Kamis, 10 Februari 2011

SESUATU YANG INDAH / 1976

Ini memang kisah tentang 2 saudara yang sama-sama bekerja sebagai pilot pesawat dalam sebuah penerbangan. Sudah pasti film ini menggunakan peswat dan helikopter untuk keperluan shooting dan adegan.

Inilah film Indonesia yang pertama menggunakan hal itu, juga menjadi daya tarik untuk di tonton. Film ini bukan hanya itu saja yang menarik, kita dibawa terbang oleh Wim ke berbagai tempat, Balikpapan, Singapura, Tokyo dan Irian Jaya. Cerita ini sangat halus ditulis oleh Arifin C.Noer (skenario) dan dimainkan oleh baik beberapa pemainnya, dan dipotret manis oleh Lukman Hakim Nain (juru kamera).

Yohannes Mokodompit (Roy Marten) adalah adik Leonardus Mokodompit (fadili), yang pertama bekerja sebagai penerbang helikopter Pelita Air Service, sedang sang abang pilot pesawat penumpang jet perusahaan yang sama. Mereka hidup dalam rumah besar bekas peninggalan orang tuanya, Yohannes mula-mula jatuh cinta sama Ningrum (Marini), dan setelah putus perempuan yang sama malah kawin dengan Leonardus. Api lama belum juga padam, bahkan ketika Yohannes berhubungan dengan gadis bebas Anna (Christien Hakim), cerita tidak sesederhana itu, baik Yohannes dan Anna sama-sama terikat dengan yang lainnya. Keadaan semakin rumit ketika kehadiran Leo, Yo dan Ningrum dalam sebuah rumah.






















Kerumitan memuncak ketika Leo tiada, setelah menghembuskan nafas terakhir diatas pesawat dalam penerbangan ke Tokyo. Kekuatan film ini tidak hanya cerita, berbeda dengan kebanyakan film Indonesia. Cara berceritanya yang harus kita lihat usaha Wim, dari cerita itu Arifin mengolahnya dengan plastis dengan kesempatan partisipasi yang sebesar-besarnya bagi para penonton. Tidak semua hal diceritakan, tetapi dengan sedikit menggunakan fikiran dan perasaan penonton toh bisa tahu jalan ceritanya. Di film ini Wim berusaha sekali menggunakan bahasa gambar, tidak semua berhasil, tapi ini film Wim yang paling baik. Sebagai editor Wim dan Arifin menghasilkan sebuah panduan gambar yang bercerita dengan jelas, tanpa menjadi verbal, penggunaan dissolve pada penyambungan dua gambar memang terasa sedikit berlebihan tapi juga menolong penonton dari kejenuhan dalam cut to cut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar