Senin, 14 Februari 2011

Sex turun, sadisme naik

JUMLAH produksi film Indonesia tahun 1977/1978 memang besar, karena itu peserta FFI 1978 juga banyak. Dan dewan juri yang diketuai H. Rosihan Anwar harus bekerja keras. Selama sebulan 9 juri -- Rosihan, Gayus Siagian, Irawati Sudiarso, Ishak Ngeliyaratan, Sunardi DM, Ajip Rosidi, Dr Sudjoko, W. Silitonga dan bas Alibasya -- memeriksa sekitar 60 film. "Hasilnya lebih menggembirakan dari tahun silam," begitu kesimpulan Rosihan yang tahun lalu juga menjadi juri. Dalam laporan pertanggungjawaban juri yang dibacakan Rosihan sebelum mengumumkan hasil penjurian di stadion Mattoanging Rabu malam pekan silam, antara lain disebutkan pula bahwa: "adegan-adegan sex tahun ini relatif berkurang dalam hal penyajian yang menyolok." Tapi "film yang mengemukakan cerita tentang kekerasan dan sadisme dan semacamnya tahun ini meningkat." Dalam bidang lain -- penataan suara, penyajian cerita, permainan para artis, penataan kamera, pengisian musik dan penyutradaraan -- dewan juri merasa "ada sedikit kemajuan." Hanya dalam penataan artistik juri masih mengharapkan supaya "dilakukan sesuai kehendak cerita." Ini karena penataan artistik sekarang masih banyak yang oleh juri dinilai berbau turistis. Berbeda dengan FFl 1977 di Jakarta yang geger oleh keputusan dan laporan pertanggungjawaban juri yang dinilai keras, keputusan juri di Ujung Pandang diterima dengan "baik-baik" saja oleh kalangan perfilman. "Itu karena kita telah mempunyai buku putih penjurian," kata Turino Junaidi. Ketertiban kerja juri memang dicapai lewat peraturan yang dirumuskan bersama kalangan perfilman serta bekas-bekas ketua dewan juri FFI di Cisarua pada 22 Oktober 1977 itu, tapi bukan tanpa keluhan juri kemudian. "Hasil yang dicapai sekarang ini akibat sistim penjurian yang mementingkan angka sesuai dengan buku putih itu," kata seorang anggota juri kesal. Konon keputusan kebanyakan diambil berdasarkan angka, tidak berdasarkan diskusi seperti pada penjurian sebelumnya Cara macam ini bisa mengakibakan suatu pilihan dengan argumentasi yang lemah. Tapi jenis apa pun sistim yang dipergunakan para juri, hasilnya toh tetap disambut meriah oleh para artis dan karyawan film. Cerita lain dari Ujung Pandang menyebutkan kemeriahan itu bahkan telah berlangsung beberapa jam sebelum keputusan juri dibacakan. Cerita tentang Ami Priyono yang terpilih menjadi sutradara terbaik telah terdengar di Jakarta -- lewat telepon yang menggunakan satelit Palapa -- Rabu siang pekan silam. Mendengar berita itu, Ami kabarnya berkata: "Wah, masak saya. Kan masih banyak sutradara yang lebih baik dari saya. Saya ini kan orang baru." Tapi malam harinya, berita itu ternyata benar. Di stadion Mattoanging yang dibanjiri belasan ribu manusia, Rabu malam itu Haji Rosihan tampil pada puncak acara mengungkapkan hasil kerja dewan juri FFI 1978. Berikut ini adalah nama-nama yang beruntung memperoleh piala Citra: Ami Priyono: Sutradara terbaik Joice Erna: Aktris terbaik. Kaharuddin Syah Aktor terbaik. Tantra Suryadi: Editor terbaik. Eros Djarot: Ilustrator musik terbaik. Lukman Hakim Nain: Juru kamera terbaik. Ami Priyono dan N. Riantiarno penulis skenario terbaik. Suparman: Penata suara terbaik. Nani Wijaya: Aktris pembantu terbaik. Masito Sitorus: Aktor pembantu terbaik. Yudi Subroto Penata artistik terbaik. Jakarta, Jakarta (sutradara Ami Priyono) Film terbaik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar