Kamis, 10 Februari 2011

SENYUM DIPAGI BULAN DESEMBER / 1974

SENYUM DIPAGI BULAN DESEMBER

BEST FILM FFI 1975


Buang (Kusno Sudjarwadi), Bernardus (Rachmat Hidayat), dan Bakar (Sukarno M.Noor) adalah tiga orang narapidana yang melarikan diri saat terjadi pemberontakan di penjara. Pertemuan dengan Bunga (Santi Sardi) seorang gadis cilik yang kesepian karena orangtuanya sibuk bekerja.

Rumahnya yang terpencil, jauh dari rumah tetangganya membuat Bunga dapat berkawan dengan tiga narapidan. Semakin lama tiga narapidana tadi satu persatu berubah menjadi manusia biasa kembali, karena gembira mendapat kawan, Bunga mencuri makanan dari rumahnya untuk tiga sahabat barunya itu. Namun akhirnya ketiga narapidana itu tertangkap kembali.






Dibulan Desember yang dingin, penjara bobol. 3 penjahat lolos, berbuat jahat lagikan mereka? Tidak ada keterangan tentang itu, karena mereka keburu terjebak pada sebuah rumah oleh Bunga (Santi Sardi) yang mungil itu. Senyumnya tersiar ketika menyambut 3 orang dewasa itu pada pagi yang cerah, dan menjadi tamunya. Tetapi nyaris saja nyama Bunga lenyap ketika seorang pelari yang panik. Bujuk manis Buang (Karsono Sudiarwadi) akhirnya menciptakan persahabatan antara Bunga dengan 3 pelari narapidana itu.
Polisis akhirnya berhasil menemukan kembali mereka, tapi waktu senyum pertama Bunga hingga sergapan sukses sejumlah polisi (mungkin terlalu banyak untuk menangkap 3 penjahat tanpa senjata) adalah masa manis persahabatan. Hampir sulit terbayangkan, mimpi dongeng malahan.Selama sekian hari penjahat itu hidup dan makan dengan gadis yang berumur empat tahun itu, dengan segala tipu daya kualitas kanak-kanak yang lincah, berhasil memompa mereka dengan segala macam kebutuhan -dari bantal dan tikar hingga ke makanan dan minuman.
Film ini nyanyian tentang kepolosan Bunga, dan seluruh film ini sebenarnya dongeng liris tentang gadis kecil puteri tunggal seorang pegawai kecil pada suatu tempat terpencil. Bunga tidak punya teman, rumahnya terpencil (tetapi ulang tahunnya ramai dikunjungi anak-anak) dan selalu ditinggal sendiri ketika ayahnya ke kantor dan ibunya ke warung. Dengan mudah ia menerima persahabatan 3 buronan, dan belum mengenal dunia hitam/kejahatan.










Cuma nyanyian dongeng ini kurang tertata dalam film, walaupun juru kamera Lukman Hakim Nain bisa dibilang boleh dan luar biasa. Tapi masih belum peka terhadap sebuah dongeng.

Wim amat terfokus pada tokoh kecil ini. Adegan betapa asyiknya 3 buronan ini berpesta kecil di rumah oarng tua Bunga, dan mendadak orang tua Bunga pulang. Dan yang menarik dibicarakan adalah adegan mimpi, ketika Bunga harus ke Jakarta, 3 buronan terancam bahaya kelaparan, jika ditinggal Bunga. Walaupun mimpi itu bersamaan, ini yang mustahil. siapakah yang punya mimpi?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar