Rabu, 09 Februari 2011

USMAR ISMAIL 1949-1970


USMAR ISMAIL

Film Director


Nama :Haji Usmar Ismail Mangkuto Ameh
Lahir :Bukit Tinggi, Sumatera Barat 20 Maret 1921
Wafat :Jakarta, 2 Januari 1971

Pendidikan :
HIS, MULO-B, AMS-A II (Barat Klasik) 1941,
Jurusan Film Universitas California Los Angeles, Amerika Serikat (BA-1953)

Karya :
“Puntung Berasap”(puisi), Sedih Dan Gembira dan Tjitra”(1949),
“Liburan Seniman”(1965),
“Darah Dan Doa dan Enam Djam di Jogya”(1950),
“Dosa Tak Berampun”(1951), “Terimalah Laguku”(1952), “Kafedo”dan “Krisis”(1953),
“Lewat Jam Malam”(1954),
“Tiga Buronan”(1957), “
Jendral Kancil”(1958), “
Asmara Dara”dan “Pejuang”(1959),
“Anak Perawan Disarang Penyamun”(1962).


Karier :
Ketua PWI (1947)
Ketua PPFI (1954-1965),
Ketua Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia),



LAGI-LAGI KRISIS 1955 USMAR ISMAIL
Director
LARUIK SANDJO 1960 USMAR ISMAIL
Director
PEDJUANG 1960 USMAR ISMAIL
Director
DOSA TAK BERAMPUN 1951 USMAR ISMAIL
Director
ANAK-ANAK REVOLUSI 1964 USMAR ISMAIL
Director
ANAK PERAWAN DI SARANG PENJAMUN 1962 USMAR ISMAIL
Director
TJITRA 1949 USMAR ISMAIL
Director
TAMU AGUNG 1955 USMAR ISMAIL
Director
AMOR DAN HUMOR 1961 USMAR ISMAIL
Director
DELAPAN PENDJURU ANGIN 1957 USMAR ISMAIL
Director
LIBURAN SENIMAN 1965 USMAR ISMAIL
Director
ENAM DJAM DI DJOGDJA 1951 USMAR ISMAIL
Director
KRISIS 1953 USMAR ISMAIL
Director
BAYANGAN DI WAKTU FAJAR 1963 USMAR ISMAIL
Director
HARTA KARUN 1949 USMAR ISMAIL
Director
KAFEDO 1953 USMAR ISMAIL
Director
SENGKETA 1957 USMAR ISMAIL
Director
ANANDA 1970 USMAR ISMAIL
Director
TIGA DARA 1956 USMAR ISMAIL
Director
BIG VILLAGE 1969 USMAR ISMAIL
Director
TOHA, PAHLAWAN BANDUNG SELATAN 1961 USMAR ISMAIL
Director
BAJANGAN DIWAKTU FADJAR 1962 USMAR ISMAIL
Director
ASRAMA DARA 1958 USMAR ISMAIL
Director
LONG MARCH, THE 1950 USMAR ISMAIL
Director
LEWAT DJAM MALAM 1954 USMAR ISMAIL
Director
JA MUALIM 1968 USMAR ISMAIL
Director.


Usmar Ismail, dikenal sebagai seniman serba bisa yang punya nama besar pada zamannya. Usmar adalah penyair, dramawan, wartawan, sutradara, dan pembuat film terkemuka Indonesia. Bapak perfilman Indonesia ini mewariskan karya-karya dalam bidang seni dan budaya yang masih bisa dinikmati hingga saat ini. Ia adalah sosok pejuang multidimensional yang penuh warna.

Kepeloporannya dalam perfilman Indonesia ditulis oleh Tatiek Malyati, sebagai berikut : “Saya kira dia pelopor pada zaman itu. Sebelumnya belum ada film-film yang bisa memberikan cerminan dari masyarakat, masalah-masalah yang ada dimasyarakat”. Sementara Chalid Arifin, dosen film di IKJ, menambahkan : “Ciri film Usmar itu linier, tidak berdasarkan urutan waktu dan terpecah-pecah. Ada beberapa kejadian yang semula lepas-lepas tetapi kemudian kumpul menjadi satu. Itu luar biasa, sampai sekarang mungkin nggak ada film Indonesia seperti itu”.

Dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beribadah. Usia tujuh tahun Usmar sudah pandai mengaji. Setamat HIS dan Tawalib di Batusangkar bungsu dari enam bersaudara ini melanjutkan sekolah ke MULO di Padang Panjang. Kemudian Usmar yang pandai menggambar bersama dengan sahabatnya Rosihan Anwar merantau ke Jawa. Di Yogyakarta Usmar melanjutkan ke AMS-A II jurusan Klasik Timur. Masa sekolah Usmar Ismail yang indah di Yogyakarta terganggu oleh masuknya balatentara Dai Nippon ke Indonesia. Dengan Mengantongi ijazah darurat Usmar pergi ke Jakarta dan tinggal dengan kakaknya, Dr. Abu Hanifah. Ia kemudian bekerja di kantor pusat kebudayaan dan aktif mengembangkan bakatnya menulis cerpen, syair, dan naskah drama. Menutur Asrul Sani, dalam pengantar buku Usmar Ismail Mengupas Film, sebagai penyair ia merupakan generasi penutup yang menulis puisi dengan gaya Pujangga Baru.

Pada tahun 1943, Usmar bersama Rosihan Anwar dan Abu Hanifah mendirikan perkumpulan sandiwara amatir Maya. Diperkumpulan sandiwara itu Usmar yang menikahi Sonia Hermine Sanawi, gadis Betawi dan rekan kerjanya. Menurut Nano Riantiarno, sutradara Teater Koma, apa yang diproduksi Maya boleh dibilang sebagai cikal-bakal teater modern Indonesia. Pada awal revolusi Usmar Ismail memasuki dinas ketentaraan dan aktif di bidang kewartawanan. Bersama dengan Syamsuddin Sutan Makmur dan Rinto Alwi, Usmar dan kawannya mendirikan surat kabar Rakyat. Ketika para pemimpin Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta Usmar ikut serta. Di Yogya ia mendirikan harian Patriot dan majalah kebudayaan Arena. Pada tahun 1947 Usmar yang tetap aktif berkesenian terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia.

Usmar pada saat pendudukan Jepang
.

Tahun 1946, pemerintah RI pindah ke Yogjakarta, karena dinilai Jakarta tidak aman karena dikuasi Belanda. Mereka yang pro Republik akan mengungsi keluar Jakarta yaitu Yogjakarta mereka di sebut mengungsi ke pedalaman, yang disebut kaum Noon, Non Kooperatif. Mereka ikut pemerintah RI pindah ke Yogjakarta, juga pusat kebudayaan yang berisi Usmar Ismail, Suryo Sumanto, D.Djajakusuma, Gajus Siagian, dan Hamid T, Djamil. Di luar itu bergabung juga penyair muda Asrul Sani. Mereka di rekuit oleh Zulkiffli Lubis, bagian inteligen Propaganda. Usmar Ismail menjadi Mayor TNI, sedangkan yang lain berpangkat Kapten dan Letnan. Mereka mendirikan koran Patriot 1947. Usmar Ismail terpilih menjadi ketua umum PWI. Sedang Asrul Sani di kirim Kol, Lubis ke Jakarta dan bergabung dengan pasukan 0001, diwilayah yang dikuasi Belanda. Tugasnya untuk membantu dan menyiapkan untuk pasukan Indonesia yang menyegrap dan menyusup ke Belanda. Tugasnya mirip dengan mata-mata yang menganaisa pergerakan Belanda.

Sedangkan di tempat tinggal Usmar Ismail di Yogjakarta, ada kegiatan diskusi film, pesertanya adalah Usmar dan kawan-kawan, film yang diputar adalah Gone With the Wind, lalu mereka diskusikan film itu dari berbagai sudut. Sesekali mereka datangkan RM.Soetarto untuk mengajarkan proses pembuatan film. Usmar masih terkesan dengan makna, fungsi, dan arti film yang diberikan oleh Jepang. Mereka melihat film adalah benda seni, sedang jepang adalah benda propaganda, tetapi saat jaman Belanda film adalah sebuah hiburan belakan yang menitik beratkan pada penonton berbagai golongan, bawah, menengah, terpelajar, nigrat, Belanda totok dan lainnya, sehingga film mengikuti pasarnya.

Banyak yang mempertanyakan Usmar Ismail tiba-tiba muncul di stuio milik Belanda, sebagai asisten Andjar Asmara saat. Ini sangat aneh karena Usmar adalah seniman pemikir, Mayor TNI, Ketua PWI, bagaimana tiba-tiba ia muncul di Perusahaan film Belanda, studio Multi itu? Semua orang tahu, 1947 Usmarjuga direktur surat kabar Patriot, bertugas meliput perundingan Renville. Selanjutnya, ia di tangkap Belanda karena selain ia wartawan tapi juga Mayor TNI. Ia di jebloskan ke penjara Cipinang. Ia dibebaskan diduga karena Chairril Anwar melalui pertolongan sahabatnya berkebangsaan Belanda dan juga wartawan perang kantor Perancis. Saat muncul Komunis, beberapa seniman yang sehaluan menuding Usmar adalah pro Belanda pada masa Revolusi. Sitor Situmorang yang berhaluan kiri, menuding Usmar.

Tentu pertemuan rutin itu tidak bisa berkembang karena memang tidak ada yang paham sekali tentang proses pembuatan film. Ternyata pejabat pemerintah juga merasakan arti penting film dalam kemerdekaan Indonesia. Hal ini terbukti dari didirikannya sekolah film Kino Drama Atelier (KDA, adalah yayasan) dan Stichting Hiburan Mataram (STM) di Yogja oleh mentri penerangan. Adapun pendiri KDA adalah Dr.Huyung, Djajakusuma,D.Suraji. dan lainnya. Dr. HUyung adalah orang Jepang yang tidak mau pulang ke negerinya, ia pun ikut dalam kegiatan sandiwara. Muridnya antara lain Soemardjono. Sedangkan yang sekolah di Yogja adalah Alam Surawidjaja dan Deliana. Yang menarik dari sekolah itu adalah tidak adanya pengajar yang menguasai bidang film. Pernah datang seorang dengan membawa kamera ke dalam kelas. diletakan di depan kelas. Semua murid tentu antusias ingin mendengarkannya, sang pengajar menjelaskan alat yang ia bawa adalah kamera film, siswa jangan pegang, lalu ia cerita tentang pembuatan film pada umumnya., tidak menyinggung tentang kamera.

Sedang film Usmar memnyimpang dari model cerita film sebelum perang, karena ia berkembang dalam masa romance dan novel Balai Pustaka.

Usmar Ismail memenuhi panggilan hidupnya di dunia perfilman. Minatnya membuat film dengan kemampuan tenaga Indonesia semakin membara. Pada 1950 Usmar dan kawan-kawannya mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini). Usmar memproduksi film pertamanya Darah dan Doa tahun 1950, Enam Djam di Yogya”tahun 1950 dan Dosa Tak Berampun”tahun 1951. Dengan keterbatasan modal, sumber daya, dan peralatan Usmar bisa membuat film-film yang setara dengan film-film dari luar negeri pada zaman itu. Film pertamanya Darah dan Doa, atau lebih dikenal dengan judul asing The Long March, yang mengisahkan Long March pasukan Siliwangi diberi kesempatan diputar perdana di depan Presiden Soekarno.

Pada tahun 1953 Usmar Ismail mendapat beasiswa dari Rockfeller Foundation untuk mendalami sinematografi di Universitas California Los Angeles, Amerika Serikat. Usmar Ismail juga mempunyai keinginan yang kuat untuk memajukan teater modern di Indonesia. Setelah mendirikan kelompok sandiwara Maya, pada tahun 1955 Usmar mendirikan Akademi Teater Nasioanl Indonesia (ATNI), sebuah cikal-bakal “Teater sekolahan” di Indonesia. Menurut Asrul Sani ini merupakan upaya lain Usmar untuk membuka jalan baru untuk pertumbuhan teater modern di Indonesia.

Dalam dunia perfilman Usmar Ismail telah menghasilkan 25 judul film. Beberapa karyanya mendapat penghargaaan dari pemerintah dan dalam berbagai festival film internasional. Hari pertama syuting film Darah Doa, 30 Maret, dinyatakan sebagai Hari Film Nasional. Bersama dengan tokoh-tokoh perfilman luar negeri Usmar mempelopori terbentuknya Federasi Produser Asia Pasifik. Dalam rangka mempromosikan film dan artis Indonesia. Usmar Ismail yang juga dikenal sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) yang bernaung di bawah Nahdlatul Ulama, mendapat penghargaan tertinggi Piagam Widjayakusumah dari Presiden Soekarno. Pengurus PBNU ini lalu memasuki kiprahnya sebagai anggota DPR-Gotong Royong.

Usmar Ismail adalah cermin insan film yang bekerja dengan penuh idealisme sekaligus sejumlah kompromi. Di tengah maraknya kritik dan lesunya film nasional Usmar mengembuskan nafasnya yang terakhir pada 2 Januari 1971 dalam usia 49 tahun karena pendarahan otak. Haji Usmar Ismail Mangkuto Ameh adalah sosok pejuang yang pantas menjadi teladan. Dan nama Bapak Perfilman H. Usmar Ismail dibilangan Kuningan Jakarta Selatan.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar