Senin, 07 Februari 2011

SLAMET RAHARJO


Nama :Slamet Rahardjo Djarot

Lahir :Serang, Banten21 Januari 1949

Profesi :

Aktor dan Sutradara

Kegiatan lain :

Dosen Penyutradaraan

FFTV-IKJ

Ketua Umum Karyawan Film dan Televisi (1995-1999),

Ketua Komisi Budaya Badan Pertimbangan Film Nasional/BP2N (1985-1998),

Ketua Yayasan Teater Populer,

Direktur Utama PT Ekapraya Tatacipta Film,

President of CAPA

(Cilect Asia- Pasific Association)

Pendidikan :

SD (1959),

SMPN VIII Yogyakarta (1962),

SMAN TG Pandan (1967),

Akademi Film Nasional Jayabaya - Kamera

(tidak selesai 1968),

Akademi Teater Nasional Indonesia - Art Directing (1969)

Filmografi :

Wadjah Seorang Lelaki (1971),

Cinta Pertama (1973),

Ranjang Pengantin (1974),

Kawin Lari (1975),

Perkawinan Dalam Semusim (1976),

Badai Pasti Berlalu (1977),

November 1828 (1978),

Rembulan dan Matahari (1979),

Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1981),

Dibalik Kelambu (1982),

Ponirah Terpidana (1983),

Kembang Kertas (1984)

Kodrat (1986),,

Tjoet Nya Dhien (1986),

Kasmaran (1987),

Langitku Rumahku (1989),

Kantata Takwa (1990)

Mirage (1992),

Anak Hilang (1993),

Marsinah (2000),

Suro Buldog (2004),

Banyu Biru (2004),

Ruang (2006),

Badai Pasti Berlalu (2007),

Laskar Pelangi (2008),

Cinta Setaman (2008)

Sinetron :

Suro Buldog (1994),

Demi Cinta dan Anakku (1995),

Oh Ibu dan Ayah Selamat Pagi (1997),

Istri Pilihan (1977)

Karya Teater :

Sutradara Sandiwara

Rambut Palsu,

Sutradara sandiwara

It Should Happen To a Dog,

Sutradara sandiwara

Laddy Aoi,

Sutradara sandiwara Perempuan Pilihan Dewa,

Sutradara Sandiwara

Dag Dig Dug,

Sutradara sandiwara

Pakaian dan Kepalsuan

Penghargaan :

Aktor Terbaik FFI 1975 dalam Film Ranjang Pengantin,

Aktor Terbaik FFI 1983 dalam Film Dibalik Kelambu,

Sutradara Terbaik FFI 1985 dalam Film Kembang Kertas,

Best Scenario Writer Festival Film Non-Blok (1985),

Sutradara Terbaik FFI 1987 dalam Film Kodrat,

Sutradara Terbaik FFI 1989 dalam Film Langitku Rumahku,

Film Langitku Rumahku menang di Festival International Des Trois Continent, Nantes, Perancis (1990),

Film Langitku Rumahku meraih Best Children Film, Melbeourne Film Festival (1991),

Film Langitku Rumahku meraih Unicef Award dalam Berlin International Film Festival (1991),

Film Langitku Rumahku meraih Bronz Award Cairo International Film Festival (1991),

Hadiah Usmar Ismail 1996 dari BP2N,

Sutradara Terbaik Bali International Film Festival (2003),

Satya Lencana Kebudayaan RI (2004),

Film Dokumenter Kantata Takwa yang dibuat bersama Erros Djarot Gotot Prakosa meraih penghargaan Golden Hanoman dan Geber Award pada Jogja Netpac Asian Film Festival 2008,

Anugerah Akademi Jakarta 2008

Nama panggilannya Memet. Waktu sekolah ia paling anti diajak deklamasi atau main sandiwara. Kalau disekolah ada latihan, lampu saya padamkan, katanya. Kini Slamet Rahardjo adalah seorang sutradara. Film pertama yang disutradarainya, Rembulan dan Matahari, meraih tiga Piala Citra di FFI tahun 1980 di Semarang.

Tentu, ia harus bersusah payah dahulu untuk meraih kedudukan itu. Sebelumnya, anak mayor udara dan cucu Asisten Bupati Serang itu harus puas dengan posisi sebagai anak bawang di Teater Populer, pada tahun 1969. Karena kesungguhannya, ia bisa naik panggung dalam pertunjukan drama Pernikahan Darah, Kopral Woyzek, dan Perhiasan Gelas.

Dua tahun kemudian, tahun 1971, ia terjun ke film. Ia membintangi Wadjah Seorang lelaki, yang disutradarai Teguh Karya. Tiga tahun setelah menggumuli dunia film, Memet, nama panggilannya, meraih gelar Aktor Terbaik dalam FFI tahun 1974, lewat permainannya yang mengesankan dalam film Ranjang Pengantin. Setelah itu, film yang dibintanginya adalah Perkawinan dalam Semusim, Badai Pasti Berlalu tahun 1977, dan November 1828 tahun 1978.

Semasa kecil, Memet pernah bercita-cita menjadi presiden RI. Tetapi ketika tamat SMA di Yogyakarta, tahun 1967, cita-citanya turunmenjadi penerbang. Ia mengikuti tes dan lulus. Sayang, ayahnya tak menyetujui sehingga ia sempat frustasi dan malu diejek teman-temannya

1001 Malam (2009)

Ia lalu pindah ke Jakarta dan masuk ATNI. Tak sampai tamat karena bubar, dan ia kemudian meneruskan kuliah ke Akademi Film Nasional Jayabaya. Disini pun, ia tak sampai tamat, karena berselisih dengan Wahyu Sihombing, dosennya. Soalnya sepele. Saya main drama, sedang Sihombing berprinsip sebelum mengikuti kuliah dua tahun, mahasiswa dilarang main, kata Memet.

Anak sulung dari tujuh bersaudara itu menikah pada bulan September tahun 1984. Ia mempersunting putri bungsu Ilen Suryanegara, Duta besar RI untuk Aljazair. Saya Menikah tepat dengan dateline yang diberikan orang tua, kata Memet lagi. Kini setelah berhasil menjadi pemain terbaik dan sutradara terbaik, cita-citanya adalah menjadi suami dan ayah terbaik. Ia agaknya tak ingin mengulang tragedi perceraian orangtuanya, Djarot Djojoprawiro dan Ennie Tanudiredja.***



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar