972), Ratu Ular (1972), Cincin Berdarah (1972), Mayat Cemberut (1972), Simanis Jembatan Antjol (1973), Kuntilanak (1974),Kemasukan Setan (1974), Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974), Arwah Penasaran (1975) Penghuni Bangunan Tua dan banyak lagi.



Apa yang dituliskan secara beruntun di sini tentang judul-judul film dengan tema-tema mistik dan hantu, hanyalah sebagian kecil dari judul-judul mistik dan hantu yang menguasai layar-layar perak di negeri ini pada sekitar tahun ‘70-an, dan mencapai puncaknya ketika PT Tobah Indah Film memproduksi Penangkal Ilmu Teluh (1979) dan Tuyul Perempuan, (1979). Setelah itu, pada tahun 1980-an, ketika produksi film mencapai 680-an dalam 10 tahun, atau  sekitar 57 film setiap tahun, ada 70 judul film di antarannya berhantu dan penuh dengan alur-alur cerita mistik.



Pertanyaannya adalah, apakah ada hubungan antara kondisi sosial-politik-ekonomi dengan kreativitas dan keleluasaan imajinasi dalam penciptaan tema-tema film? Tentu saja jawabannya ya, dalam arti bahwa di era kekuasaan orde baru pada tahun ‘70-an-‘80-an yang sangat ketat dalam berbagai kontrol, justru mendorong kreativitas penciptaan dengan munculnya judul-judul kemanusiaan, etika, dan lakon-lakon sosial yang lebih menonjolkan sisi kemanusiaan sebagai jawaban atas situasi yang dianggap sangat terawasi. Sementara lakon-lakon mistik dan hantu-hantu, tetap gentayangan karena dianggap lebih aman.



Namun, satu hal yang penting untuk diketahui, bahwa hantu-hantu ini tidak lepas dari lakon sosial yang dapat dijelaskan dalam berbagai alasan dan pembenaran budaya. Misalnya Godaan Siluman Perempuan (PT Leuser Film, 1978), Tuyul  (PT Sinar Tekun Film), atau Kutukan Nyai Roro Kidul.



Demikian juga pada tahun 1980, hampir semua film mistik dan hantu masih bertaut dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, dalam arti makhluk halus dan hantu-hantunya serta adegan mistik dalam lakon-lakon film nasional masih dikenal dalam kolektifmemory masyarakat. Barulah setelah Pengabdi Setan (1980), PT Rapi Film mulai mengajak secara profesional setan dan hantu-hantu sebagai bintang film dalam film Indonesia. Karena sejak itu setan dan hantu-hantu sudah diberi peran sesuai skenario manusia, sementara sebelumnya judul-judul film produksi Rapi Film sangat melankolis penuh perasaan terkadang sedikit genit misalnya Akibat Godaan (1978), Dang Ding Dong (1978), Rahasia Perawan (1978), Cubit-Cubitan (1979), Kerinduan (1979), Pelajaran Cinta (1979), Wanita Segala Zaman (1980), Anak-anak Tak Beribu (1980), dan Warna Cinta (1980).



Konteks cerita Pengabdian Setan memang konteks cerita Indonesia, tetapi hantu dan roh-roh halus yang bermain, sudah menjadi bagian dari kehidupan metropolitan. Apakah hantu dan roh-roh yang bermain di sini sudah hantu dan roh impor yang dipinjam dari alur penceritaan film impor? Kalau ini benar, maka posisi hantu-hantu Tionghoa, yang sudah mendominasi wajah perfilman Indonesia sejak tahun 1930-an, sudah habis masa kontraknya dan perannya diambil alih oleh hantu-hantu Indonesia yang kemasukan roh dan mahkluk-mahkluk halus global.



Dibanding pada tahun ‘80-an, pada era tahun ‘90-an industri perfilman mengalami penurunan, setidaknya dari jumlah produksi, hanya sekitar 453 judul film dalam 10 tahun, berarti hanya diproduksi sekitar 37-an film dalam setahun.



Sampai dengan pertengahan tahun 1990-an, tema-tema film nasional kita didominasi oleh tema-tema drama rumah tangga, sedikitaction, dan kisah-kisah pendekar. Sementara tema-tema hantu dan mistik seakan jalan di tempat. Akan tetapi, setelah tahun 1995, terjadi perubahan dalam selera penceritaan.



Dimulai dengan judul Bebas Bercinta oleh Rapi Film (1995), lakon-lakon yang menyerempet-nyerempet ke tema-tema seks mulai menghangat. Karena setelah itu, sepanjang tahun 1995 hingga memasuki tahun 2000-an, tema berbau seks tidak terbendung lagi dengan munculnya Cinta Terlarang (1995), Dibalik Pelukan Laki-laki (1995), Gairah & Dosa (1995), Gairah Malam Yang Kedua (1995),Gairah Terlarang (1995), Hangatnya Cinta (1995), Lembah Dosa (1995), Pergaulan Intim (1995), Pergaulan Metropolis (1995),Permainan Binal (1995), Pesona Gadis Sampul (1995), Rayuan Cinta (1995), dan Skandal Binal (1995).



Memang masih perlu penelitian yang cermat tentang munculnya tema-tema seks pada era tahun 1900-an, yang sesungguhnya mencapai puncaknya pada tahun 1996-1997-1998, pada era peralihan kekuasaan orde baru ke era reformasi. Bisa dibayangkan, dalam 1 tahun saja (1997) diproduksi 21 film bertema “seks”



Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam dua dasawarsa terakhir ini, era tahun 1990-an dan 2000-an, industri perfilman di Tanah Air diramaikan dengan munculnya industri sinetron untuk konsumsi televisi yang jumlahnya kian bertambah dalam 20 tahun terakhir.



Baik industri film layar lebar maupun televisi menciptakan lapangan kerja bagi sekian banyak orang. Masalah yang dihadapi sekarang menjadi sangat multidimensi. Mutu sumberdaya pemain, kualitas-kreativitas penciptaan cerita (skenario), promosi/iklan yang etis, termasuk pemilihan judul yang tepat dan yang terpenting adalah tanggung jawab moral terhadap dampak yang diakibatkan sebuah film.



Apakah ia diproduksi semata-mata hanya untuk hiburan sesaat tanpa pesan-pesan moral yang dititipkan oleh si pembuat film, karena memang sang film diciptakan hanya sebagai tontonan pelipur lara. Kalau dari awal niatnya memang hanya untuk pelipur lara demi uang, maka kita pun tidak dapat berharap banyak akan munculnya pemain-pemain/aktor-aktor yang memiliki kualitas pribadi yang tangguh. Karena untuk film yang diciptakan hanya sekadar pelipur lara yang mengikuti selera penonton seketika, kata lain dari murahan,  akhir-akhir ini mulai mendatangkan pemain-pemain asing sebagai bintang tamu dari sebuah film nasional.



Apa arti semua ini, ialah penonton kita sudah mulai jenuh dan jemu dengan wajah pemain-pemain kita yang setiap hari kelihatan di judul-judul film yang berbeda-beda dan di puluhan sinetron dengan lakon yang beraneka ragam, tetapi dengan karakter/kepribadian yang sama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar