Jumat, 04 Februari 2011

TAKKAN KULEPASKAN / 1972

TAKKAN KULEPASKAN


Orang yang dipaksa menunjukan emas batangan itu mengenakan topi ala serdadu Jepang. Menolak menunjukan harta timbunan Dai Nippon itu akhirnya ia menemui ajal oleh siksaan tangan Daud Mahitu (Muni Cader). Begitulah pengarang Motinggo memulai filmnya. Dan pikiran mengenai emas itu akhirnya memang tidak lepas dari benak Daud sehingga bagaikan orang gila, selama 20 tahun. Juga Benny Mahitu (Soekarno M.Noor) saudara angkatnya. Diperlihatkan pertamakali tidur dengan orang cacat (Farouk Afero) yang ternyata tahu kegiatan pencarian peninggalan Jepang itu, pada suatu ketika Benny berhasil mendesak Farouk untuk menunjukan di mana Daud meninggal. Dan tanpa banyak energi hilang, pisau Benny sudah bersarang di tubuh Farouk, sebelum melalui jendela pengejar batang emas itu akhirnya pergi dengan jip ke rumah Daud.


Benny sendiri beberapakali dipenjara karena pembunuhan yang dilakukannya. Sedangkan anak-anak Daud sudah tidak kenal lagi dengan Daud, dengan lihainya ia mudah akrab dengan anak-anak Daud, kecuali istri Daud, Asia (Sodia WD), memperlihatkan sikap curiga dan takut. Selain tahu banyak tentang Benny, Asia sendiri pernah menjadi pacar Benny yang konon direbut Daud, Benny kemudian tahu lokasi penggalian emas.

Daud sebenarnya sudah dibunuh oleh Benny pada perkelahian dimalam buta, dan terseret ke laut. Pada suatu ketika Daud datang ke rumah istrinya, dan memesan agar rahasia ia selamat ini dirahasiakan. Selanjutnya sasaran pembunuhan adalah Nana, Benny menabraknya dengan mobil, tapi sayang Nana tidak mati, hanya luka saja. Korban berikutnya adalah Asia yang ditikam dengan pisau di gudang. Sudah itu baru tiba giliran si tolol Menyung (M.Nizar). Yang gagal mati adalah Nana (Teguh Afrianto) meskipun kepada penonton Boesye ada memberi kesan sebaliknya, yang kemudian terbantah setelah anak muda ini muncul dalam monbil ambulance.

Selanjnya perkelahian dengan Daut, seru juga. Ada polisi yang mati, dan akhirnya Benny mati dikursi goyang. Tapi kemana polisi?

Perhatikan adegan Soekarno M.Noer menyanyi pada awal film, sangat menarik bukan saja lantaran sifatnya yang humanis, tapi sekaligus merupakan informasi keakraban tokoh Benny dengan kehidupan sekitarnya. Dalam keadaan ini, hanya orang sinting yang bisa membunuh temannya yang sekamar dan cacat itu (Farouk) tanpa takut di sergap polisi. Boiesje menggarap Benny ini seorang penjahat biasa yang berniat membalas dendam kepada saudara angkat Benny lantaran saat kecil pernah disakiti. Tokoh ini terlihat totol dengan tindakan satu sama lainnya yang membingungkan, Tidak jelas motifnya membunuh Nana, pacarnya, Menyung dan Asia. Diluar soal yang menyangkut cerita itu, Motinggo memperlihatkan kemajuan sebagai sutradara. Begitulah ketika kemajuan dia sebagai sutradara baik, malah kemunduran dia dalam soal penulisan cerita. Namun yang sangat jelas dalam sinematography Boesje tidak mengecewakan. hasil kerja juru kamera Harry Susanto menggembirakan, juga pada pemainnya terutama M.Nizar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar