Rabu, 02 Februari 2011

The Tiger from Tjampa / Harimau Tjampa / 1953

HARIMAU TJAMPA

Lukman  receives instruction in silat from Pak Saleh
Pak Saleh uses silat to subdue Datuk Langit's henchmen  who have ambused him.

Dengan dendam terhadap pembunuh ayahnya, Lukman (Bambang Hermanto) berguru silat di kampung Pau. Mula-mula ia minta pada Datuk Langit (Rd Ismail), tapi dimintai bayaran tiga kerbau. Akhirnya ia belajar pada seorang guru yang dilihatnya berhasil mengalahkan musuhnya dalam sebuah perkelahian. Guru ini memberi syarat agar silatnya tidak dipergunakan sembarangan. Lukman berjanji. Berulang kali janji itu dilanggar, tapi selalu dimaafkan, hingga dia tamat memperoleh ilmu silat. Janji ini dilanggar lagi saat ia tengah berjudi. Bandar judi yang menghalangi percintaannya secara tak sengaja tertusuk pisaunya sendiri. Lukman masuk penjara. Di dalam penjara itu diperoleh kepastian bahwa pembunuhan itu atas perintah kepala negeri, yaitu Datuk Langit. Lukman meloloskan diri dari penjara untuk bikin perhitungan. Datuk Langit diringkus dan diserahkan ke polisi sebagai pembunuh, sedangkan Lukman juga menyerahkan diri buat menjalani sisa hukuman. Latar belakang Minang dalam musik, petatah-petitih, adat dll tampil dalam film ini.

Malin Maradjo adalah juara silat dalam PON II 1951.

Filmed largely on location in 1953 in villages in West Sumatra (the region of the matrilineal Minangkabau people) Djayakusuma's The Tiger from Tjampa is still highly regarded today in Indonesia as an early fine portrayal in a fiction film of aspects of a traditional regional culture.

Set in the 1930s, and narrated like a ballad from the past, The Tiger from Tjampa tells of how a young man, Lukman, seeks to avenge his father's murder by learning pencak silat, a traditional form of self defence, based on the movements of animals. The pencak silat seen in the film is regionally specific to West Sumatra. Silat in many other Indonesian films is often mixed with the kung fu of Hong Kong cinema.







The Tiger from Tjampa is exceptional in its evocation of a unique region and milieu. Apart from some of the main actors, almost everything in the film is from West Sumatra. All the film's quite varied music is from West Sumatra, and so are its dances. In its dialogue the film strikingly uses 'peribahasa' - maxims and proverbs handed down for generations with in the oral culture - with their characteristic lilting Minangkabau rhythms. As well, the film displays the intense spirit of community that underlies educational practises in an oral culture.

The Tiger from Tjampa is by no means simply a story of revenge, but is really an exploration of the practise and philosophical bases of pencak silat, and its relation to Islamic values. Lukman is repeatedly shown to be intemperate, and easily provoked. Besides learning silat, Lukman must also learn perseverance and self restraint. He must learn to "tunggu sabar" i.e remain patient. Harimau Tjampa contains numerous scenes of students practising pencak silat (with lessons conducted by a famous master, who appears in the film) and scenes of combat.

Guests watch a  parasol dance in the celebrations before the wedding.

Djayakusuma, who took this project over from Usmar Ismail, is remembered in Indonesia as one of the first to make feature films in regional areas, after the coming of independence. Both as a filmmaker, and as a teacher at the Jakarta Institute of the Arts, Djayakusuma's advocacy for a cinema engaging with the regions influenced younger generations of directors to follow his example, among those being Slamet Rahardjo and Garin Nugroho.

Film Harimai Tjampa juga dikabarkan sempat menimbulkan kehebohan di masyarakat umum, karena dalam film ini salah satu pemerannya Nurnaningsih tampil berani setengah bugil, dan hal tersebut belum pernah terjadi dilakukan dalam film pendahulunya.

Berikut adalah sedikit sinopsis film Harimau Tjampa, dimana sinopsis film ini, diperoleh blog Karo Cyber dari salah satu situs ensiklopedia, wikipedia

Dengan dendam terhadap pembunuh ayahnya, Lukman (Bambang Hermanto) berguru silat di kampung Pau. Mula-mula ia meminta pada Datuk Langit (Rd Ismail), tetapi dimintai bayaran tiga kerbau.

Akhirnya ia belajar pada seorang guru yang dilihatnya berhasil mengalahkan musuhnya dalam sebuah perkelahian.
Guru ini memberi syarat agar silatnya tidak dipergunakan dengan sembarangan, dan Lukman pun berjanji.

Berulang kali janji itu dilanggar, tetapi selalu dimaafkan oleh gurunya itu, hingga ia tamat memperoleh ilmu silat. Janji ini dilanggar lagi saat ia tengah berjudi.
Bandar judi yang menghalangi percintaannya secara tidak sengaja tertusuk pisaunya sendiri. Lukman pun masuk ke dalam penjara.

Di dalam penjara itu diperoleh kepastian bahwa pembunuhan itu atas perintah kepala negeri, yaitu Datuk Langit. Lukman meloloskan diri dari penjara untuk membuat perhitungan.


Datuk Langit diringkus dan diserahlan ke polisi sebagai pembunuh, sedangkan Lukman juga menyerahkan diri buat menjalani sisa hukumannya.







News

01 Mei 1971
Serat centini, lalu harimau campa

BELUM diselidiki adanja hubungan antara kebiasaan mengintip pertundjukan sandiwara bangsawan dimasa ketjil dengan karir sutradara film dimasa dewasa. Tapi kasus itu terdjadi pada D. Djajakusuma. Dilahirkan dalam keluarga Wedana di Wonosobo, anggota Akademi Djakarta jang kini memasuki tahun ke 53 dari hidupnja jang membudjang, pada masa ketjilnja ia menikmati pendidikan jang tjukup. Pak Wedana gemar mengumpulkan buku, dan Djaduk demikian nama ketjilnja jang mengerti tulisan Djawa achirnja berkesempatan membatja berbagai sumber kesusastraan klasik Djawa. "Tjentini djuga saja batja waktu itu, meskipun isinja tidak saja mengerti", katanja. Salah satu diantara buku jang penuh bergambar perempuan telandjang dan bisa dimengerti djika anak ketjil tadi, suka menjobek gambar-gambar asjik itu untuk dibagi-bagikan kepada teman-temannja. Masa remadjanja dilewatinja dikota Semarang, dan pada AMS bagian B. Djajakusuma tidak djarang mengisi kegiatan kesenian sekolahnja dengan sandiwara-sandiwara jang membawakan tjerita-tjerita matjam lakon "Sitti Nurbaja". Dari beberapa temannja bersandiwara itu antara lain Nugroho SH, Letdjen Mokoginta hanja Djajakusuma lah jang achirnja terikat dengan dunia seni itu untuk seterusnja. Kemudian ia mentjari pekerdjaan dan achirnja terdampar dikantor Pusat Kebudajaan sebagai penterdjemah. Ditahun 1943 itulah ia untuk pertama kalinja bertemu dengan Usmar Ismail, suatu awal dari kehidupan dengan dunia sandiwara dan film. Pada mulanja ia hanja diadjak oleh Usmar. Melalui kedudukan sebagai pemain, pengatur set serta segala matjam kedudukan, beberapa tahun kemudian sepulang dari Amerika (mempeladjari film dan teater di Universitas Washington & Universitas Southern California) ia mendjadi sutradara sandiwara sambil mendjadi dosen ATNI, setelah sebelumnja telah pula menjutradarai beberapa film. Ketika Djepang menjerah dan perang kemerdekaan berketjamuk, bersama seniman-seniman lain, Djajakusuma ikut berdjuang dalam Rombongan Seniman Merdeka. Suasana Djakarta jang semakin panas, membawa mereka ke Jogjakarta.

Disanalah, diantara kesibukan bergerilja, Djajakusuma sempat selama setahun mendjadi sekretaris Panti Pengetahuan Film. Walaupun umurnja hanja setahun, namun organisasi itu berhasil menanamkan pengetahuan dasar teori perfilman kepada tokoh-tokoh muda matjam Usmar Ismail, Surjosumanto, Djajakusuma dan lain-lain. Orang-orang muda itu betul-betul telah memanfaatkan pengetahuan jang mereka peroleh dari senior-senior matjam Dr Huyung, Andjar Asmara, Sutarto dsb, meskipun pendidikan jang mereka terima semuanja dalam keadaan serba darurat. Pengakuan kedaulatan merupakan periode baru buat Djajakusuma. Usmar ke Djakarta, dan ia tinggal sibuk dengan gedung bioskop Seni Sono di Jogja. "Sajalah jang merehabilitasi bioskop disamping Gedung Agung itu, dan disitu pulalah saja beladjar soal perbioskopan". Tapi Usmar tiba-tiba datang dengan crew Enam Djam di Djokdja. Tidak banjak bitjara, Djajakusuma achirnja ikut main sambil djadi asisten sutradara serta merangkap berbagai pekerdjaan, antara lain memanggul kamera. Itulah debutnja dalam film. Itu pulalah jang menariknja ke Djakarta. Perfini kemudian memberinja kesempatan kerdja untuk achirnja mendjadikan Djajakusuma sebagai sutradara dengan film pertama Embun. Orang jang dojan nonton film Indonesia achir tahun limapuluhan tentu masih ingat Harimau Tjampa. Itulah salah satu filmnja, disamping film-film Tjambuk Api, Mak Tjomblang, Pak Prawiro serta banjak lagi jang Djajakusuma sendiri lupa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar