Sabtu, 20 Agustus 2011

OKT

OKT
Oey Kim Tiang atau O.K.T adalah penterjemah cerita silat yang sangat produktif, beliau lahir dalam keluarga peranakan Cina generasi ke enam di Tangerang. Tahun kelahirannya 1903, dan di kota Tangerang pula beliau wafat dalam usia 92 tahun. Karena lanjut usia dan sering sakit, pada 1980-an, Oey sudah jarang menulis. la meninggal 8 Maret 1995. la pernah bersekolah Tiong Hoa Hwee Koan setempat sampai tingkat SLTP. Penerjemah terkenal sebelum perang, Ong KimTiat, adalah gurunya. Sebenarnya sejak sebelum Perang, Oey Kim Tiang sudah mulai menerjemahkan cersil dan novel-novel detektif. Selama hidupnya, almarhum telah menterjemahkan lebih dari 100 karya terjemahan dari dialek Hokkian ke dalam bahasa Melayoe Pasar atau Melayoe Rendah.Dalam menterjemahkan, O.K.T menjaga konsistensinya dalam mempertahankan kosa kata Hokkian dalam istilah-istilah tertentu sangat kuat.

Penggunaan bahasa dalam cerita silat terjemahan tersebut bahasanya sangat lentur dan hidup dalam menuturkan (menceritakan) kisah-kisah yang penuh aksi, dan pembaca dibawa dalam imajinasinya, sehingga seolah-olah pembacanya mengalami sendiri kejadian lepas kejadian dalam kisah silat tersebut. Meskipun Oey cuma berpendidikan setingkat SLTP di Tiong Hoa Hwee Koan dan tidak melanjutkan lagi, tetapi dasar bahasa Tionghoanya tidak lemah. Di antara penerjemah cersil Tionghoa peranakan, Oey satu-satunya penerjemah syair dalam cersil ke dalam bahasa Indonesia.

Kalau diperhatikan, O.K.T seringkali tidak menganut kaidah bahasa Indonesia, tetapi justru hal tersebutlah yang membuat pembaca mengalami pengayaan dan menambah wawasan dalam pengenalan kosakata dari bahasa Sunda dan Jawa. Terjemahannya berusaha mempertahankan makna syair aslinya. Akan tetapi, demi irama sajaknya, ia kadang-kadang memakai cara terjemahan tidak lazim. Misalnya ia mener-jemahkan "San Qiu" menjadi "di musim TJioe", yang sebenarnya, "di musim gugur" atau "di musim rontok". Demi mempertahankan irama sajaknya, ia menerjemahkan "Changjiang" menjadi "sungai Tiang Kang", yang sesungguhnya, "sungai Yang Tse" yang lebih dikenal orang. Meskipun demikian, Oey telah membuang banyak waktu untuk mengerjakan terjemahan syair-syair dalam karyanya.

Di samping menerjemahkan karya-karya Liang Yusheng dan Jin Yong, Oey juga meneijemahkan cersU Ti Feng dan Wang Du Lu. la berpendapat, karya-karya Wang Du Lu sebaik karya Jin Yong. Ketika bekerja di Keng Po, Oey meneijemahkan lima buah karya Wang Du Lu (yaitu Po Kiam Kim Tje, Kiam Kie Tjoe Kong, Go Houw Tjhong Liong, Tiat Kie Gin Pan dan Ho HengKoen Loen) dan dimuat secara bersambung di suratkabartersebut Setelah tamat cersil-cersil itu segera diterbitkan dalam bentuk buku saku.

Bersama saudaranya, Oey An Siok, dengan nama Boe Beng Tjoe, ia meninggalkan monumen Trilogi Rajawali Kim Yong (Jin Yong) jang telah menguasai emosi jutaan orang pembaca di seluruh dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar