Rabu, 09 Februari 2011

Sindikat Sihombing


Sihombing koordinator sindikat penulis script film kelompok asrul sani, umar kayam, sumanjaya, taufiq is mail, arifin c noer. sindikat tsb merupakan bengkel pencipta & perbaikan skenario-skenario yang rusak. DARI dulu hingga sekarang, skenario itu tetap uang. Artinja: siapa jang bisa bikin skenario, mudah dapat uang. Karena itu orang-orang matjam Turino Djunaidy menulis sendiri untuk film-filmnja, dan ini berarti penghematan total. Bukan tjuma itu, jang lebih parah lagi djuga ada. Konon skenario djiplakan pernah menari-nari dilajar bioskop Indonesia. Itulah kasus jang menjang-kut film Dandjiku, produksi Persari Film ditahun limapuluhan. Bukan tjuma skenarionja jang ditiru mentah-mentah, teknisi dan sutradara film India-pun didatangkan untuk membikin sjur kisah sedih itu.

Dan meskipun beberapa waktu kemudian film jang ditiru itu diimpor djuga dari India, toch film Persari itu larisnja bukan kepalang. Djangan lagi disebut peniruan terhadap film-film Hongkong-Taiwan. Seorang sutradara film Indonesia bisa tjuma datang ke Lokasari dan membeli beberapa buku jang berisi skenario dari film-film Hongkong jang sudah beredar. Dan tahu-tahu filmnja jang berikut tjuma adaptasi dari skenario itu.

Sekarang ini, kendatipun pembadjakan masih ada, paling tidak penulisan skenario dalam bahasa Indonesia toch masih memerlukan waktu. Turino jang semakin sibuk, larinja ke Sjuman Djaja, penulis skenario Pengantin Remadja. Tadinja Sjuman berterimakasih dengan kedatangan order-order, sampai-sampai tjerita semrawut matjam Kasihku, Ibuku pun dia ladeni. Sekarang tidak bisa. "Tidak ada waktu lagi", katanja mengeluh kelelahan setelah semalaman menunggui kamera jang harus memotret Rachmat Hidajat, Rima Melati dan Sukarno M.Noer untuk film Lewat Tengah Malam. Lagi pula Sjuman Djaja sekarang ini merangkap banjak kegiatan, antara lain sebagai bintang film sekaligus sutradara.

 Membidik. Nah, kalau Turino jang serba bisa dan djuara hemat sadja sudah harus minta bantuan skenario dari lain orang, bagai-mana pula dengan importir-importir jang sedang sibuk banting stir djadi produser? Larinja ke Sjuman djuga. "Wah, saja sedih sekali", keluh cineast lulusan Moskow ini,"padahal itu gedjala bagus, artinja mereka ada keinginan mendapatkan tjerita jang baik". Namun toch tidak bisa, dan tawaran jang sudah belasan djumlahnja itu tetap hanja menjedihkan hati sang penulis skena-rio.

Untung ada Wahju Sihombing. Maka datanglah ia dengan idenja jang mungkin bisa gemilang, sebab kalau sempat terbilang, uang bisa datang. Dan lahirlah konsep Sindikat Penulis Script Film.

Dengan tepat Sihombing membidik kelemahan film-film Indonesia 20 tahun terachir: penulisan scriptnja. "Film Indonesia tidak keku-rangan thema jang baik, tetapi kekurangan utama adalah dalam segi pengolahan tjerita dan teknis penulisannja", tertulis djelas dalam edaran perkenalan sindikat itu. Sihombing sebagai koordi-nator merasa bahwa saatnja sudah tiba untuk memikirkan perbaikan-perbaikan dibidang tjerita dan teknis penjampaiannja, karena itu kelahiran sindikat jang berupa bengkel jang mentjipta serta mempermak skenario-skenario rusak, nampaknja sudah tidak bisa ditunda lagi. Siapa montir-montirnja? "Untuk tahap pertama ada Asrul Sani, Umar Kayam, Sjuman Djaja, Taufiq Ismail, Arifin C. Noer dan saja sendiri", djawab Hombing. Dan kalau nama hadji Asrul Sani disebut, bekas muridnja di ATNI ini harus kasih tambahan pendjelasan, sebab konon banjak orang takut pada Asrul lantaran nama ini selalu dihubungkan dengan "seni", dan itu katanja tidak bertetangga dengan emas. "Tapi kali ini lain. Disini semua matjam tjerita diterima. Sex maupun silat, drama ataupun komedi. Matjam bengkellah", kata Sihombing mendjelaskan. Karena itu ia mengharapkan agar orang-orang jang perlu skenario -- jang sudah punja tjerita ataupun jang belum sama sekali tidak perlu takut-takut menghubungi sindikatnja. "Ini salah satu djalan untuk menolong film Indonesia dari persoalannja jang rumit itu".

Tidak usah diragukan bahwa Sjuman Djaja-lah jang paling setudju konsep teman sedjawatnja di Dewan Kesenian Djakarta itu. Sebelum berangkat location ke Bali, ia masih sempat memudji-mudji ide Sihombing tersebut. Asrul Sani mulanja memang belum begitu akur.

"Kalau pakal surat-surat resmi matjam begini (sambil melambai-lambaikan surat edaran Sihombing) saja djadi ngeri sadja". Kenapa Dekan Akademi Teater LPKD itu ngeri, kurang didjelaskan. Asrul maunja agar usaha ini diam-diam sadja, tidak perlu formil-formilan. "Lagi pula, apa itu matjam sindikat kolomnis?" Kalau demikian, menurut Asrul, skenario itu tidak perlu pakai nama penulis, tjukup tjap sindikat. Sihombing menganggap Asrul masih kurang mengerti duduk soalnja. "Batja dong. Kan disebut disitu bahwa ini hanja kumpulan individu dan bukan organisasi. Sindikat ini kan hanja untuk mempermudah pekerdjaan". Achirnja Asrul akur djuga. "Sudahlah, pokok nja saja kerdja sadjalah, apa kek nama nja".

Tjerpen. Lain lagi Umar Kayam. Bekas Direktur Djenderal Radio, TV dan Film jang sekarang djadi Ketua DKD, malahan sudah dikabarkan sibuk bikin skenario. Belum djelas apakah itu hobby mahal diteng-ah panen dunia film, atau bahkan sudah ada order. Tapi tjukup menarik untuk menanjakan kepada Umar Kayam tentang waktunja jang kebanjakan disita oleh pidato dan seminar diluarnegeri. "Lha, kalau skenario menghasilkan lebih banjak uang dari seminar dan pidato, ja pilih nulis skenario". Jang sedikit djadi pikiran Ketua DKD ini adalah antjaman jang menghantui kesusastraan djika orang-orangnja mulai pada sjik nulis skenario. "Selama honorarium untuk tjerpen-tjerpen tetap seperti sekarang ini, jah terantjam terus", katanja. Tiba-tiba Umar Kayam teringat nasib industri film Indonesia jang tertolong oleh adanja SK 71. "Jah, sajangnja tidak ada importir tjerpen. Kalau ada, enak".

Arifin C. Noer, pemimpin Teater Ketjil, sudah lama asjik mem-banding-bandingkan berbagai skenario. Kalau lagi bersama Asrul dalam suatu ruangan, kesempatan tentu tidak dilewatkan oleh Arifin untuk mengeruk sebanjak mungkin ilmu bikin film dari guru orang-orang film dan teater itu. "Saja sudah menawarkan beberapa tjerita saja kepada produser", kata Arifin serius.

Dan Taufiq Ismail? Ia tidak mau kasih keterangan, meskipun tjeritanja ada dibawa sutradara Hasmanan. Tjerita atau sudah skenario itu? Baru treatment. Itupun belum tahu kabarnja. Sudah lama saja tak djumpa Hasmanan".

Lepas dari nama-nama beken jang dilibatkan Sihombing dalam sindikat jang ia koordinasikan itu, Asrul masih punja soal lagi. "Menulis skenario tidak sama dengan menulis lakon sandiwara". Baginja, skenario itu adalah lukisan kata-kata dari apa-apa jang oleh sutraara nanti akan diterdjemahkan mendjadi gambar. Karena itu, selain bakat, perlu djuga pengetahuan teknis. Tentu sadja jang dimaksud Asrul Sani adalah orang-orang matjam Arifin, Taufiq dan Kayam. Orang-orang ini memang tjemerlang sebagai penulis drama (Afifin), penjair (Taufiq) dan penulis tjerita pendek (Umar Kayam), tapi bagaimana dengan bidang baru jang bernama skenario'? "Saja kira saja bisa", kata Umar Kayam. Lagi pula, menurut Sihombing, skenario sekarang ini tidak berbeda dengan novel. Dan iapun menundjukkan skenarionja jang laku 300 ribu rupiah: Matinja Seorang Bidadari.

Hudjan. Mudah dimengerti kalau orang-orang film matjam Sjuman Djaja, Sihombing dan Asrul itu antusias dengan penulisan skenario jang serius, sebab mereka semua masih ingat keruntuhan film Indonesia tahun limapuluhan akibat semakin tak terkontrolnja tjerita-tjerita jang diangkat waktu itu. Sekarang inipun gedjala itu sudah mulai dirasakam Umar Kayam berkesimpulan bahwa perkembangan teknis-film Indonesia berdjalan djauh lebih tjepat dari perkembangan ide-ide melalui tjerita jang dibawakannja. Karena itulah maka ide sindikat jang dilantjarkan Sihombing ini persis hudjan jang djatuh diatas benih jang baru di semaikan.

"Dari pada larinja keorang jang setengah-setengah, mending kepada Sihombing njeletuk seorang produser muda jang sedang siap untuk memulai produksi pertamanja. Mudah-mudahan begitulah, kendatipun jang pasti adalah kenjataan bahwa achirnja ada djuga orang-orang Indonesia jang menjadari perlunja tjerita buat sebuah film. Selama ini jang mendjadi soal adalah bahan baku, lampu, kamera dan pemain. Tjerita dikarang sendiri atau dibadjak dari film asing.

Untuk perhatian para produser maupun tjalon-tjalonnja, sindikat ini mengatakan akan suka kasih nasehat tentang utradara-sutradara jang kira-kira tjotjok dengan suatu skenario. Asrul Sani malah mentjita-tjitakan pembentukan sindikat sutradara. "Biar tidak setiap orang bisa menamakan dirinja sutradara", katanja sedikit keras. Sihombing dan Sjuman Djaja tetap merentjanakan pelebaran sindikat melalui work shop, karena itu barangkali agak beralasan djika edaran koordinator ada menjebut sindikatnja sebagai sumber inspirasi bagi film-fihn Indonesia dikemudian hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar