Rabu, 09 Februari 2011

Wahyu Sihombing










(lahir di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 15 Agustus 1933 – meninggal 30 Desember 1989 pada umur 56 tahun) adalah salah satu sutradara senior Indonesia. Ia adalah suami dari Tatiek W. Maliyati, penuli skenario senior Indonesia. Salah satu karyanya yang terkenal adalah serial televisi Losmen

Huruf W tadinya adalah singkatan dari Washington, tapi kemudian berubah menjadi Wahyu. Memasuki film mulai sebagai Pembantu sutradara Usmar Ismail dalam pembuatan Cita-Cita Ayah tahun 1960. Setelah empat kali membantu Usmar Ismail, tahun 1962, putra dari Gerhard Nababan ini mendirikan perusahaan film sendiri, Virgo Film dan menyutradarai produksinya : Balada Kota Besar, Impian Bukit Harapan tahun 1964. Film yang disebut terakhir ini tidak bisa beredar karena di larang oleh Sensor Film yang waktu itu di kuasai oleh simpatisan PKI.

Setelah film-film diatas, dia kembali membuat film Matinya Seorang Bidadari tahun 1970. Film ini skenarionya ditulisnya sendiri. Tapi untuk film-film berikutnya cerita dan skenarionya ditulis oleh istrinya, Tatiek Malyati, juga seorang yang lama belajar di ATNI. Dalam masa absen dari dunia film, Sihombing sibuk sebagai ketua I PARFI dalam Yayasan Film periode 1968-1970 menjadi anggota Dewan Produksi Nasional, sejak tahun 1968, terus menerus terpilih menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta dan sampai tahun 1976 duduk sebagai anggota Dewan Penggurus Harian, Menjadi Pengajar Akademi Teater LPKJ, sejak mulai berdiri, ikut mendirikan Yayasan Teater Nasional.

Sihombing beranggapan bahwa kelemahan film Indonesia sejak 20 tahun ini terletak pada skenarionya. “Bangunan Dramatiknya lemah”, kata pendiri Virgo Film (1959) dan studio 17 (1985) ini. Maka pernah didirikannya Sindikat Penulisan Skenario bersama Umar Khayam dan Arifin C. Noor. Proyek ini tak berjalan, sebab para produser kebanyakan lebih senang mengarang cerita sendiri, dan penulisan skenarionya dilakukan beramai-ramai oleh staffnya. Tahun 1977, Sihombing membantu Inter Studio menyelenggarakan kursus untuk calon pemain, dan menyutradarai film Gersang Tapi Damai, kemudian Gara-Gara Istri Muda”yang ia buat tahun 1978.

Seniman Teater yang pernah menjadi asisten sutradara Usmar Ismail (1959) dan mendirikan TeaterLembaga (1975) ini, meghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta pada tanggal 30 Desember 1989 karenaserangan jantung, meninggalkan 1 orang istri dan 4 orang anak, Ronggur, Jonggi, Danton dan Tiur Sihombing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar