Sabtu, 12 Februari 2011

SORGA PALSOE / 1940

SORGA PALSOE

Film ke 3nya Sorga Palsoe dikerjakan hanya sebulan. Ia bukan hanya sutradara, juga bisa mengoperasikan kamera dan suara. Ia menangani filmnya sendiri secara rangkap kerja, sama yang dilakukan The Teng Chung. Untuk Hock disiapi anak perusahaan sendiri sebagai anak perusahan dari JIF, yaitu Action Film, untuk menjaga nama JIF. Action filmn ini untuk menunjang film yang dibuat Hock seperti film action yang penuh aksi dan kocak, memeprlihatkan pertempuran dan kegemparan. Pada 1941 saja Action film ini sudah melahirkan 6 judul film. Pada tahun 1941 Action film menyelesaikan 9 film, 6 yang disutaradari Hock, yang lain oleh Andjar Asmara dan Suska. Tapi film Ratna Moetoe Manikam yang ditangani Suska tidak rampung karena Jepang masuk. Lalu atas permintaan Jepang film itu dirampungkan oleh Hock. Dan saat film ini beredar saat pendudukan Jepang judulnya berubah menjadi Djoela Djoeli Bintang Tiga, selain itu juga Air Mata Iboe juga diselesaikan Hock, karena film ini tidak selesai juga karena masuknya Jepang dan diselesaikan saat pendudukan Jepang. Film Soerga Palsoe cerita tentang Hoakiau, ini adalah gagasan Fred Young. The Teng Chung yang dua tahun sebelumnya membuat cerita Hoakiau seprti malu mengakui bahwa ia masih membuat cerita Hoakiau pada 1940. Karena sejak masa lalu keluhan pada pembuat film Hoakiau adalah karena langkanya kalangan cina yang mau main film. Nona Lie Lian Hwa 1928 adalah suatu pengecualian yang luar biasa. Pada pembuatan Soerga Palsoe ini, Lo Tjin Nio terpaksa digunakan kembali. Ia adalah pemain bintang wanita satu-satunya dari film-film Hoakiau buatan JIF beberapa tahun silam. Bahkan dalam Panflet film nama pemain tidak dicantumkan. Cerita Soerga Palsoe berisi masalah yang lazim dalam kisah-kisah sastera Melayu-China sejak masa lalu, yakni tentang kekeliruan mendewakan uang dan keburukan berjudi. Film ini tidak seperti film-film Hoakiau buatan JIF pada 1937-1938, film Soerga Palsoe tidak disertai selingan musik sehingga mengherankan. The Teng Chun menilai film ini tidak bagus. Oleh sebab itu, film ini dimasukan ke dalam katagori produksi Action Film, walaupun ini bukan film Action..

Para sutradara pribumi saat itu menurut The Teng Chun belum paham dengan penataan kamera. Fungsi sutradara hanya melatih acting dan dialoq pemain serta pendapat secara artistik keseluruhan umum. Adapun penataan kamera dilakukan oleh juru kamera. Jadi juru yang menentukan arah pengambilan dan kemana perpindahan kamera, shot dan seberapa lama shotnya. Sutradara hanya sekalikali saja mengusulkan pengambilan gambar didekatkan atau dilakukan dari jauh. Tetapi masuknya orang panggung memberi masukan baru bagi The Teng Chun..

Oleh JIF dipercaya untuk menggarap produksi Type Action, antaralain Srigala Item 1941, Singa Laoet dan Tengkorak hidoep semuanya film action dan box office saat itu.

Nyonya Roti menganaktirikan anak pertamanya, Hian Nio. Perlakuan terhadap anak ini seperti babu. Sebaliknya ia menganakemaskan anak kedua dan ketiga, Piet dan Nan, yang justru nakal dan genit. Nyonya Roti lebih sibuk dengan kegemaran berjudinya, sementara urusan rumah tangganya hampir seluruhnya ditangani oleh Hian Nio. Sebetulnya Hian Nio telah punya pacar, Kian Bie, yang bekerja pada Bian Hong. Karena Bian Hong duda dan menaruh hati pada Hian Nio, Kian Bie dipecat untuk memperlancar kedekatan Bian Hong pada Hian Nio. Akhirnya Bian Hong pun menikahi Hian Nio. Bersuamikan Bian Hong yang hartawan ternyata tidak membuatnya bahagia, terutama karena mertua perempuannya yang cerewet. Tak tahan dengan keadaan itu, Hian Nio lari dan meninggalkan anaknya, Gin Nio. Anak itulah yang kemudian membawa Hian Nio kembali ke rumah, walau tidak lama kemudian ia pun meningal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar