Sabtu, 05 Februari 2011

ZOEBAIDA / 1941

ZOEBAIDA


Oriental film lebih sensasional dalam proyek ini, yaitu menyewa studio milik Belanda ANIF, yang mempunyai peralatan serba modren. Juru kameranya J.J.W.Steffens, sewa studio ini f1500. Dibelakangnya ada tanah luas yang sari sehingga bisa dibangun set kampung. Dengan alat modren, fasilitas yang tersedia ditambah pula tenaga-tenaga yang baik dari ANIF maka pengambilan gambar Zoebaida bisa diselesaikan dalam waktu hanya 27 hari saja. Dan pada Desember 1940 filmnya sudah bisa di pertunjukan. Di samping itu, penyewaan studio berat ini berarti menaikan gengsi Oriental. Tetapi sebaliknya ini merupakan beban biaya yang amat berat.

Film ini juga andalannya Fifi Young kepopulerannya. Pada publitisnya Zoebaida sudah tidak ada lagi tekanan mengenai segi anak wayang, tapi juga tidak ada upaya untuk bisa diterima oleh kalangan atas, cerita ini khayalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari sehingga tidak akan disukai publik atas.

Ceritanya sendiri model Timoeriana karya Nyoo Cheong Seng yang pernah sukses di panggung, yakni cerita khayalan dalam lingkungan primitif. Kisah ini berlangsung dekat Kupang Timor. dahulu pulau Timor adalah pulau yang nan jauh disana, masih terasing dan primitif serta mirip pulau-pulau di Hawaii, seperti digambarkan dalam film Hollywood yang dimainkan Dorothy Lamour yakni film yang menjadi model Terang Boelan. Ia mencampurkan adegan primitif dalam film ini, kostum yang primitif yang warna-warni menurut khayalan beliau seenaknya. Ada juga perkelahian seru serta dilengkapi dengan tujuh nyanyian. Selain itu, ada acara adat yang aneh-aneh. Fifi Young berperan sebagai topeng Intan. Nyoo main Hantam Kromo saja memberikan nama-nama Islam kepada penduduk primitif ini seperti Zubaida, Hambali, Leila dan lainnya. Nyoo sepertinya ingin bercerita pada penonton tonil yang butuh hayalan ke alam fantasti, menyaksikan sensasi dan hiburan untuk sekedar melupakan penderitaan hidup.

Walaupun memakai peralatan Modren tetapi kurang maksimal memanfaatkan tehnologi canggih itu. Film ini tidak menonjol pada tehnisnya, keritikan tajam diarahkan orang pada segi dialoq yang berbunga-bunga, ia memang romantik dan puitik. Orang terpelajar menilai filmnya ini sebagai berbau Stambul


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar