Selasa, 01 Februari 2011

SEHARUM HATI IBU / 1977

SEHARUM HATI IBU



Turin (Hendra Cipta), Maslam (Fadly), dan dr. Effendy (KM Bey Erri) adalah tiga sekawan di masa revolusi. Setelah kemerdekaan, nasib mereka berbeda-beda. Maslam menjadi pedagang kaya, Effendy tetap dokter, tetapi Turin yang komandan, malah menjadi supir Maslam, karena hidupnya sengsara. Suatu hari mobil yang dikendarai Turin dan mengangkut suami-istri Maslam mengalami kecelakaan. Istri Maslam yang sedang hamil tua, bisa terselamatkan, tapi bayinya tidak.

Pada saat itu, istri Turin pun sedang hamil tua dan akan melahirkan. Turin yang merasa berhutang nyawa waktu revolusi, dan merasa bersalah atas kejadian itu, dan juga atas bujukan Effendi, maka bayi yang baru lahir dari istri Turin, diam-diam diberikan pada Maslam. Turin pulang ke desa. Bertahun-tahun kemudian, saat sudah punya anak lagi, Neneng (Niken Basuki), istri Turin, kangen pada anaknya yang berada di keluarga Muslam. Pencarian mereka menjadi dramatis karena ternyata Maslam sudah pindah rumah entah ke mana.

Mereka lalu hidup bagai gelandangan. Kebetulan Turin yang sudah bekerja menjadi pemotong rumput dan main bola bersama dua anak lelaki, menemukan gelang bernama Rino Maslam (Taka Zahara). Turin merasa ia menemukan dan melihat anaknya. Hanya pada waktu hendak menyeberang jalan dan melihat anaknya, Turin ditabrak dan tewas setelah menyerahkan gelang.

Istri Turin dan anaknya yang kini menderita dan menggelandang, berjualan kue di dekat sekolah Rino. Rino mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit. Saat yang bersamaan Neneng juga dirawat di rumah sakit. Istri Turin kemudian menjadi pembantu di rumah Muslam, maka perlahan-lahan dibukalah rahasia siapa sebenarnya Rino.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar