Rabu, 09 Februari 2011

TAMU AGUNG / 1955

TAMU AGUNG



Camat dan staf di sebuah desa Sukaslamet di gunung mengutus Pak Midi diutus untuk menjemput pimpinan suatu partai yang sedang berkunjung di kabupaten. PAk Midi di pilih karena dia dan si tamu agung itu adalah satu partai. Tapi pak Midi boro-boro memenui pim,pinan partai di kantor kabupaten itu, masuk halaman kantor kabupaten saja dia tidak berani. Biar pulang tidak tangan kosong pak Midi keluyuran saja. Di sebuah pasar ia ketemu tukang obat (M. Pandji Anom) yang sedang mempropagandakan obat "manjur". dia membawa tukang obat itu bersama obat-obatannya yang dinilai manjur buat orang-orang di desanya. Karena tukang obat mengunakan mobil dan berpakaian jas, orang orang mengiranya inilah Tamu Agung itu yang mereka nantikan. Tukang obat merasa terperosok, tetapi ia manfaatkan peluang tersebut yang disambut oleh barisan ibu-ibu cantik dan makanan yang istimewa. SEdang pak Camat membawa Tamu Agung keliling kampung, melihat sekolah dan berbagai fasilitas yang dinilai perlu dikembangkan. Ke"onar"an baru terhenti waktu Tamu Agung (yang sebenarnya) muncul,dan si tukang obat lari.

Tamu Agung ini  sanduran dari The Revisor karya Nikolai Gogol (Rusia), kondisi politik saat itu yang mendorong Usmar Ismail mendahulukan pembuatan film ini. Pada saat itu kondisi partai politik sedang semarak sejak menjelang pemilu 1955. Kesibukan partai politik hanya terbatas pada kota-kota saja. Sehingga tidak sempat memperhatikan rakyat di desa-desa. Intinya adalah mengkeritik hal itu. Rakyat mendambakan pemimpin yang memperhatikan rakyat dengan datang ke desa-desa dan memperhatikan kebutuhan mereka. Skenario yang ditulis oleh Soemanto segar, dan orisinil. Leluconnya menyerempet ke sana dan kemari, termasuk gaya pidato Bung Karno. Lelucon banyak terdapat di dialoq, Gaya Soemanto ini banyak mempengaruhi Nyaa Abbas .

Misbach sempat terlibat dalam pembuatan film ini sebagai asisten Usmar Ismail, dan bahkan Misbach dapat kesempatan menyutradarai scene-scene yang tidak terlalu berat.

Film ini mendapat penghargaan khusus (Special Award) di Festival Film Asia 1956 di HOngkong sebagai film komedi terbaik. Tetapi ketika di pasarkan film ini anjlok. KAta Misbach, dia optimis sekali film ini akan laku di pasar, karena menurut dia memang bagus dan segar ceritanya. TEtapi sebelum di pasarkan Misbach ikut terlibat dalam promosi film ini. Tentulah dengan membuat posterfilm, seorang Broker Cina melihat foto yang ada di poster film, dan ia mengatakan film ini akan laku di bioskop cuma 3 hari saja. Misbach marah, Broker itu bilang, tidak usah melihat filmnya, hanya melihat photo di poster film dia sudah bisa menebak hanya 3 hari di bioskop. Dan kenyataan itu benar. Film ini hanya bertahan 3 hari saja, itu pun sudah dipaksa-paksain karena penontonnya tidak memadai.

Gagalnya film ini dinilai leluconnya terlalu tinggi untuk penonton Indonesia. Orang menengah ke atas menonton film Barat, sedangkan menengah ke bawah menonton film India. Mungkin orang golongan menengah ke atas yang sering nonton film barat membaca artiket tentang film ini menang di Hongkong, tetapi mereka engan menontonnya. Kegagalan Tamu Agung semakin membawa perfini kebangkrutan, penyitaan oleh bank pun sudah diambang pintu.










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar