Rabu, 08 Juni 2011

LAGU UNTUK SERUNI / 1991


LAGU UNTUK SERUNI

Sutradara: LABBES WIDAR

Film ini cukup baik, padahal ini film pertama Widar, tapi sayang disaat itu film Indonesia mulai mati suri dan akhirnya ia banyak membuat sinetron di TV, sama seperti yang dilakukan pembuat film saat itu ketika film nasional kalah saing dengan monopoli import dari hollywood.

 1992

Unggulan di Festival Film Bandung, Indonesia

Kategori: Sutradara Terpuji
Penghargaan: Penghargaan Terpuji
Pada film: Lagu Untuk Seruni

1991

Unggulan di Festival Film Indonesia, Indonesia

Kategori: Sutradara Terbaik
Penghargaan: Piala Citra
Pada film: Lagu Untuk Seruni

Kisahnya mirip dengan film Amerika Serikat "Kramer vs Kramer". Aria, komponis idealis, bersikap tak mau kompromi, sedang istrinya, Feby (Nia Zulkarnain) memilih berpisah dan meninggalkan anaknya, Seruni (Asteria Dania Mangi). Yang membuat mirip film Amerika tadi adalah adegan Aria dan Seruni dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keadaan seperti itu muncul Thiara (Yasni Aziz Wahab), yang ingin jadi penyanyi, tapi kemudian jadi akrab dengan Aria. Feby yang sudah sukses, menuntut Seruni bersatu dengannya, apalagi dia tahu hubungan akrab Aria-Thiara.

FULL MOVIE



NEWS
Karya pertama Labbes Widar, menggunakan direct sound, menghasilkan Tio sebagai aktor terbaik. LAGU UNTUK SERUNI Pemain: Tio Pakusadewo, Nia Zulkarnaen Skenario: Fani dan Firman Triyadi Sutradara: Labbes Widar Produksi: PT Sinema Utama SATU lagi, jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) unjuk gigi. Sementara Garin Nugroho menghasilkan Cinta dalam Sepotong Roti sebagai film terbaik tahun ini, Labbes Widarkakak kelasnya mengantar Tio Pakusadewo menjadi aktor terbaik pada festival yang sama. Tio berperan sebagai Aryaseorang pencipta lagu, seorang suami bagi Feby (Nia Zulkarnaen), dan seorang ayah bagi Seruni. Labbes mampu menggenjot kemampuan Tio. Dari awal cerita, kita diperkenalkan pada seorang suami- ditinggal istri yang sibuk menyanyiyang bangun pagi, bikin telur ceplok buat sang anak, dan mengantarkannya ke sekolah. Itu semua diterjemahkan melalui gambar sederhana, yang justru menjadi menonjol karena Labbes mampu memperlihatkan keseharian dan kebersahajaan. Tapi, cerita mulai tak jelas juntrungannya ketika hingga paruh pertama kita tak kunjung mengerti, kenapa Feby menolak bertemu anaknya. Apakah produser kasetnya melarang Feby untuk terlihat umum sebagai penyanyi yang sudah menikah? Atau sutradara ingin mendramatisir keadaan? Seandainya diberikan sedikit saja adegan yang menjelaskan penolakan itu, cerita film ini tidak akan terasa kedodoran. Apalagi, mendadak sontak kemudian, sang ibu ngotot ingin merebut Seruni. Tentu saja penggunaan direct sound yang menyebabkan, antara lain, lahirnya akting yang alami dari para pemain merupakan kekuatan utama film ini. Labbes berhasil menggambarkan ciri khas pasangan muda profesional yang sama-sama ambisius, samasama mencari identitas diri sekaligus belum siap untuk membagi hidup. Lantas akting si kecil Seruni (Yasni Aziz) juga patut diperhitungkan karena tak banyak artis anak-anak Indonesia yang bisa bermain secara alami. Permainan Nia Zulkarnaen cukup menjanjikan, meski belum seimbang dengan Tio. Jika film ini sebuah lagu, Labbes baru menghasilkan sebuah intro yang cukup menarik. LSC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar