Minggu, 13 Maret 2011

KHO PING HOO 1926-1994

KHO PING HOO / Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo

Dia legenda pengarang cerita silat. Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, yang kendati tak bisa membaca aksara Cina tapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa. Selama 30 tahun lebih berkarya, dia telah menulis sekitar 400 judul serial berlatar Cina, dan 50 judul serial berlatar Jawa.

Ceritanya asli dan khas. Dia pengarang yang memiliki ide-ide besar, yang tertuang dalam napas ceritanya yang panjang. Sepertinya dia tak pernah kehabisan bahan.

Bahkan setelah dia meninggal dunia akibat serangan jantung pada 22 Juli 1994 dan dimakamkan di Solo, namanya tetap melegenda. Karya-karyanya masih dinikmati oleh banyak kalangan penggemarnya. Bahkan tak jarang penggemarnya tak bosan membaca ulang karya-karyanya.

Beberapa karyanya dirilis ulang media massa, difilmkan, disandiwararadiokan, dan di-online-kan, serta disinetronkan. Dia meninggalkan nama yang melegenda. Legenda Kho Ping Hoo, pernah menjadi sinetron andalan SCTV. Lewat penerbit CV Gema, karya-karyanya masih terus dicetak.

Kho Ping Hoo bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo, pengarang cerita silat yang memunculkan tokoh-tokoh silat dalam ceritanya, seperti Lu Kwan Cu, Kam Bu Song, Suma Han, Kao Kok Cu, atau Wan Tek Hoat dan Putri Syanti Dewi, Cia Keng Hong, Cia Sin Liong, Ceng Thian Sin, dan Tang Hay. Serta tokoh-tokoh dalam serial paling legendaris Bu Kek Siansu dan Pedang Kayu Harum.

Dia juga banyak mengajarkan filosofi tentang kehidupan, yang memang disisipkan dalam setiap karyanya. Salah satu tentang yang benar adalah benar, dan yang salah tetap salah, meski yang melakukannya kerabat sendiri.

Kisah Keluarga Pulau Es merupakan serial terpanjang dari seluruh karya Kho Ping Hoo. Kisahnya sampai 17 judul, dimulai dari Bu Kek Siansu sampai Pusaka Pulau Es.

Penggemar cerita silat Kho Ping Hoo sangat banyak yang setia. Mereka sudah gemar membaca karya Kho Ping Hoo sejak usia 10-an tahun hingga usia di atas 50-an tahun. Mula-mula mereka senang melihat gambar komiknya. Namun, lama-lama makin tertarik cerita tulisannya. Tak jarang penggemar mengoleksi karya-karya Kho Ping Hoo, bahkan mencarinya ke bursa buku bekas di kawasan Senen.

Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, berasal dari keluarga miskin. Dia hanya dapat menyelesaikan pendidikan kelas 1 Hollandsche Inlandsche School (HIS). Namun, ia seorang otodidak yang amat gemar membaca sebagai awal kemahirannya menulis.

Ia mulai menulis tahun 1952. Tahun 1958, cerita pendeknya dimuat oleh majalah Star Weekly. Inilah karya pertamanya yang dimuat majalah terkenal ketika itu. Sejak itu, semangatnya makin membara untuk mengembangkan bakat menulisnya.

Banyaknya cerpenis yang sudah mapan, mendorongnya memilih peluang yang lebih terbuka dalam jalur cerita silat. Apalagi, silat bukanlah hal yang asing baginya. Sejak kecil, ayahnya telah mengajarkan seni beladiri itu kepadanya. Sehingga dia terbilang sangat mahir dalam gerak dan pencak, juga makna filosofi dari tiap gerakan silat itu.

Karya cerira silat pertamanya adalah Pedang Pusaka Naga Putih, dimuat secara bersambung di majalah Teratai. Majalah itu ia dirikan bersama beberapa pengarang lainnya. Saat itu, selain menulis, ia masih bekerja sebagai juru tulis dan kerja serabutan lainnya, untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun, setelah cerbung silatnya menjadi populer, ia pun meninggalkan pekerjaanya sebagai juru tulis dan kerja serabutan itu, dan fokus menulis. Hebatnya, ia menerbitkan sendiri cerita silatnya dalam bentuk serial buku saku, yang ternyata sangat laris.

Hal itu membuat kreatifitasnya makin terpicu. Karya-karyanya pun mengalir deras. Cerita silatnya pun makin bervariasi. Tak hanya cerita berlatar Cina, tetapi juga cerita berlatar Jawa, di masa majapahit atau sesudahnya. Bahkan, selain secara gemilang memasukkan makna-makna filosofis, dia pun menanamkan ideologi nasionalisme dalam cerita silatnya.

Seperti kisah dalam cerita Sepetak Tanah Sejengkal Darah. Dia menyajikan cerita yang sangat membumi, akrab dengan keseharian. Juga melintasi batas agama, suku dan ras.

Kepopulerannya makin memuncak manakala merilis serial silat terpanjangnya Kisah Keluarga Pulau Es, yang mencapai 17 judul cerita, dengan ukuran panjang antara 18 sampai 62 jilid. Dimulai dari kisah Bu Kek Siansu sampai Pusaka Pulau Es.

Karya serial berlatar Jawa, yang juga terbilang melegenda antara lain Perawan Lembah Wilis, Darah Mengalir di Borobudur, dan Badai Laut Selatan. Bahkan Darah Mengalir di Borobudur, pernah disandiwararadiokan.e-ti/tian son lang, dari berbagai sumber

http://kangzusi.com/Kho_Ping_Hoo.htm

http://www.khopinghoo.com/


ASMARAMAN S. KHO PING HOO

foto terakhir sebelum meninggal

Kho Ping Hoo atau Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo
Dia legenda pengarang cerita silat. Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, yang kendati tak bisa membaca aksara Cina tapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa. Selama 30 tahun lebih berkarya, dia telah menulis sekitar 400 judul serial berlatar Cina, dan 50 judul serial berlatar Jawa.


Bahkan setelah dia meninggal dunia akibat serangan jantung pada 22 Juli 1994 dan dimakamkan di Solo, namanya tetap melegenda. Karya-karyanya masih dinikmati oleh banyak kalangan penggemarnya. Bahkan tak jarang penggemarnya tak bosan membaca ulang karya-karyanya. Kho Ping Hoo bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo.


Dia juga banyak mengajarkan filosofi tentang kehidupan, yang memang disisipkan dalam setiap karyanya. Salah satu tentang yang benar adalah benar, dan yang salah tetap salah, meski yang melakukannya kerabat sendiri. Kho Ping Hoo berasal dari keluarga miskin. Dia hanya dapat menyelesaikan pendidikan kelas 1 Hollandsche Inlandsche School (HIS). Namun, ia seorang otodidak yang amat gemar membaca sebagai awal kemahirannya menulis.


Ia mulai menulis tahun 1952. Tahun 1958, cerita pendeknya dimuat oleh majalah Star Weekly. Inilah karya pertamanya yang dimuat majalah terkenal ketika itu. Sejak itu, semangatnya makin membara untuk mengembangkan bakat menulisnya. Banyaknya cerpenis yang sudah mapan, mendorongnya memilih peluang yang lebih terbuka dalam jalur cerita silat. Apalagi, silat bukanlah hal yang asing baginya. Sejak kecil, ayahnya telah mengajarkan seni beladiri itu kepadanya, sampai 1959 baru ia berusaha "menciptakan" cersil. Cersilnya bukan saja populer sebagai cerita bersambung di majalah, melainkan ia sendiri pun menerbitkan dalam bentuk buku saku. Penerbit Gema di Solo adalah usaha yang dibangunnya. Selama 30 tahun, ia menulis 120 buah karya. Menurut pengakuannya, di antara karya-karyanya ada sebuah yang beijudul Bunga Teratai Emas yang merupakan karya terjemahan, sedangkan yang lain adalah ciptaannya.

Karya cerita silat pertamanya adalah Pedang Pusaka Naga Putih, dimuat secara bersambung di majalah Teratai. Majalah itu ia dirikan bersama beberapa pengarang lainnya. Saat itu, selain menulis, ia masih bekerja sebagai juru tulis dan kerja serabutan lainnya, untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


Namun, setelah cerbung silatnya menjadi populer, ia pun meninggalkan pekerjaanya sebagai juru tulis dan kerja serabutan itu, dan fokus menulis. Hebatnya, ia menerbitkan sendiri cerita silatnya dalam bentuk serial buku saku, yang ternyata sangat laris. Cerita silatnya pun makin bervariasi. Tak hanya cerita berlatar Cina, tetapi juga cerita berlatar Jawa, di masa majapahit atau sesudahnya. Bahkan, selain secara gemilang memasukkan makna-makna filosofis, dia pun menanamkan ideologi nasionalisme dalam cerita silatnya.

Karya-karya Kho Ping Hoo, umumnya boleh dikatakan terbagi atas cersil, "novel sejarah" Jawa, novel spionase dan novel percintaan. "Novel sejarah" Jawanya konon dibandingkan dengan karya penulis pribumi ditulisnya lebih dini, mutunya pun cukup tinggi. Novelnya yang berjudul Darah Mengalir di Borobudur paling menyenangkan untuk selera semua orang. Novel ini menampilkan dua tokoh yang mengesankan: Raden Pancapanadan Indrayana. Teater di Jawa sudah mengubah novel ini menjadi sendratari dan dipentaskan berulang kali. DiJawa, ada grup pertunjukan yang disebut "Siswo Budoyo" yang dipimpin oleh Cokrojiyo, yang gemar mengubah bermacam-macam novel sejarah Kho Ping Hoo menjadi sandiwara radio. Di samping Darah Mengalir di Borobudur, novel sejarah Badai di Laut Selatan mendapat sambutan juga.

Meskipun Kho Ping Hoo pernah menulis "novel sejarah" Jawa dan telah mendapat penghargaan yang tinggi atas usahanya, tetapi Jumlah karya yang terbesar dan yang membuat Kho terkenal adalah cersil.

Latar belakang cersil Kho Ping Hoo ada yang di Tiongkok, dan ada juga yang di Indonesia. Lantaran Kho Ping Hoo tidak mempunyai dasar bahasa Tionghoa, maka ia tidak mampu menyalin cersil Tionghoa. Namun, dengan membaca cersil-cersilnya, orang mendapat kesan, Kho menguasai benar kisah cersil Tionghoa. la juga tahu tentang sejarah dan kebudayaan Tionghoa, walaupun kadangkala ia keliru tentang tahun-tahun dinasti Tiongkok.

Jika diamati dengan saksama, seseorang yang pernah membaca cersil dan menonton beberapa film kungfu yang berdasarkan karya Ni Kuang dan Gu Long, kelihatanjalan ceritanya banyak persamaan, penyelesaiannya pun sangat miirip. Jadi, ketika Kho Ping Hoo menulis cersil pasti dipengaruhi kedua orang penulis tersebut.

Kho Ping Hoo dalam cersilnya sering membicarakan perkawinan campur Tionghoa-Indonesia, meskipun ini dianjurkan tetapi mesti didasarkan percintaan. Kho mengharapkan para pembaca bisa menerima manfaat yang terkandung di dalam cersilnya. Menggunakan cersil untuk memberi "kuliah" ini mirip dengan novel peranakan yang terbit pada awal abad kedua-puluh. Cara ini jarang ditemui pada cersil-cersil terjemahan. Mungkin ada hubungan dengan situasi Indonesia ketika itu. Pada akhir 1980, di Indonesia baru saja terjadi peristiwa rasialis. Kho Ping Hoo pernah menganjurkan perkawinan campur Tionghoa-Indonesia untuk menyelesaikan bermacam-macam masalah rasial.

Tujuannya menulis cerita silat, adalah untuk mengeluarkan isi hatinya dan menyampaikan saran-sarannya. la tidak berani mengeritik langsung pejabat pemerintah dan pegawai negeri yang korup. Akan tetapi dalam cersil-cersilnya, ia dapat mengatakan apa yang ia ingin sampaikan, tanpa mempertimbangkan hal-hal yang lain.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar