Sabtu, 05 Februari 2011

TIGA BURONAN / 1957

TIGA BURONAN
Latar belakang kisah adalah masa pasca perang kemerdekaan, dimana banyak gerombolan-gerombolan liar yang mencoba menguasai sebuah daerah. Maman (Bambang Irawan) pulang ke desa bersamaan dengan larinya Mat Codet (Bing Slamet) dari penjara. Sasaran pertama gerombolan Mat Codet adalah Pak Haji (Udjang), ayah Ginah (Chitra Dewi), pacar Maman. Usaha ini tak berhasil, sebab dihalangi oleh Maman. Kemudian Maman berhasil menundukkan Bodin maupun Sabeni (Menzano), anak buah Mat Codet. Terpaksa Mat Codet turun tangan langsung. Maman terdesak. Untunglah Ginah mendatangkan bantuan pasukan Brimob. Maman adalah anggota pasukan yang ditugaskan menyusup ke desa itu, untuk menangkap Mat Codet. Film kedua Nja Abbas Acup (1932-1991) ini makin jelas menunjukkan kekuatannya sebagai pembuat komedi dan satire. Bentuk film ini boleh dikata meminjam bentuk lenong, apalagi ilustrasi musiknya adalah gambang kromong, hingga cerita yang sebenarnya serius ini menjadi ringan
111 menit. Dibintangi Bing Slamet, Bambang Irawan, Citra Dewi, Udjang, Menzano. Ini adalag produksi PERFINI (Perusahaan Film Nasional Indonesia) diselesaikan tahun 1957. Menampilkan Bing Slamet aktor komedian sebagai tokoh utama, mengambil sudut desa sebagai tempat terjadinya cerita. Ceritanya teror yang dilakukan 3 jagoan dibawah pimpinan Mat Codet (Bing Slamet), desa menjadi mangsa yang paling empuk bagi gerombolan Mat Codet. Karena tak seorang pun yang berani melakukan perlawanan. lalu keadaan berubah ketikan Maman (Bambang Irawan) berada kembali di desa itu sejak 10 tahun pergi. Dengan bantuan polisi Hermanto ( Bambang Hermanto) akhirnya gerombolan itu dapat di bekuk. Dan ternyata Bambang adalah polisi yang menyamar, selain sukses membekuk gerombolan ia pun mencuri hati seorang gadis desa (Citra Dewi) anak pak Haji (Ujang).
Seperti umumnya film Indonesia, Tiga Buronan ini dibuat standart, hitam putih, , dan film ini bukan karya yang sembrono persiapan tehnisnya. Ceritanya sangat sederhana sangat nyata dalam realitanya, saat itu memang masih banyak gerombolan pengacau perampok di desa-desa terutama di Jawa Barat. Semua yang ditampilkan dalam cerita dan film sangat dekat dengan masyarakat sehingga tidak asing lagi. Dan karena itulah makanya kenapa film lama ini masih aktuil di tonton pada saat sekarang.

Filmnya dikerjakan dengan rapi sekali. Semua tehnisnya baik, juru kamera sangat tertata baik, editing dan pengisian suara juga sangat singkronisasi. Disini semua pemainnya baik dan bagus, Bing Slamet tetap Slaptis serius tapi lucu.

Jadi saat itu, yang dimaksud dengan film Indonesia bukan hanya aktris-aktor dan crew filmnya orang Indonesia, selain produksi perusahaan Indonesia, cerita juga harus berasal dari Indonesia sendiri. Walaupun saat ini banyak cerita yang diadaptasi dari luar negeri, Taiwan, China, Hongkong, India Eropha bahkan Amerka.

Three Outlaws (1957), 111 minutes. Starring Bing Slamet, Bambang Irawan, Citra Dewi, Udjang, Menzano. (Indonesia with English subtitle) A group of outlaws led by Mat Codet (Bing Slamet) is trying to rule a village. Maman (Bambang Irawan), a man who just returned to the village, tries to stop them. Mat Codet and Maman not only fight for control over the village, but also to win a woman’s love.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar