Rabu, 23 Februari 2011

Suzanna 1958-2008






Suzanna 1958

SUATU hari di tahun 1958, seorang gadis cantik, baru 15 tahun, ikut kontes "Tiga Dara" yang audisinya ditangani sineas besar Usmar Ismail. Seperti kepada peserta audisi lain, Usmar meminta gadis itu memeragakan adegan bertelepon.

Ia terlihat gugup dan tak bisa menyelesaikan adegan dengan baik. Maklum, sebelum itu ia sama sekali tak pernah memegang gagang telepon, apa lagi bertelepon. Merasa gagal, si cantik patah arang dan menganggap telah kehilangan kesempatan.

Namun di luar dugaan, Usmar Ismail justru meloloskannya. Intuisi Usmar mengatakan, di balik keluguannya, gadis itu menyimpan potensi besar. Terlebih, ia sebelumnya sudah punya pengalaman berakting dalam film "The Long March" yang diproduksi pada 1950.

Sebuah peran dalam Asmara Dara pun didapat. Dan di bawah besutan Usmar Ismail, gadis bernama Suzanna Martha Frederika van Osch itu berhasil menampilkan kemampuan aktingnya secara optimal. Tak tanggung-tanggung, atas perannya sebagai Ina di Asmara Dara, ia beroleh penghargaan The Best Child Actrees pada Festival Film Asia di Tokyo pada 1960.

Selain itu juga menjadi pemain harapan pada FFI 1960. Inilah untuk kali pertama, seorang aktor anak pertama Indonesia yang pernah memenangkan penghargaan nasional dan internasional sekaligus melalui film yang sama.

Sukses dalam Asmara Dara, Suzanna yang dijuluki ”The Next Indriati Iskak” itu lantas membintangi sejumlah film bergenre drama, seperti Bertamasja (1959), Mira (1961) Antara Timur dan Barat, Aku Hanja Bajangan (1963), Segenggam Tanah Perbatasan (1965), Suzie (1966), dan Penanggalan (1967). Kendati demikian, film-film itu tak melambungkan namanya.

Terangkat

Baru pada Bernapas dalam Lumpur (1970), popularitas Suzanna terangkat. Dalam film gubahan sutradara Turino Djunaidy dari sebuah novelet berjudul Berenang dalam Lumpur karya Zainal Abdi itu, Suzanna berperan sebagai pelacur.

Nah, di situlah ia harus beradegan panas. Atas aktingnya di film ini, Suzanna menerima penghargaan Runner Up I aktris terbaik versi Persatuan Wartawan Indonesia (1970-1971).

Drama, seks, dan misteri menjadi tren perfilman era 1970-1980-an. Di situlah, Suzanna sebagai bintang papan atas, memainkan peran yang lebih luas. Tahun 1971 ia bermain dalam film horor Beranak dalam Kubur.

Sejak 1980, Suzanna lebih banyak bermain dalam film horor yang dibungkus kisah mitos dan legenda. Taruh misal, Sundel Bolong, Ratu Ilmu Hitam (1981), Nyi Blorong (1982), Nyi Ageng Ratu Pemikat, Perkawinan Nyi Blorong (1983), Telaga Angker (1984), Ratu Sakti Calon Arang, Bangunnya Nyi Roro Kidul (1985), Malam Jumat Kliwon, Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986), Santet, Ratu Buaya Putih, Malam Satu Suro (1988), Wanita Harimau (1989), Pusaka Penyebar Maut, Titisan Dewi Ular (1990), Perjanjian di Malam Keramat (1991), dan Ajian Ratu Laut Kidul (1991).

Selain layar lebar, Suzanna juga membintangi beberapa sinetron bergenre serupa. Antara lain Selma dan Ular Siluman. Demikian sering ia bermain di film misteri hingga masyarakat menjulukinya Ratu Film Horor Indonesia.

Jejuluk ini amat melekat. Alhasil sosok perempuan berdarah campuran Jerman, Belanda, Manado, dan Jawa itu identik dengan peran-peran yang dimainkannya, seperti sundel bolong, Nyi Roro Kidul, kuntilanak, atau Nyi Blorong.


Suzanna, Legenda dari "Asrama Dara"
Rabu, 22 Oktober 2008 , 18:43:00

BINTANG legendaris perfilman nasional itu telah tiada. Rabu (15/10) malam, Suzanna pergi ke alam keabadian di Magelang. Namun, kepergian aktris bernama lengkap Suzanna Martha Frederika van Osch itu, tak akan mengubur reputasinya dalam perjalanan panjang riwayat perfilman di negeri ini.

Tentu saja karena Suzanna jadi sebuah nama fenomenal, yang popularitasnya menembus batas generasi. Tak hanya konsumen film tempo dulu di putaran tahun 1960-an, remaja masa kini pun masih sempat mengenali pamornya di film "Hantu Ambulance" (2008). Film terakhir yang "memanjangkan umur" kemashurannya!

Semua orang kenal Suzanna. Kondisi ini tercipta, dimungkinkan, terdukung dengan penayangan ulang sejumlah film legenda misteri di layar kaca, yang menampilkan artis kelahiran Bogor 13 Oktober 1942 itu. Memang, Suzanna pernah jadi "cap dagang film laris" untuk lakon hantu-hantuan Indonesia.

Sosok almarhumah lalu identik dengan perwajahan film horor dan mistik, sejak film "Sundel Bolong" (1981) karya almarhum Sisworo Gautama, sukses merebut pasar film nasional. Formula mistik ini yang menderaskan penampilannya dalam banyak film lain, seperti film "Nyi Blorong", "Perkawinan Nyi Blorong", "Malam Jumat Kliwon", "Ratu Ilmu Hitam", maupun "Nyi Ageng Mangir".

Terlebih, karena kekuatan pasar film, Suzanna mendapat pengakuan FFI (Festival Film Indonesia) 1983 di Medan, yang menganugerahkan Piala Antemas untuk film "Nyi Blorong", lambang film terlaris sepanjang tahun 1982. Itu pula yang menguatkan jaminan sukses komersial, untuk pemasaran film bermuatan legenda populer "Ratu Pantai Selatan" dan "Sangkuriang". Lalu, Suzanna bagai wujud lain Dayang Sumbi dari cerita rakyat Jawa Barat itu. Dalam kehidupan sebenarnya, "Sang Puteri" tak lagi kuasa memadamkan api cinta Sangkuriang, yang diketahui sebagai anak kandungnya.

Saat berstatus janda aktor film almarhum Dicky Suprapto, Suzanna pelakon Dayang Sumbi dalam "Sangkuriang" menikah dengan Clift Sangra pemeran Sangkuriang, yang usianya terpaut jauh, seumpama ibu dan anak. Mereka menjalani kebersamaan hidup, hingga kematian datang memisah keduanya.

Apa pun kenyataan di balik layar keartisan, Suzanna memang seorang pelaku legenda perfilman nasional, yang turut mengantar kelangsungan dunia film sejak tahun 1958 hingga kondisi kekinian. Kemenangan juara kedua dalam kontes film "Tiga Dara" di Magelang, dan "Delapan Pendjuru Angin" di Yogyakarta, membawa Suzanna bermain film "Asrama Dara" karya almarhum Usmar Ismail.

Kehadiran belia enam belas tahun itu, bersambut sukses gemilang. Film penapak kepopuleran "Tiga Dara" berbintangkan Chitra Dewi, Mieke Widjaya, dan Indriati Iskak itu, melambungkan Suzanna sebagai Aktris Harapan Terbaik di Pekan Apresiasi Film Indonesia 1960, arena festival film kedua setelah tahun 1955. Pamor Suzanna mengemuka di tengah sukses almarhum Soekarno M. Noer dan almarhumah Farida Aryani, Aktor dan Aktris Terbaik dari film "Anakku Sajang" karya Liliek Sujio. Bahkan, "Asrama Dara" menobatkan pula Suzanna sebagai The Best Child Actress di pentas FFA (Festival Film Asia) 1960.

Beralasan, walau iklim produksi perfilman nasional masih terlindung mega mendung, namun sepanjang enam tahun sampai 1966, Suzanna tampil saban tahun. Film-filmnya bertitel "Mira" dan "Bertamasya" karya M. Sharieffudin A. Lalu, film "Gara-Garamu" (Fred Young), "Antara Timur dan Barat" (Turino Junaedi), "Segenggam Tanah Perbatasan" (Djamal Halputra), dan "Suzie" (judul film dengan nama akrab keseharian sang bintang) karya Liliek Sujio.

Kelangsungan karier filmnya yang biasa-biasa itu, seketika sontak jadi luar biasa, manakala Suzanna berani tampil beda di film "Bernapas Dalam Lumpur" karya Turino Junaedi. Itu tergelar empat tahun setelah absen bermain film! Terbukti, film tentang pelacur dari novel populer Zainal Abdi itu, mampu membangunkan pamor film nasional tahun 1970, dari panjangnya kemuraman pasar.

Formula seks ramuan "Bernapas Dalam Lumpur" mencapai takaran film box office. Film "panas" yang menghebohkan dengan keberanian Suzanna beradegan ranjang, dihargai sebagai legenda perfilman Indonesia. Tampilan "formula baru" filmnya memanggang film nasional, dengan perdagangan adegan panas. Reputasi Suzanna pun menguat sebagai "bintang panas" terlaris.

Sejumlah film lainnya seperti "Tuan Tanah Kedawung" (1971), "Air Mata Kekasih" (1971), "Beranak Dalam Kubur" (1972), "Bumi Makin Panas" (1973), "Ratapan dan Rintihan" (1974), maupun "Nafsu Gila" (1974), menggetarkan pasar film dalam negeri. Tapi, Suzanna bukan sekadar "bintang ranjang" tanpa pujian.

Dalam jaringan "aktris terbaik" di pentas The Best Actor/Actress versi PWI Jaya Seksi Film 1970, almarhumah bergelar Aktris Harapan Terbaik I melalui film "Bernapas Dalam Lumpur". Satu tingkat di bawah Rima Melati (film "Noda tak Berampun"), namun mengungguli Chitra Dewi (film "Nyi Ronggeng"), Widyawati (film "Hidup Cinta dan Air Mata"), dan Mieke Widjaya (film "The Big Village").

Saat Lenny Marlina berjaya atas film "Biarlah Aku Pergi" (1971), Suzanna terempas ke peringkat "Aktris Harapan Terbaik IV" (film "Air Mata Kekasih"). Itu tak memudarkan pamornya. Justru Suzanna melalui film "Ratu Ilmu Hitam" terjaring ke dalam nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 1982 Jakarta, membayangi sukses Jenny Rachman (film "Gadis Marathon"). Kharisma keartisan Suzanna seakan tak pernah lekang. Predikat "bintang panas", tak terpadamkan kehadiran artis lainnya, yang jauh lebih muda. Di musim tema mistik dan horor berjaya, gelar "ratu horor" masih juga berharga menjadi cap dagang film laris. Pamor Suzanna yang cantik dan seksi tiada duanya. Totalitas pemeranan yang terkadang panas, masih belum lagi tergantikan. Dunia film nasional kehilangan...***

Yoyo Dasriyo
Wartawan, pemerhati film nasional & sinetron, tinggal di Garut.



Filmografi

PENANGGALAN 1967 TULSI RAMSAY
Actor
PUSAKA PENYEBAR MAUT 1990 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
SUNDEL BOLONG 1981 SISWORO GAUTAMA
Actor
SAMSON DAN DELILAH 1987 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
BERNAFAS DALAM LUMPUR 1970 TURINO DJUNAIDY
Actor
PETUALANGAN CINA NYI BLORONG 1986 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
SANTET 1988 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
PERKAWINAN NYI BLORONG 1983 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
ANTARA TIMUR DAN BARAT 1963 TURINO DJUNAIDY
Actor
BANGUNNYA NYI LORO KIDUL 1985 SISWORO GAUTAMA
Actor
SANGKURIANG 1982 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
LEMBAH DUKA 1981 JOPI BURNAMA
Actor
SUZIE 1966 LILIK SUDJIO
Actor
RATU SAKTI CALON ARANG 1985 SISWORO GAUTAMA
Actor
PULAU CINTA 1978 ALI SHAHAB
Actor
MIRA 1961 M. SHARIEFFUDIN A
Actor
BERTAMASJA 1959 DJOKO LELONO
Actor
AIR MATA KEKASIH 1971 LILIK SUDJIO
Actor
PERMAINAN BULAN DESEMBER 1980 NICO PELAMONIA
Actor
TUAN TANAH KEDAWUNG 1970 LILIK SUDJIO
Actor
PERJANJIAN DI MALAM KERAMAT 1991 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
RATAPAN DAN RINTIHAN 1974 SANDY SUWARDI HASSAN
Actor
WANITA HARIMAU 1989 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
SEGENGGAM TANAH PERBATASAN 1965 DJAMAL HARPUTRA
Actor
NAPSU GILA 1973 ALI SHAHAB
Actor
BERANAK DALAM KUBUR 1971 AWALUDIN
Actor
RATU ILMU HITAM 1981 LILIK SUDJIO
Actor
RATU BUAYA PUTIH 1988 TJUT DJALIL
Actor
AKU HANJA BAYANGAN 1963 PITRAJAYA BURNAMA
Actor
MALAM JUMAT KLIWON 1986 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
TITISAN DEWI ULAR 1990 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
DIA SANG PENAKLUK 1984 IMAM TANTOWI
Actor
MALAM SATU SURO 1988 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
BUMI MAKIN PANAS 1973 ALI SHAHAB
Actor
TELAGA ANGKER 1984 SISWORO GAUTAMA
Actor
NYI AGENG RATU PEMIKAT 1983 SISWORO GAUTAMA
Actor
NYI BLORONG 1982 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
USIA DALAM GEJOLAK 1984 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor
ASRAMA DARA 1958 USMAR ISMAIL
Actor
LONG MARCH, THE 1950 USMAR ISMAIL
Actor
AJIAN RATU LAUT KIDUL 1991 SISWORO GAUTAMA PUTRA
Actor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar