Minggu, 06 Februari 2011

Ratno Timoer

Nama: Ratno Timoer
Nama Asli:Ahmad Suratno
Lahir : Surabaya, 8 Maret 1942
Meninggal:Jakarta, Minggu 22 Desember 2002
Agama : Islam
Profesi:Aktor Film, Sutradara film
Isteri : Tien Samatha (menikah 1970)
Anak : Lima orang

Karir:
Membintangi beberapa film, al:
= Si Buta dari Goa Hantu (1970)
= Misteri di Borobudur (1971)
Pendekar Bambu Kuning (1972).
= Mendirikan PT Daya Isteri Film yang memproduksi film: Jangan Kau Tangisi (1974), Ciuman Beracun (1976), dan Gadis Berdarah Dingin (1984)

Organisasi:
= Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) periode 1983-1998.
= Departemen Seni Budaya Golkar dan pernah juga menjadi anggota MPR pada periode 1992-1997 dan 1997-1999

Tanda Penghargaan:
= Aktor Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) di Bandung pada tahun 1975 lewat film Cinta
= Aktor Terpopuler di Asia dalam Festival Film Asia Pasifik di Seoul, Korea Selatan, tahun 1973 lewat film Pendekar Bambu Kuning.

Alamat :
Jalan Duren Tiga, No 45, Pancoran, Jakarta Selatan

Banyak orang yang mengenalnya sebagai Si Buta dari Goa Hantu, tokoh dalam film yang ia perankan. Sama seperti Barry Prima dengan Jaka Sembungnya.


Aktor film Ratno Timoer (usia 61 tahun), yang memerankan Si Buta dari Gua Hantu, meninggal dunia, Minggu 22 Desember 2002 pukul 16.30 WIB, di Rumah Sakit Pelni Petamburan, Jakarta Barat. Jenazahnya, disemayamkan di rumah duka di Jalan Duren Tiga, No 45, Pancoran, Jakarta Selatan.

Ratno Timoer dirawat di RS itu sejak 16 Desember 2002 di ruang Wijayakusuma No 3, karena menderita stroke dan komplikasi. Namun, ia sempat keluar dari rumah sakit dan berlebaran di rumah. Bahkan Ratno mengajak beberapa anak dan cucunya piknik ke Ancol, Jakarta Utara. Ia ingin melihat laut. “Beliau minta kami memakai baju kembar semua," tutur Mirza Juneo, cucu Ratno Timoer.

Aktor bernama asli Ahmad Suratno ini lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 8 Maret 1942. Ia meninggalkan seorang isteri, Tien Samatha, yang dinikahi pada tahun 1970 dan setia mendampinginya sampai akhir hayat, serta lima anak dan sepuluh cucu.

Namanya terkenal di era akhir tahun 1960-an hingga dasawarsa 1970-an, setelah beberapa kali memerankan tokoh pendekar buta, Badra Mandrawata, yang diangkat dari komik karya Ganes Th, antara lain Si Buta dari Goa Hantu (1970) dan Misteri di Borobudur (1971). Sejak itu Ratno banyak bermain dalam jenis film silat, seperti Pendekar Bambu Kuning (1972).

Ia merintis karier mulai dari bawah. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) periode 1983-1998, sebelum menjadi bintang film pernah berjualan buku di Surabaya. Ia tertarik ke bidang film setelah diajak seorang rekannya. Lalu ia ke Jakarta dan mulai terlibat sebagai figuran dalam produksi film.

Kemudian ia menjadi pembantu unit dalam film Daerah Tak Bertuan (1963). Ia pun makin menekuni dunia perfilman ini dan mulai mendapat peran pembantu dalam film Di Ambang Fajar (1964) arahan sutradara Pietrajaya Burnama. Ia juga ikut bermain dalam Macan Kemayoran (1965) arahan sutradara Wim Umboh. Sampai akhirnya ia pertama kali mendapat peran utama dalam film Jakarta-Hongkong-Macao (1968) yang disutradarai Turino Djunaidy.

Selain sebagai aktor, ia juga berperan sebagai penulis skenario, sutradara, dan produser film. Ia bersama isterinya mendirikan perusahaan film PT Daya Isteri Film. Sebagai sutradara, ia lumayan banyak menghasilkan film seperti Jangan Kau Tangisi (1974), Ciuman Beracun (1976), dan Gadis Berdarah Dingin (1984). Sejumlah jabatan pernah dipegangnya, antara lain sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) periode 1983-1998.

Aktor yang aktif di Departemen Seni Budaya Golkar dan pernah juga menjadi anggota MPR pada periode 1992-1997 dan 1997-1999, itu mendapat sejumlah penghargaan di dunia film. Penghargaan yang diperoleh antara lain sebagai Aktor Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) di Bandung pada tahun 1975 lewat film Cinta arahan sutradara Wim Umboh; Aktor Terpopuler di Asia dalam Festival Film Asia Pasifik di Seoul, Korea Selatan, tahun 1973 lewat film Pendekar Bambu Kuning. ►tsl


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar