Kamis, 10 Februari 2011

Wim Umboh Tutup Usia

SUMBER : SUARA PEMBAHARUAN, 24 Januari 1996

Wim dengn Lukman Hakim Nain (Cinematographernya)

Jakarta, 24 Januari Sutradara film kawakan, Wim Umboh (63 tahun), Rabu pagi pukul 05.15 meninggal dunia di RS Husada, Jakarta Pusat, setelah dua malam dirawat karena diabetes. Jenazahnya dibawa ke rumah duka, Jalan Cengkeh No. 93 Depok Utara. Jenazah dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Pekerjaan film yang selama kariernya telah mengumpulkan 49 piala Citra (di antaranya 9 atas karyanya sendiri di bidang
penyutradaraan, editing dan skenario), selepas tahun baru 1996 nampak sehat. Wim yang terakhir lebih suka dipanggil Achmad Salim, memang pernah menderita sakit ketika menggarap film “Pengemis dan Tukang Becak” (1979), dan kesehatannya kadang-kadang menurun. “Sekarang saya betul-betul sehat”, kata Wim Umboh ketika dijumpai Pembaharuan Rabu (3/1) malam dalam acara ulang tahun isteri ketiganya, Inne, yang dinikahinya tahun 1984 dan memberikan seorang putra, William (9 tahun). Wim Umboh menikah tiga kali. Dari yang pertama memperoleh putri, Maria, yang telah memberinya dua cucu. Pernikahannya yang kedua dengan aktris Paula Rumokoy (almarhumah), tanpa anak. Pengakuannya tentang kesehatannya itu oleh Wim ditunjukkan lewat semangatnya untuk berkiprah di bidang penyutradaraan sinetron. Wim yang mengawali karier di bidang penyutradaraan sebagai asisten dalam film “Tiga Benda Ajaib” (1952), terakhir menggarap film layar lebar “Ayu Genit” (1990). Ketika orang film banyak yang beralih menggarap sinetron, Wim juga menggarap serial “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang dibintangi oleh Lenny Marlina dan ditayangkan di TPI. Ketika berbincang dalam suasana santai tiga minggu lalu, Wim Umboh menyatakan keprihatinannya terhadap dunia film Indonesia. Dengan kalimat yang agak kurang jelas dia menuturkan, “Sebetulnya film nasional bisa bangun kalau kita masih punya semangat untuk bersaing, dengan televisi atau film impor. Saya yang masih punya semangat, tapi tidak didukung oleh orang-orang (maksudnya, karyawan film). Jadi ide saya terbengkalai. Laboratorium Film Almarhum yang kelahiran Watulinei, Sulawesi Utara, bukan cuma aktif sebagai pekerja film. Bersama Nyoo Han Siang (almarhum, pemilik Inter Studio Film), tahun 1972 mendirikan perusahaan laboratorium film kedua di Pasar Minggu, yang dilengkapi peralatan mutahir dan tenaga ahli dari Jepang. Lewat tangan kedua almarhum itu pula, didirikan suatu lembaga pendidikan artis yang melahirkan bintang-bintang baru. Ditengah ramainya produksi film. Inter Studio juga sempat memproduksi lima film sekaligus, diantaranya digarap oleh Teguh Karya, Wim Umboh dan Yung Indrajaya. Dia juga terkenal sebagai sutradara spesialis film percintaan. Dari tangannya pula muncul pasangan bintang Sophan Sophiaan - Widyawati yang diorbitkannya lewat film “Pengantin Remaja” yang ceritanya diakui diilhami dari film “Love Story”. Karena film itu sukses di perbioskopan nasional, Wim kemudian lebih tertarik mengangkat tema percintaan, antara lain “Perkawinan”, “Cinta”, dan “Sesuatu Yang Indah”. Padahal, menurut rekan terdekatnya, SM Ardan, pada dekade 1960-an almarhum lebih suka menggarap tema-tema kaum pinggiran. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman kerja almarhum, yang dimulai sebagai pembantu umum (yang melayani kebutuhan artis) di studio Golden Arrow sampai menjadi produser di PT Aries Angkasa Internasional Film.

Wim dengan Media

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar