Sabtu, 05 Maret 2011

GADIS METROPOLIS / 1992

GADIS METROPOLIS
Tiga gadis yang saling bersahabat, Lisa (Sally Marcelina), Fanny (Inneke Koesherawati) dan Sandra (Febby R. Lawrence), adalah gadis metropolis yang hidupnya hanya hura-hura dan tanpa moral. Fanny dengan seenaknya tidur dengan Jacky, pacar Lisa yang barusan bentrokan. Lalu karena ia ingin jadi penyanyi, maka dengan gampangnya juga tidur dengan produsernya, sambil terus terang pada pacar yang dicintainya, dan lalu dikawininya, yaitu Maxi (Alex Kembar), yang homoseks. Sandra, seorang foto model, kepribadiannya hampir sama juga dengan Fanny. Perbedaannya, Fanny senang sama oom-oom yang berduit. Sedangkan Lisa yang dianiaya oleh teman-teman Jacky, dirayu terus oleh seorang tante yang lesbian, Mirna (Baby Zelvia). Suami Mirna lebih gila lagi. Dia selalu membawa perempuan pulang ke rumah. Ketika Lisa kembali lagi pada Jacky, maka ngamuklah Mirna. Jacky dibunuhnya.










NEWS
25 Juni 1994
Suara dari balik seluloid yang panas itu

INNEKE KOESHERAWATI, bintang Gadis Metropolis dan Kenikmatan Tabu, antara lain. "Saya sumpek kalau tak ada syuting," kata gadis 18 tahun ini. Kata orang, ia ngetop sejak berani melakukan adegan panas dalam Gadis Metropolis. Tapi buru-buru ia bilang keberaniannya masih sesuai dengan alur cerita dan masih ada pakaian yang melekat di tubuhnya. "Saya tak mau disuruh bugil," kata cewek 168 cm dengan berat 54 kg ini. Pertama kali mengenal syuting semasa SMP, menjadi figuran dalam film remaja, Lupus IV. Ia dibayar Rp 15 ribu untuk syuting seharian, kata juara kontes gadis berbakat versi majalah Gadis tahun 1990 itu. Ia pertama kali jadi pemeran utama dalam Misteri Ronggeng dengan honorarium Rp 300 ribu. Saat itu "saya tak punya modal akting, dan masih takut-takut." Ayahnyalah, seorang karyawan perusahaan swasta, pernah ikut grup teater di Bandung, yang mengajarinya pasang aksi di depan kamera. Apa yang dicarinya dari film-film yang mengharuskannya memamerkan bentuk tubuhnya itu? "Terus terang saja, uang," kata lulusan SMA PSKD II Matraman, Jakarta itu, seraya mengepulkan asap Dunhill mentol dan menenggak Capuccini. Dan duit itu kini tengah mengalir deras. Tahun ini ia bikin kontrak delapan film panas, dengan tarif Rp 10 juta hingga Rp 15 juta satu film. Dengan uangnya Ine kini pergi ke mana-mana dengan sedan Great Corolla, ditemani sebuah telepon genggam. Tak risi disebut bintang seks? "Habis, tak ada pilihan lain,"jawabnya. "Memang, saya disebut-sebut sebagai bomb sex, tapi itu berarti saya diperhatikan orang," ucap bibir tipisnya yang menebarkan bau parfum Kenzo yang lembut. TAFANNA DEWY, pemeran pembantu dalam Misteri Permainan Terlarang dan Gairah Malam. "Film itu bukan realita, antara keduanya tak saya baurkan," kata cewek kelahiran Yogyakarta 17 Juli 1974 itu. Bibir mungilnya disapu lipstik merah menyala. Rambut ikal kecokelatan, dan sesekali digerainya di sela dada dan punggungnya yang terbuka. Itulah Tafanna Dewy, artis panas pendatang baru yang sedang sibuk memilih lagu di sebuah karaoke di kawasan Kelapa Gading Permai, Jakarta, Jumat malam pekan lalu. Tak lama kemudian terdengarlah suaranya mendesah, mendendangkan Mutiara yang Hilang. Tafanna mengaku mulai gemar tampil di depan publik sejak di bangku SMA. Tahun 1990, disabetnya Putri Ayu Malioboro, setahun kemudian Putri Batik Indonesia, dan tahun 1992 ia merebut Putri Esteem 1992. Masuklah tawaran untuk menjadi model iklan dan kalender, tentu saja dalam pose pamer bentuk tubuh. Dunia film dimasukinya setelah bermain dalam sinetron Sebening Air Matanya (bersama Adi Kurdi dan Uci Bing Slamet), dan Si Buta Dari Goa Hantu tayangan RCTI sebagai Komariah Si Mawar Berbisa. Setelah dua kali berperan dalam film, tawaran main film mengalir, katanya. "Tapi, kok perannya itu-itu melulu," ujar cewek yang gemar mandi lulur ini. Baru dalam Tergoda Nafsu, yang baru akan beredar, ia mendapatkan peran utama. Tapi, ya, "itu-itu juga." Ia memerankan tokoh Elisa yang lembut, korban perkosaan. Gadis 167 cm dengan berat 48 kg ini mengaku melakukan adegan-adegan syur tanpa canggung. Karena sudah terbiasa? Bukan itu soalnya, tapi karena ia selalu dikawal sang ibu, sekaligus guru dan manajernya, hingga merasa aman. LELA ANGGRAINI, berperan pembantu di Kenikmatan Tabu, menjadi peran utama dalam film silat Selir Sriti. Tapi yang paling mengesankan buat Lela adalah film Skandal Iblis, film panasnya pertama. "Skandal iblis, ya apalagi kalau bukan skandal seks yang brutal," tuturnya sambil ngakak. Bercelana pendek, dengan kaus tanpa lengan, di rumahnya, pekan lalu, Lela kelihatan seadanya. "Bila perlu, ke warung saya cuma dengan kain melilit di tubuh," katanya tanpa bergurau. Janda kembang yang akan genap 27 tahun Oktober nanti itu sudah membintangi sekitar 20 film. Film pertamanya, setelah meninggalkan profesinya sebagai model di Surabaya, adalah film komedi Giliran Saya Mana, bersama Kadir dan Doyok. Ketika itu ia sekadar muncul sebagai figuran, hanya berbikini. Wanita 170 cm dengan berat 53 kg ini dengan sadar melakukan peran-perannya dalam film panas. "Produser tak mau rugi, mencari yang mau buka-bukaan, berani, cantik, mulus. Dan modal saya memang cuma itu, badan," katanya terus terang. Wanita yang bicaranya ceplas-ceplos ini toh tak mau melakukan adegan bugil. "Buat apa, kan nanti dipotong sensor juga, dan enak dong para kru film, mendapatkan hiburan gratis. Tapi mau juga, lo, kalau dibayar semiliar...," tawanya yang keras terdengar lagi. Berapa ia dibayar? Masih di bawah Rp 30 juta, katanya. Hasil main dalam filmnya antara lain berwujud 2 ha kebun pepaya hawai di Bogor, yang buahnya ia pasok ke beberapa pasar swalayan di Jakarta. AYU YOHANA, bintang dalam Susuk Nyai Roro Kidul. "Dulu, pada adegan perkosaan wanitanya masih pakai baju. Sekarang, wah ...," kata Ayu, yang sudah terjun dalam film panas sejak awal 1980-an. Janda yang tingginya 160 cm dan berat 48 kg ini mengaku tak sungkan melepaskan penutup dadanya, asal "sutradara yang minta". Bahkan mojang Priangan yang mogok SMA-nya ini siap melakukan adegan bugil bila saja aktris lain begitu juga, dan memang sutradaranya mengharuskannya begitu. Tekad Ayu terjun dalam film memang besar. Ia bersedia melakukan adegan buka-bukaan sekadar untuk merintis jalan ke dunia film. "Waktu itu ada yang bilang yang bisa jadi bintang film hanyalah orang-orang kaya," ceritanya. Tak tahunya, peran itulah yang kemudian selalu diterimanya, dan makin lama perannya makin panas saja. FERRY ANGRIAWAN, Produser PT Virgo Putra Film, yang sudah membuat 50 film. Beberapa di antaranya mendapat penghargaan. Cinta di Balik Noda, misalnya, mendapat Piala Citra pada Festival Film Indonesia 1985, untuk aktris utama terbaik (Meriam Bellina). Pada festival tahun 1986, Cinta Anak Zaman meraih Citra untuk aktor pembantu terbaik (Didi Petet). Tahun berikutnya, Selamat Tinggal Jeannete, pemeran pembantu wanitanya yang mendapat Citra (Ria Irawan). Dan Festival Film Indonesia 1988 memberinya Citra lagi untuk peran pembantu wanita (Ayu Azhari) dalam Dua Kekasih. Dengan prestasinya itu, toh Ferry terpaksa ikut arus, membuat film-film yang menyajikan adegan panas sebagai menu utamanya: Gadis Metropolis, Tiga Dalam Satu, dan beberapa lagi. Awalnya adalah terjangan film impor, tahun 1991. Ia mengaku ketika itulah mulai babak-belur. "Utang saya banyak," katanya terus terang. Ia bahkan sampai menjual rumah yang pernah ditinggali ketika masih menjadi suami Meriam Bellina. Maka, ia pun melakukan strategi menekan ongkos produksi: memakai artis yang belum punya nama. Maka, apalagi yang keluar dari cara itu bila bukan film syur tadi, tutur anak seorang pemilik sembilan bioskop di Sumatera Barat ini. "Mau bagaimana lagi, itu yang disenangi penonton sekarang?" katanya. Ferry punya resep sendiri untuk film-filmnya. "Yang penting citra, bukan detailnya. Dan itu bisa lewat ekspresi wajah, kaki, atau tangan yang seksi," katanya. Ia pun melakukan taktik yang tampaknya dilakukan oleh hampir semua produser film panas: gambar dan foto yang dipasang sebagai reklame filmnya sebenarnya tak ada dalam adegan sesungguhnya. Dengan resep itu ia mengaku bisa untung 30% dari modal Rp 250 juta -- rata-rata ongkos produksi film panas sekarang. Sebagai produser profesional, katanya, ia tak peduli filmnya dicap murahan, ngeseks, atau apa pun. Yang penting, dapur produksinya jalan. TJUT DJALIL, sutradara yang filmnya lima tahun lalu menghebohkan, Pembalasan Ratu Laut Selatan. "Film Indonesia sekarang sudah murni barang dagangan," kata lelaki berusia 62 tahun ini. Tjut termasuk orang film yang bicara blak-blakan. Coba dengar pendapatnya tentang film Indonesia belakangan ini. "Film Indonesia? Itulah film yang dibuat dengan biaya semurah mungkin, harus laku dijual, tak peduli segi artistik dan alur cerita. Pokoknya, ada adegan cumbu-mencumbu, cium-mencium, polos-polosan, lalu ah-eh-oh." Ia pun tak ingin sok-sokan membuat film horor atau film laga berbumbu seks, karena harus mengeluarkan ongkos untuk adegan-adegan tipuan yang biayanya mahal. Menurut pendapatnya, dunai film Indonesia kini dikuasai oleh produser. Dulu, misalnya, pengedar masih ikut menentukan artisnya. Malah kala itu produser menyetujui saja usul pengedar. Sekarang zaman sudah berbeda, kata Tjut, "produser yang punya duit yang menentukan segalanya. Dari soal cerita sampai bintangnya...." Sutradara tinggal menjalankan apa maunya produser. "Maka, kalau mau jujur, saya membuat film semata karena urusan perut," kata ayah sembilan anak itu, yang mengaku honorariumnya sebagai sutradara kini sekitar Rp 10 juta bersih. Orang Aceh yang pernah menjadi pegawai negeri lalu menjadi wartawan di Medan ini, awal tahun 1960-an, pindah ke Jakarta. Setelah diterima menjadi asisten sutradara, tahun 1974 film pertamanya lahir, Benyamin Spion 025, sebuah film komedi satir. Melihat sosok Tjut, sulit membayangkan bahwa dari tangannya lahir film-film merangsang. Tjut, yang berambut lurus, bertubuh ceking, adalah haji yang rajin salat. Meski dia yang mengarahkan artis untuk membuka ini-itu, ia mengaku tak pernah tergoda. "Mending perempuan desa, asli dan sederhana, jauh dari polesan rias wajah atau manipulasi keseksian karena operasi," katanya. Ia kini menunggu saat "pensiun". Ia mengaku mengalami konflik batin tiap membuat film panas. "Saya punya anak yang bekerja sebagai guru SMA," tuturnya. Itulah salah satu yang menyebabkan konflik batin itu, dan karenanya ia ingin bisa cepat berhenti dari dunia film. RAAM SORAYA, produser yang sudah bikin 50 film, demi film Indonesia mengaku pernah langsung meminta Badan Sensor Film melonggarkan guntingnya. "Saya minta supaya ada pancingan buat penonton, supaya mereka mau masuk bioskop yang memutar film Indonesia. BSF setuju. Dan bioskop luber lagi, bioskop kelas bawah tapi," tuturnya. Raam tidak membantah, filmnya banyak menampilkan adegan seks. "Tapi itu cuma bumbu," ujarnya. Dialah produser Pembalasan Ratu Laut Selatan. Dalam sebelas hari, sebelum terjadi protes dan ia menarik film itu dari peredaran, sudah 500.000 karcis terjual. "Karena film itu diributkan, orang malah penasaran dan mencari film itu," katanya kepada Rihad Wiranto dari TEMPO. Ada yang disayangkan Raam, bahwa film-film sekarang bebas ditonton semua umur. Mestinya itu cuma untuk orang dewasa, katanya. Bahkan film komedi Warkop, menurut dia tak cocok ditonton anak-anak, karena banyak adegan buka dada dan paha. Jebolan Institut Teknologi Surabaya ini masuk dunia film dengan menjadi distributor film di Jawa Timur, tahun 1973, terlebih dahulu. Baru tahun 1987 ia mendirikan PT Soraya Intercine Film. Sri Pudyastuti R., Wahyu Muryadi, dan Indrawan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar