Senin, 07 Februari 2011

TELEGRAM / 1997

TELEGRAM




















TELEGRAM bagi DAKU ( Sujiwo Tejo) memiliki arti khusus karena pengertiannya tidak lagi sekedar benda pos. Kabar tentang kesulitan keluarganya dan kekecewaannya atas pengembangan pulau Bali yang cenderung menjauhi dasar budayanya, bercampur aduk menjadi satu membentuk rasa jengkel dan gelisah - yang pada akhirnya dia selalu menolak segala kabar yang datang dari Bali.

TELEGRAM berabrti gangguan bagi pikiran dan perasaannya karena pada dasarnya DAKU sangat mencintai keluarga dan tanah kelahirannya. Benturan perasaan ini membuat DAKU selalu gamang dan selalu serba salah dalam tindakannya.

DAKU lari dari kenyataan. DAKU terperangkap dalam kehidupan khayalinya yang indah dimana ROSA ( Ayu Azhari ) , perempuan muda yang cantik tampil sebagai kekasih yang amat mencintai dan mampu mengobati rasa sepi yang membakar dirinya. Keindahan dunia khayal yang dimilikinya selalu pudar oleh kehadiran SINTA ( Mira Ayudhia ) Anak angkatnya , yang selalu menyadarkan dirinya pada kenyataan hidup yang sesungguhnya. Dunia khayal yang indah dan kenyataan hidup yang pahit berbaur menjadi satu sehingga DAKU semakin terperosok jauh ke dalam kehidupan yang semakin mengambang dan menyakitkan.

Kehadiran Rosa sebagai kekasih khayalannya dan SINTA , gadis kecil yang mewakili dunia nyata merupakan konflik utama pada diri DAKU. Apakah dia harus terus larut dalam kehidupan khayalinya atau mencoba memberanikan diri menatap kenyataan dengan berpihak pada SINTA yang semakin hari semakin tumbuh menjadi gadis kecil yang memberikan seluruh rasa sayang dan perhatian pada dirinya.

Keberpihakan pada Sinta mengental ketika ibu kandung Sinta ( Deasy Ratnasari) datang dengan maksud menculik Sinta. Daku mempertahankan Sinta dan takut kehilangan gadis kecilnya karena pada kenyataannya Sinta telah menjadi kekuatan yang mampu mengembalikan kepercayaan dirinya. Membesarkan Sinta sejak bayi hingga menjadi gadis kecil merupakan bukti bahwa dia bukanlah lelaki lemah dan tak berkemampuan. Secara perlahan tapi pasti , Sinta berhasil mengeluarkan Daku dari perangkap indah dunia khayalnya.

Ketika TELEGRAM berikutnya datang , Daku memiliki keberanian untuk membuka dan membaca isinya karena Sinta berada disampingnya. Suatu kenyataan pahit sekalipun , kini dia berani menghadapi - karena hakikatnya kehidupan selalu mempergilirkan nasib baik dan buruk secara bergantian.

NEWS
Liputan6.com, Jakarta: Masyarakat di Tanah Air masih membutuhkan banyak informasi. Dan film adalah satu di antara media yang dapat memberikan informasi bagi masyarakat. "Jadi apabila perfilman di Tanah Air mati maka itu adalah sebuah tragedi," kata Slamet Rahardjo, sutradara film, kepada Trie Ambarwaty di Studio SCTV, Jakarta, Ahad (30/9) siang.

Menurut Slamet, buat orang film, dengan mengikuti sejumlah festival film mereka bisa tetap hidup. Sebab, festival adalah satu-satunya lahan yang membuat mereka bisa tetap terus berkarya. "Dan Festival Film Asia Pasifik di Jakarta, 16-20 Oktober mendatang satu di antara tempat bergantung orang film," kata Slamet.


Slamet menjelaskan, dalam festival itu Indonesia akan mengikutsertakan tiga film, di antaranya Reinkarnasi, Pasir Berbisik, dan Telegram. Dalam film telegram, Slamet sebagai sutradaranya menegaskan, film itu menggambarkan kesederhanaan dan sesuatu hal realistis yang terjadi di masyarakat. Film yang diangkat dari novel karya Putu Wijaya ini juga dibintangi artis Ayu Azhari. Menurut Ayu, film tersebut mengangkat realitas masyarakat di Tanah Air.

Pembuatan film tersebut juga sempat mengalami masalah dana. Menurut Slamet, saat mendatangi kontrak pembuatan film tersebut, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih sebesar dua ribuan. Namun, ketika tengah berproduksi kurs rupiah melemah hingga level Rp 11.000. "Setidaknya fasilitas yang diberikan kepada crew dan artis cukup sederhana," kata Slamet.(ORS)

 Di Balik Novel Telegram

Oleh Arif Budianto
A.Pendahuluan
        Novel Telegram karya Putu Wijaya ini dicetak pertama kali oleh penerbit  Pustaka Jaya di Jakarta Tahun 1973.  Novel yang ditulis Putu Wijaya saat berumurr 28 tahun ini pernah menyabet hadiah pertama mengarang roman DKI, Jakarta 1972. Para kritikus sastra seperti Y.B. Mangunwijaya  (1988 : 50) telah membuat esei tentang novel Telegram (1973) dan mengatakan bahwa novel tersebut merupakan karya yang matang dan dewasa, sedangkan bentuknya sangat berhasil.


        Novel Telegram di antara banyaknya karya-karya Putu Wijaya adalah salah satu pembuktian bahwa saat itu sastra kita sudah tenggelam jauh ke dalam realisme. Novel telegram juga membuahkan kesuksesan tersendiri bagi Putu Wijaya dalam dunia perfilman yaitu ketika novel ini   diangkat menjadi sebuah film oleh sutradara Slamet Rahardjo. Ide penggarapan film Telegram dimulai tahun 95-an. Pada saat itu, Slamet Rahardjo yang mewakili Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BPPN),melakukan perjalanan ke Prancis dalam rangka membuat kerjasama dengan Pusat Perfilman Prancis(CNC) Centre Nationale Cinematograph. Tujuannya,adalah untuk membangkitkan perfilman nasional di dunia.


        Novel Telegram menceritakan tentang seorang lelaki asal Bali yang tinggal Di Jakarta, Tokoh Daku(Aku) dalam novel adalah individu yang lembek tapi keras,seseorang yang belum menemukan jati dirinya. Daku mempunyai dunia khayal yang tinggi sehingga ia tidak mampu membedakan mana yang khayalan dan mana yang nyata, suatu hari ia mempunyai firasat akan menerima telegram dari kampung asalnya,ia selalu gelisah dan merasa bahwa telegram itu sudah di tangannya,ia sangat takut karena menurut benaknya,telegram selalu membawa berita buruk,isinya adalah ibunya meninggal,selain itu dalam dunia khayal daku juga mempunyai kekasih, dan anak angkat,tapi semua itu hanya khayalan. Hingga daku sadar ketika ada seseorang yang memberinya telegram berisi bahwa ibunya meninggal dunia,dan itu nyata bukan khayalan lagi.
B. Jalinan Cerita

        Tokoh Daku(Aku),  yang diperankan Sujiwo Tejo dalam film, adalah individu yang lembek tapi keras,seseorang yang belum menemukan jati dirinya. Cerita novel ini berawal dari seorang laki-laki dari Bali yang tinggal Di Jakarta,suatu hari ia mempunyai firasat akan menerima telegram dari kampung asalnya,ia selalu gelisah dan merasa bahwa telegram itu sudah di tangannya,ia sangat takut karena menurut benaknya,telegram selalu membawa berita buruk seperti kabar kecelakaan,atau kabar menakutkan lainnya,sekarang ia tidak bisa berbuat apa-apa karena telegram itu sudah ditangannya, isinya kabar ibunya yang meninggal.


         Khayalan daku seakan-akan kenyataan, setelah membaca telegram,ia segera bersiap-siap untuk pulang ke kampung halamannya. Ia gelisah dan membayangkan bagaimana kelanjutan nasibnya, ibunya meninggal,sebagai anak tertua ia harus berperan sebagai kepala keluarga,sehingga semua yang berurusan dengan pemakaman ibunya ia yang menanggung,juga dengan tanah dan rumah yang ibunya tinggalkan. Dilema itu yang berkecambuk di benaknya,di tengah kebingungannya,tiba-tiba anak angkatnya,Sinta yang diperankan Mira Ayudia dalam film,Sinta yang dibuang ibunya ingin tahu isi dari telegram itu,sebagai seorang ayah yang bijaksana ia takkan mengizinkan Sinta mengetahui isi telegram itu, sehingga ia berbohong kepada Sinta. Namun Daku tidak tahu kalau sebenarnya anak angkatnya  sudah tahu isi dari telegram itu.


        Mereka berdua bersiap diri untuk segera pulang ke Bali, namun tiba-tiba ibu kandung Sinta yang diperankan Desi Ratnasari dalam film datang dan ingin meminta anak kandungnya itu,Daku menolak karena ia yang membesarkan Sinta,mereka kemudian membuat kesepakatan dan menyerahkan keputusan kepada Sinta,siapa yang akan dia pilih. Belum lagi persoalan tentang Sinta kelar,muncul lagi khayalan dibenaknya, daku merasa tubuhnya lemas,gemetar dan terserang demam,ia khawatir jika penyebabnya adalah penyakit kotor yang ditularkan wanita penghibur yang pernah tidur bersamanya,ia takut akan mengalami hal yang sama seperti temannya.


        Daku tidal lagi dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang khayalan,kadang ia sadar bahwa semua yang terjadi adalah khayalan semata,namun itu hanya sebentar ia masuk kedunia khayalannya lagi, dalam khayalannya ia berpisah dengan kekasihnya,Rosa yang diperankan Ayu Azhari dalam film,padahal sosok Rosa itu tidak nyata ada,Rosa hanya khayalannya saja seperti ia mengkhayalkan tentang telegram itu. Daku kembali berkhayal, ia dan Sinta bersiap akan ke Bali,ia telah memesan tiket pesawat.


        Tiba- tiba di tengah khayalannya,ada orang yang datang,ia bangkit dan membuka pintu,ternyata bibi pemilik kontrakan yang datang, membawa sepucuk telegram ,daku segera membuka isinya dan isinya ibunya telah meninggal dunia, telegram itu nyata dan benar terjadi,itu fakta bukan khayalan,itu kenyataan yang sebenarnya, sedangkan seluruh cerita sebelumnya hanyalah khayalan lelaki itu saja.


 C. Novel Telegram yang Difilmkan

        Slamet Rahardjo seorang sutradara perfilman Di Indonesia  memilih novel Telegram karya Putu Wijaya dengan pertimbangan dari sekian banyak karya sastra yang diciptakan seniman asal Bali itu, novel ini mempunyai nilai universal dan warna etnis yang tak terlalu kentara. Kebetulan pula Telegram sudah diterjemahkan dan beredar di Prancis, sehingga karya ini relatif lebih mudah diterima . skenario film ini digarap sendiri oleh Putu Wijaya dibantu Slamet Rahardjo.


        Film Telegram yang disutradarai oleh Slamet Rahardjo ini merupakan produksi bersama Indonesia dan Prancis. Dirilis di tahun 2002, film ini memenangkan penghargaan di Festival Film Asia Pasifik ke-46 dan untuk kategori aktris terbaik disabet oleh Ayu Azhari.


       Telegram telah menjadi bukti sebuah kerja keras dan kegigihan seorang Putu Wijaya dan Slamet Rahardjo Djarot salah seorang sineas yang menyaksikan kejayaan dan kehancuran film nasional yang mencoba kembali membangkitkan sebuah dunia yang telah lama mati.


         Pujian dari Mira Lesmana, salah seorang generasi baru perfilman Indonesia,ia termasuk yang mengagumi film ini. Dari segi film, Mira yang sudah menyaksikan premier film Telegram itu mengaku seolah dibawa kesuatu nostalgia tentang sebuah gaya dalam perfilman Indonesia yang sudah lamatidak dia lihat. "ada rasa sentimentil yangmuncul dalam diri saya," ujarnya. Telegram digarap dengan cukup manis, terutama tata cahaya dan penataan artistiknya.



D. Novel Telegram dalam Kesusastraan Indonesia

        Dengan novelnya Telegram (1973), Putu Wijaya membuktikan bahwa kondisi sastra kita saat itu sudah terlalu jauh tenggelam ke dalam realisme. Dengan melecehkan alur dan penokohan, ia memotret jiwa atau ketidaksadaran si pelaku. Pemandangan yang terlihat pembaca adalah campuran antara kenyataan obyektif dan imajinasi pelaku, dan hampir-hampir kita tak mampu membedakan keduanya. Demikianlah kesatuan cerita dihancurkan: peristiwa tidak terpapar dalam hubungan sebab akibat. Perjalanan tokoh utama hanya diikat oleh motif yang menjadi judul buku, yaitu Telegram dan Stasiun. Jika fragmen-fragmen peristiwa bergerak terlalu liar, pengarang segera meredamnya ke suasana yang mirip puisi atau jika pelukisan terasa kelam memberatkan, ia memberikan lanturan atau semacam ironi.


         Putu Wijaya seorang penulis novel yang sekaligus sering membuat film ini terkenal mengajukan problem-problem psikologis dalam novelnya. Bagi banyak orang ini disebut dengan “absurd”. Absurditas karya-karya Putu Wijaya ini mengemuka disaat kita membaca beberapa karyanya. Dalam banyak prosanya itu, Putu Wijaya biasanya banyak memerikan pergulatan pikiran sang tokoh utama seperti dalam Novel Telegram. Para pengamat sastrapun  menyebut novel ini  yang pertama di Indonesia yang menggunakan tehnik stream of conciousness, kisah ini dibangun dengan cara penuturan “monologue interiur” percakapan diri sendiri.




E. Putu Wijaya

         I Gusti Ngurah Putu Wijaya adalah nama lengkapnya,  ia lahir di Puri Anom,Tabanan,Bali pada tanggal 11 April 1944. Pada masa remaja ia sudah menunjukkan kegemarannya pada dunia sastra. Sampai saat ini Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih dari 30 novel,40 naskah drama, sekitar seribu cerpen,ratusan esai,artikel lepas,dan kritik drama, selain itu ia juga menulis skenario film dan skenario sinetron, Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985).


Cerita pendek karya Putu Wijaya sering mengisi kolom-kolom pada Harian Kompas,dan Sinar Harapan. Novel-novel karyanya juga kerap muncul di Majalah Kartini,Femina, dan Horison. Beberapa karyanya yang sering diperbincangkan banyak orang adalah Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam Sobat, Nyali.


         Putu Wijaya merupakan salah seorang sastrawan Angkatan 1966 – 1970 an. Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Majalah Sastra Horison pimpinan Mochtar Lubis . Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini, novel Telegram juga pertama kali dicetak oleh Pustaka Jaya. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, termasuk paus sastra Indonesia H.B. Jassin,Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, , Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lain.


        Karya-karya Putu Wijaya banyak mendapatkan tanggapan dari para kritikus sastra. Berbagai komentar terhadap novel-novel Putu Wijaya baik yang bersifat sekilas atau yang sifatnya mendalam dalam bentuk esei bermunculan di media massa, buku, maupun dalam forum-forum seminar. Bahkan karya-karya Putu Wijaya sampai saat ini banyak dipergunakan sebagai objek penelitian untuk penyusunan skripsi oleh mahasiswa jurusan sastra.


        Imran T. Abdullah dkk. (1978 :12) mengatakan bahwa sebagai seorang novelis, Putu Wijaya menempatkan dirinya tak jauh dari kelihaiannya sebagai penulis naskah drama. Dalam prosanya ia cenderung mempergunakan gaya atau metode objektif dalam pusat pengisahannya dan gaya stream of consciousness dalam pengungkapannya. Sementara itu,Jakob Sumardjo (1983 : 133) menyebut Putu Wijaya sebagai tokoh utama sastrawan  Indonesia pada dasa warsa 1970-an. Lebih lanjut Jakob mengatakan bahwa Putu Wijaya muncul dan berkembang dalam dekade itu. Dialah sastrawan paling produktif dan paling kreatif pada saat itu. Novel Putu Wijaya juga penuh potongan-potongan kejadian yang padat, intens dalam pelukisan, ekspresif  bahasanya dan  disatukan oleh suasana tema (ibid : 133).
        Sampai saat ini Putu Wijaya masih aktif dalam dunia pementasan, Pada bulan Juni 2010 Putu Wijaya menggelar pementasan Di Yogyakarta untuk mengenang Almarhum W.S  Rendra dengan judul “Kereta Kencana”. sebelumnya “Kereta Kencana” pernah beberapa kali dipentaskan  oleh Almarhum W.S Rendra. Diumurnya yang sudah tidak muda lagi Putu Wijaya masih saja bergulat dengan seni pementasan,ini adalah hal yang luar biasa dari diri seorang Putu Wijaya, ia adalah dramawan dan  sastrawan ternama di negeri ini.











Télégramme
Daku is a young Balinese, he is single and lives in Jakarta with his adopted daughter, Sinta. When he receives a telegram from Bali, he immediately guesses as to the news it contains and its consequences. For several days he is lost in the confusion of his multiple identities and his fantasies. He doesn’t dare open the message but he can easily guess what it says; his mother is dead and he will have to go back to Bali to perform the customary rituals, to prepare the cremation, to fulfil his filial obligations, and he will certainly have to leave Sinta behind in Jakarta for a long time.
Production :
ARTCAM INTERNATIONAL
Joël Farges et Elise Jalladeau
19, rue de Saintonge
75003 Paris (France)
Telephone : 33 (0) 1 42 71 16 75
Fax : 33 (0) 1 42 71 14 03
E-mail : artcam@artcam.fr
Coproduction :
PT Ekapraya Tatacipta, Slamet Rahardjo (Indonesia) et Artcam the Netherlands, Gérard Huisman (Pays Bas)
With the participation of :
Commission Nationale du Film - BP2N (Indonesia), National Committee for International Cooperation and Sustainable Development, NCDO (Pays Bas), SBS TV (Australie), Hubert Bals Fund du Festival International du Film de Rotterdam (Hollande), Fondation Montecinemaverita à Locarno (Switzerland), Direction du Développement et de la Coopération (DDC), Département Fédéral des Affaires Etrangères (Switzerland), Goteborg Film Festival Filmfund (Suède), FONDS SUD CINEMA (ministère des Affaires étrangères - Direction de l’audiovisuel extérieur et des techniques de communication) et ministère de la Culture et de la Communication - Centre National de la Cinématographie (France).
Contact in France :
ARTCAM INTERNATIONAL
Joël Farges et Elise Jalladeau
19, rue de Saintonge
75003 Paris (France)
Telephone : 33 (0) 1 42 71 16 75
Fax : 33 (0) 1 42 71 14 03
E-mail : artcam@artcam.fr

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar