Rabu, 23 Februari 2011

Suzanna: "Syukur Bisa Menakut-nakuti Anda"

Seperti film-filmya, Suzanna menyimpan enigma. Jejak panjang sudah diukirnya di jagat film mistik, seram yang menggedor nyali penonton. Beranak dalam Kubur, Bernapas dalam Lumpur, Sundel Bolong, Nyi Blorong, Bangunnya Nyai Roro Kidul, Ratu Ilmu Hitam, juga Santet, telah mengukuhkan posisinya sebagai "Ratu Horor".

Tetapi bukan film misteri itu saja yang membuat sosoknya menarik ditelusuri; kehidupan pribadinya yang tragis dan penuh warna—perkawinannya pertama dengan Dicky Suprapto yang runtuh; tewasnya putranya yang tampan, Ari, dan perkawinan keduanya dengan Cliff Sangra—akhirnya membuat Ratu Enigma ini semakin masuk ke dalam sebuah sel kehidupan yang tertutup. Tak mengherankan jika wartawan adalah makhluk yang tak mudah masuk dalam lingkar hidupnya.

Pembalasan Ratu Pantai Selatan, akhir 1992, adalah film layar lebar terakhir yang dibintangi Suzanna. Lalu, seiring dengan sekaratnya industri film lokal, pamor bintang berkulit seputih pualam ini seakan ikut tenggelam. Baru dua tahun lalu Suzanna kembali turun gelanggang. Sinetron Misteri Sebuah Guci atau Misteri Nyai Walet tak ubahnya sebagai proklamasi kembalinya sang ratu.

Uniknya, kehidupan ratu yang tetap cantik di usia 60 tahun ini relatif jauh dari hiruk-pikuk panggung selebriti. Perempuan kelahiran Bogor ini tak pernah jadi obyek berita tayangan infotainment di televisi swasta yang membanjir belakangan ini. Kehidupan rumah tangga artis yang bersuami aktor Cliff Sangra ini juga aman dari gempuran gosip. Kabarnya, itu semua karena Suzanna—lebih akrab dipanggil Mbak Suzie—memang sengaja tak mau obral diwawancarai wartawan. Wawancara dilakukan amat selektif, dengan menghitung hari baik dan bulan baik menurut peruntungan Suzanna.

Tim TEMPO juga tak mudah menemui Suzanna. Dua wartawan, Ecep S. Yasa dan L.N. Idayanie, berhari-hari nongkrong menunggu datangnya "hari baik" Mbak Suzie. Keduanya silih berganti menyambangi rumah sang bintang di Kebon Dalem, Magelang, kota kecil di Jawa Tengah. Tak berhasil di sini, TEMPO mencoba menjumpai Suzanna di vilanya yang sejuk di Kopeng, Salatiga, Jawa Tengah. Tetap gagal.

Akhirnya, hari baik pun tiba. Melalui budi baik sang suami, Cliff Sangra, sang ratu yang jelita dengan nama asli Suzzanna Martha Frederika van Osch Boyoh ini bersedia diwawancarai TEMPO melalui surat elektronik. Berikut ini kutipan wawancaranya.

Hingga kini, Anda adalah bintang film misteri yang tak tertandingi di negeri ini. Bisakah Anda mengisahkan awal mula perjalanan karier sebagai bintang film?

Saya pertama kali diorbitkan oleh sutradara Usmar Ismail dalam film Asrama Dara (1958). Ini film pertama saya, masih black & white, yang paling berkesan. Saya langsung mendapat penghargaan Best Child Actress in Asia di Tokyo pada 1960.

Anda sempat membintangi beberapa film drama sebelum banting setir ke film horor. Adakah alasan khusus?

Sederhana saja. Saya jenuh bermain film drama dan kepingin bermain film horor. Beranak dalam Kubur, 1971, adalah film horor saya yang pertama dan mencapai sukses luar biasa. Jadi box office. Ketagihan, deh. Tema-tema horor langsung digemari penonton Indonesia pada waktu itu. Sekitar 14 film horor yang saya bintangi sukses besar.

Sejumlah media menjuluki Anda sebagai "Ratu Horor" yang tak tertandingi, bahkan sampai kini. Ada komentar?

Terima kasih. Saya bersyukur telah bisa menghibur dan menakut-nakuti Anda semua selama ini. Tapi jangan takut beneran. Wong, saya ini paling seneng disayang, dan saya juga sayang sama Anda.

Dari sisi cerita, bagaimana Anda menilai film horor kita pada 1980-an dan 1990-an?

Sebetulnya film horor kita dulu lebih seram karena temanya lebih sederhana, diceritakan dengan gaya sederhana, dan pas juga (dengan keinginan pasar—Red.), karena belum banyak saingannya.

Tapi banyak juga kritik, film horor kita di tahun 1990-an kental bermuatan seks, dengan alur cerita yang gampang ditebak. Apa yang salah menurut Anda?

Sebetulnya tidak ada yang salah. Ada penonton yang senang film horor yang tegang menakutkan dari awal sampai akhir. Ada juga penonton yang suka ditakut-takutin tapi juga mau dihibur dengan adegan seks. Dan, produser film sangat jeli akan hal itu, sehingga jadilah film yang sesuai dengan keinginan penonton.

Anda sekarang beralih pada sinetron televisi. Apa yang membedakannya dengan film layar lebar?

Saya bermain sinetron tetap dengan serius. Hanya, memang sinetron lebih santai ketimbang film. Ada waktu untuk break, istirahat. Kalau bikin film, kita bisa begadang terus selama 3-4 bulan, syuting sore pulang subuh, syuting pagi pulang pagi.

Di tengah tren sinetron horor saat ini, apakah Anda kebanjiran tawaran?

Bukannya mau menyombongkan diri, tetapi sudah puluhan tawaran sinetron bertema horor yang saya tolak. Saya tidak peduli honornya selangit untuk ukuran artis Indonesia. Saya hanya membintangi Misteri Sebuah Guci dan Selma dan Ular Siluman, yang keduanya punya unsur keanehan yang menarik. Syuting sinetron Selma sedang berlangsung dan ini saya bintangi bersama Cliff.

Mengapa Anda menolak main di sinetron?

Sudah terlalu banyak sinetron dengan tema horor yang ditayangkan di televisi setiap hari. Kesannya, tontonan itu sekadar seram, pokoknya nakutin. Akhirnya, penonton mengeluh jenuh. Ceritanya dicomot dari situ, ditambah dari sini, alur ceritanya hampir sama, hanya berbeda artis dan lokasi syuting. Itulah sebabnya saya tidak mau lagi main sinetron horor.

Ada keinginan tertentu di dunia akting?

Saya ingin berakting lagi dalam film-film drama yang bagus alur ceritanya. Toh, sebenarnya saya beranjak ke dunia film dengan diawali bermain dalam cerita drama.

Adakah pengalaman buruk selama Anda syuting film horor?

Tidak ada pengalaman buruk. Hantu-hantu kan sebetulnya takut pada manusia. Kita saja yang sering ngeri duluan. Tapi, memang ada banyak kejadian luar biasa yang membuat saya terperangah. Kalau diceritakan tersendiri, kejadian-kejadian ini bisa mencapai 500 episode.

Apa contohnya?

Saat pembuatan film Beranak dalam Kubur dengan lokasi syuting tanah pekuburan Bergota, Semarang.
Lubang kubur yang sedianya digali untuk kepentingan syuting ternyata diisi dengan jenazah orang yang meninggal pada hari itu. Jadilah kru menggali lubang baru tepat di sebelah kuburan yang baru itu. Saat syuting, para kru kamera berseru, "Mbak, kain kafan kuburan itu goyang-goyang, lo." Karena saya sedang konsentrasi, saya tidak menanggapi komentar-komentar seperti ini. Terus in action.
Malam makin larut. Saya harus melakukan adegan tidur bersebelahan dengan mayat yang kain kafannya menempel di badan saya. Lalu, saya pun ditimbuni tanah, mata tertutup rapat, sunyi, gelap-gulita di dalam kubur.
Saat itu, meskipun kami sudah berdoa dan melakukan selamatan minta izin, benar-benar terasa ada yang menggelitik kaki saya. Cacing tanah lagi iseng, pikir saya. Tapi, lalu siapa pula yang mengusap-usap telinga dan tangan saya? Hi….
Saya tidak menceritakan apa yang saya alami pada teman-teman kru. Kasihan, nanti pada takut dan bisa break, deh. Yang penting kami semua selamat dan syutingnya sukses.

Ada alasan khusus kenapa Anda memilih tinggal di Magelang? Sengaja menyepi dari keriuhan Jakarta agar bisa lebih menghayati peran-peran misteri?

Ah, tidak juga. Sebetulnya saya ini pulang kampung. Nenek-moyang saya turun-temurun, sudah sekitar 150 tahun, tinggal di sini, dan sekarang anak-cicitnya sudah tersebar ke lima benua.
Ini juga karena permintaan saudara-saudara yang kangen. Dulu, sewaktu sibuk main film, banyak saudara dan sahabat saya yang jengkel karena saya begitu susah ditemui. Akhirnya saya kembali ke sini bersama Cliff. Kadang kami mendaki gunung, berkebun, dan bertani kecil-kecilan.
Capek memang, harus bolak-balik Jakarta-Magelang. Tapi capek ndak perlu dirasain. Yang penting happy.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar