Kamis, 10 Februari 2011

Sutradara itu Telah Pergi

SUMBER : MEDIA INDONESIA, 28 Januari 1996

Sebagai sutradara, prestasi Wim Umboh luar biasa. Menghasilkan sejumlah film, ia juga sutradara pertama dengan karya film berwarna, dan film 70 mm. Karya-karyanya menawarkan kisah cinta – yang tak sempat dinikmatinya dalam kehidupan pribadi. SUTRADARA besar film Indonesia, Wim Umboh, Rabu pagi subuh lalu berpulang di RS Husada Jakarta dalam usia 63 tahun, setelah mengalami koma selama dua hari akibat stroke dan penyakit gula. Setelah disemayamkan di rumah, Depok Utara, dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Kedua penyakit berat itu memang sudah akrab dengan almarhum sejak 17 tahun silam. Gara-gara penyakit itu pula, ketika menggarap film “Pengemis dan Tukang Becak” (1978), Wim pingsan selama 11 hari. Meski sejak itu kondisinya terus merosot, pelan-pelan ia bangkit kembali menyutradarai film. Menurut Sophan Sophiaan, bintang film yang diorbitkan almarhum, Wim adalah sutradara terbesar Indonesia. Dia bahkan pelopor di bidang penyutradaraan yang benar-benar membuat karya film untuk meningkatkan mutu perfilman Indonesia. “Almarhum adalah sutradara film pertama membuat film berwarna, film 70 mm, dan film yang brlokasi di luar negeri”, tambah Sophan Sophiaan yang bermain dalam “Pengantin remaja” (1972). Sementara itu pengamat perfilman nasional, Salim Said, menyatakan bahwa Wim Umboh merupakan profil yang jelas dari dunia film Indonesia. Ia memulai karirnya dari bawah. Yang menarik dari dirinya ialah kemampuannya yang besar dalam membuat film. “Dia selalu membuat film baru dengan bintang yang baru, dan bisa dipastikan film itu laris di pasaran”, ujar ketua Dewan Kesenian Jakarta itu. Wim, menurut Salim, bukan hanya membuat film yang bertema cerita serba manis atau cerita cinta saja, tetapi juga film yang bertema sosial, bahkan film eksperimental, seperti “Mama” (1972). Ketika masih menjadi wartawan dan kritikus film di Majalah Berita Mingguan TEMPO, Salim dipercaya tampil sebagai asisten sutradara dalam pembuatan film tersebut. Semangat dan stamina almarhum memang luar biasa. Meski dalam keadaan sakit, ia sempat membuat film “Pengemis dan Tukang Becak” (1974). Setiap kali memuat film, Wim biasanya sudah hafal arahan penyutradaraannya, begitu pula jalan ceritanya, hingga para pemain tidak dapat membohonginya. “Ia sutradara yang terampil dan editor terbagus yang pernah kita miliki. Ia memperlakukan film bukan seperti barang dagangan, jadi tidak bisa harus cepat selesai. Ia selalu mementingkan penyempurnaan teknis. Ketika sakit, ternyata ia masih survive, masih mampu membuat film yang didasarkan pada endapan hati nuraninya yang paling dasar”, tambah Salim Said. Almarhum dilahirkan di Manado, 26 Maret 1933 sebagai anak bungsu dari 11 bersaudara. Sudah yatim piatu sejak usia 6 tahun, ia sempat menjadi tukang sepatu. Setelah lulus SMA berangkat ke Jakarta (1952), Wim melamar di studio Golden Arrow milik Chok Chien Shien. Ia memulai karir sebagai tukang sapu, kemudian penerjemah film dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia, lalu sebagai editor. Di samping bahasa Cina, ia juga menguasai bahasa Inggris dan Belanda.











 


Almarhum merupakan sutradara yang banyak menciptakan ide-ide inovatif. Ia juga seorang otodidak yang berhasil mendirikan “mazhab film” tersendiri yaitu “cinta yang melodramatik”.

Dalam film-film yang bertemakan cinta itu, ia berusaha memberi bobot nilai yang besar. Metode dan eksperimen- eksperimen yang dilakukannya, banyak ditiru oleh sutradara-sutradara muda.
Prestasinya sungguh luar biasa. Ia meraih 27 Piala Citra, dan masih tetap sebagai sutradara yang harus dipertimbangkan untuk film-film bertemakan cinta. Ketika tahu bahwa FFI 1984 di Yogyakarta tidak menghasilkan film terbaik, ia gusar. “Bagaimanapun harus dipilih, mana yang terbaik dan terjelek”, katanya. Ia sendiri menyertakan film Yohanna, yang dinilainya belum sempurna. Film-filmnya ialah “Sepiring Nasi” (1955), “Istana yang Hilang dan Mendung Senja Hari” (1961), “Bintang Kecil” (1963), “Apa yang Kau Tangisi” (1964), “Macan Kemayoran” (1965 dengan lensa sinemaskop), “Sembilan” (film berwarna pertama), dan “Bunga-bunga Berguguran” (1970), “Mama” (1972, film pertama ukuran 70 mm), “Pengantin Remaja” (film terbaik FFA 1972), “Tokoh”dan “Perkawinan”(Piala Citra untuk film, sutradara dan editor terbaik dalam FFI 1973), “Senyum Dipagi Bulan Desember” dan “Kugapai Cintamu” (1974), “Cinta” (1975, Piala Citra untuk film dan editor terbaik dalam FFI 1976), “Sesuatu yang Indah” (1977, Piala Citra untuk editor terbaik dalam FFI 1977), “Laki-laki tak Bernama” dan “Pengemis dan Tukang Becak” (1978, meraih film terbaik dalam FFA 1978), “Kembang-kembang Plastik” (1978), “Yohanna” (1982), “Permata Biru” (1983), “Kabut Perkawinan” (1984). Tapi karirnya yang gemilang, tak diimbangi dengan kebahagiaan dalam rumah tangganya. Rumah tangganya dua kali berantakan. Perkawinan dengan RO Sunarsih (1955), dikaruniai seorang anak perempuan, Lisa Maria, kini 40 tahun, patah di tengah jalan, mereka bercerai pada tahun 1957. Tujuh belas tahun kemudian, ia mempersunting bintang orbitannya sendiri, Paula Rumokoy, tapi mereka bercerai pada tahun 1982. Sebelumnya tahun 1978, Wim yang perokok berat, menderita ginjal, lever dan maag. Ia merasa ditinggalkan oleh para sahabatnya, termasuk Paula. Belakangan, ia bertemu dengan Inne Ermina Chomid di Interstudio, Jakarta. Wim pun menikah dengan dara Sunda itu, meski usia mereka terpaut 28 tahun. Dan di tahun 1984 itu Wim pun memeluk agama Islam dengan nama baru, Achmad Salim. “Saya memeluk Islam semata karena Allah”, katanya usai upacara pengislaman, disaksikan Syumanjaya dan Misbach Jusa Biran. Dari pernikahannya ini almarhum dikaruniai seorang putra, William Umboh Ikhsan Salim, kini 10 tahun. Ketika film layar mulai sepi, maka seperti kebanyakan orang film lainnya, Wim juga beralih ke televisi. Dua sinetron yang telah digarapnya, Pahlawan tak Dikenal, ditayangkan TPI (1992-1993)dan Apsari ditayangkan SCTV (1994). Di akhir hayatnya, ia tengah mempersiapkan produksi sinetron Wibawa dan Tantangan yang akan ditayangkan di ANTeve.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar