Kamis, 10 Februari 2011

SEMBILAN / 1967

SEMBILAN
Kiri ke kanan : Sandy Suwardi Hassan, Herman Hadi, Ratno Timoer, Ishaq Iskandar, Jeffry Sani, Farouk Affero, WD Muchtar dalam film Sembilan tahun 1967
Daerah Pantai Bukit, yang diperintah dua kepala suku, dikuasai perompak. Kebetulan datang ke desa itu sembilan pendekar dari berbagai penjuru Nusantara. Motifnya berbeda-beda. Ada yang mengembara, ada yang tertarik karena adanya intan di tempat itu, tapi juga ada yang memang sengaja datang karena mendengar adanya kerusuhan. Mereka berikrar hendak membebaskan suku itu dari kekuasaan perompak. Kepala suku tak setuju, karena ia mengambil keuntungan pribadi dari kekuasaan penjajah itu. Maka langkah pertama adalah menggulingkan kepala suku. Kepala Suku Bukit mati dikeroyok rakyatnya, sedang Kepala Suku Pantai akhirnya insyaf dan tewas melawan perompak. Seluruh perompak yang berjumlah 101 orang tewas, tapi lima pendekar juga tewas.
Film ini dibuat disaat anjuran Presiden Soekarnoyang dinamakan kerukunan nasional. Pada tahun sesudah pengkhianatan G30S, telah terbentuk sikap tegas kalangan nonkomunis untuk menghukum kalangan yang tadinya prokomunis. Dan Bung Karno sudah terpojok dan menghimbau agar semua kekuatan nasional tetap bersatu untuk memecahkan permasalahan ini.Film antikomunis menolak ajakan itu dan mengejek dengan sebutan Keruk Nasi (kerukunan Nasional). Sikap keras mereka adalah komunis harus dibubarkan dan yang bersalah harus di hukum. Maka dibuatlah film ini yang mengambarkan perlawanan terhadap serangan bajak laut dari luar. Perlawanan ini dilakukan oleh sembilan suku yang berkumpul disitu untyuk melawan musuh. Tetapi penonton tidak menangkap anjuran presiden tersebut, malah memuji tata gambar dan kostum yang diurancang oleh Teguh Karya.






















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar