Sabtu, 18 Juni 2011

ARIZAL B.A 1974-2006

Arizal B.A
Director Film

Lahir Senin, 11 Januari 1943 di Airmolek (Riau). Pendidikan : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (Tingkat IV). Pendidikan Kewartawanan dan Workshop Film (KFT). Arizal pernah menjadi penulis cerpen, karikatur dan wartawan sebelum terjun ke film. Debut pertamanya sebagai astrada dalam film Kabut Bulan Madu (1972), produksi PT Sarinande Film. Ia baru dipercaya oleh PT Surya Indonesia Medan Film dalam Senyum Dan Tangis (1974) yang skenarionya ditulis sendiri. Setulus Hatimu (1975) meraih piala Citra pada FFI 1975 dan FFA 1975, untuk aktris utama Yenni Rachman. Sebagian filmnya selalu menyedot banyak penonton. Pintar Pintar Bodoh dan Maju Kena Mundur Kena adalah film yang paling laku, masing-masing pada 1981 dan 1983. Segi Tiga Emas (1986) dan Dendam Membara (1988) sukses dalam peredarannya di luar negeri.

Waktu kecil saya sering menonton filmnya, terutama yang ada hubungan dengan Warkop. Kebetulan saya suka juga dengan drama radio Warkop Prambos. Dan saat sekolah di IKJ, saya sepat ketemu Arizal di TIM. Tidak ada lucu-lucunya. Tapi filmnya adalah membawa sebuah warna baru bagi komedi Indonesia selain Nyah Abas Yakup yang lebih dulu menemukan warna komedi Indonesia, selanjutnya Warkop. Tentu Srimulat beda lagi style komedinya. Mungkin srimulat lebih kepada tehnik panggung sandiwara, atau ludruk di Indonesia. Tetapi yang pasti Nyah Abas, Arizal, atau srimulat memiliki gaya khas komedinya yang membuat banyaknya warna komedia di Indonesia.

Terlepas dari sosok perempuan sexy yang tampil dalam filmnya, tetapi jaman tidak dapat di tipu. Saat warkop masih hidup dan sudah fakum. Saya lihat mereka muncul di sinetron warkop juga. Tetapi mereka kalah dengan pelawak baru yang ada. TEtapi ketika satu persatu warkop meninggal dunia, maka filmnya di buru, kaosnya di buru,...inilah yang disebut the Legend. Sama halnya seperti Benyamin.S . Ketika masih hidup, kurang meledak, tetapi ketika ia sudah meninggal....langsung meledak, semua yang berhubungan dengannya di buru orang. Inilah dia teori The Legend yang tidak bisa di ciptakan atau pun di perkirakan. Seseorang itu bisa legend ketika apa yang terjadi bila dia sudah mati. The Legend juga tidak perlu butuh karya banyak atau pun kurun waktu yang lama untuk karir. Gombol dan Mbah surip juga fenomenal. Jaman lah yang membuktikan nanti, apakah the legend sejati, atau musiman.

Pada tahun 1970-1974 aktif di bidang kewartawanan. Terjun ke film tahun 1972 sebagai pembantu sutradara, ia juga merangkap tugas sebagai penata artistik. Tahun 1974 ia mulai menulis skenario selanjutnya menjadi sutradara.

H. Arizal, MBA (lahir di Indragiri, 11 Januari 1943), adalah seorang sutradara terkenal Indonesia. Beliau adalah anak dari pasangan H. Ibrahim Sidi Mangkuto dan Hj. Matayam binti M.Yasin. Filmnya yang banyak diperani oleh para aktris terkenal seperti Yessy Gusman, Rano Karno, Yenny Rachman, Roy Marten, Lydia Kandou, Warkop (Dono, Kasino, dan Indro). Filmnya yang paling terkenal "Gita Cinta dari SMA", "Puspa Indah Taman Hati" dan Film Komedi yang dimainkan oleh Warkop D.K.I.


SALAH PENCET 1992 ARIZAL
Director
SALAH MASUK 1992 ARIZAL
Director
LAKI-LAKI BINAL 1978 ARIZAL
Director
SERBUAN HALILINTAR 1982 ARIZAL
Director
SETULUS HATIMU 1975 ARIZAL
Director.Composer
PINTAR-PINTAR BODOH 1980 ARIZAL
Director
MELODI CINTA 1980 ARIZAL
Director
SEGI TIGA EMAS 1986 ARIZAL
Director
KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN 1985 ARIZAL
Director
SAMA-SAMA ENAK 1987 ARIZAL
Director
NIKMATNYA CINTA 1980 ARIZAL
Director
STABILIZER, THE 1984 ARIZAL
Director
MEMBAKAR LINGKARAN API 1989 ARIZAL
Director
SECERAH SENYUM 1977 ARIZAL
Director
BERGOLA IJO 1983 ARIZAL
Director
FEROCIOUS FEMALE FREEDOM FIGHTERS, PART 2 1981 ARIZAL
Director
DONGKRAK ANTIK 1982 ARIZAL
Director
RAYUAN GOMBAL 1980 ARIZAL
Director
PENGANTIN BARU 1986 ARIZAL
Director
SUDAH PASTI TAHAN 1991 ARIZAL
Director
MAJU KENA MUNDUR KENA 1983 ARIZAL
Director
SAYA DULUAN DONG 1994 ARIZAL
Director
MASUK KENA KELUAR KENA 1992 ARIZAL
Director
TAHU BERES 1993 ARIZAL
Director
TAHU DIRI DONG 1984 ARIZAL
Director
GANTIAN DONG 1985 ARIZAL
Director
AMERICAN HUNTER 1988 ARIZAL
Director
HANYA UNTUKMU 1976 ARIZAL
Director
MEMBAKAR MATAHARI 1981 ARIZAL
Director
KECUPAN PERTAMA 1979 ARIZAL
Director
DR. FIRDAUS 1976 ARIZAL
Director
AKAL-AKALAN 1991 ARIZAL
Director
FINAL SCORE 1988 ARIZAL
Director
AULA CINTA 1977 ARIZAL
Director
BISA NAIK BISA TURUN 1991 ARIZAL
Director
COWOK KOMERSIL 1977 ARIZAL
Director
GITA CINTA DARI S.M.A. 1979 ARIZAL
Director
ANTRI DONG 1990 ARIZAL
Director
GARA-GARA 1993 ARIZAL
Director
BODOH-BODOH MUJUR 1981 ARIZAL
Director
BILA HATI PEREMPUAN MENJERIT 1981 ARIZAL
Director
SEMAU GUE 1977 ARIZAL
Director
ITU BISA DIATUR 1984 ARIZAL
Director
REMAJA IDAMAN 1979 ARIZAL
Director
MANA BISA TAHAN 1990 ARIZAL
Director
MUMPUNG ADA KESEMPATAN 1993 ARIZAL
Director
POKOKNYA BERES 1983 ARIZAL
Director
PUSPA INDAH TAMAN HATI 1979 ARIZAL
Director
BAYAR TAPI NYICIL 1988 ARIZAL
Director
REMAJA-REMAJA 1979 ARIZAL
Director
IKUT-IKUTAN 1990 ARIZAL
Director
PENCET SANA PENCET SINI 1994 ARIZAL
Director
MUSIM BERCINTA 1978 ARIZAL
Director
JANJI SARINAH 1976 ARIZAL
Director
SENYUM DAN TANGIS 1974 ARIZAL
Director
CURI-CURI KESEMPATAN 1990 ARIZAL
Director
LEBIH ASYIK SAMA KAMU 1989 ARIZAL
Director.


PENDIDIKAN
KARIR & KARYA
  1. Karikaturis majalah Selecta dan lain lain 1963 – 1968 di Jakarta
  2. Pemain orkes ”Singgalang Ria” Asuhan Kapt.TNI Syusamsir 1958 – 1962 di Pekanbaru
  3. Pelukis cerita bergambar/komik di Medan dan Jakarta 1958 – 1968
  4. Pengarang lagu: Usah Kau Goda - Emie Djohan 1967; Mengapa - Alfian 1967; Senyum dan Tangis/Film - Rano Karno 1974; Setulus Hatimu/Film – Tanty Yosepha & Elly S 1975; dan Main Film – Benyamin S 1975
  5. Desainer mebel dan furnitur PT.Boanez 1964-1967 di Jakarta
  6. Ketua band “Boanez” Melati Room Proyek Senen 1967-1968 di Jakarta
  7. Figuran film “Skull Duggery” Universal Studio – Yamaica USA 1968
  8. Asst. Artistic Cartoon Walt Disney Universal Studio – Los Angeles USA 1968-1969
  9. Staf redaksi majalah “Mayapada” 1969-1970 di Jakarta
  10. Staf Redaksi Majalah “Panorama” 1970-1972 di Jakarta
  11. Art. director biro iklan “Yapernas 1970-1972 di Jakarta
  12. Asisten sutradara film: “Pengejaran Keneraka”/Widyasari, Mark Sungkar – Umbara Film 1971; “Kabut Bulan Madu”/Rahmat Kartolo – Sarinande Film 1972 Jakarta; ”Akhir Sebuah Impian”/Emilia Kontessa, Broery-Sarinande Film 1972 Jakarta; “Intan Berduri”/Rima Melati, Benyamin S – Sarinande Film 1973 Jakarta; “Si manis Jembatan Ancol”/Lenny Marlinam, Farouk Afero – Sarinande 1973 Jakarta; dan ”Kutukan Ibu”/Sophia WD, Farouk Afero – Sarinande Film 1973 Jakarta

Sutradara atau penulis skenario dan cerita:
  1. “Senyum dan Tangis“ PT. Surya Indonesia Medan 1974 Jakarta. Dibintangi oleh Rano Karno, Andy Carol, Lenny Marlina, Bambang Irawan. Meraih Film Anak Anak Terbaik, mendapat Piala “Citra” di Medan.
  2. “Setulus Hatimu”PT. Surya Indonesia Medan 1975 Jakarta. Dibintangi oleh Drg Fadly dan Yanty Yosepha. Meraih penghargaan Best Actress “Citra Indonesia” dan Festival Film Asia.
  3. “Dr. Firdaus”PT. Tunggal Jaya Film 1976 Jakarta. Dibintangi oleh Drg Fadly dan Lenny Marlina.
  4. “Hanya Untukmu” PT. Surya Indonesia Medan 1976 Jakarta. Diintangi oleh Drg Fadly dan Lenny Marlina.
  5. “Janji Sarinah”PT.Nusantara Film 1976 Jakarta. Dibintangi oleh Drg Fadly dan Lenny Marlina.
  6. "Aula Cinta” PT. Nusantara Film 1977 Jakarta. Dibintangi oleh Roy Marten, Yati Octavia, Debby Cyntia Dewi,
  7. “Cowok Komersil” PT. Nusantara Film 1977 Jakarta. Dibintangi oleh Robby Sugara, Yati Octavia, Debby Cyntian Dewi, Doris Cellebout
  8. “Semua Gue” PT. Tiga Sinar Mutiara 1977 Jakarta. Dibintangi oleh Rano Karno, Yenny Rahman, Yezzy Gusman.
  9. “Secerah Senyum”PT. Dharma Putra Kostrad 1977 Jakarta. Dibintangi oleh Roy Marten, Yenny Rahman
  10. “LakiLaki Binal”PT. Archipelago Film 1978 Jakarta. Dibintangi oleh Roy Marten, Yenny Rahman
  11. “Musim Bercinta”PT. Tiga Sinar Mutiara Film 1978 Jakarta. Dibintangi oleh Roy Marten, Eva Arnaz, Rano Karno, Yessy Guzman
  12. “Gita Cinta Di SMA”PT. Tiga Sinar Mutiara Film 1979 Jakarta. Dibintangi oleh Rano Karno, Yessy Guzman, Sherly Malinton
  13. “Kecupan Pertama” PT. Cakra Film/Gobin P 1979 Jakarta. Dibintangi oleh Yenny Rahman, Roy Marten.
  14. “Puspa Indah Taman Hati” PT. Tiga Sinar Mutiara Film 1979 Jakarta. Dibintangi oleh Rano Karno, Yessy Guzman.
  15. “Remaja Idaman” PT. Tiga Sinar Mutiara Film 1979 Jakarta. Dibintangi oleh Roy Marten, Joice Erna.
  16. “Remaja Remaja” PT. Tiga Sinar Mutiara Film 1979 Jakarta. Dibintangi oleh Rano Karno, Lydia Kandow, Yessy Guzman.
  17. “Melody Cinta” PT. Tiga Sinar Mutiara Film 1979 Jakarta-Medan. Dibintangi oleh Lydia Kandow, Mangara Siahaan
  18. “Nikmatnya Cinta” PT. Tiga Cakra Film 1980 Jakarta. Dibintangi oleh Rano Karno, Lydia Kandow, Robby Sugara
  19. “Pintar Pintar Bodoh” PT. Parkit Film 1980 Jakarta. DIbintangi oleh Dono, Kasino, Indro, Eva Arnaz, Debby Cyntia Dewi
  20. “Rayuan Gombal” PT. Bola Dunia Film 1980 Jakarta. Dibintangi oleh Monos, Nany Wijaya, Sandra Ciptadi
  21. “Bila Hati Perempuan Menjerit” PT. Parkit Film 1981 Jakarta. Dibintangi oleh Dana Christina, Roy Marten
  22. “Bodoh Bodoh Mujur”PT. Parkit Film 1981 Jakarta. DIbintangi oleh Otong Lenon, Eva Arnaz
  23. “Membakar Matahari” PT. Parkit Film 1981 Jakarta. Dibintangi oleh Berry Prima, Eva Arnaz
  24. “Dongkrak Antik” PT. Parkit Film 1981 Jakarta. Dibintangi oleh Dono, Indro, Kasino, Mariam Belina, Mat Solar
  25. “Serbuan Halilintar” PT. Parkit Film 1982 Jakarta. Dibintangi oleh Barry Prima, Eva Arnaz, Dicky Zulkamaen
  26. “Bergola Ijo”PT. Virgo Putra Film 1983 Jakarta. Dibintangi oleh Barry Prima, Eva Arnaz, Anasrul Jangkung
  27. “Maju Kena Mundur Kena” PT. Parkit Film 1983 Jakarta. Dibintangi oleh Dono, Indro, Kasino, Eva Arnaz, Lydia Kandow
  28. “Pokoknya Beres” PT. Parkit Film 1983 Jakarta. Dibintangi oleh Dono, Indro, Kasino, Eva Arnaz, Lydia Kandow
  29. “Itu Bisa Diatur” PT. Parkit Film 1984 Jakarta. Dibintangi oleh Dono, Indro, Kasino, Ira Wibowo, Lia Waroka
  30. “Pencuri Cinta” PT. Parkit Film 1984 Jakarta. Dibintangi oleh Rico Tampatty, Ira Wibowo
  31. “Tahu Diri Dong” PT. Parkit Film 1984 Jakarta. Dibintangi oleh Dono, Indro, Kasino, Eva Arnaz, Lydia Kandow
  32. “Gantian Dong” PT. Parkit Film 1985 Jakarta. Dibintangi oleh Dono, Indro, Kasino, Lia Waroka, Chintami Atmanegara
  33. “Pengantin Baru” PT. Parkit Film 1986 Jakarta. Dibintangi oleh Lydia Kandow, Deddy Mizwar, Doyok
  34. “Segitiga Emas” PT. Parkit Film 1986 Jakarta. Dibintangi oleh Christina, Harry Capri, Mark Sunkar, Wilson Peter
  35. “Dendam Membara”PT. Rapi Film 1986 Jakarta. Dibintangi oleh Christ Mitchum, Mike Abbot, Ida Iasya
  36. “Sama Sama Enak”PT. Bola Dunia 1987 Jakarta. Dibintangi oleh Sys NS, Chintami Atmanegara, Krisna
  37. “Bayar Tapi Nyicil” PT. Bola Dunia 1988 Jakarta. DIbintangi oleh I Didi Petet, Mariam Belina, Bagito Droup
  38. “Pemburu Berdarah Dingin” PT. Rapi Film 1988. DIbintangi oleh Christ Mitchum, Ida Iasya, Roy Marten
  39. “Lebih Asyik Sama Kamu” PT. Rapi Film 1989 Jakarta. Dibintangi oleh Paramitha Rusadi, Sally Marcelina, Ryan Hidayat
  40. “Membakar Lingkaran Matahari” PT. Rapi Film 1989. Dibintangi oleh Ricky Hosada, Peter John, Agus Melast
  41. “Antri Dong”PT. Parkit Film 1990 Jakarta. Dibintangi oleh Nurul Arifin, Kadir, Doyok, Deddy Mizwar, Lydia Kandow, Eva Arnaz
  42. “Curi Curi Kesempatan” PT. Parkit Film 1990 Jakarta. DIbintangi oleh Nurul Arifin, Ray Sahepati, Sally Marcelina, Deddy Mizwar
  43. “Mana Bisa Tahan” PT. Soraya Intercine Film 1990 Jakarta. Dibintangi oleh Dono, Indro, Kasino, Sally Marcelina, Deddy Mizwar
  44. “Akal Akalan” PT Parkit Film 1991 Jakarta. Dibintangi oleh Doyok, Kadir, Lia Waroka
  45. “Bisa Naik Bisa Turun”PT. Bola Dunia Film 1991 Jakarta. Dibintangi oleh Dono, Indro, Kasino, Kiky Fatmala
  46. “Sudah Pasti Tahan” PT. Soraya Intercine Film 1991 Jakarta. DIbintangi oleh Nurul Arifin, Dono, Indro, Kasino
  47. “Masuk Kena Keluar Kena” PT. Soraya Intercine Film 1992 Jakarta. DIbintangi oleh Dono, Indro, Kasino, Kiky Fatmala
  48. “Salah Masuk” PT. Soraya Intercine Film 1992 Jakarta. Dibintangi oleh Gitty Srinita, Dono, Indro, Kasino, Pak Tile, Fortunella
  49. “Salah Pencet” PT. Parkit Film 1992 Jakarta. Dibintangi oleh Kadir, Doyok, Kiky Fatmala, Tarida Gloria
  50. “Gara Gara” PT. Parkit Film 1993 Jakarta. Dibintangi oleh Jimmy Gideon, Lydia kandow, Sion Gideon
  51. “Mumpung Ada Kesempatan” PT. Parkit Film 1993 Jakarta. Dibintangi oleh Kadir, Doyok, Ayu azhari
  52. "Kampanye Miliyader" PT. Karisma Stravison Plus 2004 Jakarta. Dibintangi oleh Bintang-bintang AFI, Dono, Indro, Roweina, Diah Permatasari.
SINETRON
  1. Gara Gara PT.Multivision Plus 1992-1993 Jakarta 26 Episode. Pemain: Lydia Kandow, Jimmy Gideon, Sion, Gideon, Pitrajaya Burnama, Nani Wijaya
  2. Ada Ada Saja PT. Multivision Plus 1993-1995 Jakarta130 Episode. Pemain: Nurul Arifin, Rudy Salam, Kiki Fatmala, Fuad Alkhar
  3. Saling Silang PT. Multivision Plus 1995-1996 Jakarta 54 Episode. Pemain: Debby Sahertian, Ida Kusuma, Eeng Saptahadi, Zainal Abidin
  4. Jin dan Jun PT . Multivision 1996-2001 Jakarta 270 Episode. Pemain: Syahrul Gunawan, Mira Asmara, Misye Arsita, Fuad Baraja, M.Amin.
  5. Tuyul Dan Mbak Yul PT.Multivision Plus 1997-2002 270 Episode. Pemeain: Onny syahrial, Slamet Joyo, Dominiq Sanda, dll.
  6. Tuyul Millenium PT.Multivision Plus 2002-2004 108 Episode. Pemain: Jamal Bulat, Samson, dll.
  7. Indra Ke-6 PT. Multivision Plus 2002-2003 71 Episode. Pemain: Gracia Indri, Joshua, Rachel Amanda, Dhea Imut, dll.
  8. Metropolitan Fantasi PT.Starvision Plus 2003-2006 267 Episode. Pemain: Bintang - Bintang AFI.

YANG LAINNYA
  1. Menggambar, melukis, dan main sulap
  2. Menulis, membaca, dan bercerita
  3. Masa kecil (tahun 1957-1958), Juara Musabaqah Tilawatil Quran kecamatan Pasir Penyu – Indragiri Hulu, di Airmolek
  4. Ilmu beladiri Yu YIT SU/Ban Coklat di Pekanbaru-Jakarta
  5. Pernah bergabung dengan bandot Lahardo – Jakarta
  6. Wartawan bepas “Harian Kami” 1966-1968 di Jakarta
  7. Penulis bepas majalah “Intisari” Jakarta 1968-1970.
  8. Juara pertama “Mencipta Model Jaket Kuning Universitas Indonesia” 1968 di Jakarta, Dapat Trophy dan Buku berisi pesan dari dekan Fakultas Sosiologi Universitas Indonesia Prof.Dr.Slamet Imam Santoso
  9. Pengarang dan penulis novel “Perjaka Ting Ting”, dengan semboyan “ Bila Cinta Sudah Melekat, Tahi Gigipun Terasa Coklat”.
  10. Novel ini difilmkan ke layer lebar berjudul “ Remaja Idaman” Tahun 1979.
  11. Membuat credit title' beberapa film nasional, antara lain “ Ibu Sejati “ , di Jakarta
  12. Membuat film kartun 8 “ Iklan Melbrosia” 1972 di Jakarta

06 September 1986

Insan di belakang film pesanan
DI tahun 1970, Almarhum Usmar Ismail tertarik pada sebuah komik yang dibuat seorang wartawan muda. "Pembuat komik ini punya bakat bikin film," kata Almarhum. Maka, wartawan muda itu pun ditawari jadi sutradara. Usmar keburu meninggal -- dan Arizal, sekarang 43, akhirnya memulai kariernya sebagai pembuat film di bawah bimbingan Turino Djunaidi. Tetapi, menurut kisahnya sendiri, bukan dengan Turino untuk pertama kalinya Arizal berkenalan dengan dunia film. "Di tahun 1968 saya sudah jadi figuran di Hollywood dan bermain bersama Burt Reynold," katanya. Konon, waktu itu dibutuhkan pemain Melayu untuk sebuah film fiktif -- dengan syarat tinggi 155 senti, hidung tidak pesek, badan atletis. Untuk peran itu ia tinggal di Amerika sekitar lima bulan. Sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi UI, lepas dari Hollywood itu ia mencoba melanjutkan sekolahnya dengan biaya sendiri. Untuk itu Arizal menjadi wartawan, mencipta lagu pop, mendesain pakaian ("sayalah yang mendesain jaket kuning UI"), bermain sulap, dan menggambar komik. Nah, kebolehan terakhir itulah yang membuka jalan baginya ke dunia film. Dan gurunya yang pertama, Turino, mengajarkan: bikin film semurah dan secepat mungkin. Maka, jadilah ia sutradara terlaris, termahal, tersibuk -- sutradara Indonesia yang terbanyak membuat film dalam dua dasawarsa terakhir ini. Sejak mulai menyutradarai pada 1974, hingga kini ia menghasilkan 35 film. Rahasianya? "Saya tidak tega melihat produser rugi karena saya." Para produser senang karena, "Arizal kerja cepat dan hemat." Dan hasilnya? "Kecuali beberapa, hampir semua film saya box office." Film laris belum tentu film bagus, tentu saja. Ini Arizal tahu. Ia belum pernah mendapat Citra -- tapi tidak kecil hati. "Film Citra dibicarakan hanya di hari-hari festival. Film saya menjadi buah bibir orang banyak," katanya sambil senyum. Film Arizal, terutama yang dibintangi kelompok Warung Kopi Prambors, memang paling laris. Karena pelawaknya atau karena penanganan sang sutradara? "Kalau orang lain yang menyutradarai Prambors, hasilnya tidak selaris yang saya bikin," jawab Arizal. Kurangnya penghargaan kepada sutradara yang satu ini, di mata para pengamat film, juga disebabkan oleh cerita-cerita yang digarapnya yang pada umumnya jiplakan. Tapi, kata Arizal, "Kalau tiruan kita lebih baik tentu lebih bagus." Lagi pula, menurut dia lebih dari 90% cerita yang difilmkan di Indonesia sebenarnya hasil jiplakan. "Dijiplak utuh juga tidak -- sebab kita sesuaikan dengan kondisi Indonesia, dan kita tambahi dengan pengalaman-pengalaman kita di sini." Tapi, mengapa harus jiplakan ? "Wah, sulit cari cerita di Indonesia. Kalau ada novel bagus, itu sudah jadi rebutan produser." Karena itu, ditiru sajalah film asing. Dan dengan majunya teknologi video, tidak sulit mendapat film asing -- termasuk serial televisi yang belum beredar di sini, sehingga diharap tidak mudah diketahui penonton. Film Arizal yang sedang beredar di Jakarta adalah contoh yang menarik. Pengantin Baru, judul komedi itu, dibintangi Deddy Mizwar dan Lidya Kandou. Lancar, lucu, dan dikerjakan dengan terampil, barang yang lagi laris ini sebenarnya tiruan kreatif dari sebuah episode serial televisi Amerika yang berjudul Three Crowns. Mengapa tidak disebutkan saja bahwa itu saduran film asing? "Kalau disebutkan, filmnya malah bisa tidak laku," kata Ram Punjabi, sang produser.

Aneh juga -- toh penonton yang menjadi target film-film Arizal, sebagai yang diakuinya sendiri, adalah kelas menengah-bawah. Benarkah mereka mempersoalkan sumber cerita, jika filmnya selucu dan selancar Pengantin Baru ? Pertanyaan terakhir: sebagai sutradara yang dikejar-kejar produser, tidakkah Anda berada dalam posisi kuat untuk membuat film lebih baik dari yang Anda buat sekarang? "Saya tahu, saya ini sudah dicap sutradara pesanan. Ya, saya ingin mengubah citra itu. Saya ingin juga mendapat Piala Citra." Kurang dijelaskan, apa bentuk ikhtiarnya untuk itu -- tapi tentu tidak terlalu mudah. Soalnya, modal utama Arizal di mata para produser adalah sikapnya yang penuh kompromi itu. Untuk bikin film yang lebih baik lazimnya dibutuhkan waktu yang lebih panjang, biaya yang lebih besar, dan sikap yang kadang kurang serasi dengan produser. Bisakah mereka menerima? Setelah membuat sekian film dalam 12 tahun, sutradara jebolan Fakultas Ekonomi UI ini sudah menjadi satu dari hanya beberapa sutradara paling terampil di Indonesia. Adalah keterampilan yang menyebabkan Arizal bisa membuat film dalam waktu cepat dan dengan biaya murah. Jika kemungkinan perubahan yang jadi masalah, bisakah Arizal melihat film lebih dari sekadar hasil keterampilan? Jika bisa, dan berhasil, maka paling sedikit akan ada dua sutradara Indonesia yang terkemuka dalam waktu dekat, Arizal dan Teguh Karya. Yang terakhir memulai langkahnya dengan memperlakukan film sebagai media ekspresi, yang pertama melihat film sebagai barang dagangan. Untuk sampai di Roma, kata orang, memang ada banyak jalan, bukan ? Salim Said


Masih ketawa bersama prambors
DETEKTIF Dono lengah. Di saat harus waspada mengawasi buronannya, ia justru asyik berajojing dengan seorang gadis di suatu disko. Ia memperlihatkan kemahirannya di disko itu sambil menirukan gaya John Travolta dalam film Saturday Night Fever. Banyak pengunjung, termasuk rekannya, detektif Kasino, sampai melongo dibuatnya. Buronan mereka, seorang istri yang dituduh menyeleweng, tentu saja memanfaatkan kelengahan kedua detektif partikelir itu. Bersama pacar gelapnya, wanita itu dengan cepat minggat. Untuk kesekian kalinya, Dono dan Kasino dari PT Kasino Bersama gagal. Serangkaian kisah sial kedua detektif tersebut merupakan bagian menarik dalam film Pintar-Pintar Bodoh sutradara Arizal. Di film itu juga dipertunjukkan kesialan detektif Indro dan Dorman dari PT Indro dan Konco -- saingan usaha PT Kasino Bersama -- melayani klien mereka. Di luar dugaan, Pintar-Pintar Bodoh - sekalipun tak terlalu baik sebagai film komedi -- ternyata menyedot 461 ribu penonton pada putaran tahap atas dan sliding di Jakarta. Sampai Mei ini, ia masih merupakan film komedi nasional yang paling banyak ditonton. Tahun lalu rekor tertinggi dipegang film Kabut Sutra Ungu (diperankan Yenny Rachman dan disutradarai Sjuman Djaja), menyedot 488 ribu penonton. "Prestasi film Pintar-Pintar Bodoh merupakan kejutan," sebut Zulharmans Said, Direktur PT Perfin, pengedar film nasional Keberhasilannya meraih penonton, katanya lagi, banyak dibantu oleh popularitas Warung Kopi (Warkop) Prambors yang telah dikenal luas lewat panggung dan rekaman kaset. Di film itu, anggota Warkop Prambors -- Dono Kasino dan Indro -- bertindak sebagai pemeran utama. Nanuk Mulyono yang masih sakit tak ikut. Ia digantikan Dorman Borisman. Nanuk hanya bermain dalam Mana Tahan -- film Prambors lainnya --yang meraih 400 ribu penonton. Dalam Gengsi Dong -- juga film Prambors yang meraih 230 ribu penonton -- ia juga tak ikut. Pertengahan Mei ini, bila tak ada aral melintang film Prambors keempat: Ge . . . Er (Gede Rasa) memasuki peredaran. Posternya yang menyolok, misalnya, sudah terpasang di bioskop Mulia Agung, Jakarta Pusat. Di situ tampak sedikit porno, Dono yang setengah telanjang kaget mendekap sesuatu. Istrinya di rumah sempat risi juga menyaksikan poster seperti itu. "Kalau mau dijadikan poster, mbok ya jangan adegan itu dong yang dipasang," ujar Dono menirukan "protes" istrinya. Film mereka yang pertama, Mana Tahan terasa hanya mengeksploatasi kekonyolan mahasiswa. Sejumlah mahasiswa yang mondok di rumah seorang tante dikisahkannya menjumpai pengalaman lucu. Tapi karena hanya menonjolkan visualisasi akting yang dibuat-buat, serangkaian adegan dalam film itu terasa konyol. "Saya ingin mengejek keadaan dengan cara berseloroh tapi tidak konyol," kata Dono. Kritik dengan seloroh memang bisa dilakukan Warkop Prambors di atas panggung -- dalam bentuk sejumlah guyon (joke) pendek. Di film yang menghendaki cerita utuh, cara seperti itu dianggap tak bisa ditempuh. Nawi Ismail yang menyutradarai Mana Tahan dan Gengsi Dong lebih banyak menampilkan joke tadi secara visual -- tidak verbal seperti di panggung. Ia sengaja menjadikan film tersebut sebagai tontonan dagelan kasar (slapstick). "Sebab sasaran film itu adalah masyarakat menengah ke bawah," ujarnya. "Bila mereka disuguhi tontonan macam penampilan Warkop Prambors di panggung, film itu tak akan termakan . " Di luar dugaan komedi macam itu menarik banyak penonton. Zulharmans menyebut bahwa film Warkop Prambors menandai kembalinya suatu periode yang pernah dicapai beberapa film yang diperankan Benyamin Syuaib beberapa tahun lampau. "Masyarakat memang masih menginginkan suatu masalah dikemukakan dengan ringan dan penuh tawa, ' ujarnya. Namun sutradara Nawi mengaku ia semula sangat sulit mendapatkan ide cerita humor. Hingga ia kemudian memasukkan sejumlah pengalaman anggota Warkop Prambors ke dalam film itu. Semula PT Parkit Films, produser Pintar-Pintar Bodoh, juga menemui kesulitan mendapatkan ide cerita. Membuat film komedi, demikian Raam Punjabi dari PT Parkit, lebih sulit dibanding melodrama. Ia mengungkapkan bahwa ide membuat biro jasa detektif partikelir dalam Pintar-Pintar Bodob diperolehnya setelah menonton Mr Boo, film Hong Kong. "Lebih baik menjiplak yang baik daripada membuat asli, tapi jelek," kata Raam ketawa. Baik Dono maupun Kasino mengaku mereka agak canggung ketika pertama kali beraksi di depan kamera. Karena mereka sering salah berdialog, pengambilan suatu adegan kadang diulang sampai sepuluh kali. "Dengan mengambil banyak gambar dalam setiap adegan, saya jadi punya banyak pilihan dalam editing," ujar Nawi, 63 tahun. Untuk Mana Tahan, ia menghabiskan sekitar 120 can film. Di depan kamera, kesulitan Dono maupun Indro antara lain tak bisa mendengar tawa spontan dari penonton. "Kami cuma bisa meraba-raba apakah suatu adegan berakibat lucu atau tidak," kata Kasino. "Sering terjadi adegan yang kami anggap tidak lucu, ternyata justru menyebabkan penonton ketawa terpingkal-pingkal," tambah Dono. Ingin Bertahan 10 Tahun Sampai kini Warkop Prambors sudah bermain dalam empat film. Tiga film lagi yang diperani kelompok ini segera menyusul. Tapi mereka berpikir-pikir dengan mumpung populer. "Saya ingin menghindari kejenuhan penonton," sebut Kasino. "Saya tak ingin punya 13 mercy (mobil Mercedes - red.) dalam tempo singkat, tapi hanya bertahan setahun. Saya masih ingin bertahan sepuluh tahun," tambah Dono. Dengan upaya melawak di panggung, film dan rekaman kaset, kelompok Warkop Prambors -- beranggotakan Drs. Wahyu Sardono, Drs. Kasino, Indrojoyo dan Nanuk Mulyono -- bisa hidup sejahtera. Kasino dan Indro, misalnya, sudah tinggal di rumah sendiri di Jalan Pulo Nangka Timur, Jakarta. Untuk sementara Kasino merasa cukup hidup dengan hanya melawak. Sedang Dono menambah penghasilan sebagai asisten dosen di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial UI. Dari sana Dono sebulan memperoleh tambahan Rp 5.500. Sementara Indro dan Nanuk masih kuliah, masing-masing di Fakultas Ekonomi Univ. Pancasila dan FIS UI. Warkop Prambors semula hanya terdiri dari Kasino dan Nanuk yang mengisi acara Siaran Pencinta Alam (1973) di Radio Prambors Jakarta. Setahun kemudian masuk Rudi Badil dan Dono. Keempatnya kemudian mengelola acara tengah malam di stasiun radio swasta niaga itu: Obrolan di Warung Kopi. Kemudian Indro bergabung (1976) ketika masih pelajar SMA di Jakarta. Dari siaran radio, kelimanya sering pula diajak mengisi acara api unggun dalam perkemahan. Pernah pula mereka melawak ketika SMP IX Jakarta menyelenggarakan pesta 1976 di Bali Room Hotel Indonesia. Baru dua tahun kemudian mereka berani tampil secara komersial. "Sebelumnya kalau kami dapat honor, sering kami habiskan makanmakan di Pecenongan bersama kawankawan," kata Kasino. Kini honor mereka begitu besar, tak bisa dihabiskan di restoran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar