Jumat, 04 Februari 2011

TJINTAKU DJAUH DIPULAU / 1972


TJINTAKU DJAUH DIPULAU
Cintaku Jauh di Pulau













C
hairil Anwar, WS Rendra, dan Mansur Samin. Chairil adalah penulis sajak Cintaku Jauh Dipulau, yang diberi judul yang sama. Karena film ini juga dibuat di sebuah pulau di teluk Jakarta. Judul film sama dengan judul puisi Chairil Anwar, yang konon dijadikan ilham. Film dicetak dalam ukuran 70mm stereo dan 35mm.

CINTAKU JAUH DI PULAU
Chairil Anwar

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946



Tapi sayang sajak yang baik itu tidak tertulis dengan baik juga dalam skenario yang ditulis oleh Motinggo. Ia memiliki pengalaman dalam menulis novel panjang. Niatnya baik, ia ingin mengungkapakan aspek kemanusiaan tokoh-tokohnya melalui cara pendekatan hal-hal kecil yang biasanya kurang diperhatikan orang. Walapun dinilai gagal.

Selain cerita ini diilhami oleh Sajak Chairil Anwar dan WS.Rendra dan Mansur Samin main dalam film ini, yang paling utama adalah seberapa jauh pemain teater bisa berperan dalam film dan berhadapan dengan kamera. Dalam film ini WS.Rendra gagal berhadapan dengan kamera. John Gilgud dan Richard Burton menyebutkan 2 hal yang penting adalah aktor yang cemerlang di depan kamera maupun di pentas.

Film ini bercerita tentang wabah Kolera di sebuah pulau. Banyak pertanyaan dari penonton yang menilai film ini tidak nyambung. Ini salah satu film yang mengorbankan apa saja asal ceritanya jalan, yang pada akhirnya yang menjadi korban adalah ceritanya itu sendiri. Tetapi film ini memberi masukan dalam soal pemilihan tema dan lokasi di sebuah pulau. Pada saat itu gencar-gencarnya orang film menginginkan film Indonesia menjadi turan rumah di negeri sendiri. Walaupun yang dihasilkan cuma film seperti ini.

NEWS
Motinggo Boesje berhasil mengajak Rendra bermain film. Tentu, karena Boesje pun orang teater, yang membuka ladang penyutradaraan film nasional, sejak film "Biarkan Musim Berganti" (1970).

Dalam penanganan Boesje di film komesial, "Tjintaku Djauh di Pulau" (1972), Rendra tampil berperan antagonis sebagai Pak Bondan. Sosok ayah Tina (Rima Melati), yang urakan. Dengan totalitas karakteristik Pak Bondan, Rendra tampil dalam keutuhan tuntutan perannya, meski belum terbebas dari warna teaterikal. Namun, kekuatan pasar film ini, tidak terlalu mempertaruhkan nilai jual W.S. Rendra, tetapi justru lebih bertumpu pada duet komersial alm. Sophan Sophiaan dan Widyawati, yang kejayaanya tengah memuncak.

Sungguh pun begitu, kelahiran "Tjintaku Djauh di Pulau" banyak menarik pembicaraan orang karena kesiapan W.S. Rendra untuk tampil di depan kamera film, dan kesungguhan Motinggo Boesje menebus kegagalan pasar film "Biarkan Musim Berganti".

05 Agustus 1972


Teriak rendra & inisiatif boesye
FILM kedua Motinggo Boesje telah beredar. Kali ini, bekas penulis tjerita-tjerita populer itu datang bersama Chairil Anwar, WS Rendra dan Manur Samin (perhatian: ketiganja penjair). Pelopor Angkatan 45 tentu sadja dalam persadjakan) itu kebagian kehormatan lantaran sjairnja Tjintaku Djauh di Pulau mendjadi djudul film, sebab konon sadjak romantis itulah pula jang diadaptasi Boesje kedalam bentuk skenario. Sedang 2 penjair lainnja mendapat kesempatan untuk pertama kali muntjul didepan kamera. Dan lahirlah film tjintaku Djauh Dipulau (TDD), antara lain karena film tersebut dibuat pada sebuah pulau diteluk Djakarta. Ini tentu harus dikatakan, sebab nampaknja sipenulis skenario lebih banjak berlindung dibalik nama Chairil Anwar daripada mentjiptakan sesuatu kisah jang paling sedikit memiliki daja pesona jang kental sebagai jang terpantjar dari sjair jang kemudian terbukti buma saduran dari karja penjair Spanjol jang bernama Lorca.

Karena itu besar kemungkinan bahwa lebih terasa enak andaikata Boesje mengaku sadja diilhami Chairil, sebab karja djenis demikian bisa lebih djuga bermutu, tapi kalau sebaliknja orangpun bisa mafhum. Samin. Sebagai suradara Boesje memang memperlihatkan kemadjuan. Namun sebagai penulis skenario, nampaknja ia masih harus lebih tekun. Pengalamannja sebagai penulis novel populer dimana ia bisa berbukan-bukan sambil berpandjang-pandjang- kelihatannja meninggalkan pengaruh jang kurang menguntungkan. Hasrat Boesje memang baik, ia ingin mengungkapkan aspek kemanusiaan tokoh-tokohnja melalui tjara pendekatan hal-hal ketjil jang biasanja Kurang diperhatikan orang. Tapi Boesje belum seorang Tjekov, meskipun tidak pula harus dikatakan bahwa sutradara muda ini selalu gagal dalam usahanja. Lihatlah tokoh Tambun (Mansur Samin) dalam TDD ini. Selain utuh pelukisannja djuga tjukup subtil, sehingga sukar untuk menjangkal bahwa Tambun memang seorang manusla jang bisa atau bahkan pernah kita temukan. Tentu harus diakui bahwa pentjapaian jang demikian itu antara lain djuga disebabkan oleh permainan Mansur Samin jang baik. Nah, kalau Mansur Samin sudah disebut-sebut, tidak afdol kalau WS Rendra dibiarkan. Bahwa penjair asal Sala ini populer, itu betul.

Tapi jang lebih menarik lagi adalah ini: bagaimanakah dia sebagai orang teater- ketika harus berhadapan dengan kamera? Tokoh Bondang, duda tua jang hidup dipulau bersama seorang anak gadisnja sesungguhnja tokoh jang menarik, sekiranja Rendra berusaha lebih banjak daripada hanja mondar-mandir dan berteriak-teriak. Sajangnja kesempatan ini dibiarkan begitu sadja oleh Rendra. Tentu sadja kegagalan Rendra disini tidak dengan sendirinja membuktikan bahwa orang Teater selamanja tidak betjus berhadapan dengan kamera. John Giclgud dan Richard Burton untuk menjebutkan dua diantara daftar jang masih tjukup pandjang adalah aktor-aktor jang tjemerlang baik didepan kamera maupun dipentas teater. Tapi film TDD ini bukan semata tjatjat karena kekurangan Rendra. Sebab Boesje sendiri ternjata djuga punja andil jang mengganggu penonton. Ia misalnja patut dituntut oleh penonton mengenai menghilangnja Rina Hasim (sebagai pembantu suster) ketika suster Narti (Widyawati) mulai diadjak bermain asmara oleh dr Darko (tentu ini dimainkan oleh Sophan Sophian), dan muntjul kembali ketika wabah kolera hinggap dipulau terpentjil mereka. Ini memang penjakit rutin film-film hiburan jang gemar mengorbankan apa sadja agar tjerita djalan, meskipun jang achirnja djadi korban adalah tjerita itu sendiri. Entah supaja apa, tapi disini djuga ada adegan bertjinta dalam air.

Tapi ini meskipun tidak mempunjai peranan dalam keutuhan tjerita - boleh sadja ada, paling sedikit untuk membuktikan bahwa orang-orang dinegeri ini djuga bisa menjelam sambil bikin film. Dan meskipun Boesje tidak sesukses Teguh Karya dalam menangani Rima Melati, dan pasangan Sophan Widya sebagai jang pernah dihasilkan Wim Umboh, Motinggo Bustami Djalid Boesje tidak perlu berketjil hati: filmnja jang kedua ini bagaimanapun tidak tergolong film-film konjol sebagaimana jang kini banjak dibikin oleh saudara-saudara kita jang konon berharap mendjadi tuan-rumah dinegeri sendiri. Disamping ketekunan kerdja, Boesje djuga harus dipudji atas inisiatifnja mentjari daerah lain untuk film jang kisahnja tidak djauh berkisar dari tjerita-tjerita tjinta jang sudah hampir mendjadi mata pentjahariannja tetap Sophan dan njonja

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar